
.
.
.
.
.
Rindu melipatkan tangannya, ia menarap Willi sinis. “Kalo mau anu-anu, atau ena-ena, modalan dikit kek. Kehotel bintang tigalah seenggaknya. Nah ini dipinggir jalan, nggak bisa bayar hotel loe.” Ucap Rindu ketus.
Wajah Willi bertambah marah. Ia
mengepalkan tangannya. Ia menepuk tangannya, ternyata dibalik mobil Willi ada beberapa anak gengnya, tepatnya geng yang pernah bermasalah dengan Rindu. Bahkan disana lebih banyak.
Wajah Rindu sedikit terkejut. ‘Ah, mulut nggak bisa kontrol dikit apa? Berantemkan jadinya, kan baru satu hari gua toubat**.’ Batinnya mengerutu akan kebodohannya.
Wajah Willi tersenyum senang. “Akhirnya kita bisa bales dendang mans. Ingetkan cewek ingusan ini?” Ucapnya remeh.
Salah satu dari mereka angkat bicara. “Oh ni cewek. Taulah, Gue udah pengen banget matahin tangannya.” Jawabnya.
Rindu dalam hatinya merapal pilihan dengan dua hal. “Syurga atau dibilang pengecut’ Kalau gue berantem lagi, percuma dong gue toubat, kalo gue kabur dibilang pengecut ntar’ ia sangat bingung Memilih apa.
“Serang...!” Teriak Willi lantang.
Seketika Rindu terkejut. “Kabur aja deh. Inget gue toubat.” Guamnya dan melangkah kabur dan menjauh dari kejaran mereka.
Sejujurnya baru kali ini Rindu kabur dari masalah, ia tak pernah kabur atau mundur saat dihadapan kawan ataupun lawan. Ingat Rindu bukan perempuan lemah!
“Woy... jangan kabur loe pengecut...!” Teriak mereka yang dibelakang rindu. Sedangkan Rindu masih tetap berlari sekuat tenaga.
Hari sudah menun jukan tengah malam, tapi Rindu harus berlari jauh, hingga ia yang melirik kebelakang untuk mengukur berapa jarak ia dengan geng Willi ia tertabrak seseorang.
__ADS_1
Bugh,,, auu..
Rindu tertabrak seseorang sampai ia tersungkur kebawah. Ia kembali berdiri tanpa tau siapa yang ia tabrak, ia kembali memilih berlari, tapi sayang, baju belakangnya ditahan oleh orang yang ia tabrak. “Mau kemana kamu?” Tannyanya khas suara bariton pria.
Rindu sontak berhenti dan mnatap pria yang ia tabrak. Matanya membulat saat tau pria itu adalah Habib. “Aduh maaf, gue nggak sengaja. Gue lagi dikejar-kejar sama preman. Lepasin gue, gue mau lari.” Jawab Rindu panik. Faktanya Willi dan gengsnya sudah semakin mendekat.
Wajah Habib tersenyum sinis. “Kamu pikir, kamu bisa bohongi saya lagi? Saya tidak akan tertipu yang ketiga kalinya sama kamu. Kamu mau kabur dari tanggung jawabkan?” Ucapnya remeh.
“Gue beneran. Cepet lari.” Jawab Rindu semakin panik.
Saat Habib mau menjawab lagi, Willi dan gengs nya sudah mengepung Rindu dan Habib...
Sontak saja Habib melepaskan baju Rindu., ia menatap Willi dan lainnya dengan tanda tanya.
“Cex.. liat gara-gara loe gue jadi berntemkan. Ahkk, sia-sia perjuangan gue kabur buat toubat.” Gumam Rindu mengerutu kesal.
“Mana saya tau kamu jujur. kamu biasanyakan bohohi saya terus.” Jawab Habib jujur.
“Mau kemana loe. Loe takut sama kita?” Tanya Willi mengejek.
“Udah nggak usah banyak omong. Kita hajar langsung aja, udah gatel banget tangan gue balas rendang.” Sahut salah satu gengsnya.
"Dendam *******." Saut teman lain berteriak.
Willi pun tersentum dan mengarahkan gengnya mulai menyerang. Rindu sama sekali tak bisa menolak atau mengelak lagi, sedangkan Habib mengerang marah. Faktanya, saat bertemu dengan gadis yang ia tertarik, selalu saja mendapatkan kesialan atau masalah, seperti sekarang ini. ia harus terlibat perkelahian yang ia saja sama sekali tak tau apa sebabnya.
Willi dan teman-temannya bagi tim. Ada sekitar 8orang menyerang Rindu dan 6orang menyerang Habib. Dengan sigap Rindu melawan dan menghindar, beberapa dari mereka tak bisa mengenai pukulan Rindu, tak butuh waktu lama bagi Rindu untuk membuat salah satu dari mereka mundur babak belur.
Sedangkan Habib pun begitu. Tapi sayangnya, ia terkena pukulan dan membuatnya lemah. Ia cukup banyak mendapat pukulan, untunglah tak lama kemudian Filos datang dan membantunya. Habib dan Filospun melawan secara cepat kepada lawan mereka.
Filos adalah salah satu atlet silat, ya dia memang sangat bagus dalam dunia persilatan, beda dengan Habib yang hanya sekedar tau berkelahi.
Rindu dan lainnya sudah menghabisi Willi dan gengsnya. Mereka mundur dari Rindu yang wajahnya ada beberapa memar dan berdarah.
__ADS_1
“Awas loe ya. Gue bakal bales..” Ancam Willi. Setelahnya mereka pergi meninggalkan Rindu dan lainnya.
Barulah Rindu meringis pedih disudut bibirnya. Ia menatap Habib dan Filos sebentar lalu mengambil tas nya yang sudah terinjak-injak saat berkelahi. Ia mengepak-ngepaknya terlebih dahulu lalu Pergi meninggalkan Habih dan Filos.
“Hey...” Panggil Habib.
Rindupun berhenti dan menatap Habib. “ Mau apa lagi?” Tannya Rindu malsa. Gara-gara Habib ia harus berdia dan berkelahi lagi. “Mau minta tanggung jawab loe?” Lanjutnya.
“Bisa ya kamu ngomong seperti itu. Kamu seharusnya berterimakasih kepada saya.” Jawab Habib geram.
Rindu melipatkan tangannya, ia menatap Habib yang jauh lebih tinggih darinya tajam. “ Guekan udah bilang awalnya, gue dikejar, loe aja nggak mau denger gue, makan batukan loe.” Jawabnya.
“Saya tidak tau kamu jujur. karena kamu selalu menipu saya saat kamu harus bertanggung jawab...!’
“Yaudah gue ngucapin terimakasih.” Jawab Rindu malas.
Habib mendekati Rindu. Ia memegang tangan Rindu. “Jangan pegang-pegang, bukan Mahrom.” Ucap Rindu menepis.
“Saya mau obati luka kamu itu. Kamu itu bisa tidak enggak buat masalah dengan saya satu kali saja.” Ucap Habib sedikit kesal.
“Gue bisa obatin sendiri, udah biasa. Muka loe aja diobatin.” Jawab Rindu sambil melangkah menjauh.
“Kamu saya antar pulang saja. Hari sudah sangat larut, nanti kamu kena kejar lagi sama pereman.” Panggilnya. Ia tak kehabisan akal untuk mendekati Rindu.
Rindu berhenti saat Habib berucap. Ia menatap jam yang sudah menunjukan pukul 12:20 wib. Hari sudah sangat larut. Ada benarnya ucapan Habib, ojol tidak mungkin ada. Apa lagi angkutan umum, ia memilih menerima tawaran Habib. “Yaudah. Ayook” Jawabnya cuek,
Wajah Habib cerah, ia sedikit mengulum senyum saat Rindu mau menerima ajakannya, entah mengapa, meskipun Rindu adalah gadis yang selalu buat ia dalam masalah dan kesal, tapi ia masih sangat bagaia dan sangat tertarik terhadap Rindu. “Yaudah. Kita kesana, mobil saya disana.” Ucap Habib cepat.
Rindu hannya mengangguk dan ikut dimana Habib mengajaknya. Toh ia juga menumpang. ‘tidakkah Rindu takut akan Habib? Atau curiga dengan Habib?’ Pertanyaan itu muncul difikiran Filos.
Rindu duduk disamping Habib. Mereka duduk dibagian belakang dan filos yang mengendarai mobil. Rindu hannya melihat keluar jendela menatap jalanan yang sudah sepi. Ia beberapa kali menguap, sampai ia sendiri tak sadar dan tertidur pulas, kepalanya menempel dikaca mobil.
Habib sedari tadi curi-curi pandang akan Rindu. Saat ia melihat Rindu tertidur bdan bersandar dikaca mobil membuatnya bergerak, ia memposisikan kepala Rindu di bahunya supaya lebih nyaman. Setelahnya ia tersenyum tipis dan mengelus kepala Rindu tanpa izin dengan lembut. “Dasar gadis batu..” Gumamnya. Rindu menggeliat kecil dan kembali tertidur, bahkan ia menyelusukkan Tangannya keperut Habib. Habib yang mendapat itu menegang bercampur bahagia. Lagi-lagi ia tak bisa menyembunyikan senyumnya lebar.
__ADS_1