
“Kamu jangan bohong Rin..” Ujar dokter Rey menatap Rindu. ia memberikan surat itu pada Rindu. surat hasil pemeriksaan.” Lihat, disana kamu bahkan sudah memaski warnah merah yang artinya keadaan kamu sudah hampir darurat.. kamu sudah darurat Rin.. bagaimana bisa kamu tidak merasakan sakit? biasanya pasien diangka ini akan merasakan sakit diatas rata-rata, tak akan bisa ditahan dan juga tak ada obatnya kecuali obat tidur.” Ujarnya jujur, apalagi Rindu sudah memborong penyakit bukan?
Rindu menggeleng.” Bener kok Dok.. Saya jujur. saya bahkan berfikir jika saya sudah tidak sakit lagi kemarin-kemarin..” Jawab Rindu lagi untuk memperkuat argumennya pada sang dokter dbegan tegas.
Dokter Rey menghela nafas. Rindu sangatlah keras kepala. “saya tidak tau apa yang kamu rasakan Rin..” Gumamanya dengan lembut lalu memijit pelipisnya.” Tapi tolong dengarkan saya Rin.. dengarkan saya. Keadaan kamu sedang tidak baik-baik saja.. kita keluar negeri ya buat ngobain kamu..” Ujarnya membujuk Rindu lagi, ingin rasanya menyentuh tangan Rindu dan mengusapnya tapi ia sudah tau jika itu haram, tidak dibolehkan agamanya membuat ia urung dan mengepalkan tanganya saja.
Rindu diam sesaat “ Lalu andai jika saya tidak sembuh bagaimana?” tanyanya dengan senyum tipisnya. Bukanya ia pesimis hanya saja ia sdah melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri dan ia sudah menyiapkan mentalnya akan semuanya.
Dokter Rey mengeleng kuat. Meskipun hatinya sekarang juga sedang tak baik-baik saja. Hatinya juga ragu akan kesembuhan Rindu.” Jangan begitu.. kita harus berusaha dulu sebelum semuanya terjadi. Kita harus berusaha.. dan kita berdoa sama-sama..” Ujarnya. Jujur saja hati dokter Rey tak ikhlas jika orang yang ia cintai menghadap langit, ia belum siap hal itu terjadi, ia mau Rindu sembuh.
Rindu terkekeh.” Lalu ketika saya tak sembuh tapi saya memiliki hutang yang menggunung kepada anda dok?” Ia kembali terkekeh.” Maaf dok. saya lebih baik mati cepat dari pada memperpanjang waktu hanya untuk menumpuk tanggung jawab (hutang) kepada dokter.. insyaalah saya sudah ikhlas jika saya meninggal.” Ujarnya.
'Tapi saya yang tak ikhlas... ' Batin Dokter Rey.
Dilubuk hati Rindu maish punya dua cita-cita yang harus ia kabulkan, ia memiliki dua harapan sebelum ajalnya mendekat. Dan saat ini ia sedang berusaha mewujudkannya. “Lagi pula ada mimpi orang tua saya yang harus saya kejar. Setidaknya saya bisa membanggakan mereka meskipun hanya satu macam saja..” Ujar Rindu sedih.
Dokter Rey tak tau harus bicara apa lagi. Karena Rindu sangatlah keras, tak mau mendengarkan ucapan orang lain. ia selalu kekeh dengan ucapan dan keinginanya, ia terlalu kaku untuk pendapat orang lain. ia hanya diam saja karena memang Rindu tak akan bisa dibujuk dengan berbagai cara membuat ia menghela nafas.” Kamu sudah berjanji dengan saya. Kamu aan beruang untuk menghadapi penyakit kamu jika saya sudah mengetahui islam itu apakan?” Tanyanya dnegan Rindu membuat Rindu mengangguk.” Aku sudah mengetahu Islam itu apa. Jadi sekarang kau tak mau menepati janjimu?” Tanyanya lagi membuat Rindu diam.
Rindu menatap dokter Rey.” Apa itu Islam?” tanya Rindu dengan serius kepada dokter Rey,
Dokter Rey mengingat lagi apa yang ia ingat.” Islam adalah agama Allah Swt yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw untuk disebarkan dimuka bumi, bersumberkan hukum dengan Al-Qur’an dan hadist. Memiki beberapa mahzab dan juga hanya beriman kepada Alllah swt..” Ujarnya dengan yakin.
“Benar...” Ujar Rindu menganguk membuat dokter Rey tersenyum.” Tapi sayangnya bukan itu yang saya mau dok.. jadi coba lagi kau cari apa itu Islam dan nanti datang kagi kepadaku.. supaya kita sama-sama berjuang..” Ujar Rindu membuat dokter Rey diam.
“Beri tahu aku yang dimaksudmu apa? Saya tidak mengerti. Karena setahu saya apa yang saya ucapkan itu adalah suatu kebenaran, karena saya melihatnya dibuku kemarin..” Ujarnya mengelak. Dia sudah belajar selama dua minggu ini, masa iya dia salah? Ia bahkan membuka hapenya unuk sharecing digoogle untuk menemukan kebenaranya dengan Rindu.
__ADS_1
“ Ni liat.. kamu liat yang saya ucapkan benar. Hanya sedikit berbeda saja tapi intinya sama..” Ia memberikan hasil sharchingnya denga Rindu saat ini.
“Saya kan sudah katakan jika dokter benar.. lalu apa lagi yang dokter tunjukan dengan saya?” Tanya Rindu Dengan tenang.. ia batuk sedikit “Yang saya katakan. Dokter harus tau apa itu Islam bukan definisi Islam. Jadi seorang pelajar yang berilmu dokter bisa bedakankan? Yang mana definisi dan yang mana mengetahui?” Tanya Rindu lagi membuat dokter Rey diam dan mengenggang erat hapenya.
Rindu membereskan tasnya lalu berdiri.” Saya akan pergi dulu ya dok.. Terimakasih karena sudah bekerja keras untuk saya. Saya akan menepati janji saya jika dokter bisa memenuhi syarat saya. Dan jangan lupa, jika dokter juga harus memahami dan bisa membaca ayat suci Al-Qur’an ya..” Ujarnya tersneyum lalu pergi. Dia membawa resep obat dari dokter Rey tadi yang berada diatas meja dan pergi.
Kepergian Rindu ditatap dokter Rey dengan sendu. Ini bukan pertama kalinya ia jatuh cinta ataupun tertarik dengan seseorang. Tapi ini adalah pertama kalinya ia merasa jatuh hati kepada seseorang dan lagi ini pertama kalinya ia mengagumi satu sosok, kagum akan perjuangan dan kagum akan sikap. Sikap yang menerima takdir begitu dalam. Jika dijelaskan Rindu adalah sosok teristimewa yang mampu mencuri hatinya sejauh ini.
...
Saat ini Rindu menghela nafas. Duduk dideretan mengantri obat. tangannya terkepal menggengam resep obat itu. Ia merasa buruk sekali saat ini. sebenarnya itu adalah alasan saja diberikan oleh Rindu. alasan supaya dokter Rey tak memikirkannya. Ia merasa tak pantas untuk dokter Rey. sungguh, dokter Rey pantas mendapatkan orang lebih baik darinya. dokter Rey terlalu banyak berkorban jika harus menghabiskan uangnya untuk Rindu.
Rindu tau betapa susahnya orang mencari uang, sedangkan ia? Mudah saja ia menerima dokter Rey yang mau membantunya. Tapi dia bukan wnaita yang seperti itu, dia bukan orang yang mau memanfaatkan orang lain demi dirinya. Ia punya harga diri harga mati... Ia harus ingat, jika tujuanya hidup bukan untuk panjang umur tapi tujuannya hidup adalah kembali kepada sang khalik dalam keadaan bersih.. “Semoga apa yang kamu dapatkan sekarang menjadi hadia terindah yang aku beri dengan kamu ya.. sebab aku memberikan kamu suatu keberanaran yang mutlak dimuka bumi ini. yaitu agamaku...” Gumam Rindu terkekeh.
“Kak.. aku boleh duduk disini nggak?” Tanya dari sesoerang disamping Rindu itu. Ia menarik tangan Rindu lembut dan juga menatanya dengan binar.
Rindu yang ditarik dan dipanggilpun menatap kesamping. Ia tersneyum melihat sosok itu.” Boleh.. sini kakak bantu.” Ujarnya dengan lembut. sebab disimpingnya itu adalah sosok anak kecil perempuan yang imut. Wajahnya manis dan juga putih. Hanya saja ia duduk dikursi roda. Rambutnya sangat bagus karena hitam dan lebat.
“Kakak kenapa ditutup mukanya?” Tanya gadis kecil itu disamping Rindu. Karena memang Rindu duduknya dikursi paling hujung dan sudut membuat ia dan anak kecil itu bisa berdampingan meskipun tak duduk disatu kursi tunggu yang sama.
Rindu meraba wajahnya dan tersenyum.” Soalnya kalo ditutup kayak ninja gitu hehe... biar semua orang pada penasaran sama muka kakak. Jadi banyak yang fans deh.” Guraunya pada anak kecil. Ia mau menfatakan hal kebenaran tapi ia melihat tanda salip dileher sang anak membuat ia mengurungkannya. Ia bukan anti toleransi. Baginya semua agama itu benar bagi pemeluknya masing-masing. Tak ada yang harus diperdebatkan karena kitab saja kita sudah berbeda. Ia bukan anti nonis. Ia sangat menghormati nonis kok..
Gadis yang mungkin umurnya baru mau menginjak enam atau tujuh tahun itu membulatkan bibir mungilnya membuat Rindu tambah gemes dan merindukan dua anak kembarnya. “ Sama dong kayak Raisa. Raisa pakek Wiig loe supaya keliatan cantik.. kata mbak suster kalo Raisa pakek Wig tambah cantik dan bayak yang ngefans..” Ujarnya dengan gaya gemoynya lalu membuka Wignya yang tadi rambut yang sangat lebat dan hitam sekarang hanya nampak kulitnya saja dan beberapa helai rambut.” Ini rambut Rai.. jelek ya..” Ujarmya lagi membuat Rindu terdiam.
“Masih cantik kog.. “ Ujar Rindu menenangkan Risa sembari membenarkan Wignya” Kakak bantun benerin ya supaya tambay gemoy..” Lanjutnya terkekeh sembari memegang Wig itu dan memasangnya dikepela mungil itu dengan gemetar.
__ADS_1
“Kakak Boong Ih...” Ujarnya anak kecil itu sembari manut saja saat Rindu membantunya menggunakan Wig.” Gini ya kak. Aku tu punya cermin dirumah, punya camera buat selvi dan aku sadar diri. Aku sadar kalo aku itu enggak cantik,.. “ Ujarya dengan menentang. Namun nadanya sedikit sendu saat ini.
Rindu tertegun mematapnya. “Menurut kamu kakak cantik atau engak?” tanya Rindu kepada anak itu.
Anak itu menggeleng.” Mana aku tau kak. Kakak aja pakkek baju warna item sama mukanya ditutup kain item..” Ujarnya jujur agi.
Rindu mengelus kepala itu.” Sama kayak kamu.. setiap perempuan itu cantik kog... Dan kecantikan kamu sama kayak kakak. Tertutupi sama rambut kamu.. Kalo kakak buka kainnya mungkin kamu bisa lihat jika wajah kakak itu cantik dan manis.” Ujarnya dengan gaya soknya. “ Dan sama kayak kamu.. liat aja sekarang, kamu pakek Wig cantikkan? Coba rambut kamu panjang dan asli. pasti kamu cantik.. semua orang punya kekurangan sayang..” Ujarnya lagi menjelaskan.
Anak yang bernama Raisa itu mengangguk.” Bener juga ya... hehe.. itu artinya aku memang cantik ya kak..” Ujarnya dnegan lugu tanpa menanyakan hal lainya. Ia hanya menatap Rindu degan tatapan lugunya membuat Rindu ingin mencubit pipinya.
Rindu terkekeh lalu mengangguk. “Tapi kakak, aku punya penyakit... sini aku bisikin sesuatu sama kakak, karena in rahasia aku aja..” Ujarnya membuat Rindu mendkeatti telinganya dengan anak kecil itu. Anak tu muai berbisik apa yang ia mau katakan.” Aku punya penyakit Leukimia kata dokter. Tadi aku liat papa aku keliatan sedih banget karena dengar kalo aku bakal meninggal dua bulan lagi. Aku bahkan sampek ditinggalnya disini karena mau nelpon mama diIndia..” Ujarnya dengan lugu.
Rindu tertegun mendengarnya lalu mengelus kepalanya Raisa. “Tapi Rai ngak pa-pa kog pergi kehadapan Tuhan. Soalnya Rai juga udah capek sama hidup Rai. Papa nggak pernah ada dikehidupan Rai. Papa nggak pernah pulang dan peluk Rai. Dia sibuk kerja terus, kerja kerja dan kerja. Pergi pagi pulangnya tengah malem.. sampek-sampek Rai lupa gimana sii kasih sayang papa.” Curhatnya pada Rindu membuta Rindu tertegun mendengarnya.” Mama juga dia malah lebih milih ninggalin kita dan Rai nggak tau gara-gara apa. Aku bahkan lupa gimana bentuk muka mamaku, karena memang sedari kecil nggak pernah lihat muka mamaku lagi.. kau capek banget hidup kesepian kayak gini..” Matanya sudah memananas sekarang dan sedang siap meluncurkan gas air matanya.
Raisa menatap Rindu lalu mengambil kertas ditangannya. “Kak.. nanti kalo aku udah pergi kakak kasih ini ya sama papa. Supaya nanti kalo aku punya adik, adik ngak ngerasaain gimana rasanya kesepian, gimana rasanya nggak disayang. Cukup aku aja yang kayak gitu.. aku sayang sama adek meskipun nggak tau adek kapan datang..” Ujarnya membuat pipinya mengembang sedangkan matanya sudah berair,” Itu juga ada alamat rumah aku kok kak.. tolong ya kak aku yakin kakak orang baik.” Gumamnya dengan senyum pilu.. ia memberikan surat yang dituliskan dikertas origami sebanyak dua buah dan digulung menggunakan pita hitam menandakan jika itu adalah surat duka.
“Hey.. kamu ngak boleh gitu... kakak yakin kamu bakal sembuh kog. Kamu bakal kasih kasi sayang sama adek kamu, kamu yang bakal buat harinya nggak kesepian.. kamu adalah gadis kuat..” Kata Rindu dengan menenangkan Raisa dengan lembut. Raisa bahkan tak tau siapa nama Rindu.
Raisa menggeleng.” Rai udah dijemput sama opa sama oma dilangit. Katanya mereka akan jemput aku secepatnya. Mungkin nanti malam..” Ujarnya lagi dengan memiringkan kepalanya. “ Aku juga nggak mau papa sedih karena aku ngatain ini sama dia. Karena itu aku nemuin kakak disni.. kak, kakak janji ya mau bantuin aku..” Ujarnya lagi, tangan mungilnya menyentu tangan Rindu membuat Rindu menatapnya nanar.
“Sayang.. kamu kenapa disini? Kan papa suruh tunggu diruangan kamu..” Suara itu membuat pandangan mereka berdua menujuh kesatu arah. Yang tak lain kearah stau pria yang masih muda dan tampan, menggunakan jas hitam dan berdasi. Jangan lupakan jika matanya memerah saat ini, karena matanya sipit sekarang mata itu hampir menyatu membuat Rindu menahan tawanya. Sunggu pria ini sangat lucu batinnya.
Sedangkan pria itu menatap Rindu tajam setajam silet... ia mendekati Raisa dan mengelus kepala anaknya membuat Rindu ingat kara Raisa tadi.
” Gimana Rai? Gimana rasanya dielus? Nyaman nggk?” tanyanya terkekeh.” Kalo kamu itu Shofa ataupun lemari, mungkin sekarang kamu sudah berdebuh ya.. atau bisa jadi kamu sudah dimakan rayap dan menjadi lapuk.. iya lapuk.. selapuk dan rapu hati kamu ya haha..” Sinisnya Rindu didepan pria itu.
__ADS_1