
Pria itu hanya menghela nafas. Ia menimbang sesaat, lalu menerima tawaran Rindu.rindu tersenyum akan hal itu.” Ini uangnya.” ucapnya.
“Terimakasih paman.” Jawab Rindu sambil menerima uang itu. Rindu melangkah ringan keluar toko itu. Wajahnya tersenyum penuh syukur.
“Seenggaknya. Gue punya uang buat makan beberapa minggu kedepan dan buat cek up” Gumanya. “Hm. Makan dulu ah..”Lanjutnya sambil mengelus perutnya.
Jika dirasakan baru kali ini ia merasakan rasa syukur akan uang yang ia miliki. Rindu memasukan uang itu kedalam kantong celananya, ia berjalan menuju salah satu tempat makan dipinggir jalan. ia memesan Mie Ayam campur bakso dan teh manis. “Rasanya udah lama banget gue nggak makan ditempat kayak gini.” Gumamnya saat melihat keadaan sekitar.
Semenjak ia bergaul dengan Diva dan Meme membuatnya menjadi tak pernah makan ditempat emperan, mereka selalu memoroti uang pria-pria. Mereka selalu makan direstoran ternama dengan harga puluhan kali lipat lebih besar dari tempat emperan.
Rindu tersenyum melihat makanannya sudah siap. Ia mengucapkan terimakasih dengan sang penjual lalu melahapnya dengan rakus. Baru kali ini ia merasakan makan begitu nikmat. Bahkan lebih nikmat dari retoran ternama. Ia makan penuh syukur.
Makanannya sudah tandas. Ia mengakhiri makannya dengan mengucap Allhamdulillah dan segera beranjak untuk membayar makanannya. “Berapa pak?” Tanya Rindu.
“20ribu aja mbak.” Jawab penjual itu ramah
Rindu mengeluarkan uangnya dan menyerahkan uang itu kepada sang penjual “Ini bang.” Ucapya.
Penjual pun mengambil uang Rindu dan segera mengembalikannya. “Makasih ya mbak.” ucapnya.
Rindu hanya tersenyum dan melangkah pergi. Ia mulai menyusuri jalanan. Tak lama kemudian, ia memberhentikan Taxsi karena ia merasa sangat lelah untuk melanjutkan berjalan menujuh rumah.
Suasana hatinya sudah cukup baik. Ia sudah menetapkan hati untuk bertaubat, mulai dengan hal baru, mulai mengubah semua hal buruk dari dirinya. Saat taxsi yang ditumpangi Rindu sudah sampai dihalaman rumahnya, Rindu membayar ongkosnya lalu beranjak dan melangkah kakinya menuju Rumahnya.
Keningnya menggerut saat melihat mobil pajero putih terparkir didepan rumahnya. Ia mulai melirik tangannya untuk melihat jam, ia baru sadar jika jamnya sudah dijual. Tapi ia yakin sekarang sudah diatas jam 10 malam.
Ia sama sekali tak ingin ambil pusing, ia lamgsung melangkah masuk kedalam Rumah. “Assalamu’alaikum...” ucapnya.
Diva, Meme, Davin dan Arga menatap Rindu yang baru mengucapkan salam. Arga beranjak dari kursinya, ia menghampiri Rindu. “Sayang, kamu dari mana aja?. Aku khawatir tau nggak, aku telpon nomor kamu nggak aktif?” Ucapnya panjang lebar.
__ADS_1
“Iya ni Rin. Loe dari mana aja?. Loe lupa kita mau jalan malam ini?” Tanya Diva ketus.
Sekuat tenaga Rindu menahan emosinya. Arga menatap penampilan Rindu yang sangat kacau, lalu perhatiannya tepat pada tangan Rindu yang terlillit perban dan Wajah Rindu yang banyak. memar. Tangannya terangkat untuk menggapai tangan Rindu. “Ini kenapa?. Kamu terluka?” ucapnya khawatir.
Rindu menarik tangannya digenggaman Arga. “ Gue nggak pa-pa. Udahkan, gue capek. Mau tidur ” ucap Rindu malas, lalu melangkah tanpa minat untuk menjawab semua pertanyaan.
“Eh Rin. Kami nungguin loe dari tadi sore. Loe makai nyelonong aja masuk kamar. Punya hati nggak sii loe?” Teriak Diva kesal melihat Rindu.
Rindu berhenti dan membalikkan badannya. Ia menatap Diva dan Meme.” Gue lagi nggak mau debat. Sorry kalo gue buat kalian nunggu.”
“Ceritaain kenapa kamu kayak gini?. Tangan kamu kenapa sampek diperban? Wajah kamu kenapa.memar?” Tanya Arga sambil mendekat.
“ Loe nanya kenapa gue kacau?. Tanya sama selingkuhan loe!. Dan masalah tangan gue itu bukan urusan loe” jawab Rindu tegas.
Arga membulatkan matanya. Ia memegang pundak Rindu. Tapi segera ditepis Rindu. “ aku nggak pernah selingku. Aku Cuma pacaran sama kamu.” jelasnya.
Rindu tertawa sinis. Sebenarnya ia sama sekali tak mencintai Arga. Tapi dia ingin memamfaatkan semua keadaan supaya ia bisa lepas dari jeratan temannya dan Arga. “ Terus kalo udah nidurin anak orang apa namanya?” tanyanya ringan.
Rindu melipatkan tangannya. Ia menatap Meme dan Arga scara bergantian. “ Kalo kalian nggak percaya. Tanya aja sama Arga. Udah nidurin anak orang belum?. gue disamperin langsung malah sama ceweknya. Kalo nggak mau pecaya nggak apa-apa.” jawab Rindu Ringan. “ Satu lagi. Arga gue nggak pernah anggep loe cowok gue. kalo memang loe nganggep gue cewek loe. Loe catet baik-baik ini...” Ucapnya. Ia diam sebentar dan menatap Arga tajam. “ KITA PUTUS!” Ucap Rindu tegas.
“Rin. Loe nggak bisa giniin gue setelah apa yang udah gue kasih ke elo...!” Arga memujuk Rindu. Rindu melangkahkan kakinya untuk menjauh, tapi Arga menyusulnya. “ Rin. Dengerin gue. apa yang loe denger sama dia itu Fitnah”
Rindu menghembus nafas kasar. Ia berhenti ditempatnya. “ Gue nggak pernah minta buat loe ngasih apapun buat gue. dan gue liat sendiri video loe lagi nidurin dia. Kurang jelas loe.” ucap Rindu tegas. Lalu melangkah lebar menjauhi Arga yang masih bermohon untuk tidak putus.
Dia dan yang lain hanya diam. mereka tak tahu harus percaya atau tidak. Arga sangat mencintai Rindu dari yang mereka lihat. Tapi mereka tahu jika Rindu tak pernah berbohong suatu hal.
Diva memegang pundak Arga saat pintu kamar Rindu tutup. “Sabar Ga. Biar entar gue bujukin Rindu lagi.” ucapnya.
Arga menatap Diva dengan tatapan memohon. “Beneran Div. Di bantuin gue, gue nggak mau putus sama Rindu. Gue sayang banget ama dia.” ucapya memohon.
__ADS_1
“Iyaa. Ntar gue omongin. Sekarang Rindu lagi emosi. mendong loe pulang dulu. Biar ntar gue yang bujuk dia.”
“Kalo gitu, gue berharap banget ama loe Div.”
“Yaudah Ga. Kita pulang dulu yuk. Udah malem.” Sahut Danil yang sedari tadi hanya menonton. Entah ia bahagia melihat mereka putus atau apalah.
Arga menganggukan kepalanya. “ Besok gue kesini lagi.” Ucap Arga sebelum pergi meninggalkan rumah Rindu.
Rindu membasuh wajahnya lalu melangkahkan kakinya untuk tidur. ia telah memutuskan untuk berkerja dan besok ia akan melamar pekerjaan. Uangnya pasti akan habis, belum lagi biaya untuk pengobatannya. Ia tak ingin membuat orang tuanya bersedih lagi karena dirinya. Lagi pula, biaya oprasi itu sangat besar. Sudah pasti orang tuanya harus menjual tanah dan rumah. Apa lagi saat ini orang tuanya sangat marah besar kepada dirinya.
......Pagi hari...
Rindu seperti biasa. Melakukan sholat Subuh sebagai kewajibannya, mengaji. Saat ibadah yang ia rutin kan setiap hari telah selesai. Ia bergegas untuk bersiap-siap untuk pergi melamar kerja.
“Rin. Loe kok pakek baju item putih gitu?” Tanya Diva saat melihat Rindu yang sudah siap dengan penampilan nya.
“Gue mau cari kerja.” Jawab Rindu.
“Emang nyokap loe nggak ngasih duit sama loe lagi apa?” Tanya Diva. Sesaat setelahnya ia bertanya lagi. “ Rin. Loe benenaran mau putus sama Arga?” Tanya Diva.
‘Bahkan kalian nggak naya gue kemana malam tadi?. Kenapa gue luka?, kenapa gue kacau’ Batin Rindu sedih
“Iya.” Jawab Rindu singkat. Lalu ia membuka tas jinjitnya mengambil domper hitam. “ Ni balikin sama dia. Gue lupa soalnya.” Lanjutnya sambil memberi domper hitam itu.
Diva menerima dompet itu dan menatap Rindu tak percaya. “Rin. Loe putus sama Arga rugi tau nggak? Orangnya baik, cakep, kaya lagi. Apa kurangnya coba?. Apapun dia kasih keloe Ri.n” Bujuk Diva.
Rindu menghela nafas. “Dia selingku Di. Lagian juga gue nggak suka sama dia.” Jawab Rindu.
Diva memegang tangan Rindu. “Rin. Dia tu tambang emas kita. Dia tajir. Nggak usah mikir dia selingkuh atau cinta. Semua itu nggak ada yang bisa kasih makan!. Loe porotin aja duitnya...”
__ADS_1
Rinu membuang tangan Diva ditangannya dan cemberut. “Gue lagi nggak mood buat ribut pagi-pagi Div. Kalo loe mau morotin dia. Kenapa nggak Loe aja yang pacaran sama dia?”