Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Ketika senyum


__ADS_3

Setelah debat selama hampir dua jam, barulah Rey mengizinkan Rindu untuk pergi menjenguk Rian dan Rani. Alasannya karena Rindu memang keras kepala. Tak bisa diatur.


Awalnya Rindu sangat mengelak saat Rey mau mengajaknya satu mobil saja. Rindu menolak keras karena mereka Bukan mahrom, tapi lagi dan lagi Rindu kalah saat dadanya sakit dan pingangnya sakit.. dengan cepat Dokter Rey mengajak Rindu apakah Rindu salah? Saat ini Rinidu memang butuh penopang hidup untu tempat bersandarnya tapi ia tak punya..! keluarganya tak ada, suami apa lagi. Teman? Ia bahkan tak punya teman. Apakah Diva dan Meme mau dengannya? Mau membantunya saat sakit seperti ini? Gavin? Dia laki-laki. Rindu ingin menangis jika mengingat semua itu. Ia mau memeluk Umi Ira saja saat ini, tapi sayangnya ia harus menjenguk Rian dan Rani.


“Assalamu’alaikum anak bunda..” Ujar Rindu riang dikalah didepan kelasnya Rian dan Rani ternyata mereka sedang istirahat. Nampak mereka sedang memegang Al-Qur’an dan duduk dikursi panjang. Ada beberapa anak juga disamping mereka.


Mata Rian dan Rani mengerjab heran” Bunda..!!” Seru mereka meloncat lalu langsung memeluk tubuh Rindu sayang. Banyak pasang mata anak-anak yang melihat kejadian itu, anak-anak disana menatap mereka heran.


Rindu mengelus kepala Rian dan Rani sayang. Entahlah, ia ingin menangis saat ini jika memeluk tubuh mungil mereka.


“Bunda kenapa eggak jenguk kita minggu lalu. kita kangen banget sama Bunda.” Ujar Rian menangis.” Bunda sakit ya? Kok bunda kurusan ya sekarang. Apa bunda makan banyak? Istirajat cukup? Apa bunda kerja keras demi kita disini?” Tanya Rian berturut-trut lagi. Ia khawatir saat merasakan bundanya kurus saat ini.


Rindu menggeleng ia mengelus kepala Rian sayang” Bunda memang kerja bunda nggak bisa sering kesini karena bunda enggak bisa izin sayang. Maaf ya.” Ujarnya sayang. Ia menghapus air mata Rian sayang layaknya anaknya sendiri. ia bahkan mengambil Tisyu lalu memencet hidung Rian supaya membuang ingusnya ia sama sekali tak jijik, malah ia terkikik geli. "Bunda sehat kok. kalo kirus kan harus bersukur. Kalo bunda gendut nanti kalian malu..." Ujarnya terkekeh geli.


Rani dan Rian cemberut. " Bunda ihh. Kami enggak bakal malu bun..Bunda tetap yang terbaik..." Jawab Rani manja


Rindu mencium pipi Rian dan Rani bergantian." Kalian makan teraturkan? istirahatnya cukup? Vitaminnya diminum?" Tanya Rindu berturut turut.


"Sudah bunda...." Ujar Rian haru Rindu sangat perhatian padanya..


“Bunda Rani kangen.” Rani mengalungkan tanganya dileher Rindu manja ia sedari tadi diam saja karena pertanyaan yang harus ia lontarkan sudah dilontarkan terlebih dahulu oleh kembarannya. Bagaimana ia tak benci?


Rindu mengelus tanganya lembut.” Bunda bawah Es krim loo. Kalian engak mau?” Tanya Rindu lembut.

__ADS_1


Dengan ccepat pula mereka mengangguk.” Mau..” Dengan gerakan cepat menadakan tangan didepan Rindu.


“Sapa dulu dong dokter Rey. Masa dari tadu diemin aja.” Ujarnya terkekeh.


Dokter Rey sedari tadi hanya diam menatap interasksi Rindu pada dua manusia kecil itu ia tak mau menghancurkan momen indah itu, ia cukup tau diri. “Dokter.!” Seru Rani lalu menyalimi dokter Rey diikuti Rian dibelakangnya.


“Apa kabar kalian hm?” Tanya dokter Rey tersenyum lembut.


“Kami baik kok om dokter. Om juga baikkan? Enggak jahatkan sama bunda?” Tanya Rani mengerjab polos. Memang benar kata orang, jika anak perempuan itu lebih dekat dengan ayah dari pada dengan ibu, dan seperti sekarang, Rindu tau jika Rani butuh sosok ayah. Dan ia bisa melihat ditatapan Rani terhadap Rey.


Dokter Rey terkekeh lalu mengatakan jika ia baik-baik saja ia juga mengatakan jika ia tak akan menyakiti Rindu. “Karena udah ni es krimnya. Bagiian sama temen deketnya juga ya... “Ujar Rindu memberi kantung kresek itu disana ada sekitar dua puluh es krim. Banyak sekali? Memang begitu.


“Wahhh beneran bun?” Tanya Rian menatap bundanya


Kenapa Rindu membeli untuk anak-anak lain juga?ia mau Rian dan Rani banyak teman, ia mau Rian dan Rani banyak pengalaman dan mengajarkan jika memberi tak akan rugi. Meskipun hanya sebatang es krim tapi senyum sesama akan membuat kita bahagia sepanjang hari. percayalah ketika kita sudah membuat orang tersneyum, kita juga akan ikut tersenyum.


Biasakan berbagi maka kita akan tau nikmatnya berbagi... Dan pelajaran ini harus ia terapkan pada Rian dan Rani sedari sekarang...


“Terimakasih ya Bu. Karena udah kasih anak saya es krim..” Salah satu ibu ibu yang juga mengunjungi anaknya menatap Rindu tersenyum lembut ia menggunakan gadis longgar juga dan jilbab syar’i wajahnya sangat teduh. Disampingnya ada laki-laki juga mungkin suaminya ada jengot tipis disana. Ia tersenyum hangat pada Rindu lalu mengalihkan pandanagn pada anaknya yang sedang bercerita pada Rian dan Rani.


Rindu tersneyum “ Sama-sama bu.” Ujar Rindu. ia tau jia orang disini pasti mengirah pada dokter Rey itu suaminya. Tak apakan? Ia hanya mau egos saat ini ia tak mau Rian dan Rani diangap tak punya ayah ia mau mereka dianggap memiliki ayah didepan umum, meskipun ia yang berdosa, tak masalah, ia hanya mau Rian dan Rani tak mendapatlan gunjingan.


“Bun. Kita duduk disana aja yu.. Kita udah bagiinnya. Makasih ya bun, karena bunda baik banget..” Ujar Rani memeluk kaki Rindu.. “Iya nanti kalo kita udah gede, aku mau baik kayak bunda, enggak pelit.” Ujar Rian tak kalah heboh, ia juga memeluk kaki Rindu sayang.

__ADS_1


Rindu menatap mereka sendu.” Ayoo..” ujarnya lalu mengajak mereka ketaman.


“Sini gandeng ayah juga dong. Biar ngak kebundanya terus.” Ujarnya dokter Rey.’Ayah?’


Rian dan Rani berkaca-kaca dulu mereka sempat menolak dokter Rey jadi ayah angkat, tapi sekarang mereka tak bisa menolak. Jadilah mereka berbarengan. Rani dengan dokter Rey sedangkan Rian dengan Rindu mereka bagaikan pasangan bahagia saja saat ini, siapapun akan iri melihatnya.


‘Bunda liat..! Kita punya bunda dan ayah disini.. kalian jangan marah ya, meskipun mereka jadi bunda dan ayah kita, kalian tetap ayah dan ibu kami kok. Kalian enggak akan terganti, bunda dan ayah baik banget makasih ya bun udah kasih bunda sama ayah buat kami. kami sayang banget sama kalian, sayang ayah, ibu, bunda Rindu dan ayah Rey juga Gumam Rani menatap langit biru, tak terasa ia menitihkan air mata.


“Lo kok Rani nangis?" Tanya Dokter Rey yang sedang menggendong Rani.


Tak menjawab Rani malah memeluk leher dokter Rey dalam. Ia terisak saat ini.” Makasih ya bun, dokter Ayah Rani sayang sama kalian.” Ujarnya menangis.


Rindu sudah bilangkan...! bolehkah ia egois, biarkan orang lain mengaggap mereka keluarga bahagia supaya Rina dan Rani tak mendapatkan gunjingan jika ia tak punya ayah? Biarkan orang lain berfikir Rian dan Rani bahagia? “Kami juga sayang banget sama kamu. Jadi anak sholeha ya.” Ujar Rindu sayang. Sedangkan dokter Rey mengeratkan pelukannya saat ini. Rian tak tinggal diam, ia juga memeluk Rindu penuh sayang. Umur mereka masih Lima tahun setengah wajar saja mereka manja, apa lagi belum pernah merasakan kasih sayang orang tua.


.


.


.


Lama up?.maaf ya.


jangan lupa like komen and vote ya.

__ADS_1


__ADS_2