Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Dokter Rey


__ADS_3

...


Alhamulillah Rindu tidak telat. Ia mengambil nafas rakus dan menggantikan bajunya. Ia melangkah cepat untuk mulai berkerja, jika tidak, ia akan kenah marah oleh chaf Alice.


Lagi-lagi para kariyawan bertanya mengapa wajah Rindu. Mereka meringis perih melihat wajah Rindu dan tangannya. Sehingga mereka berbaik hati tak membiarkan Rindu berkerja berat Dan mencuci piring lagi. Rindu tentu saja merasa senang akan hal itu, ia sangat bersyukur teman kerjanya sangat baik hati.


Ia melakukan sholat magrib saat azzan berkumandang, Setelahnya ia berniat untuk keluar membawa bekalnya.


“Mbak. Rindu makan dulu ya.” Pamit Rindu kepada mbak Lena.


“Kamu mau makan dimana?” Tannya Mbak Lena.


“Diluar mbak. Nanti Rindu kesini lagi ya.” Jawab Rindu cepat dan memilih pergi.


Ia kembali menemui kucing yang malam kemarin ia kasih makan. Senyumnya mengembang saat melihat kucing itu. Ia berjongkok dan meletakkan mika, ia meletakkan separuh nasi goreng yang ia miliki diatas plastik bekas yang masih bersih, tidak lupa sosis dan telurnya. “Makan yang banyak ya. Aku udah bawain yang aku janjiin.” Ucap Rindu ringan. Ia kembali berdiri. Betapa terkejutnya ia ketika berbalik. Ada seseorag dibali punggungnya yang melihat kejadian itu. Rindu hampir saja terjatuh.


“Kamu ngapain disini?” Tannyanya. Ia melirik kucing yang Rindu beri makan.


Rindu tersenyum tipis saat ia merasa kenal dengan pria diepannya. “Anu dok. Nggak ada kok.” Jawab Rindu. Pria itu adalah dokter Ray.


“Pak Rey disini? Kenapa nggak langsung masuk pak?” Sura Chef Alice dari balik dokter Ray memecahkan kecanggungan mereka. Mata chef Alice mmandang Rindu benci. “Rindu ngapain disini?” Tannyanya.


“Nggak ada kok.” Jawab Rindu cepat.


Mata chaf Alice membesar melihat kucing makan makanan yang Rindu beri. “Kamu mencuri makan yaahh.?” Tannyanya. Lebih tepatnya pernyataan,..!


“Enggak kok. Itu memang saya bawa sendiri.” Jawab Rindu sambil memegang kotak bekalnya.


“Kamu pasti mencuri...!”


“Saya tidak mencuri. Kalo nggak percaya, mbak bisa cicip aja sendiri makanan saya..” Sanggah Rindu cepat.


“Kamu pikir saya kucing makan makanan kamu..!” Teriak Alice menggemah.


“Sudah... dia tidak bersalah. Saya lihat sendiri jika ia memberinya dengan kota bekalnya sendiri.” Sahut dokter Ray lembut.


“Tuh denger. Dokter Ray liat tauk.” Sahut Rindu sambil mengeruicutkan bibirnya.


“Bapak saling kenal?” Tannya chef Alice.


“Dia---“

__ADS_1


“Emang iya kenal.” Jawab Rindu memotog cepat. Ia tak mau orang tau jika ia sakit.


“Kamu tau dokter Ray ini siapa? Dia pemilik caffe ini.” Ucap chef Alice sambil melotot.


“Sudah-sudah. Saya bisa bicara engan kamu Rindu.” Sahut dokter Ray mererai. Rindu mengernyit tapi tak mengurungkan menganggguk.


“Kami tinggal dulu ya.” Ucapnya ambil menarik tangan Rindu menjauh.


Sedangkan chef Alice mengerang marah menatap Rindu, ia mengepalkan tangannya. “Awas aja ya..” Gumamnya dalam hati.


Rindu masih memegang kotak makannya, ia mengikuti dokter Ray yang menariknya. Mereka duduk tempat duduk dekat taman “Ada apa dok?” Tannya Rindu to the point.


Dokter Ray tersenyum. “Kamu kalo mau makan, makan aja. Kita bicara sambil makan aja.” Ucapnya. Ia tahu jika Rindu sangat lapar saat ini.


Dengan acuh Rindu membuka kotak makannya yang tinggal setengah, ia memakannya. “Dokter mau?” Tanya Rindu polos. Ia mengarahkan sendok yang berisi nasi goreng kemulut dokter Ray.


“Nggak. Kamu makan saja dulu.,” Jawabnya.


Rindu mengunyah cepat makanannya dan menelannya. “ Nggak boleh gitu. Katanya tadi. ‘kita bicara sambil makan’ berarti kita, bukan hannya Rindu. Rindu juga nggak enak kalo makan, sedangkan dokter nggak makan.” Ucapnya polos.


Wajah dokter Ray tersenyum lembut. Rindu kembali mengarahkan sendok didepan mulut dokter Ray yang berisi nasi goreng. Dokter Ray menerimanya dnegan senyum. 'Enak' Adalah kalimat yang ia rapalkan dalam hati.


‘Kadang sikap memang nggak selalu mencerminkan hati’ Batin dokter Ray. Ia sangat kagum akan Rindu yang rela berbagi makanan dengan kucing, bahkan tak jijik kah Rindu kepada kucing itu? Kucing itu sangat jelek, wajahnya penuh luka dan kotor. Tapi tak mengurungkan niat Rindu berbagi makanan.


Mata Rindu beralih menatap dokter Ray. “Dokter mau ngomong apa?” Tannyanya.


Dokter Ray langsung tersadar dari lamunannya. “Bagaimana kabar kamu? Apa masih sering sakit?” Tannyanya.


Rindu menghela nafas. “Alhamdulillah udah nggak sering dok. Paling kalo telat minum obat aja.” Jawab Rindu.


“Kamu sudah bicarakan masalah ini dengan orang tua kamu?” Tannya dokter Ray serius.


Rindu menundukkan kepalanya, lalu mendongak menatap langit penuh bintang. Ia menggeleng. “Belum.” Jawabnya.


Dokter Ray mengerutkan keningnya. “Kenapa belum?” Tannyanya.


Rindu tersenyum miris. “Rindu nggak mau ngebebankan orang tua Rindu. Rindu bukan orang kaya, pasti mereka nanti terbebani.” Jawab Rindu berat.


“Tapi ini menyangkut kesehatan kamu.” Sahut dokter Ray tak habis fikir.


Rindu menatap dokter Ray miris. Ia menatap langit lagi. “Liat, langitnya indah banget yaa,,,” Ucapnya mengalihkan pembicaraan, ia sangat malsa membicarakan hidupnya. Hatinya cukup terluka, jangan mengoyak lagi luka itu.

__ADS_1


Dokter Ray menatap Rindu lagi. “Muka kamu kenapa? Setiap kita ketemu, pasti aja kamu memar-memar kayak gini.” Ucapnya sambil terkekeh. Ia juga mengalihkan pembicaran. Ia tau jika semunya sangat berat bagi Rindu.


Rindu juga terkekeh saat mengingatnya, memang benar, setiap mereka bertemu. Pasti Rindu bonyok dan memar. Ia menghela nafas. “Brantem.” Jawabnya jujur


“Kayaknya kamu mau jadi pereman ya.” Jawab dojter Ray bercanda.


Rindu tertawa mendengarnya “Dokter mah...” Ucap Rindu salah tingkah. “Oh ya dok. Dokter mampir sini mau ngapain? Mau makan?” Tanya Rindu.


“Nggak. Saya Cuma mampir aja kesini. Udah lama nggak kesini soalnya.” Jawab dokter Ray.


“Udah lama nggak kesini? Langganan memang?” Beo Rindu kepo.


“Ini cafe saya...” Jawab dokter Ray sambil tersenyum.


Rindu hanya membentukkan bibirnya o ria saja. “Udah kalo gitu dok. Saya mau kerja lagi, soalnya nanti kena marah sama chaf Alice lagi.” Rindu menegakkan tubuhnya dan merapikan bajunya yang sedikit kusut.


“Yaudah. Silakan...” Jawab dokter Ray lembut.


“Assakamu’alaikum.” Ucap Rindu. Dokter Ray hanya mengangguk tanpa menjawab salam Rindu.


Sedangkan Rindu hanya acuh akan hal itu. Ia bergegas kembali dan berkerja.


“Rin. Kamu kenal sama pak Ray?” Tanya mbak Lena antusias ketika Rindu sudah kembali kedalam.


Rindu tersenyum tipis lalu mengangguk sebagai jawaban. “Kenal mbak. Emang kenapa?”


Mbak Lena tersenyum gemes menatap Rindu, ia bahkan melompat-lompat kecil. “Ih Rindu. Kamu tau nggak dia tu yang punya caffe ini.” Ucapnya antusias.


Rindu menggelengkan kepala. “Oh ya?” Beonya.


“Iya.” Mbak Lena menepuk pundak Rindu keras. “Dia tu, mana ganteng, mapan, udah jadi dokter. Uhh pokonya the best dia ma kalo jadi calon imam.” Mbak Lena tersenyum sendiri.


Sedangkan Rindu hanya mengernyit dan terkekeh geli menatap mbak Lena. “Mbak, Rindu masuk dulu ya. Nanti mbak Aliice marah lagi.” Ucap Rindu. Mbak Lena sama sekali tak menjawab, ia masih saja menatap keluar, jika-jika ia bisa melihat dokter Ray.


Rindu menggelengkan kepalanya dan pergi..


.


.


.

__ADS_1


.


Alhamdulillah udah dikit hehe.... Makasih yang masih setia sama Rindu. Jangan lupa Like. vote da komen ya. Hiks author butuh suport....


__ADS_2