
ON FLASHBACK..
“Rin..” Pangil Rike melihat Rindu yang duduk disamping Ceacilia yang di pangil Sisil.
Hari ini adalah semseter kedua kelas VII. Membuat Rindu mendapatkan kelas baru dan mencari teman duduk sebangku baru. Begitu juga anak lainnya.
Rindu menatap Rike dengan alis terangkat “Kenapa?” Faktanya ia tak sedekat itu kepada Rike, bahkan bicara denganya saja bisa dihitung jari.
Rike yang duduk disebela Divapun berteriak karena jarak mereka itu cukup jauh, dari sudut kesudut ruangan.” Lu duduk sama Diva aja ya.. Soalnya dia sendiri. Kasian, dia mau kenal sama lo katanya....!” Teriaknya.
“Gue duduk sama Sisil. Ngak enak gue..” Ucap Rindu tak terlalu berteriak.
Rike bercebik.” Lo sama Diva aja. Sekalian kenalan. Dia ngak mau duduk sendiri. Gue mau duduk sam Ridya.”
“Sorry. Gue ngak mau. temen lo yang lain aja, kita nggak sedeket itu buat lo minta tolong ama gue.” Ketus Rindu. ia tak suka diatur.
Rike gemes. Ia mendektai Rindu lalu berbisik.” Gue muak duduk sama dia. Bantuin gue napa Rin. Kasian dia ngak punya temen. Semua orang pada ogah duduk sama dia. Dia tu suka nipu orang. Kali aja lo bisa babat tu mulut dia. Lo kan jarang ngomong...”
“Sorry. Gue ngak minat..” Ketus Rindu. untuk apa pula ia peduli?
“Nanti dia dibuli Eko kalo nggak ada yang jaga. Dia tu penyakit asma akut Rin. Loo ngak kasian apa?” Tanya Rike membuat Rindu terdiam...
“Div. Rindu mau duduk sam lo kok....!” Teriak Rike membuat Rindu terkejut. Pasalnya ia tak menjawab. Ia hanya diam karena Sisil juga mengangkat bahu acuh.
Rindu menerima saja karena ia tak keberatan duduk dimanapun. Tapi saat ia bermain dengan Diva, ia baru tau jika Diva memang pembual. Diva yang suka dibully awalnya Rindu tak peduli, tapi lama kelamaan Rindu kasihan membuat ia selalu melindungi Diva. Kemanapun Diva ia akan menemaninya, dan pada suatu hari ia dan Diva yang sedang duduk dibangku mereka melihat satu gadis yang selalu menatap orang lain sinis.
“Melisa..!” Ucap Diva keras membuat sang empu menoleh.
“Main sini aja. Kita lagi main ular tangga loo!..” Ucapnya semangat.
Sebenarnya Meme itu sangat sombong awalnya, karena itu, tak ada yang mau bertemannya kecuali. Titiriya dan juga Puput.
__ADS_1
Mereka itu bukan sii cupu yang berkaca mata tebal. Tapi dijuluki talang tes karena apa? Karena mereka terkenal jorok. Karena apa? Karena seragam mereka yang bukan berwarna putih, tapi kuning. Bau tubuh mereka bau apek, karena sepergi atau sepulang sekolah mereka jalan kaki, mereka berjalan bukan 1 atau dua kilo tapi lima kilo jauhnya, mungkin karena itu merka bau ketek.
Belum lagi bau mulut mereka, katanya karena mereka tak pernah kekantin dan tak punya uang. Perut yang kosong akan membuat hawa mulut akan busuk. Itu hanya separuh saja.
Baju mereka yang kusutnya bagaikan dikunya sapi dan rok biru yang sana sini ada jahitan yang terlihat, jahitan itu berwarna beda dengan warnah rok membuat mereka norak setngah mati. kaus kaki kedodoran. Ahh, intinya mereka itu sangat-sangat kusut dan bla-balbla lah ya. nggak usah dijelasin lagi. Ghibahkan Author wkwk.
Meme juga bermain dengan mereka itu terpaksa, karena ia tak punya teman. Tak ada satupun yang mau mendekati Meme karena tatapan Meme yang sombong dan sinis. Dan dari mereka bertiga. Meme lah yang paling manusiawi dalam keadaan primer maupun skunder.
Karena ajakan Diva, Meme mendekat. Ia senang karena mendapatkan teman selain Titi dan Puput. Semenjak itu pula Rindu kenal dengan Meme. Sebenarnya ia tak minat, dia cenderung pendiam, ia lebih memilih menilai mereka tanpa mereka sadari. Diva yang suka membual dan Meme yang melupakan teman-temannya yang saat susah dan semua orang tak mau bertemannya. Bisa dikatakan kacang lupa kulit. Saat Meme bermain dengan Rindupun Meme suka menilai penampilan Titi dan Puput. Ia menjelek-jelekkan mereka padahal ia sendiri dulu angota dari mereka.
Rindu yng diam saja dan menjadi pelindung mereka, Rindu yang selalu diam namun dipandang membuat Diva dan Meme kabut mata. Jika mereka main tak mau mengajak Rindu membuat Rindu harus belajar diperpus dan membaca komik dan novel. Rindu yang suka ditingal kadang gabung dengan Dahlia atau Fenti teman lamanya, jangan salah, Deliah dan Fenti adalah siswi yang prestasinya gemilau.
Hinga SMA Rindu hanya diam tak mau membahas semua keburukan mereka. Tapi ia cukup nyaman, selagi mereka masih tak mengusik hidup Rindu. rindu akan diam, tapi jika mereka mengusik baru Rindu akan pergi seperti saat ini.
Of flashback..
Rindu terkekeh pelan.” Bokap lo nggak sekaya yang lo bilang Div. Gue tau. “ Ucap Rindu sendu.” Gue ngak sesempurna yang kalian liat Div me. Kalian boleh iri sama gue, tapi bukan dengan ngehancurin Gue.”Rindu menangis dalam diam.” Gue pergi. Tapi gue minta jangan lupain kenangan kita ya yang bonceng tiga. Gue yang selalu kasih barang cuple buat kita. Dan jangan lupa sama tawa kita.” Ucap Rindu.
“Gue udah gugurin anak gue. jadi hidup lo penuh dosa.. Nggak usah sok pakek cadar Rin. Malu sama dosa.” Diva tak bisa menglak tentang ucapan Rindu. karena itu, ia mencari hal lain untuk membuat Rindu malu.
“Gue tau lo ngak sejahat itu untuk ngebunuh orang Div.” Rindu menjeda sebentar.” Seharusnya lo bersyukur diberi anak meski dengan cara Zina. Karena lo beruntung punya kesempatan punya anak. Liat diluar, banyak banget yang mau punya anak tapi mereka mandul, ngak bis apunya anak. Lo mau punya anak saat lo udah nikah? Tapi sayangnya takdir bukan lo yang nentuin. Bisa jadi rahim lo dikasih penyakit dan lo ngak bisa punya anak seumur hidup. Dan pada akhirnya lo sendiri yang bakal nyesel. So penyesalan itu datang diakhir waktu, kalo awal namanya pendftaran. Kayak lo sekarang. Lagi daftar penyesalan” Peringat Rindu.
“Rawat anak lo selagi lo dikasih umur Div. Karena gue ngak janji bisa ngerawat anak lo kalo udah gede. Gue ngak janji dia bisa panggil gue aunty padahal gue pengen banget pegang tangan mungilnya. Nanti kalo dia lahir., lo harus cerita tentang gue ya. Meskipun sebagai musuh lo.” Rindu terkekeh sembari mengelap air matanya.
Dia mendekati Diva dengan mengelus perut Diva yang masih datar. Ia sedikit membungkuk. Ia tersenyum lembut dibalik niqobnya “Hallo junior. Kenalin, nama aunty Rindu Azzahra. Aku temen sekaigus musuh mamamu. Nanti jadi anak sholeh atau sholeha ya. Maafin aunty yang nanti nggak bisa ketemu sama kamu, maafin aunty ngak bisa gendong kamu, tapi aunty janji akan selalu doa kamu supaya jadi orang yang sukses, dunia dan juga akhirat. “Lalu melepaskan tanganya pada perut Diva lalu pergi dengan air mata yang berlinang.
Diva dan Meme?
Mereka mematung. Mengapa mereka merasa jika Rindu mengucapkan kata-ktaa yang begitu ambigu? Bagaikan orang yang akan pergi jauh? Yang tak akan bertemu selama-lamanya? Kenapa ?
Apa maksud Rindu? kenapa Rindu berbicara seakan-akan tak bisa bertemu Diva lagi? Mereka bahkan tak sadar Rindu keluar dari rumah.
__ADS_1
Rindu memasuki mobil yang sudah ada Filosnya. Habib menyuruh Filos untuk mengantar Rindu kerumah. Karen itulah Filos menunggu Rindu berkemas sedari tadi. “Ayo kita jalan.” Ucap Rindu parau. Ia meletakkan kopernya dibagasi terlebih daulu.
“Kau tidak apa-apa?” Tanya bisa melihat dari kaca jika Rindu sedang mengusap air mata.
“I’m Oke.” Ucap Rindu singkat. Filos pun menganguk tanda mengerti.
Rinndu merasakan sesak didadanya karena menangis sedari tadi. Membuat ia batuk beberapa kali.
Uhukk..
Hukk..
Batuk ini bukan batuk biasa. Batuk yang terasa sakit diulu hati, hatinya bagaikan disayat dengan pisau. Entah efek menangis atau apapun itu Rindu tak tau. Ia mulai merasakan jika hati nya sangat sakit, cepat-cepat ia mengambil minum dari tasnya lalu menyedot minum sedikit gemetar. ia harus tenang, meski ia sadar jika niqob yang ia gunakan sedikit basah., ia tau jika saat ini ia mimisan. Untunglah dia menggunakan niqob, jadi tak terlihat.
“Kau tidak apa-apa nona?” Tanya Filos melirik kaca spion. Ia bisa melihat Rindu yang menyender dengan memejam mata erat seakan menahan sakit yang sangat dalam
Rindu mengeleng. Ia tak bisa bicara.
Jangankan bicara, bernafas ataupun menghembus nafas saja ia tak bisa. Sakit dan nyilu jika ia bernadas. Ia harus menahan diri supaya tidak bernafas. Seberapa lama? Ia mengidapnya selama 3menit membuat wajah Rindu memerah karena tak tahan tak bernafas..
Urat-urat dileher Rindu keluar karena sudah tak tahan rasa sakitnya membuat Rindu tak tahan.” Aku mau tdur dulu. Jika sudah sampai bang bang bangunkan saj saj.” Ucap Rindu sesak. Ia tak mau jika ia pingsan Filos mengetahuinya.
“Ba baiklah..” Ucap Filos sedikit khawatir namun tak peuli juga. Ia terus saja menyetir mobilnya. sedangkan Rindu yang sudah pergi kealam damai. Ia terpingsan karena tak kuat menahan sakit dihatinya.
.
.
.
.
__ADS_1
Like komen and vote sebanyak banyaknya ya...!