Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Pms


__ADS_3

Maaf ya kalo ada unsur singgung menyinggung. Ambil himanya saja ya. Ambil ilmunya dan serapi apa ynag dikasih. Soalnya nggak ada unsur singgungan kok. Tapi tujuannya memang mau menyadarkan satu sama lain.


@Novi Vuspita Sari.


Sebenranya kata tersinggung akan terselip karena hati sadar jika yang dikatakan orang lain ada didirinya.


Nvs...


.


.


.


.


Dukk.. dokter Rey tak dapat berkata lagi. Ia melirik Rian dan Rani yang memeluk Rindu. ada getaran aneh didadanya saat mendengarkan kisah itu yang diceritakan dari bibir mungilnya Rian. Air matanya lolos, ia tak tau mengapa tapi kenapa harinya terasa diiris berkali-kali dengan silet. Ia tak tau, sunguh, tapi direlung hatinya bagaikan dihujam dengan pisau tajam. Ia mendongak untuk tak menangis, sudah lama sekali rasanya ia tak menangis.


Keheningan terjadi sampai dipondok itu. Hanya sesekali dokter Rey bertanya pada Rindu dimana jalanya. Rindu menjelaskan saja jika jalanya harus belok kekanan atau kekiri, lalu menjelaskan jika memasuki gapura yang melengkung dan tertera tulisan disana ‘PONDOK TAHFIZ DARUSALLAM...”


Saat mereka masukpun disana sangat asri. Rindu dan lainnya pun mengamati sekitar, meskipun ini yang kedua kali Rindu kesini tak membuat ia bosan dan kehilangan kekaguman. Pohon-pohon yang asri, pemandangan yang membuat Rindu merasakan hatinya runtuh. Dokter Rey? Ia bahkan merasakan getaran pada dirinya yang entah itu apa.


Disetiap bawah pohon ada sekitar dua atau tiga anak yang ditanganya ada Al-Qur’an, dengan mata yang terpejam sambil menghitung entah apa yang dihitung tapi bisa dilhat dari jari mereka yang meliuk-liuk, ada yang menggunakan sarung dan ada yang menggunakan celana cingkrang.


Damai..


Sangat damai. Disaat diluar sana anak seusia mereka yang dimulai dari umur 5 tahun sampai 10 tahun disana diajarkan menggunakan Handpone, dimana-mana dengan bangganya memamerkan Handphone, hanpdohne siapa yang paling mahal, maka mereka lah yang paling sombong, anak-anak mereka disuruh bermain game supaya tak menganggu orang tuanya bekerja sampai-sampai anak tak kenal akan agama, sadis? Sangat sadis. Kenapa orang tua sekarang sangat banga ketika anaknya sudah andai main tikt*k? Main lik* dan sejenis alikasi lainnya? Sekaan lupa jika usia merka belum cukup akan hal itu.


“Wahhh bagus banget ya miii..” Ucap Rian kagum yang diagguki oleh Rani disebelah Rindu.


“Bener... Nanti kita mau jadi kayak mereka. “ Ucap Rani antusia.


Rindu tersenyum tipis.” Amiin.” Ucapnya lembut


Mobil itu berputar karena memang itu tadi mereka melewati taman kanak tahfiz yang usianya dibawah 10tahun dan sekarang mereka memasuki kawasan remaja yang disana terdapat anak yang berusia 11-19tahun. Entah sudah sedari kapan air mata Rindu mengalir. Beda sekali dengan dirinya yang dulu. Yaa, disni anak yang seumuran denganya berjalan dengan cara menunduk dengan Al-Qur’an yang dipelukan, kaki yang ditutup dengan kaus kaki, disini belum ada yang menggunakan cadar sebab tempat laki-laki dan perempuan dipisahkan, belum lagi pratuturan dari sekolahnya membuat mereka tak menggunakan barang tertutup. Saat melewati kaum adampun akan membuat adem. Janggut yang dirawat, ada beberapa, ada juga yang tidak, ada yang berlari dengan mengucapkan. Akhi, ada yang bertanya masalah peci yang miring dan ada yang tertawa kalem, ahaha,,, tak ada pria disini yang mengucapkan kata-kata kotor.


Miris ketika kita melihat hal ini didepan mata. Anak yang disini setiap langkahnya diberkati oleh Allah, tak ada yang bermain TikTok alah zaman sekarang, tak ada yang umbar tubuh molek dan tak ada yang berani mengangkat kepala karena sombong Riya’ ataupun berbanga hati. Mereka sanggup meninggalkan kenikmatan dunia demi kehidupan syurga yang lebih baik. Dimana anak-anak zaman sekarang yang sibuk kesana kemari berpoya-poya atau hedoninisme.


Tapi disini semua mengunakan baju yang sederhana, dimana diluar sana anak-anak remaja yang sudah akhil balik berusia 10sudah berani mencium pipi pacar atau sudah bangga mengkoar-koarkan jika ia punya pacar tapi disini? bangga itu ketika sudah membanggakan orang tua. Bangga itu ketika kita tak tersentu, tak terilat namun berdampak banyak untuk orang lain. bangga ketika orang lain tak berani bersentuhan dengan kita karena malu, iya malu.


Memang benar nyatanya didikan orang tua itu sangat berpengaruh pada perkembangan otak anak. Anak. Jika orang tua yang mengajarkan anak tentang dunia, maka dunialah yang menjadi tujuan kita. Tapi ketika kita mengejarkan akhirat maka akhiratlah tujuan kita. Hidup hanya sesaat tapi akhirat adalah alam kekal.

__ADS_1


Jika disini kita bisa lihat perbedaan dari pakaian yang jauh beda dari anak zaman kini, anak-anak yang zaman sekarang menggunakan baju kurang bahan, tak berhilbab dan tak ada yang tau aturan, berkata kotor dan lainnya. Aurah yang mereka bawa sangatlah menenangkan. sungguh beruntung orang tua mereka, bagaimana cara orang tua mereka mendidimkm anak menjadi seperti mereka. Pondok tahfis ini sangat berbeda dengan pondok pesantren, sebab disini tempa anak-anak menghafal Al-Qur’an membuat wajah mereka berserih., iyaa...


“Kita udah sampek..” Lamunan Rindu buyar saat mendengar dokter Rey yang membuka pintu untuk mereka. Rindu bahkan tak sadar. Pikirannya menerawang sangat jauh.


“Terimakasih dok.." Gumam Rindu lalu menyuruh Rian dan Rani keluar terlebih dahulu..


“Saya ambil barang Rian dan Rani dulu ya..” Saat Rindu mengangguk membuat dokter Rey langsung mengambil koper dan juga tasnya Rian dan Rani.


“Wahh. Bagus banget ya bun. Lebih bagus dati pada foto yang kita liat..” Gumam Rian berbinar saat melihat hedung didepanya ini.


Gedung didepanya itu terbuat dari kayu jati yang mengesankan kekunoan, tapi lebih mirip masjid tapi bukan masjid. Jika bahasa jawanya ndalem atau rumah pemilik pondok. Rindu sangat kagum karena disini sangat asri, ada banyak bunga yang subur ditanam, belum lagi anak-anak yang berlalu lalang.


“Iya bagus banget ya..” Jawab Rindu.


Banyak sekali anak muda disini, iyaa. Karena ndalem itu dekat dngan asrama para remaja. Jika dikiri maka asrama perempuan, jika dikanan asrama pria. Jika asrama anak-anak berada disampingnya lagi karena takut jika anak yang sudah remaja harus diawasi dengan ketat, iyaa takut karena resiko lebih tinggi dari pada anak-anak. Kalian ngerti lah ya apa yang dikhawatirkan.


“Ayooo...” Ucap Dkter Rey pada Rindu. Rindu menganguk, ia membantu dokter Rey membawa satu koper lalu melangkah masuk kedalam ndalem itu. Tapi langkah dokter Rey seakan berat membuat Rindu melihatnya.


Disana ia bisa melihat jika dokter Rey menghela nafas dalam, keringat yang mencucur dan jakun yang naik turun seakan sangat nerfeus. Kenapa? “ Ayo dok, kenapa masih diam, tadi ngajak masuk.” Ucap Rindu.


Dokter Rey menatap Rindu.” Itu masjid ya?” Tanyanya.


Rindu mengernyit. “Bukan dok. emang kenapa jika masjid?” Tanya Rindu kepo.


“Kenapa?” Tanya Rindu heran.


“Saya bukan agama isalm..” Rindu menganguk tak masalah.


Sedangkan dokter Rey tersenyum tipis pada Rindu. ia tau jika Rindu pasti terkejut tapi tak dilihatkan, “Tapi enggak ada yang larang kok. Lagipula perbedaan agama itu membuat kita bersatukan?” Tanya Rindu.


“Saya ateis.” Ia tersenyum tipis saat mengatakan hal itu. Tak ada rasa bersalah ataupun malu.


“Atheis? Bukannya dinegara kita indnesia ini wajib mempunyai kepercayan. Bagaimana bisa kamu tidak mempunyai agama dok?” Tanya Rindu heran. Benar bukan? Diindonesia itu punya 5agama yang diakui, yaitu Islam, Kristen. Hindu Budha dan Konghucu. Jika tidak kita tak dapat dakuti oleh negara. Karena agama sangat berpengaruh. Mulai dari pernikahan Ktp akta dan lainnya ada tertera agama yang kita anut.


Dokter Rey menatap kepatas langit dengan senyum tipis. “ Diktp saya mempunyai agama tapi..” Ia menatap Rindu lalu memukul dadanya pelan dan tersenyum tipis.” Tapi disini saya tak punya keyakinan dan kepercayaan tentang Tuhan. Saya tak punya agama dan tak punya kepercayaan sedari kecil.” Jelasnya tegas namun pelan.


Rindu tertawa hambar. Ia mengangguk tanda ia paham. “Banyak kok diKtpnya mempunyai agama contohnya agama islam, katanya agama islam tapi tak pernah melaksanakan sholat, katanya islam tapi lebih suka baca baca snapgram atau story orang lain dari pada Al-Qur’an. Banyak yang mengatakan jika ia islam tapi lebih menyukai mendengarkan lagu-lagu buatan manusia dari pada murotal. Bahkan ada yang mengatakan islam namun sama sekali tak mengerti agama islam. Jadi apakah itu termasuk atheis seperti dokter?” Tanya Rindu pada dokter Rey yang diam. Rindu hanya memandang kedepan menerawang jauh mengingat manusia akhir zaman seperti dirinya.


“Setidaknya ia mengakuh bahwa ia percaya dan memiliki Tuhan. Berbeda dengan saya yang memang tak percaya dan tak memiliki Tuhan... “ Jawab dokter Rey.


“Tapi apakah sebuah hubungan bisa terjalan ketika tak ada kasih sayang? Apakah sebuah hubungan bisa diakui ketika salah satu dari pihak tak pernah ada yang saling kabar? Salah satu pihak tak pernah menjawab panggilan dari Tuhannya yaitu Azzan, tak pernah datang saat bahagia dan hanya mengatakan HAY TUHAN AKU ISLAM DAN AKU HAMBAMU? Sedangkan dihati kita bicara tentang. ‘HAY DUNIA, AKU DATANG’” Rindu tertawa hambar. “Saya kagum sama kamu meskipun kamu tak punya agama kamu terang terangan mengatakan kamu tak punya agama, meskipun itu salah, setidaknya kamu lebih berani dalam mengakuhi jika kamu tak punya Tuhan dari pada orang lain yang mengatakan aku punya Tuhan tapi Tak dianggap..” Rindu terkekeh lagi. Bukannya ia mengatakan orang lain tapi inilah kenyataanya.

__ADS_1


Dokter Rey diam tak bisa menjawab. Mau menjawab terimakasih? Dimana ia betulnya? Berterimakasih karena dipuji? Itu sebenarnya bukan pujian baginya tapi bermunalog yang mengatakan jika ia tak seburuk yang ia pikirkan, diluar sana masih banyak yang jauh lebih buruk darinya. mengakuhi punya Tuhan tapi tak memberi tempat dihatinya untuk Tuhan, padahal Tuhanlah yang mempunyai Hati dan yang membolak-balikan hati bukan?


Percakapan merka terhenti ketika suara dari Ndalem itu memecahkan keheningan.


“Wahhh Ada tamu beneran ini.. Ehh bukanya kamu yang kemarin daftar anaknya yahh nduk?” Tanya paru baya yang menggunakan baju kokoh yang berbentuk jubah putih, dikepalanya ada sorban pertanda bahwa ia adalah kiyai disini. Ia tersenym tulus saat melihat Rian dan Rani yang masih bengong liat kesna kemari.


“Assalamu’alaikum Kyai... Iya ini Rindu yang kemarin mau daftarin anak-anak saya...” Jawab Rindu sopan.


“Wa’alaikum salam.. yaudah mari masuk saja kalo begitu..” Ucap pak Kyai membuat Rindu menganguk.


“Kasep. Hasbi.. Tolong bawain barangnya adek ini dong...” Ia memanggil dua santri yang lewat nembuat mereka membungkuk hormat lalu mendekat. “Enjeh..” Jawab mereka kompak.


Dengan sopan mereka mengulurkan satu tangan lalu meletakkan satu tanganya dibawah siku tanda kesopatnan. Ia membungkuk pada Rindu. “Afwan Ukhty. Biar ane aja yang bawain kopernya sii kembar..” Ucapnya tersenyum meskipun melihat kebawah tak mau melihat mata Rindu begitupun sebaliknya.


Rindu memberi koper Rian yang ada ditanganya. Sedangkan dokter Rey mengernyit tak mengerti apa yang diucapkan oleh dua pemuda yang membantunya ini. ia hanya mengikuti Rindu saja saat Rindu memberi tas dan koper, ia pun memberi koper juga dan lainnyapun masuk dengan hormat tapi tertahan saat melijat dokter Rey yang diam tak mau bergerak.” Tak apa. Mari masuk, tak ada larangannya kok disini kalo tak punya agama nggak boleh masuk, nggak adakan foster yang ngatain atheis dilarang masuk?” Tanya Rindu terkekeh membuat dokter Rey juga terkekeh lalu masuk.


Rian dan Rani sedari tadi anteng tak banyak tanya. mereka masuk dan berbicara banyak hal, tentang Rani dan Rian yang mau masuk disini dan menjadi anak asrama juga. Kyai juga menanyakan mengapa Rindu mengantarkan sekarang bukannya janjinya besok, rindu menjawab Jika Rian dan Rani sudah tak tahan, mau cepet kesini dan itu sukses membuat merka disna tertawa terbahak-bahak sedangkan dua bocil itu hanya merengut kesal.


Suara Azan megumandang membuat pembicaraan mereka terhenti. Kyai dan lainnya memilih sholat terlebih dahulu, memang sii Rindu kesini baru saja sampai dan sekarang berkumandang sholat Ashhar dengan senang hati Rindu sholat disini.


“Kok kamu ngitin saya? Apa kamu juga mau sholat?” Tanya Rindu pada Dokter Rey. Dokter Rey mengikutinya sedari tadi. Ada Rian dan Rani juga disamping Rindu. tadi kyai bertanya jika dokter Rey siapa yang dijawab Rindu jujur. mereka mengira jika Rey adalah suami Rindu dan ayah dari Rian dan Rani.


“Sya tak mungkin kan bilang jika saya non muslim pada mereka? Biarkan syaa menunggu kalian dibawah pohon sini, nanti jika kalian selesai sholat kesini saja ya..” Ucapnya mengarahkan dagunya dipohon besar diseblahnya.


Rindupun mengangguk.” Ya udah. Yuk Ran Rin kita sholat..” Ucap Rindu pada Rian dan Rani.


“Loh dokter enggak sholat?” Tanya Rani polos..


Rindu menggeleng.” Dokter Lagi PMS... Yuk sholat..”


Dokter Rey bengong melihat Rindu sudah pergi. Apa PMS? Datang bulan dong? Dan lugunya Rani ia percaya kata Rindu saat ini. rundu menghabiskan sholat selama satu jam, karejna disini sholat lumayan lama, ada Dzikir juga ada doa juga. Intinya menghabiskan lebih dari 40menit dan itu belum termasuk sholawat sesudah sholat.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Like komen and vote ya guys


__ADS_2