Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Tugas


__ADS_3

...


“Papi..Aabang.. bantuin aku bikin makalah dong..” Ia membawa laptopnya dengan buku yang ditumpuk diatas laptop,


"Nay? Kamukan bisa baca buku atau cari digoogle. Copas aja sana...” Usir Habib karena ia kesal Rindu tak mncul-muncul. Padahal ia sudah menunggu satu jam. Masa bikin teh saja selama itu.


Nayla duduk dipingir meja. Ia duduk diatas karpet bulu dengan membuka laptopnya. “Dibuku nggak lengkap bang. Digoogle juga ngak ada. Karena itu nanya sama abang atau papi.... Tadi mau pergi kerumah Vera papi nggak bolehin...” Ia mengerucutkan bibirnya.


“Siapa suruh ambil jurusan hukum? Papi sama Habib itu jurusan managemen bisnis. Bukan hukum. Mana tau kami tentang undang-undang.” Jelas papinya menatap Nayla.


“Ihh. Papi, ayo dong bantuin Nay.” Rajuk Nay dengan bibir mengerucut.” Tadi Nay mau bikin sama temen papi nggak bolehin, jadi papi harus bantuin Nay.”


Sesaat setelahnya Rindu datang dengan dua gelas minuman. “Permisi tuan.”


“Lama sekali. Masa bikin teh saja satu jam.” Rutuk Habib saat Rindu masuk lalu meletakkan teh yang aromahnya sangat berbeda membuat Panji heran.


“Ini Teh apa? Kok baunya gini? Wangi dan juga segar.” Ucapnya sembari mengirup baunya.


“Itu hanya Teh herbal tuan. Biasanya ummi saya bikin teh herbal buat Abi saja dimalam hari, katanya untuk kesehatan, teh herbal itu supaya kita tidak gampang capek dan juga masuk angin. Jadi tubuh kita lebih segar dan sehat.” Jelas Rindu sopan.


“Emm. Enak, pedas, panas dan harum.” Ucap Panji antusias saat teh yang dicampur serai dan madu itu neluncur dilidahnya.


“Papi, udah de, jangan belain dia terus. Bantuin aku bikin makalah, besok harus selesai ini. nanti aku nggak dapet nilai.” sahut Nayla dengan memukul mukul ujung kaki panji.


“Kan papi udah bilang. Papi ngak tau tentang hukum. Memang apa sii judulnya?” Tanyanya heran.


“Judunya itu perjanjian nasional dan juga perjanjian internasional. Papi harus bantuin, soalnya dibuku ngak lengkap dan digoogle ngak ada.” Ia mengetuk ngetuk buku yang ia pegang. Buju yang berjudul "Perjanjian Hukum"


“Aduh Nay Nay. Kamu tu bikin kepala abang sakit aja. Pergi aja sana. Abang mau kerja...!” Rutuk Habib sembari meminum tehnya.


“Jadi gimana dong?” Tanya Nay putus asa. Matanya sudah berkaca kaca karena besok makalahnya harus selesai.


“Kamu gunain buku pengarang profXXX. Buku itu Cuma panduan doang, jadi memang nggak lengkap kalo buat pelajar. Seharusnya kamu beli buku dari profXXX. Disana lebih lengkap dan juga buat pelajar baru seperti kamu.” Tiba-tiba Rindu menyahut dengan menatap buku didepan Nayla.


“Sok yahh lo... Kayak pernah kulia aja.” Nay;a menatao Rindu sinis.


Rindu mengangkat bahu acuh.” Ya sudah kalo ngak percaya.”


“Ehh ehh. Rindu. kamu tau pelajaran hukum?” Tanya Panji heran.


“Ya dia kan mahasiswi hukum Pi.” Sahut Habib membuat Panji menoleh. "Tapi dulu..."Lanjutnya.


“Tu Nay. Minta bantuan Rindu aja.”


“Ngak mau. masa minta bantuan sama pembantu.”


“Yaudah. Paling nilai kamu kosong. Ngulang aja tahun depan.” Cibir Panji.


“Oke. Karena papi yang maksa. Rindu bikinin makalah gue.” ia melirik Rindu dengan alis terangkat.


Rindu mendekat. Ia suka hukum. Sedari kecil ia sangat mau jadi intelgen membuat ia selalu belajar bela diri. Ia juga mau jadi polwan tapi sayangnya ia tak bisa, tinginya kurang dan juga giginya berlubang membuat ia tak bisa mendaftar. Dulu ia pernah ditawar menjadi intelgen tapi harus membayar uang senilai 300juta. Tentu saja Rundu menolak. Untuk apa ia bekerja tapi menerima gaji Haram. uang yang ia makan pasti haram, padahal ia sudah bekerja keras. Bodoh sekali dia jika mau. Sudah bekerja keras, mengancam nyawa tapi digaji dengan uang haram dan hidup dengan kehidupan haram, Karenanya membuat ia ingin menjadi alvokat atau hakim saja. Ia masih bertekat untuk menegakkan keadilan. Karenanya ia sangat tahu tentang hukum. Ia bahkan belajar hukum sedari ia masih kelas satu SMP.


"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaknat orang yang nyogok dan penerima sogok." (HR. Abu Daud, Turmudzi, Ibnu Majah, dan dishahihkan Al-Albani)


“Cover kamu salah, seharusnya gini..” Rindu mulai mengedit cover makalah yang menurutnya salah.” Ini kalo kamu kasih makalah sama dosen sesepu, bisa diomel tujuh turunan kamu.” Lanjutnya.


“Lanjut aja napa. Nggak usah cerama.” Ketus Nayla.


Rindu masih berkutat dengan leptop dan mulai menulis makalahnya membuat Nayla menutup mulut tak percaya.”Lo ngak buka buku? Hey, nanti salah lagi. Jangan sok tau ya.” Ucapnya. Ia rindu dengan ilmu yang ia cintai dulu membuat ia sangat semangat memgerjakan makalah ini.


Rindu mnghela nafas.” Dulu gue udah pernah belajar ini, jadi gue udah hafal diluar kepala.” Jelas Rindu.


Nayla membulatkan mata. “Bentar. bentar.....Itukan pakek bahasa Prancis. Lo paham bahasa prancis?” Tanya Nayla.

__ADS_1


Karena language dilaptopnya itu menggunakan language Prancis, karena ia tak menyukai orang lain menyentu barangnya. Karena itu, tak semua orang paham bahasa Prancis.


Nayla itu pernah tinggal diprancis bersama kakek dan neneknya, jadi bahasa Prancis menjadi bahasa kebanggaannya sejak kecil.


“ si je sais pourquoi (kalo gue tau memangnya kenapa?) “ Tanya Rindu menggunakan bahas aprancis pasih.


Nayla membola matanya.” Loe orang miskin kok keren banget sii..” Ia menepuk pundak Rindu keras. ia bahkan bertepuk tangan. Panji dan Habib bahkan mengaga dibuat Rindu.


Ini memuji atau menghina? Orang miskin keren? Rindu meringis mengelus pundaknya.


” Jelasin kenapa loe bisa...” Ucapnya tak sabar.” Masa pembantu bisa kan.”Lanjutnya menjeda-jeda.


“Dulu gue pertukaran pelajar si Hiighschool EF Education Firts selama tiga bulan. Lagi pula didalam hukum itu banyak bahasa prancisnya buat gue nekat belajar bahasa Prancis.” Jawab Rindu.


Nayla membulatkan mulutnya membuat Rindu yakin jika Nayla itu bersikap kanak-kanak. “Pertukaran pelajar diprancis? Gila.. pembantu keren ini namanya...”


“Memangnya kamu udah nggak kulia lagi Rin?” Tanya Panji ikut nimbrung percakapan antara putrinya dan Rindu.


Rindu masih mengedit makalah dan menambahkan sesuatu “Enggak pak ehh Tuan..” Rindu nggak tau harus memangil apa. Seperti dirinya dengan Habib, dulu ia memangil Habib dengan pangilan paman, sekarang adang bapak dan kadang tuan. Ahh, Rindu malas memikirkannya.


“Kenapa? Kalo pernah jadi pertukaran pelajar berarti kamu pintar dong. Memang kamu udah smester berapa?”


“Saya masih semester satu dan saya dikeluarkan.”


“Lo masih semsester satu? Terus lo belajar dari mana ini makalah? Inikan materi semsester 4 pembantu...” Ucap Nayla saat mendengar jika Rindu masih semseter satu. Tolong ditebalkan kata pembantu.nya


“Ilmu itu bukan Cuma dapet lewat guru ataupun dosen. Tapi juga bisa dari buku, yaa.. tergantung niat belajar aja... Lagipula nggak semua orang yang udah diatas jika itu jauh lebih baik dari kita. Jadi karena itu ada yang bilang. Dont judge by cover alias jangan menilai dari penampilan.”


“Terus kenapa dikeluarin, ngak mampu bayar?” Tanya Nayla.


Rindu itu mau ngertetik lo, nggak jadi-jadi karena pertanyaan Nayla yang menyakitkan. Ini bodoh? polos atau sombong? “Berantem..” Jawab Rindu seadanya.


“Berantem gimana? Habib sedari dulu berantem ngak pernah dikeluarin. Memang berantem gimana kamu?” Sahut Panji.


“Hey... Saya tidak seperti itu ya...” Jelas Habib sewot saat mendengarkan Rindu.” Memang kamu berantemnya kayak gimana?”


“Nggak diapa-apain. Cuma diendep diair terus tendang eh lawannya kejedot trus pendarahan. “


“Itu sii kamu yang keterkaluan..!” Sahut Panji.


Rindu terkekeh tapi masih mengetik saja.


“Kamu berapa saudara Rindu?” Tanya Panji.


Panji kepo ya...


“Saya tiga saudara. Kakak saya laki-laki dan adik saya perempuan. Saya anak kedua.”


“Udah ada yang nikah?” Tanya Panji lagi.


“Belum. Saya punya satu kakak laki-laki yang masih kulia dan adik yang masih sekolah dasar.”


“Wahh.. Emang ayah kamu kerja apa?” Tanya Panji kepo.


“Hanya kebun biasa sama punya ladang sawah.” Jawab Rindu enteng.


Panji melirik Habib. Hanya kebun? Bagaimana bisa? “Sodagar?” Tanya Panji.


Dinegara kita memang terkenal seperti itukan? Anak petani atau anak kebun biasa mana bisa kulia tinggi kalo engak orangnya saudagar kaya atau memiliki kebun yang berhektar-herktar lebarnya.. Atau bisa dikatakan saudagar tanah.


Anak petani itu dikenal kurang memiliki biaya. Jadi wajar jika Panji berfikir seperti itu. Sebenarnya bukan hanya Panji saja yang berfkir seperti itu. Tapi juga warga dusun Rindu, sebanarnya yang membuat mereka salut itu karena Kakak Rindu ynag kulia sekaligus Rindu yang menempu pendidikan menenga Atas disekolah Favorit yang bisa dikatakan biayanya sangat besar. Yaiyalah, sekolah Favorit yang Rindu pijaki itu adalah sekolah Nomor 1 sekabupatennya, hanya sekolah negeri, bukan sekolah Swasta, tapi tetap saja biaya disana dua kali lipat lebih besar dari sekolah Negeri biasa lainnya.


“Kebun... Hanya kebun, kebun sawit sama kebun getah damar beberapa hektar, itupun sawitnya belum berbuah.” Jelas Rindu. ia paham makasud dari Panji ini.

__ADS_1


“Hebat dong..” Jawan Panji tak percaya.” Biasanyakan yang kerja serabutan atau kebun ngak bisa kulia hin anak, bahkan ada yang taman SMA . Tapi kamu? Bahkan kalian tiga saudara bisa sekolah sampai tingkat tinggih.” Ia mengangguk-ngangguk paham sekaligus kagum akan keluarga Rndu.


Rindu menghentikan jarinya dikeyboard membuat Panji takut.” Eh.. Saya ngak lagi hina petani lo.. Beneran...” Ia menadakan tangan takut. Ia bahkan mengangkat dua jari berbentu V.


“Pendapatan ayah saya dalam seminggu hanya 300ribu, saat saya masuk SMP itu berbarengan sama abang saya masuk SMA, Ngebuat Abbi gelabakan cari biaya, biaya kami dibutuhkan dua kali lipat. Belum lagi saat saya memutuskan untuk sekolah disekolah Favorit tapi syukurnya Abbi saya masih bisa ngebiayain saya..”


“Saat saya mau masuk SMA tepat saat itu abang saya mau masuk kulia ngebuat Abbi saya harus pinjam sana sini.” Rindu tersenyum tipis dibalik niqobnya.” Tapi dia terus saja nyemangatin kami kayak gini ‘Abbi itu Cuma usaha, tapi hasilnya udah ada Allah yang atur, kalian sekolah itu udah ada Allah yang kasih rezeki. “


“Kadang memang bener kok, banyak yang jual sawah atau kebun untuk anaknya sekolah, tapi abbi ngak pernah ada niatan buat jual sana sini. Dia selalu berusaha dan meyakinkan jika rezeki sudah ada yang mengatur, tingal niat dan berdoa. Allah maha pendengar lagi maha mengabulkan. Jadi sekolah itu bukan hanya tentang biaya, tapi tentang kita mau mengambil resiko dan usaha atau tidak. Yaaaa jika hanya pasrah dengan takdir, maka Doa nggak diciptan’kan?”


Diam..


Lagi lagi keluarga Habib bungkam. Mereka tak bisa menjawab kata-kata mutiara Rindu. saling lirik kanan kiri dan Habib yang mau sibuk dengan berkas nya saja.


“Ini kok kumpul nggak ngajak-ngajak sii?” Tanya Nina yang baru datang. Ia sedari tadi mencari keluarganya, ehh, mereka sedang kumpul disini.


“Nggak kok. Cuma ngobrol sama Rindu yang bantuin Nayla bikin tugas.”Nina menatap Nayla yang diam sambil main hp disamping Rindu yang menari-narikan jari lentiknya yang tertutup sarung tangan dikeyboard laptop.


“Oke Fiks kita temenan. Karena lo pintar sama keren meskipun loe pembantu sama orang miskin.” Ucap Keyla membuat Rindu menoleh. Nayla menganguk yakin.” Iyaa kita temenan, jadi loe bisa bikin tugas gue setiap waktu. Gue terima kok meskipun lo miskin sama pembantu...”


Yasaalam....


Rindu mengutuk Nayla dalam hati. Kenapa pula miskin dan propesi disebut sebut. “Kamu mau memamfaatkan saya?”


Nayla mengangguk.” Iya lah. Kalo loe enggak guna, gue ngak bakal mau..”


Rindu batuk sekali karena sakit. “Gini yaa Nay...”


“Nona...!” Tegas Nayla.


“Gini yaa Nona Nayla... Gue bukannya mau jadi motivator kayak abang loe. Tapi dengan cara loe memperbudak sama memanfaatkan gue jadi temen loe itu akan merugikan diri lo sendiri.”


“Kenapa Gitu?” Nayla mengernyit.


“Dengan gue yang selalu bikin tugas loe ngebuat lo nggak belajar, dengan lo yang minta gue ini itu ngebuat lo makin bodoh dan ngak tau apa-apa. Jadi,,, lo mau jadi sarjana apa kalo materi aja loe ngak paham? Sarjana Absensi? Atau sarjana kertas?”


Nayla diam. benar adanya ucapan Rindu. kita yang menggantungkan diri pada orang lain. Orang yang kita gantungan itu berbeda.


Orang yang menggantungkan itu adalah orang yang paling beruntung didalam penglihatan tapi tidak menguntungkan dalam segi konteks pemikiran dan keberlangsungan.


Karena apa? Karena orang yang menggantungkan diri itu tak mendapat apa-apa kecuali kesenangan, berbeda dengan orang yang digantungkan. Orang yang digantungkan seperti mengerjakan tugas teman itu adaah yang paling beruntung.


Karena apa? Karena dalam ia yang mengerjai maka ilmu yang ia kerjalan mengalir dalam ingatanya, kerja keras yang ia buat membuat ia mandiri. Dan pada dasarnya orang yang menggantungkan diri itu hanya mendapatkan kebahagiaan semu.


“Sudah Nay.. Kamu diem aja, susah kan Rindunya bantuin kamu bikin tugas...” Sahut Habib saat melihat Nayla diam tak bisa menjawab lagi.


Nayla tak menjawab. Ia mencerna apa kata Rindu. sebenarnya ia malu pada Rindu yang hanya semester satu tapi sudah memahami materi semseter 4dengan sangat baik, bahkan diluar kepala, membuat Makalah tanpa mengcopy cover yang lain. Bahasa Prancis yang lancar dan juga bisa masak. Sedangkan dirinya? Ia bahkan tak memahami materi pelajaranya meskipun menggunakan buku sekalipun, masak? Jangankan masak mengupas buah mangga saja ia tak bisa, semuanya dilakukan oleh pemantu, jika mau makan apel atau mangga, maka Bik Yanti yang membukanya, jika mau apapun akan diurusi oleh orang lain.


Apakah ia tak seberguna itu untuk hidup?.


.


.


.


.


Rindu Come back....


Like komen and vote ya...


**20****95kata.

__ADS_1


Selamat pagi**


__ADS_2