
Subuhnya Rindu bangun. Ia busa merasakan sudut matanya pedih saat ingin dibuka. Bukan menguap yang ia lakukan waktu pertama bangun. Tapi ringisan pedih. Seluruh wajahnya sangat perih, tangannya bahkan sangat sakit untuk digerakkan. Air mata Rindu kembali jatuh saat lihat jika ia sama sekali tak memiliki tempat sandaran. Tak ada yang menyanggah hatinya saat seperti ini. ia menatap Sajadah dan mengelusnya pelan.
“Bener kata ummi. Saat seluruh orang tak bisa dijadikan sandaran. Tapi gue masih punya sajadah buat gue sujud dan bersandar.” Gumamnya. Air matanya jatuh diatas sajadah.
Rindu menghapus air matnya saat mendengar azzan berkumandang. Ia duduk dari tidurnya dan berdiri. Ia melangkah mengambil wudhu, meskipun air wudhu yang mengenai kulitnya sangat sakit, tapi itu tak menjadi halangan bagi dirinya. Ia melakukan sholat subuh secara khusuk, entak, ia merasa subuh saat ini lebih singkat dari biasanya. Saat sudah sholat, ia melakukan wirid dan zikir. Tak lupa mengaji barang hanya satu lembar. Ia memilih tidur lagi, karena memang ia kurang tidur. ia baru tidur malam tadi pukul 02;02 malam. Ia harus mengisi batrai tubuhnya. Ia kembali nyenyak dalam balutan mukenah.
Pria berjas hitam rapi menuruni tangga. Wajahnya full dengan senyuman, seakan hari ini adalah hari yang membahagiakan baginya. Ia berhenti didepan meja makan. Disana sudah ada wanita dan pria paru baya, ada juga satu gadis berumur 21tahun duduk, ada pria yang berjas rapi juga yang sudah duduk dibagian ujung. yang menatap seseorang yang baru datang.
“Tumben pagi-pagi udah senyum. Ada apa ni?” Tanya gadis yang berusia 20tahun heran.
“Iya ni. Kayaknya lagi bahagia banget.” Sahut wanita paru baya tak kalah heran.
Pria itu hanya tersenyum lalu menggeleng. “Nggak ada kok ma.”
“Habib mulai dari kapan belajar bohong sama mami?” Tanya ibunya. Ya dia adalah ibunya Habib, wanita paru baya yang berumur 55tahun yang bernama Nina Holmas.
“Bener tu. Pasti ada apa-apanya ni.” Sahut ayahnya. Pria paru baya berumur 60tahun yang bernama Panji Holmass
“Apa jangan-jangan abang lagi suka sama cewek. Liat mi, muka abang aja kayak gitu...” Sahut gadis muda itu menggoda. Dia adalah adik kandung Habib yang bernama Nayla.
Habib duduk dibangkunya tanpa mau mendengarkan pertanyan serta godaan keluarganya. Saat telah selesai, ia berdiri dan berpamitan pergi kerja. Filos yang sedari tadi duduk dan makan juga ikut berdiri dan mengikuti dari belakang, sesekali Filos Tersenyum melihat tingkah Habib bagaikan ABG labil baru bertemu cinta.
Rindu kembali terbangun saat pukul 11;00 siang. Ia mengerjab-ngerjab karena kepalanya sangat pusing, dadanya sangat sakit. Ia lupa jika ia belum minum obatnya, ia melangkah keluar mushola rumahnya, dapat ia lihat jika kamar belum juga dibuka oleh teman-temnya.
Rindu memegang dadanya yang sangat sesak. Ia mencoba membuka lemari es. Untuk mencari bahan makanan, untung disana ada buah apel, mekipun sudah tidak segar, itu sudah cukup untuk menjadi pengganjal perut Rindu. Ia harus minum obat, tapi perutnya tak boleh kosong saat sebelum minum obat. Karena itu ia harus makan dulu, baru minum obat.
Sesaat setelahnya Rindu mengambil tasnya yang semalam dan mengambil obatnya. Ia meminum obat yang untuk mengurangi rasa sakit didadanya. Hidung Rindu kembali berdarah. Sesak didadanya belum juga mereda, keringat didahinya membanjiri wajahnya. Ia mencoba berzikir untuk meredahkan sakitnya. Sudah tiga puluh menit, akhirnya obat yang ia minum bereaksi. Ia baru bisa mengambil nafas dengan sedikit nikmat. Ia mencoba mentabilkan jantungnya.
Saat ia merasa sudah sehat, ia masuk kedalam kamar mandi dan membersikan hidungnya yang berdarah, ia memilih membersikan diri.
Rindu selesai mandi setelah beberpa menit. Ia memilih sholat Dzuhur terlebih dahulu. Setelah sholat ia kembali kedapur. Ia melihat bahan-bahan makanan. Bibirnya tersenyum tipis. “Ini udah dua minggu yang lalu, pas ummi sama abi ngirimin barang kegue.” Guamanya.
Semua didalam kulkas memang barang yang dua minggu lalu ummi dan abinya kirim. Rindu menghela nafas, ia mengambil beberapa butir telur, cabe yang sudah sedikit rusak, sosis dan beras.
__ADS_1
Ia mulai memasak nasi dan menggoreng telur, ia memilih memasak nasi goreng telur pedas. Ya dia memang harus berhemat saat ini. jangan lupakan jika biaya pengobatannya lebih besar dari pada biaya hidupnya.
Ia memakan separuh makanannya dan menaruh dikotak bekal separuh. Ia berniat untuk pergi kepanti sebentar untuk mengajar bahasa inggris dan kembali berkerja. Ia juga sudah memesan ojolnya uuntuk berangkat.
...
“Assalkamu’alaikum adek-adek.” Ucap Rindu semangat.
“Wa’alaikum salam kak Rindu.” Jawab mereka semangat.
“Kak Rindu, kak Rindu..” Panggil salah satu dari mereka.
“Ya Lisa. Ada apa?” Tannya Rindu kepada Lisa.
“Muka kakak kenapa? Kok banyak memar, kakak berantem ya?” Tannyanya.
Rindu tersenyum tipis. “Ini hadia hehe. Kalian jangan turutin kakak ya, kalian harus jadi anak baik. Jangan kayak kakak suka berantem.” Jawab Rindu.
“Iya sii, udah jangan bahas ini. kita langsung belajar aja ya,..” Sahut Rindu tanpa mau menjelaskan apapun. Ia memilih mengajar anak panti dengan semangat. Sebenarnya, tangannya sangat pedih saat menulis dipapan tulis, tapi mau bagaimana lagi. Ia harus kuat,
Setelah selesai. Ia menatap Ummi Ira yang melihatnya dari kejahuan. Ia mendekat kepada ummi Ira untuk pemit berkerja. “Ummi Rindu pamit dulu mau kerja.” Pamit rindu to the point.
“Tuggu dulu. Muka kamu kenapa?” Tannya ummi Ira lembut. ia memang belum bertemu dengan Rindu sedarai tadi, sebab ia pergi mengantar ketring kepada pelanggan.
Rindu tersenyum miris. “Anu mmii. Malam tadi Rindu ada masalah.” Jawab Rindu gugup.
“Sini, cerita sama ummi.” Jawab Ummi Ira, ia menarik tangan Rindu menuju satu kursi panjang. Sedangkan Rindu hanya menurut saja.
Sepertinya memang ummi Ira sudah menyiapkan P3K sedari tadi. Ia mengambil kota itu dikursi mereka duduk, “Luka kamu kalo dibiarin nanti infeksi atau ninggalin bekas. “ Ucapnya. Ia membersikan luka Rindu dan mulai mengobatinya. Sedangkan Rindu mulai meringis pedih, seluruh bagian lukanya diobati oleh ummi Ira dengan lembut. saat sudah selesai ia menatap Rindu tanda tannya.
“Kamu kenapa berantem lagi? “ Tannyanya.
Rindu menunduk. “Rindu nggak mau berantem. Tapi Rindu malem tadi kesel sama temen Rindu. Mereka berzina dan mabuk-mabukan mi, mereka bawa cowok kerumah. Ya Rindu hajar aja mereka.” Jawab Rindu sedih.
__ADS_1
Ummi Ira menghela nafas. Ia menatap Rindu sedih. “Nak, kamu memang benar. Tapi cara kamu salah.” Ucap ummi Ira.
Rindu mengerutkan keningnya. “Salah gimana mii? Kan Rindu memperungati mereka..” Jawabnya merasa benar.
“Memperingati bukan berarti kamu harus menyerang dan menghukum mereka. Kamu tau cerita Hasan dan Husen cucu rasullullah?” Tannya Ummi Ira. Rindu menggelengkan kepalanya.
“Dulu Hasan dan Husen mengambil air wudhu dimasjid, saat itu, mereka melihat ada kakek-kakek yang mengambil air wudhu yang salah. Hasan yang melihatpun mau menegur tapi ditahan oleh Husen. Setelahnya, mereka kembali sholat dimesjid itu lagi besok harinya, mereka kembali melihat kakek itu mengambil air wudhu salah. Muncullah ide dari Hasan. Ia menepuk pantat saudaranya husein. “Wudhumu salah. Yang benar itu seperti ini.” Ucapnya lantang. Sontak saja kakek itu melihat arah Hasan dan Husein. Ia melihat gerakan dan cara yang Husen ajarkan kepada saudaranya yang benar, kakek itupun mengikuti cara yang diajarkan Husen. Kamu tau kenapa Husen nggak langsung kasih tau?” Tannya Umi Ira. Lagi lagi Rindu menggeleng.
“Karena, ia tidak mau jika kakek itu tersinggung. Kakek itukan lebih tua darinya. Karena itu, ia mencari cara yang baik untuk memperbaikinya. Nah dari cerita ini, kita bisa ambil hikmanya. Kamu harus bisa mengontrol emosi kamu. Kamu harus bisa mencari cara yang terbaik untuk mengingatkan teman kamu, bukan dengan cara kekerasan.” Lanjut ummi Ira.
Rinduu mengangguk paham. Ia mulai merenungkan kesalahannya. “Makasih ya mi, nanti Rindu usaha de.” Ucapnya sambil tersenyum.
Ummi Irapun tersnyum lembut. “Allhamdulillah kalo kamu paham. Kamu jadi berangkat kerja?” Tannyanya.
Rindu membulatkan matanya. “Astagfirullahhallazim mii. Ya udah Rindu pergi ya. Assalamu;alaikum..” Ucapnya cepat. Ia menyalami tangan ummi Ira dan bergegas pergi .
“Wa’alaikum salam.” Jawab ummi Ira
menatap punggung Rindu yang menjauh.
‘Yaallah, permudakanlah semua jalan yang Rindu ambil..’ Batinnya..
.
.
..
.
Alhamdulillah bisa lanjut hehe...
like. komen dan vote ya manteman. salam sayang dari Rindu...
__ADS_1