
“Nanti siang antaran makan siang dikantor pusat ku. Masakanya harus dibuat dari tanganmu. Nanti aku akan menggirimkan supir kantor untuk menjemputmu. Mengerti..?!” Ucap Habib didepan pintu. Didepanya ada Rindu yang hanya menunduk lalu menganguk mengeti.
“Jika aku bicara tatap aku. Jangan menunduk, apa aku jelek hingga lantai itu lebih menarik?” Tanya Habib kesal melihat Rindu yang sedari kemarin tak mau menatapnya.
Rindu berdecap sebal, susah sekali tak emosi. “Baik..” Ucapnya singkat.
Habib mendenggus kesal. Ia memutuskan pergi saja” Ingat. Nanti jam 12 sudah ada dikantor.” Ucapnya lalu pergi..
“Ucapkan salam kalo pergi. Assalamu’alaikum dulu...!” Peringat Rindu pada Habib yang baru mau masuk mobil.
Habib menatap Rindu debgan dahi mengerut.” Salam atau tidak itu sama saja, lagi pula itu hanya sebatas kalimat untuk menunjukan sopan satun bukan? Jadi jika sama kamu tidak usah salam juga. Tidak penting.” Cih.. dia jual mahal pada Rindu, padahal ia senang Rindu memperhatikannya.
Rundu mngeleng tak percaya, kelihatan sekali jika Habib tak dididik agama oleh orang tuanya. “Salam itu memang untuk bertujuan sopan santun jika dimuka publik, tapi bermakna yang sangat besar untuk hidup dan perjalanan kita dalam kaaran agama kita. Karena sebenarnya salam itu bertujuan untuk mendoakan orang lain dan mendokan diri kita untuk selalu diRidhoi dan dilindungi oleh Allah.” Jelas Rindu pada Habib.
Arti Assalamualaikum (dibaca: assalaamu’alaykum) adalah semoga keselamatan terlimpah untukmu, kalimat ini adalah do’a dan Sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ. Ketika memberi salam artinya kita mendo’akan sesama muslim dengan kebaikan berupa keselamatan dunia akhirat, rahmat dan juga segala bentuk keberkahan dari Allah سبحانه و تعالى.
Salam dapat merekatkan persaudaraan atau Ukhuwah Islamiyah antar sesama muslim. Ia biasa diucapkan ketika berjumpa dengan sesama muslim baik itu yang dikenal ataupun tidak kita kenal, ketika memasuki rumah, masjid atau tempat- tempat lainnya.
Secara umum, Hukum mengucapkan salam adalah Sunnah. Namun bagi yang mendengarnya hukum menjadi Wajibuntuk menjawab salam selama tidak ada udzur. Dalam sebuah hadits dianjurkan yang muda memberi salam pada yang tua, yang lewat pada orang yang duduk dan orang yang sedikit ke orang yang banyak.
Habib diam sebentar. Ada sedikit goresan dihatinya. “Jangan menceramaiku. Cerama saja dirimu sendiri supaya tidak terlalu murah dimata pria, ciih, bahka tak tahu malu dirumah berduaab saja. pasti melakukan hal yang tidak senono. “ Ucapnya spontan. Ia masih sangat sakit hati dan tak terima akan penglihatannya saat itu.
Rindu tak tau maksud ucapan Habib. Tapi ia tak sakit hati. To, dia orang yang apatis akan omongan orang lain.Ia tersenyum tipis.” Seengaknya ucapakan Biismilla untuk perjalannmu sendiri. Supaya jalanmu selalu diberkati oleh Allah.” Ia terdiam sebentar.” Dan karena Habib tak mu mengucapkan salam, ia masuk tanpa mau melihat Habib lagi..
Habib mengerjab.” Apa dia marah pada ku?” Gumamnya melihat pungung Rindu yang menjauh...
“Ahhkkk sudah lah. Aku bisa telat.” Gumamnya lalu pergi memasuki mobil meski dalam hatinya masih berkecamuk memikirkan Rindu. sunguh, ia tak peduli akan status Rindu yang buruk dimatanya. Seorang perempuan yang suka menguras uang pria, yang sudah melakukan hal tercela, karena Rindu cinta pertamanya dan ia berniat akan mendpatkan Rindu disuatu saat nanti.
Toh dia kaya da mampu membiayai apapun yang Rindu mau bukan?
Sedangkan Rindu yang melihat jam yang masih menunjukan pukul 07;15 yang angota keluarga sudah tidak ada keculi Nina, karena Nina tak berkerja. Ia lebih suka shoping, arisan dan sebagainya membuat ia santuy dirumah.
Rindu mengambil tas jinjitnya lalu pergi untuk mendaftarkan sekolah Rian dan Rani dipondok Tahfiz Darusalam. Pondok ini berisi kyai yang sangat ahli. Karenanya sangat mahal, dan untungnya Rindu sudah mendapatkan gaji dari Habib membuat ia bisa membayarnya. Lagipula ia tak perlu kahawatir akan biaya makan atau rumah bukan? Ia makan sudah dipenuhi oleh Habib. Tempat juga Habib. Jadi ia hanya fokus pada pengobatan dan juga Rian dan Rani.
....
“Ehhhh.. Ehh. Kamu mau kemana?” Tanya Nina sat turun tanga. Ia melihat Rindu mengunakan tas jinjitnya seperti mau pergi.
“Saya ada urusan bu.” Jawab Rindu sopan.
Nina memasuki Handphonenya didalam saku. Ia menatap Rindu dalam.” Bikinkan saya just mangga dn cake coklat dengan buatanmu. Antar kekamar ngak usah pergi kemana-mana.”
Rindu mentp Nina heran.” Maf bu. Saya tidak bisa.” Ucapnya tegas.
Nina melotot.” Ehh ehh. Berani kamu melawan perintah saya ya. Kamu itu hanya pembantu, tolong ingat statusmu.” Ucapnya nyolot bagaikan anak kecil.
Rindu tersenyum dalam niqobnya. “ Saya memang pembantu. Tapi saya pembantu pribadi paman Emm, Tuan Habib bukan pembantu keluarga ini. lagi pula tugas saya sudah ada kontrak yang kami tanda tangani. Jadi ibu tidak dalam kategori Tuan saya. “ Ucap Rindu tegas. Memang benar. Ia hanya pembantu Habib. Bukan keluarganya. Perjanjinya pun hanya mengurus keperluan Habib, bukan menuruti perinta keluarganya.
“Jika tak ada kepentingan lagi saya pergi bu. Assalamu’laikum.” Rindu pergi tanpa mendengar lagi buk Nina. Ia bisa telat nanti. Ia harus cepat karena nanti harus. kekntor Habib pula. Belum lagi msak.
Nina menganga tak percaya.” Ehh ehh. Pembantu sombong, kurang ajar , belagu, sok kamu. Berani sekali pembantu berkata seperti itu. Hey hey,... tunggu.” Ia menghentakkan kakinya kesal bagaikan anak kecil. Nafasnya memburuh bagaikan anak kecil kesal...
Rindu bukannya kurang ajar, tapi faktanya Rndu tetap Rindu. yang keras dan konsisten. Sii pembuat onar dan pemberontak. Tak mau diinjak dan juga keras. Mau ia sudah Hijrah sekalipun sulit untuk mematahkan prinsipnya.
Rindu itu lebih mirip bersifat seprti pria. Yang memiliki prinsip. Jika ia sudah berkata A. Maka matipun ia siap hadapi. Karenanya ia dulu pernh mengikuti paskibaraka. Meksi tubuhnya tak terlalu tinggih, ia bisa masuk tim 9 yang artinya ia tim inti. Dia juga pernah menjabat sebagai ketua osis diSMP. Selain itu. Dia juga menjadi ketua organisasi diluar organisasi sekolah. Semacam perkaderan. Karena pendapartnya ya g tak pernah goya dan juga berani mengungkapkan apa kata hatinya. dia adalah gadis langkah.karenanya banyak yang menyakininya meskpipun ia tak cantik, hanya saja ia manis.
Sesudah Rindu mendftarkan Rian dan Rani dipondok Tahfiz, Rindu pulang kerumah untuk memasak makanan Habib, tepat jam 10. Jadi ia maish punya waktu dua jam lagi.
__ADS_1
Sat jam 12:00 supir yang Habib kirim sudah sampai. Dengan Rindu yang sudah siap dengan makanan yang ia taro ditupperware. “Nona Rindu ya??” Tanya sang sopir. Dia masih lumayan muda.
Rindu hanya mengangguk.” Supir tuan Habib?” Tanyanya.
“Iya.. mari masuk nona..” Rindu mengangguk lalu memasuki mobil.
Diperjalanan Rindu hanya diam tak banyak bicara. Ia tak tau dimana gedung perusahaan Habib. Hanya mengunakan waktu 20 menit, tidak seperti diprusahaan cabang kemarin yang memakan waktu dua jam lebih.
Saat Rindu memasuki kantor banyak sekali meliriknya, bahkan banyak yang terang-terangan menghindarinya. Tapi saat ia ingin memasuki Lift. Ada scurity yang menghalanginya. “Ada perlu apa nona kemari?” Tanyanya. Sepertinya ia penjaga didalam, karena scurity diluar hanya diam, mungkin sudah dipringati oleh Habib. Tidak seperti scurity didepannya ini.
Rindu malas berdebat. Ia mengambil handphonenya lalu memberikan pada scurity itu chatnya dengan Habib. Habib yang tadi memperingati supaya Rindu tida lupa.
“Jika begitu tungu sebentar nona. saya akan menghubungi pak Habib dulu. Demi keamanan kita bersama.” Ucapnya.
Rindu paham. Ia hanya mengangguk. Wajar saja orang-orang akan beruat seperti itu. Karena penampilan Rindu yang tertutup. Ia hari ini menggunakan gamis dongker dengan corak bunga dibagian bawah gamisnya. Ia mengunakan jilbab pink senada dengan bunga digamisnya dan niqob Dongker. Sesuai kesepakatanya dengan Habib. Ia tak boleh menggunakan baju serbah hitam. Katanya mengerikan. Jadinya ia harus mengunakan baju sedikit berwarna, meski masih dihiasi warna gelap yang mendominan.
“Mari nona. Kita masuk lift samping sini saja.” Ucap scurity itu setelah menelpon. Entah menelpon seperti apa. Seprtinya ia habis kena marah membuat wajahnya sedikit masam. Rindu mengangguk. Ia hanya mengikuti, scurity itu mengantarkan Rindu sampai dilantai paling atas, Rindu bahkan tak tau ini lantai berapa, tapi yang Rindu lihat, lantai ini lebih gelap dari lantai lain., lebih sunyi dn juga lebih mewah. Disana hanya ada satu pintu yang tertulis. “RUANGAN CEO” dan “ RUANG RAPAT PENTING” Bisa Rindu jabarkan jika lantai ini hanya untuk Habib dan juga kolagen pentingnya atau para atasan yang akan melakukan rapat penting.
Tak terasa jika ia sudah sampai didepan kantor Habib. Disini pula scurity itu pamit untuk pergi.
“Masuk..!”
Mata Rindu melebar saat ia baru saja ingin mengetuk pintu, tapi Habib sudah tau saja jika ia sudah mau msuk. Rindu meggerakkan gagang pintunya lalu masuk.” Assalamu’alaikum.” Salamya.
Habib menatap Rindu menyala. Dengan tangan yang terlipat didada dan kaki yang ia silangkan.” Lama sekali kamu. Kamu bisa lihat sekarang jam berapa?” Bukannya menjawab salam, ia malah marah-marah membuat Rindu harus beristigfar beberapa kali.
Islamkah??
atau hanya KTP?
Yassalam....
Rindu bukanya tidak berani menatap mata Habib. Ia hanya tak mau Zina mata. Cihh, ia harus menahan diri. “Kenapa diam? jawab...!” Belum Rindu membuka mulut, Habib sudah menyela lebih dahulu.
Rindu menarim nafas dalam.” Sudah marah-marahnya tuan?”
Habib mendengus.” Belum. kamu saja belum jelaskan kepada saya.”
Rindu mengeleng. Bagaimana mau menjawab coba.” saya hanya menungu anda sudah mengeluarkan emosi dahulu, baru bicara. Saya sedikit terlambat karena saya harus berurusan dengan scurity terlebih dahulu tadi, lagi pula saya hanya telat 5menit. dan jika anda mau menyalahkan saya, seharusnya anda sadar diri. Karena anda menyuru jemputan menjemputku jam 12. Lain kali suruh ia jemput lebih awal.”
“Cihh... Dasar pemberontak.” Ucap Habib.” Mana sini makananya. saya sudah lapar.” Ucapnya.
Rindu menghela nafas. Ia mendekat lalu meletakkan makanan diatas meja didepan sofa tempat Habib duduk. Ia bersimpu karena meja itu sangat rendah.” Apa yang kau masak?” Tanya Habib yang heran dengan maskaan Rindu.
“Ini ada nasi santan, ada sambal kacang dan anak ikan teri balado, ada rendang ginjal sapi . Dan juga ada tumis kangkung cumi pedas.” Ucap Rindu.
“Makanan apa itu? Kampungan sekali. Aku mau makanan luar, bukan makanan seperti ini.” Ucap Habib neyelekit.
Rindu memejamkan matanya. Merapalkan ucapan sabar beberapa kali. Ia menutup tupperwarenya lalu mau.bangkit.” Jika begitu makan diretosran saja. Soalnya saya tidak bisa masak makanan orang luar.”
Habib menganga.” Hey.. mana sempat. Dasar pembantu kurang ajar. Kembalikan makananku sini..!” Ia merebut tupperware itu dari tangan Rndu dengan wajah bagaikan anak kecil.
“Jika begitu makanlah, jangan suka mengelu ini itu.” Ketus Rindu kesal.
“Dasar pembantu kurang ajar.!!!” Ketus Habib. Ia membuka kembali tupperware itu lalu duduk dilantai. Ia tak bisa makan dengan menunduk karena meja yang rendah. “Kau temani aku makan.” Ucapnya.
Rindu mengangguk. Ia duduk didepan Rindu. sebenarnya Rindu tak mau, karena ditinggal berdua disini, karena jika berdua saja itu ada setan, apa lagi mereka bukan makhrom. Tapi lagi dan lagi ia harus ikhlas. Lagi pula disini ada CCTV dan juga sekretaris didepan.
__ADS_1
“Kau sudah makan?” Tanya Habib saat meletakkan nasi diatas piring yang ia sudah siapkan sedari tadi diatas meja. Niat sekali bukan?
Rindu belum makan sedari pagi. Lapar? Jangan tanya, tapi ia tak punya pilihan.” Belum.” Jawbnya santai.
Habib menyeringai jahat.” Oh..” Tanpa ada niatan untuk mengajak makan bersama.
Rindu diam penuh dengan harap. Tapi ia tepis harapan bisa makan sekarang ia bisa makan saat kembali pulang nanti.
Habib makan dengan khidmad. Jujur saja ini makanan yang sangat enak. Nasi yang harum dengan wangi daun salam dan serai. Gurih dan juga sedap dilidah, itu hanya nasi. Belum lagi rendang Ginjjal Sapi yang baru pertama kali ia nikmati seumur hidup. Rendang ini rasanya seperti rasa hati Sapi, tapi ini tak anyir ataupun pahit. Rasanya sangat menyatu dengan rempah dan bumbu-bumbu. Ia juga mencoba balado yang terasa pedas manis secara bersamaan, rasa kacang yang meletup dilidah dan anak ikan teri dan gurih dan renyah. Tumis kangkung dan Cumi juga sangat menggoyang lidahnya. Rasanya gurih dengan saus tiram dan kangkung yang tak terlalu mateng, masih terasa krenyes-krenyes segar. Ahh, Habib bahkan lupa jika ia mengerjai Rindu sampai ia menghabiskan makananya sampai habis.
Rindu hanya menghela nafas. Sulit memang menjadi pembantu. Tapi ia sedikit menggeleng karena melihat Habib yang sangat antusias makan maknan itu. Saat makanan Habis barulah sadar jika Rindu belum makan dan menunggunya. Mau minta maaf barang sudah menjadi bubur.
“Permisi tuan..” Ucap Filos yang mau masuk runagan.
“Iya Filos.” Ucap Habib menatap Filos yang membawa plastik yang berisi berwarnah putih.
Filos mengerjab melihat Habib yang mengusap mulutnya dengan sapu tangan.” Ini Tuan. Makan siang seperti biasa sampai.” Habib memang sering memesan makanan ditempat ia sering pesan membuat Filos melakukan kegiatanya.
Mata Habib berbinar. Pucuk dicinta ulampun dimakan. Ahha. “Beri saja pada Rindu. ia belum makan sedari tadi. Aku kasian padanya, sepertinya ia sangat lapar. Aku mau menjadi tuan yang baik...” Ia memegangkan dasinya sok.
Tapi jujur. jika dimata Rindu, dengan gaya Habib mengerakkan dasinya seprti itu, ia bagaikan melihat master Bean. Haha, dasar... tapi tak masalah. Ia menerima dengan senang hati. Setidaknya ia tak perlu beli diluar. Bukankah rezeki tak boleh ditolak.
“Cihh. Tak ada manis-manisnya. Gadis itu harus jual mahal terlebih dahulu, ilfil nanti orang sama kamu.” Ucap Habib saat melihat Rindu membuka bungkusan makanannya.
Rinud harus jawab apa? Serba salah. “Saya lapar tuan.” Jujurnya membuat Habib diam.
Sedangkan Filos tersenyum melihat kejujuran Rindu, kapan lagi ada perempuan yang sangat jujur.”Apa kah kau sudah makan Tuan Filos? Jika belum, mari makan bersama.” Ucapnya pada Filos.
“Tidak nona. Kau makan saja.”
“Hey hey. Kau tak menawariku?” Ucap Habib berteriak.
“Tidak tuan. Tuan sudah makan, tidak boleh serakah.” Ucap Rindu jujur lgi membuat Filos semakin menahan senyum.
“Cih. Kurang ajar tetap kurang ajar, menjadi pembantu aja masih kurang ajar.” Cibir Habib.
Rindu diam. ia mulai menaruh makanan diatas piring. Itu adalah makanan Itali, ahh, Rindu bahkan tak tau apa namanya. Untungnya tak berkuah, jadi ia bisa makan dengan sedikit menyibak niqobnya,
“Apa tidak susah makan seprti itu? Buka saja, tidak apa-apa.” Ucap Habib sedikit risih. Ia mau modus juga....
Rindu mengunya makananya dulu, lalu meneguknya.” Tidak tuan. Terimakasih.” Ucapnya masih dengan makanya membuat Habib diam saja.
Tak butuh lama Rindu sudah menghabiskan makananya tanpa sisa. Ia hanya menyisahkan minuman mineralnya saja. “Kau rakus sekali menjadi perempuan. Jika makan didepan umum, kau harus menyisahkanya sedikit . kau tak tau etika perempuan ternyata.” Cibir Habib lagi.
.
.
.
.
.
Yuhuuu. Rindu Come Back....
Like komen dan Vote ya...
__ADS_1
ini eps 2314 banyakkan? Bonus buat pembaca.