
“Saya butuh bicara masalah penyakit kamu.” Jelas dokter Ray.
“Bicara saja dok.” Jawab Rindu.
Dokter Ray menghela nafas. “Sepertinya obat yang saya berikan tak berfungsi ditubuhmu. Kangker kamu masih menjalar diorgan tubuhmu, sekarang bahakan kangker kamu sangat cepat bergerak.” Jelasnya.
Rindu mengerutkan keningnya. “Masa sii dok. Saya rasa beberapa minggu ini saya tidak begitu sering sakit lagi. Tapi memang masih ada juga sii sakitnya.” Jelas Rindu.
Rindu memang sudah tak terlalu sering atau sesering dulu sakit. Dulu Rindu bahkan merasakan sakit ini setiap hari, tapi semenjak mengonsumsi obat, Rindu hanya merasakan sakit empat atau lima hari sekali saja.
“Saya tau. Karena obat itu tak bisa membantu kamu dalam penyembuhan, sehingga hanya bisa menetralkan rasa sakit kamu. “ Jelasnya.
Rindu hanya menganggukan kepala percaya. “Lalu dok?” tannya Rindu.
“Kamu harus sering cek up dan melakukan oprasi Rindu.” Jelas dokter Ray.
‘Opras? Dimana aku mengambil uang itu?’ Batin Rindu.
Mata Rindu membulat saat ingat, jika ia juga harus membayar uang pengobatan Rian dan Rani. Sedangkan ia saja tak memiliki banyak uang. Ia memejamkan matanya sejenak untuk berfikir. Apa yang ia harus lakukan?. ‘Apa aku harus minta uang sama ummi dan abi. Atau sama Diva dan Meme? Ah Gevan dan maminya?’ Batin Rindu. tapi semua itu sangat mustahil, bagaimana bisa ia meminta bantuan pada metreka.
“Permisi dokter Ray.” Suara itu memecah pikiran Rindu. dia dalah salah satu suster dirumah sakit Ini.
“Ada apa Mil?” Tannya dokter Ray ramah.
Suster yang dipnggil Mi atau Mila itu mendekat. Ia membawa bungkusan berwarnag putih. “Ini dok pesanan dokter tadi.”
Dokter Ray menerimanya. “Terimakasih ya Mil.” Ucapnya lembut.
Wajah suster Milla memerah. Ia tersenyum malu. “Sama-sama dok. Jika begitu sa saya kemali dulu ya.” Ucapnya gugup. Dokter Ray tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Rindu tersenyum tipis melihat tingkah suster Mila, dia tahu jika suster itu menyimpan rasa pada dokter didepannya ini. ya dokter Ray memang sangat tamapan, ditambah baik dan juga mapan, siapa yang tak akan terpikat coba?
“Rindu, ini obat kamu.” Suara dokter Ray membuyarkan lamunan Rindu tentangnya. Mata Rindu menatap plastik yang dikasih. Itu adalah obat Rindu.
“Ta tapi dok, saya permisi sebentar ya, saya mau telepon teman untuk pinjam uang.” Ucap Rindu.
“Kamu bisa pinjam dengan saya.”
Rindu menggeleng "Nggak bisa dok.", matanya beralih pada tas jinjitnya yang berada dinakas samping kasurnya. Ia mengambilnya dan mencari ponselnya. “Saya permisi ketoilet dulu ya dok.” Ucap Rindu saat sudah menggenggam barang yang ia cari.
Rindu menurunkan kakinya kelantai lalu melangkah meninggalkan dokter Ray yang masih berdiri disana. Dokter Ray tersenyum masam. “Kenapa sii kamu keras kepala sekali.” Gumamnya.
Memang benar, dari Pertama Rindu sangat keras kepala, tak pernah mau menerima pemberian dokter Ray. Dokter Ray kembali menatap Rian dan Rani yang masih tertidur pulas.
Sedangkan Rindu pergi ketoilet ruangan itu. Ia menggenggam erat Handponenya. Disana hanya ada nomor Abinya, Diva, Meme dan Gevan, karena memang hp lamanya sudah disita Abinya membuat ia hilang kontak, sedangkan nomor abangnya, Rindu sama sekali tak ingat. Abangnya Rindu atau Rasyit suka berganti kartu. Karena itu Rindu sulit untuk mengingat nomornya,
“gimana ya?” Gumam Rindu. ia menatap Hpnya. “Gue harus bantuin Rian dan Rani. Tapi uang gue nggak cukup buat bayar semuanya. “ Guamnnya. Ia ingat, jika uang yang ia miliki hanya cukup untuk dirinya cek up. Jika ia membayar semua uang itu untuk cek up, lalu bagaimana dengan Rani dan Rian?
Tut...tut...
Suara sambungan telepon terhenti ketika suara pria paru baya yang Rindu kenal. “Hallo, Assalamu’alaikum.” Suara pria paru baya disebrang sana terdengar ditelinga Rindu.
Rindu memegang jantungnya yang tiba-tiba sakit. “Wa’alaikum salam bi.” Ucapnya takut.
“Ini siapa?” Tannya abinya Rindu.
"RI ini Rindu bi.” Ucap Rindu takut.
Tut... utu...
__ADS_1
Suara sambungan telepon itu terputus sepihak. Yang memutuskannya adalah abinya. Rindu mencengkram hpnya erat. “Sebenci itu abi sama Rindu? denger nama Rindu aja abi nggak mau.” Gumamnya sedih.
“Tapi wajar aja si. Guekan pembuat onar, pembuat malu, jahat, nggak pernah nurut sama abi dan umi.” Rindu terkekeh sedih.
Wajahnya kembali sedih, Sekarang ia tak punya pilihan, ia tak ingin meminjam kepada Gevan dan maminya. Soalnya, jika ia meminjam disana, ia tak mau berhutang. Umurnya tinggal sedikit, jika nanti ia tak mampu membayar, ia tak ingin dosanya bertambah banyak. Apalagi dosa hutang itu sangat besar.
Rindu menghela nafas. “Gue kalo nggak beli obat nggak pa-pa kali ya. Lagian juga Rian dan Ranikan masih panjang hidupnya, nggak kayak gue.” Gumam Rindu. ia memilih tak membeli obat saja. Setidaknya Rian dan Rani memiliki umur yang sedikit ada jaminannya. Meskipun semua ditangan Tuhan.
Sesaat setelahnya Rindu memilih keluar dari toilet dan pergi menuju tempat Rian dan Rani berada. Ia sama sekali tak tau jika Rey mendengar semua ucapannya tadi. Saat Rindu keluar Rey pergi cepat-cepat menuju ranjangnya sii Rian dan Rani.”
“Sudah?” Tanya dokter Rey lembut.
Rindu mengangguk sebagai jawabannya. Matanya beralih menatap Rian dan Rani yang sudah sadar. “Alhammdulillah. Kalian sudah sadar.” Ucapnya lembut sembari mendekat, ia mengelus rambut Rian sayang. Bergantian mengelus kepala Rani tak kalah sayang.
“Alhamdullah kak. Adik aku juga udah sehat katanya.” Jawab Rian senang sembari menatap adiknya.
“Kalian tinggal dimana?” Tanya dokter Rey menatap Rian dan Rani secara bergantian.
Yang ditatap pun menjadi murung. Rian menggigit bibir bawahnya takut, sedangkan Rani memilih bungkam.
“Kenapa kalian diem? Kalian kenapa banyak luka?” Tanya dokter Rey sekali lagi.
Tak ada jawaban membuat Rindu paham situasi ini. ia mengelus punggung Rian lembut. “Dokter Rey baik kok. Cerita aja, mungkin kami bisa bantu kalian.” Ucapnya.
“Kalian tidak saling kenal?” Tanya dokter Rey heran.
“Sudah tadi.” Jawab Rindu jujur nan polos. “Lalu ceritakan lah Rian.” Lanjut Rindu yang takut..
.
__ADS_1
.
.