
Meme membanting kursi rias disampingnya. Ia memegang tangan Diva dan pergi meningalkan Rindu. tapi seketika Diva dan Meme berhenti. “Dan kalo gue mati dan Meme mati. itu artinya lo sebagai peneyebabnya...! kalopun gue ngugurin atau aborsi ini bayi dari rahim gue, itu adalah dosa lo.. karena lo dia mati. semua itu gara-gara lo.” Ucanya dingin dan pergi.
Rindu menyeret lututnya lemah. “Div. Maafin Gue. Me, maafin gue. gue ngak tau semua itu hiks hiks..” Rindu meminta maaf dengan isak tangisnya. Ia tak tau harus berbuat apa setelah apa yang ia dnegarsaat ini. otak cerdasnya lumpuh tak tau harus berkata apa lagi.
Diva dan Meme menyambar jaket yang disofa dan mengambil kunci motor. Mereka juga mengambil tas jinjitnya dan pergi meninggalkan rumah.
Rindu berdiri dan mengerjar Diva dan Meme. “Diva gue mohon. Janagn aborsi anak lo. Biar nanti kalo lo lahirin anaknya gue yang rawat. Please Div. Maafin gue..” Uca Rindu sembari mengejar Diva yang sudah naik motor.
Tak ada jawaban dari Diva maupun Meme. Mereka hanya menatap Rindu datar dan menarik gas motor untuk meninggalkan Rindu yang mengisak penuh penyesalan.
Rindu kembali terkulai dilantai saat itu. “Kalian mau kemana? Hiks hiks..” Gumamnya dengan menangis.
Bagaimana bisa ia adalah penyebab teman-temannya hancur? Andai dulu ia tak mengenal Andra. Andai ia tak sombong dan egois. Pastikan Andra tidak memamfaatkan Diva sehingga membuat Diva rusak. Andai ia tak ikut saat Diva dan Meme menemui agen. Anadai.. Andai.... semua itu berlalu lalang diotak Rindu.
Sombong. Pemberontak, pembangkang, pembuat onar dan durhaka ada pada dirinya dulu.
Rindu menenangkan dadanya yang sakit karena menangis. Ia kembali menghapuskan air matanya meratapi semua kelakuannya selama ini. kembali lagi menangis karena tak kuat merasakan sesak semua ini. ia gagal melindungi temannya. Ia adalah sebab kehancurannya. Bagaimana jika Meme dan Diva bunuh diri? Maka kematian mereka akan membuat Rindu menyalahkan dirinya.
Bagaimana jika bayi yang tak berdosa itu diaborsi? Maka Rindu adalah orang yang merasakan sakitnya kehidupan. Apakah dunia lagi-lagi menghakiminya?
Semua maslah ini datang berturut-turut. Ia tak sanggup merasakan kehancuran teman-temannya. Ia tak sanggup. Semua itu terjadi diluar kendalinya. Tapi disebabkan olehnya.
....
Sejak kejadian malam itu. Tepatnya dua bulan yang lalu membuat Rindu semakin menjadi lebih pendiam. ia mendatangi Kak Reza dan memululnya secara membabi buta. Ia mencari keberadaan Diva dan Meme tapi tak kunjung ditemukan. Semua itu membuat penyakitnya semakin menjadi-jadi. Ia bahkan tidak cek up selama 3kali pertemuan berturut-turut.
Bukan karena dia tak mau sehat. Hanya saja ia sedang menghakimi dirinya. Biarkan saja ia merasakan sakit ini. ia menganggap jika ketika sakit itu menggerogoti tubuhnya. Maka itu adalah hukuman untuk dirinya selama ini, sakit yang ia derita tak sebanding dengan apa yang Diva dan Meme rasakan. Ahh, rasanya hidupmya yang hancur menjadi lebih hancur.
...
Rindu tak berhenti dalam berkerja ataupun menjenguk panti. Dia masih bersikap seolah baik-baik saja ditengah kekacauan hidupya.
Yang terpenting saat ini, ia harus memperbaiki hidupnya. Ia harus menjadi lebih baik lagi dan mempersiapkan diri bertemu dengan sang pencipta. Sakit memang ketika ia membicarakan tentang pertemuannya dengan sang Kholik hanya hitungan harapan saja. Ditambah dosa, penyesalannya kian menumpuk membuat pelupuk matanya tak berhenti bergelinangan air mata. Ahh, sudah lah. Mungkin itu sudah jalan takdirnya.
“Bagi kariyawan bisa ambil gaji di ruang pak Jeje ya...” Ucap mbak Lena kepada Rindu dan lainnya.
__ADS_1
Rindu tersenyum tipis. Sangat tipis. Perhatiannya teralih pada mbak Lena yang menepuk pundaknya pelan. “Ayok Rin. Kita pergi bareng.” Ucapnya. Yang hanya didapatkan senyum dan anggukan Rindu.
Kaki mereka berjalan serentak memasuki ruangan pak Jeje. Saat mereka masuk, disana sudah banyak kariawan yang berbarik untuk mengantri mendapatkan gaji.
Sedangkan Mbak Lena dan Rindu ikut berbaris dan mengambil gaji. Ada sekitar 10orang karyawan disini sebenarnya. Ada scurity, ada yang mengurus taman dan ada yang kariawan biasa seperti Rindu dan mbak Lena.
“Siang Rindu.” Sapa pak Jeje menatap Rindu yang antriannya paling belakang. Dan itu tak luput dimata semua kariawan.
“Siang.” Jawab Rindu sambil menatap sepatunya. Ia sudah jera akan laki-laki. Sungguh traumanya bertambah. Ia tak mau lagi berhubungan Dengan jenis seperti ini.
“Ini gaji kamu.” Ucap pak Jeje memberikan amplop berisi gaji Rindu.
“Lo pak. Kan kita yang ngantri duluan..!” Seru bang Ade dan lainnya.
“Iya ni pak. Jangan main pilih kasih dong..!” Seru yang lain.
Rindu hanya diam saja tak menjawab.
“Sayakan atasan kalian..! Terserah saya dong.” Tukas pak Jeje tanpa rasa bersalah sama sekali. Ia kembali menatap Rindu. “Ini gaji kamu saya kasih tips ya karena kamu rajin dan disiplin” Lanjutnya.
“Lo kok Cuma Rindu pak? Kita enggak?” Tanya yang lain.
Rindu semakin merasah bersalah. Apa memang keberadaannya membuat kericuan semata? Ah entah lah. “ Saya antri aja pak. Dan saya nggak terima bonus jika yang lain tidak terima Bonus juga..” Jawabnya sopan.
“Tidak bisa gitu dong. Ini ambil gaji kamu, ini pantas untuk kamu.” Ucapnya sambil memberikan amplop itu ketangan Rindu.
“Jilbab boleh lebar. Tapi nyatanya tukang goda...!”
“Bener tu. Kayak udah alim aja, nggak mau lirik kita, nggak mau sentuh. Eh ngak tau nya godain bos. Dasar cewek matre..!” Ketus orang orang terdengar menyayat hati Rindu.
Rindu mengambil amplop itu sambil menggigit bibir bawahnya. Ia membuka amplop itu dan menghitung jumlahnya.
Ternyata bonus yang pak Jeje beri itu senilai sama dengan nilai gajinya, ia mendapatkan gaji 2x lipat. Ia mengeluarkan bonus itu dan membagikan pada kariawan dengan jumlah 100ribu perorang. Yang membuat mereka menatap Rindu cengo sembari menatap uang ditangan mereka.
“Lo kok dibagi-bagi?” Tanya pak Jeje heran. Sedangkan yang lain menatap uang seratus ribu ditangan mereka cengo dan tak mengerti.,
__ADS_1
Rindu kembali dengan uang sisa uang 5satu ribu ditangannya. Ia memberikannya pada pak Jeje kembali. “Itu bonus saya. Saya tak mau menerima uang yang tak dibagi adil. Saya ambil bonus sya seratus ribu sama dengan yang lain. Terimakasih pak.” Ucapnya lalu pergi meningalkan orang-orang yang menatapnya bingung.
Ternyata apa yang Rindu buat adalah membagikan uang bonusnya kepada kariawan yang lain. Sedangkan sisanya ia kembalikan pada pak Jeje. Pak Jeje menatap kariawaannya yang masih benging dengan uang seratus Ribu ditangan. Ada yang merasa bersalah kepada Rindu. ada juga yang merasa tak dihargai, ada yang mengatakan Rindu pencitraan. Dan banyak Lainnya.
Sedangkan Rindu memilih pergi dari sana kembali kedapur. Tapi sayangnyya tangannya diekal oleh seseorang. Saat ia berbaik.
Plak..
Satu tamparan mendarat dipipi kanannya. Rindu menatap sang pelaku yang menamparnya.
“Itu hukuman karen akamu sudah berani tebar pesona pada pak Jeje."
Plak..
Ia menampar pipi kiri Rindu juga. “Dan itu hukuman karena kamu sudah menggoda pak Rey. Saya muak dengan wajah sok polos kamu..!” Bentaknya..
Plak..
Saat ini tamparannya tak mengenai pipi Rindu. Rindu menahan tangan itu dan memilinnya kebelakang orang itu dan mendorongnya. Seseorang itu menatap Rindu horor. Ia kembali mendekat dan mau menjambak jilbab Rindu.
Bugh..
Rindu mengerakkan pukulannya tepat dibibir seseorang itu menyebabkan sang empu menjerit histeris. Bibir seseorang itu mengaliri darah segar. Sepertinya gigi depannya patah atau rontok. Ia meringis pedih dan memegang bibirnya. “Kurang ajar kamu Rindu..!” Bentaknya dengan gigi yang sudah tak lagi berwarnah putih. Ia menatap sekeliling dan mendapatkan pisau, ada senyum licik dibibirnya. Ia mengambil pisau itu dan menyerang Rindu.
.
.
.
.
.
**Yuhuuu. Rindu Come back....
__ADS_1
Like.komen san vote terus ya.
ada yang nanya gimana sii sifat Rindusaat SMA dan SMP? nanti author jelasin okok**....