Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
DGR22


__ADS_3

Rindu mengusap wajahnya kasar. “ Aku punya banyak dosa mi. Banyak!. Tapi kata dokter aku bakal mati bentar lagi. Aku takut masuk neraka. Aku Jahat mi. Aku jahat.” Suara Rindu parau. Tapi masih didengar jelas oleh umi Ira.


Umi Ira mengerutkan keningnya. “Dokter bukan Allah. Dia hanya manusia biasa seperti kita. Kamu harus tenang.” Ucapnya lembut. Ia memegang tangan Rindu yang menutup wajahnya, “ Emang kesalahan besar apa yang kamu lakukan?” Tanyanya.


Rindu menatap Umi Ira sedih. Ia menggigit bibir bawahnya. “Aku selalu ngecewaain Umi sama Abi. Aku selalu bikin mereka malu, aku selalu bikin onar dari kecil, aku juga mamfaatkan banyak pria. Bahkan aku pernah bunuh orang mi. “ Suaranya bergetar. Ia menarik ingusnya dalam. “Padahal aku selalu doa sama Allah buat kasih aku kesempatan buat bahagiain umi sama abi. Buat mereka bangga. Tapi hiks hiks...” Ia sudah tak mampu untuk menjelaskannya lagi.


Umi Ira menatap Rindu tak percaya. Dengan penampilannya menggunakan jilbab membuat ia tak menyangka. Ia menatpa Rindu. “ Umi Tuhan jahat mi sama Rindu, jahat! Kenapa harus Rindu!” Lanjut Rindu berteriak.


“Astagfirullahhalazim nak. Istigfar. Kamu nggak boleh ngomong kayak gitu. Mati itu takdir, bukan salah Tuhan. Memangnya dokter mana yang bisa memprediksi seseorang akan mati?”


“aku mengidap kanker hati mi. Dan dokter bilang itu sulit buat disembuhin” Ucap Rindu setengah membentak.


Tangan umi Ira telulur. Ia memegang pundak Rindu.” Kamu denger umi baik-baik...” Ucapnya lembut. Rindu menatap umi Ira sendu. “Kamu tahu nggak?, kalo sakit itu nikmat. Ketika kamu diberi rasa sakit. Maka Allah gugurkan dosa-dosa mahluknya.” Ucapnya.


Rindu menetap umi Ira serius. “ Kamu harus bersyukur apapun yang ada pada diri kamu. Saat manusia dilahirkan dimuka bumi ini, mereka sudah membuat perjanjian, baik dilahirkan, jodoh dan maut. Kita menerima semua itu waktu itu supaya bisa melihat bumi yang indah ini. dan itu juga berlaku buat kamu. Semua yang kamu lewatkan sekarang itu sudah tertulis dilaulmahfuz.” Ucapnya lembut.


Rindu menghapus air matanya.” Termasuk penyakit?”


“benar. Kamu ingat kisah nabi Ayub yang terkena penyakit yang menjijikan?.” Rindu menganggukan kepalanya. “ Tubuhnya penuh dengan ulat, belatung. Tapi ia sama sekali tak mengeluh. Ia bahkan mengambil ulat-ulat itu dan meletakkannya kedalam tabung, dalam satu hari ia bisa mengumpulkan tiga toples belatung dan ulat-ulat. Bayangkan itu. Belum lagi semua orang yang ia cintai pergi meninggalkannya. Hartanya lenyap seketika. Tapi Ia sama sekali tak mengeluh. Padahal jika ia berdoa kepada Allah untuk disembuhkan, Allah pasti akan mengabulkannya. Tapi ia terima lapang dada, ia jalankan apapun yang diberi Allah sama dia dan kamu tahu apa yang ia dapat?” Tanya Umi Ira.


“Semua ulat yang didalam tabungnya menjadi emas. Dan penyakitnya diangkat oleh Allah” Jawab Rindu


“Pinter....” Ucap umi Ira. Ia mengelus pipi Rindu lembut. “ Kamu sama sekali belum terlambat. Kamu diberi kesempatan dari Allah untuk mengetahui sisa umur kamu. Sedangkan kami?, kami bahkan tak diberi aba-aba dari Allah tentang kematian, entah itu nanti, esok atau kapanpun itu. Kamu diberi keistimewaan tiada tara dari Allah. Kamu spesial dimata Allah. Banyak orang yang mati dalam keadaan bermaksiat, dan banyak pula orang yang mati dalam keadaan belum bertaubat. Jika kamu merasa kamu tidak ingin masuk neraka, maka kamu harus bertaubat...” Lanjutnya lembut.

__ADS_1


Hati Rindu sudah menjadi lebih tenang. “Tapi, bukannya Ridho Ibu itu adalah ridho Allah. Terus kalo ibu murka Allah juga murka. Umi Rindu udah murka sama Rindu, berarti Allah juga murka sama Rindu?” Tanya Rindu.


“Kamu benar. Karena itu, kamu harus mndapatkan kembali Ridho ibumu. Kamu perbaiki apapun dalam diri kamu. Kamu mulai dari awal. Jadikan hidup kamu memulai dari detik ini” jawab Umi Ira.


“Dosa Rindu banyak banget mi...” Jawab Rindu sedih.


“Kamu tahukan Sayidina Abu Bakar ayahnya Aisya. Betapa banyaknya ia dosa. Betapa kejamnya ia dulu, ia juga sering minum khamar dan berdosa. Tapi ia bertobat dan Allah angkat derajatnya. Ia menjadi manusia mulia setelahnya. Kamu harus ingat. Semua orang memiliki dosa. Kamu harus selalu bersyukur apapun yang kamu punya.” Jawab Umi Ira tegas.


Rindu mencerna semua ucapan Umi Ira. Semua yang dikatakannya memang benar, semuanya bahkan sangat benar. Ia mulai menggerakkan hatinya, ia mulai mengikis kesedihan dihatinya. “Mungkin mengapa Allah beri kamu sakit dihati kamu karena hati kamu penuh dengan dengki, hati kamu selalu digunakan hal yang jahat dan memakan hal yang haram. Jadikanlah hal yang buruk kamu dapatkan adalah ulah kamu sendiri.”


“Allah sangat mencintai makhluknya. Saat kita Rukuk maka Allah kumpulkan semua dosa kita dipunggung kita, saat kita sujud, maka Allah hisap habis dosa kita. Kamu masih mau bilang Allah jahat?” Tanya Umi Ira.


Rindu menggelengkan kepalanya. Ia tersenyum tipis. “Umi bener. Rindu sering makan uang haram, Rindu sering marah, dan banyak lainnya. Rindu. Rindu ingin memperbaiki semuanya. Rindu akan jadi orang baik.” Ucap Rindu semangat.


Rindu menganggukan kepalanya. Wajahnya dihiasi dengan senyum. “ Kamu bisa sholat Tobatkan?” Tanya Umi Ira.


“Bisa. Tapi Rindu belum sholat magrib dan Isya. Gimana?” Tanya Rindu.


“Kalo gitu. Kamu sholat magrib dan Isya dengan Qodo’. Lalu lanjut sholat Tobat” Jawabnya


“Apa boleh mi?”


“Allah mengutamakan niat kita. Ketika niat kita dari hati. Maka Allah akan ada dihati kita” Jawabnya.

__ADS_1


Rindu tersenyum. “Tapi tangan Rindu?” Ia baru sadar tangannya terbalut perban. Mana bisa ia ambil air wudhu.


“Ambillah wudhu. Allah tidak pernah mempersulit umatnya. Basahkan hal yang bisa kamu basahkan. Dan tinggalkan yang kamu tak bisa. Serahkan semuanya kepada Allah.” ucapnya lembut.


Rindu hanya menganggukan Kepalanya. Ia mulai mengambil air Wudhu. Ia membasu semua bagian untuk berwudhu. Untuk luka ditangannya, ia sedikit mengusapkan air keatas permukaan perbannya. Setelahnya ia membaca niat sesudah berwudhu.


Ia melangkah masuk kedalam masjid. Ia mengambil mukena. Ia melaksanakan sholatnya. Saat ia sudah mengQodo’ sholatnya. Ia melanjutkan sholat taubat. Untungnya ia dilahirkan dari keluarga yang kaya akan ilmu agama membuat ia tak buta akan ilmu.


Saat akhir salam sholat taubatnya. Ia mengangkat kedua tangannya. Ia menadakan tangannya untuk meminta pengampunan. Ia menangis dalam sholat itu. “Yallah. Aku yang kotor, yang berlumbur dosa. Bahkan buih dilautan tak sebanding dengan dosa-dosaku. Dosaku mengalahkan besarnya gunung-gunung yang kau ciptaakan. Aku malu untuk meminta pengampunan. Aku malu...” Suaranya parau. Bahkan terputus putus. Ia terisak. “Tapi engkau maha mulia, engkau selalu meberiku kenikmatan yang selalu aku keluhkan, aku selalu berbuat dosa tapi kau masih disisiku. Yallah. Yaroobbiku yang Maha Pengasih lagi maha Pengampun. Izinkan aku bertoubat.” Ucap Rindu serak. Suaranya menghilang karena menangis seharian ini. ia mendongakkan kepalanya menatap langit-langit masjid. “Terimalah tobatku Yarob. Bantu hamba untuk bertaubat. Bantu hamba untuk selalu dijalanmu. Yarobbiku. Ampunilah semua dosa hamba, ampunilah semua kesalahan hamba. Bimbing hamba untuk merubah diri hamba supaya hamba menjadi orang yang lebih baik Yarob.” Tangisnya pecah. Ia menutup wajahnya. Ia bersujud disejaddahnya, ia menangis disana.


“Yarobku. Izinkan hamba merubah takdirku. izinkan Hamba untuk bertaubat...” Gumamnya lemah. Bahkan suaranya sama sekali tak lagi ingin keluar. Ia menangis sejadi-jadinya.


.


.


.


**Hay semua. salam dari Autor. sebenarnya Autor binggung mau ngelanjutin ini cerita atau enggak. soalnya nggak banyak yang baca atau yang suka. apa lagi yang like dan vote. hiks hiks.


tapi Author masih mau berbagi ilmu agama dan lainnya di novel ini. Author bingung supaya bikin para reader tertarik sama novel ini. Gimana ya? Ada nggak sii yang suka sama ini novel buat meyakinkan Author buat lanjut?.


Yarob. hiks hiks sedih Autor**....

__ADS_1


__ADS_2