
Happy Wedding Dey Rindu & Natan Keylano (Dokter Rey) .. Kalianingat enggak nama Rey asli? Nama aslinya Natan Keylano yey hehe...
.
.
.
Demi apa si Twings.. wkwk.. Aku lupa scen untuk hari ini.. ;( padahal kemarin udah aku tulis diotak dan tinggal diketik aja lagi. Eh pagi ini kabar buruknya aku lupa :,( mungkin karena terlalu banyak tugas diperkuliahan aku ngebuat otak aku harus direfresh atau ddiperbarui kali ya hahaha.. Padahal aku udah berusaha ngingetinnya dari tadi pagi tapi tetep aja enggak ingat gimana ya.. hadeww..
...
“ Kak Rindu beneran... Rindu engak ngigau.. Rindu akan menikah besok.. kakak bantuin Rindu ya kak.” Ujarnya Rindu mengusap tangan Willy. Meski sakit bisa bisanya ya? Bisalah, namanya janji sekaratpun harus dibayar. Mangkanya tidak boleh berjanji. Jika tidak itu akan menjadi hutang dan pemberat dosa diakhir zaman kelak.. dan inilah alasan kenapa Rindu tidak suka dneg4an berjanji..
Willy tertegun disana, memegang dadanya yang terasa sesak, bagaimana bisa Rindu bicara seserius itu? Apakah benar? Ia mengusap wajahnya menatap Rindu.” Kamu jangan pikirkan hal apapun dulu, kamu harus segera pulih..”Ujarnya lemah, ia antara percaya antara tidak. Sebab mampak Rindu sangat serius.
Rindu menggeleng dibuatnya lalu menyentuh tangan kakaknya.”Kak tolongin Rindu ya.. Rindu besok harus pergi ketempat nikahan Rindu untuk jelasinnya. Soalnya Rindu udah janji, nanti kalo Rindu mati gimana? Nanti kalo Rindu masuk neraka gara gara janji Rindu enggak ditepati gimana? Umur Rindu udah enggak panjang lag----“
“Stuuuss...” Bibir Rindu ditutupi oleh Willy yang menggeleng disana menatap Rindu dengan mata nanarnya, mata yang berkaca kaca itu.. dan.
Gap.. ia menarik Rindu kedalam pelukannnya. “Engak ada yang mati, enggak ada yang akan pergi.. kamu akan tetap hidup.. Jangan bicara hal kayak gitu lagi.. Kamu harus sembuh dulu baru nikah. ”Ujarnya disana dengan suara bergetarnya,
Rindu disana menahan tubuhnya supaya tidak linglung dan menahan tubuhnya.”Rindu hanya bicara apa adanya kok.. Rindu tidak berb—“
"DIAM RINDU DIAM..!!” Bentaknya Willy disana kuat membuat Rindu menutupi matanya kuat, hal itu memancing orang luar untuk masuk dan melihat keadaan.
Wily menatap tajam Rindu dengan mata merahnya.”Tidak ada yang mati , tidak ada yang menikah ..!!! jikapun kamu mati kakak akan mati..!! Jangan lanjutkan ucapan bodohmu itu. Jangan berani kamu tiggalkan kakak..!! karena jika kamu mati, jika kamu pergi..! maka kakak akan membenci kamu seumur hidup kakak..!!”Teriaknya kuat disana membuat Rindu diam dengan memejamkan matanya.
“Ada apa ini Willy? Kenapa memarahi Rindu? Rindu sudah sadar? Sejak kapan? Kenapa tidak memanggil dokter Crey?” Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan oleh pendeta itu membuat Willy diam menatap Rindu dengan luka., kata kata perpisahan itu membuat ia terluka, sungguh, ia tak mau Rindu pergi sejengkalpun dari pandangannya. Baginya Rindu adalah rumah yang akan membuat ia singgah dan menetap..
__ADS_1
Mengusap air matanya tanpa mengindahkan pertanyaan pendeta itu ia pergi dari sana.
Hatinya hancur, hancur sekali meninggalkan Rindu yang menatapnya sendu dan nanar..” Kak.. Yang Rindu katakana adalah suatu kenyataan, jikapun kakak ataupun Rindu menolaknya, itu tidak mungkin, karena kita berlawanan dengan takdir dan Rindu mencintai dia... Rindu tidak mau kakak marah..”Gumam Rindu menunduk disana mengusap air matanya, ia tak mau Willy seseorang yang berharga sekarang juga pergi memarahinya. Hal itu membuat birawati sebagai dokter itu mengusap pundak Rindu, dan pendeta itu hanya menghela nafas menatap Willy yang pergi. Ada apa? Padahal bukannya tadi Willy menantikan Rindu bangun? Tapi kenapa setelah bangun malah rebut besar?
Willy berjalan dengan gontayangan, mengusap air matanya dengan lengannya dan menampakkan nyawanya pada angin(kata sajak) , kakinya lunglai, bibirnya kelu, bahkan tengggorokannya sekarang perih, perih hanya untuk mengeluarkan sedikit kata-kata.. Ia menatap patung Yesusnya yang diumana tempat ia datang aekarang.
Lututnya terjatuh dan mengusap air matanya.”Bapa.. Kenapa kau menghukum adiku begitu berat? Kenapa? Tuhan membenciku kah karena aku nakal? Membenciku kah karena aku selama ini tidak pernah berdoa? Apa kau sedang balas dendam kepadaku?!!”Tanyanya disana membuat siapapun pilu.
Hiks hiksniks.. ia memeluk dirinya sendiri disana, menunduk menatap lantai., hatinya sakit sekali, tak ingin adiknya pergi, menatap patung Jesus dan mengepalkan tangan dengan tata cara berdoa mereka..
” Tuhan, lihatlah, aku datang dan aku berdoa.. bantu aku,. Jangan ambil adikku yang aku tunggu selama ini. Jika kau membenciku maka hukumlah aku, jangan adikku. Adikku terlalu menderita jika harus menanggung segalanya. Aku menyayanginya, dan mencintainya.”Gumamnya disana dan menunduk lemah.
Memukul dadanya sendiri lalu mengusap kepalanya. Memukul dadanya sendiri salah satu cara meredahkan sakit. Sakit mengingat kata-kata jika Rindu sudah mau menikah. Lelaki mana yang beruntung mendapatkan Rindu? Dan lelaki mana yang bisa membuat adiknya takluk? Ya.. Willy memiliki rasa yang tidak wajar untuk adiknya. Ia tau jika dihatinya bukan rasa sebatas kakak dan adik. Ia mencintai Rindu.. hal yang tak mampu ia tolak dan ia batalkan. Andai Rindu hidup dengannya sedari kecil. Mungkin rasa cinta ini tidaklah ada..
Ya... Wily membenci semua kenyataan, ibunya. Ayahnya. Kakeknya, dan sekarang ia membenci dirinya sendiri yang tidak bisa berbuat banyak untuk adiknya, orang yang ia tunggu selama ini. Apakah dirinya sekarang pantas dipanggil kakak? Andai Rindu tau tentang perasaannya, apakah Rindu mau berdekatan dengannya. Jika dipikirkan semua, kenapa rasanya tidak mnungkin, dan hatinya semakin melebam dan terluka.
Rindu disana menganguk dengan air mata yang jatuh.”Sangat sakit...”Ujarnya bergetar memegang dadanya membuat pendeta itu diam. “ Hati bagian luarku sakit fisik, sedangkan didalamnya sekarang sudah melebam dan bernana, sampai terinfeksi dan tak lagi berfungsi.. dan jika tuan ingin mengobatinya itu tidak lah mungkin, karena hati saya sudah membusuk..”Ujarnya Rindu mengusap air matanya yang jatuh.
Ia mengusap dadanya dan menatap pendeta itu. “Pak kakakku tak mau membantuku, sedangkan aku memiliki janji suci dengan seorang lelaki yang sangat baik.. Bagaimana pendapatmu? Apakah aku harus menentang kakakku yang keras kepala dan meninggalkan janjiku untuk lelaki baik itu? Atau pergi menemui janjiku dan meninggalkan kakakku yang egois namun sangat menyayangiku? Aku takut, aku mencintai kedua lelaki ini.”Ujarnya menangis disana mengusap dadanya yang nyeri meredam. Ia tau Willy tak akan setuju ia akan pergi, karena ia sedang sakit.
Pendeta itu pun menatap Rindu sedih dibuatnya. Birawati disnaapun mengusap air matanya dan menatap pendeta.
” Aku tak punya appapun untuk membalas budi orang yang sudah menolongku selama ini.”Ujar Rindu dengan isaknya disana.” Aku hanya mampu membalas cintanya dan memenuhi keinginanya akan hidupku, kami akan hidup bersama sampai batas waktu Tuhan memisahkan kita, ia bahkan tak takut akan kehilangan diriku suatu saat nanti dan yakin jika kami akan bersama disyurga. Apakah aku salah ingin menikahi lelaki yang bisa memulyakanku semulya bidadari begini pak? Aku tak tau hiks hiks..”Suara Rindu sesegukan dibuatnya membuat birawati itu memeluknya dan menaruh wajah Rindu didadanya. Mengusap kepala Rindu sayang.
Rindu memegang tangan birawati satunya lagi itu dan pendeta yang menahan matanya supaya tidak menjatuhkan air matanya.” Kakakmu sangat menyayangimu, dia pasti ingin membantumu, ia hanya butuh waktu untuk menerima kenyataan jika kau akan pergi dari hidupnya dan akan bersama lelaki lain nak. Dia sangat menyayangimu dan aku yakin dia akan membantumu jika kau sembuh.. kau harus sembuh ya..”Ujarnya disana lembut.
Rindu disana mengangguk.” Tapi aku tidak tau kapan aku sembuh? Apa aku harus mati dulu supaya bisa membayar janjiku pak? Besok hari pernikahanku dan aku harus pergi. Karena kemarin ada pristiwa membuatku begini pak.. Dia besok menungguku... aku tidak mau menghancurkan hati lelaki yang aku cintai. Bahkan keluarganya sangat baik dan bisa menerimaku dnegan seluruh kekurangan yang aku miliki.”Ujar Rindu disana mengusap ingusnya yang naik turun.
Birawati itu mengusap mata Rindu dan mendongakan matanya. Manik mata mereka bertemu sendu.” Kau harus istirahat. Jika tidak ada yang mau membantumu aku yang akan membantu, jangan menangis, jangan bersedih.. aku akan membantumu, kau harus sehat dan istirahat supaya besok kau kuat ya. Kau harus kuat untuk bersanding dengan lelaki yang sudah menunggumu disana.”Ujarnya membuat Rindu menatapnya dengan senyum.
__ADS_1
Lalu Rindu memeluknya membuat ia membalasnya.”Tapi bagaimana dengan kakakku? Aku mau dia ikut, aku mau dia hadir karena tidak ada yang bisa hadir untuk menjadi salah satu wali dan wakil dari ku.”Ujarnya disana membuat birawati menatap pendeta.
“Biar aku yang membujuknya. Kau tenang saja. Yang harus kau lakukan adalah istirahat dan kuat, supaya besok kita bisa mendandanimu dengan cantik dna menghadiri pernikahanmu..”Ujarnya membuat Rindu menangis bahagia disana dan kembali memeluk birawati , ia mengucapkan rasa terimakaish berkali kali membuat birawati itu ikut tersenyum dan berbahagia. Memeluk Rindu erat sebagai penghantar jika dirinya ikut bahagia karrena Rindu.
Percayalah jika Rindu setelahnya merasakan ka4ntk yang hebat karena menangis, ia bahagia sekaligus sedih karena keadaanya, Umi dan abbinya tidak tau, apakah hadir atau tidak, bagaimana Rian dan Rani? Abagimana Habib dan juga orang tua kandungnya? Semuanya berat untyuk Rindu tapi ia harus tetap melakukannya. Ia harus menepati janjinya dulu baru memikirkan hal demikian kan?
Hari sudah pagi, namun Rey baru saja pulang dari perginya semalam, ia menggandeng Rian dan Rani yang sudah lengkap dengan pakaian santri mereka. Ya, dia semalam menginap dipesantren ketika menjemput anak anak angkat mereka ini. Hal itu membuat Rian dan Rani bahagia karena mendengar dokter Rey dan Rindu mau menikah. Itu tandanya mereka mempunya orang tua yang lengkap bukan?
Akhh. Mereka sangat bahagia tanpa tau situasi yang sebenarnya. Lagian Rey juga tidak sanggup mengatakan hal yang sebenarnya. Entahlah Rey juga tidak tau keyakinan dari mana dilubuk hatinya mengatakan jika Rindu akan hadir hari ini. Semoga saja itu nyata.
Diluar ada ibu dan ayahnya yang sudah menunggu, karena semuanya sudah siap, dan hanya menunggu tamu undangan, bahkan sudah ada tamu yang sudah datang disana dengan baju formalnya.. tu membuat Rey menggendong Rian dan Rani untuk turun dari mobil dan mengusap kepala mereka.
Mata Rian dan Rani membelalak disana menatap sekeliling, “Uhh.. keren banget yah.. pasti banyak makanan enak enak ya..”Ujarnya Rian disana dengan semangat melihat sekeliling, sedangkan Rani hanya menatap sekitar dengan mulut terbukanya. Karena ini sangatlah besar dan juga pastinya mewah tapi jika dikeluarga Rey ini sudah termasuk yang sederhananya.
Rey disana tersenyum miris dibuatnya. ”Yaudah. Ayok masuk, jangan lupa gandeng tangan ayah ya.. nanti kalian hilang lagi..”Ujarnya membuat Rian dan Rani mengangguk mengandengnya. Rey disana menahan sesak didadanya karena Rindu belum juga ditemukan. Apa kata anak anaknya nanti? Padahalkan Rindu sangat menyayangi Rian dan Rani? Dan begitu juga sebaliknya.
Mereka memasuki rumah Rey dan disana sudah ada ibu dan ayahnya yang menungu anaknya cemas, melihat Rey yang datang membuat ia mendekat tanpa memikirkan dua boca ditanganya Rey. Tapi tidak dengan ayahnya dan kakaknya Rey yang sudah siap mengenakan baju mereka. “ Gimana Rey? Kamu sudah menemukannya kan?” Tanya ibunya Rey cepat.
Rey disana menggeleng lemah dibuatnya namun ia tersenyum menunduk.”Ma kenalin, ini Rian sama Rani.. anak angkatnya Rindu dan akan jadi anaknya Rey juga nnati..”Ujar Rey memperkenalkan Rian dan Rani yang masih celingak celinguk. “Dan Rian.. Rani.. ini ada ayah sama ibunya ayah.. kenalin.. panggil Oppa Fandi dan Omma Lia..” Ujarnyanya kepada Rian dan Rani yang baru sadar.
Rian dan Rani mengerjab dibuatnya sembari mendongak. Bibir Rani membulat dan menunduk. ”Assalamu’alaikum nenek.. kenalin nama aku Rani.. adiknya kak Rian,,”Ujarnya mengambil tangan ibunya Rey disana dan menyalaminya. Ia tak mau memanggil omma atau oppa.
“Kenalin juga. Nama aku Rian, aku kembarannya Rani.. salam kenal semua.,”Ujarnya menyalami ayahnya Rey namun tidak dengan omma dan Fey, Sama halnya dengan Rani, ia tak menyalami seseorang yang bukan mahkromnya membuat mereka mengerjab.
“Sama aunty enggak?” Tanya Fey yang sudah menunggu saat dimana Rian menyalaminya. Karena Rian disana sangat tampan dan bersih. Siapa pun akan jatuh cinta melihatnya. Ayah dan ibu Rey menatap anak-anak itu haru. Karena anak-anak Rindu sangatlah rapi dan terawatt. Bahkan baju mereka sangatlah sopan.
Rian dan Rani menggeleng.” Kata Bunda Rindu. Enggak boleh salaman dengan orang yang bukan makhram, jadi kita tidak boleh bersalaman.. “Ujar Rani polosnya menggeleng.”Katanya lebih baik memegang besi panas dari pada menyentu seseorang yang bukan mahromnya.”Ujarnya membuat Rey disana menahan tangisnya.
“Tapikan Rey. Ayah juga bukan mahrom kalian, lagiankan kalian masih kecil, jadi boleh boleh saja.”Ujarnya Rey disana. Mengusap kepala anaknya. Rani disana mengenakan hijab syar’I membuat tubuh mungilnya tenggelam, sedangkan Rian mengenakan baju koko dan celana cingkrang. Jangan lupakan peci putih. Mereka mengenakan baju serbah coklat semua itu membuat mereka sangat cantik dan tampan.
__ADS_1