
“Tapi kalo tatapan mata gimana umi?” Tanya Rindu.
“Umi punya satu kisah ni buat kamu” Ucap Umi Ira. Rindu mengernyit, tapi ia memfokuskan diri menatap Umi Ira. “ Dulu ada seorang gadis yang memakai niqob, seluruh tubuhnya ditutup rapi, hanya matanya yang tak ia tutup.
Suatu Hari gadis itu keluar rumah, tak sengaja ia bertemu dengan seorang laki-laki. Laki-laki itu terpesona akan mata gadis tersebut, semakin ditatap semakin terpesona dirinya, ia bernafsu dan berniat untuk bertemu dengan gadis itu.
Ia mencari tau dimana rumah gadis itu. Ia sangat terpesona akan mata indah gadis itu. Saat ia tahu dimana tempat tinggal gadis itu. Ia berniat untuk datang dan meminang gadis itu. Ia pergi kerumah gadis itu.
Saat didepan rumah ia bertemu dengan paru baya, lalu ia berkata mau bertemu dengan gadis yang memakai niqob. Lalu wanita paru baya itu pergi menemui gadis itu.
Gadis itu turun dari tangga untuk menanyan siapa yang ingin menemuinya. Ia menundukan kepala saat menatap pria didepannya, lalu ia bertanya. “Afwan, ada apa akhi mencari ana?” Tanyanya pelan.
Pria itu berdiri dari duduknya, ia tersenyum menatap gadis yang ia cari ada didepannya.
“aku aku ingin mengenalimu. Aku ingin melamarmu.” Ucapnya tanpa ragu.
Gadis itu terkejut, ia belum bertemu dengan pria ini, bahkan ia tak tau siapa nama pria itu. “Apa alasan akhi mau melamar saya?” Tanya Gadis itu pelan.
“Karena aku menyukai matamu. Matamu sangat indah dan jerni bagai bidadari syurga.” Ucap Pria itu jujur.
Gadis itu tertunduk semakin dalam. “Jika begitu. Akhi tunggulah disini” Ucapnya serak.
Pria itu hanya tersenyum sambil duduk kembali untuk menunggu gadis itu kembali. Lama ia menunggu tapi gadis itu tak kunjung menemuinya. Sesaat setelahnya, bukan gadis itu yang menemuinya, tapi wanita paru baya tadi yang menemuinya saat ia bertamu didepan.
Wanita paru baya itu membawa nampan yang tertutup kain hitam, “Maaf tuan. Ini titipan dari nona kami.” jawabnya takut sekaligus bergetar.
Sontak membuat pria itu berdiri dan mengambil nampa itu. Ia cukup bingung akan hal itu?. Mengapa tidak gadis itu langsung memberinya. Tampa pikir panjang ia membuka nampan itu. Tangannya bergetar, matanya membesar, nampan itu jatuh keatas karpet itu. Ia meringis dan berteriak histeris menatap akan hal itu.
Isi nampan tersebut adalah mata gadis tersebut. Ia memberikan mata itu karena takut mata itu menjadi zina, ia takut mata itu membuat orang mencintainya, ia ingin seseorang meminangnya karena cinta karena Allah!.” cerita Umi Ira panjang lebar.
__ADS_1
Tak terasa Rindu terhanyut dalam cerita itu. Seakan-akan jiwanya tersedot pergi jauh melayang dimana kisah itu terjadi. Sampai suara Umi Ira membuatnya sadar kembali.
“sampai disini kamu pahamkan?” Tanya Umi Ira.
Rindu meneguk sivanya dan mengangguk. Pikirannya melayang. ‘akankah ia bisa menjadi pribadi yang begitu mulia disela-sela umurnya?. Ia memikirkan hal itu membuatnya bersedih.
“Yaudah kalo begitu kita kumpul yuk. Sekarang waktunya mengaji.”Ucap Umi Ira semangat. “Anak-anak sudah menunggu dimusholah. Ayo,”Ajaknya sambil menarik tangan Rindu.
Rindu mengikuti langkah Umi Ira menuntunnya, mushola itu cukup besar, hanya saja keadaannya sedikit memprihatinkan. Ditambah puluhan anak-anak disana membuat Rindu terhenyat. Tangannya ditarik oleh Umi Ira untuk duduk disampingnya. Ia mendaratkan pinggulnya disamping Umi Ira.
Acara mereka mengaji terdengar merdu mulai dari iqra’ amma dan Al-Qur’an. Mereka dengan semangatnya membacakan hurup arab yang begitu suci. Sampai suara dari salah satu dari mereka membuat Rindu menjadi sorotan. “Kak Rindu nggak ngaji?” Tanyanya.
Umi Ira menatap Rindu. “Kamu bisa ngaji?” Tanyanya takut.
Rindu tersenyum tipis dan mengangguk. Lalu Umi Ira memberikan Al-Qur’an kepada Rindu.
‘apa benar Rindu pernah membunuh dan sering berbuat jahat’ batinnya.
Semua orang mendengar dan menghayati baris baris suara Rindu. Bahakan Umi Ira menitihkan air matanya karena terlalu hanyut dalam lantunang ayat suci Rindu. Saat Rindu sudah menyelesaikan bacaannya ia menatap Umi Ira tersenyum “Sudah Mi.” Ucapnya Ringan.
“Suara kamu bagus banget nak. Kamu belajar sama siapa?” Tanya Umi Ira penasaran.
“Iya bagus banget.” Jawab anak-anak serentak
Rindu tertunduk. “Sama Umi dan Abi Rindu.” Jawabnya pelan.
“Wah. berarti orang tua kamu pandai banget ngajinya” Jawab Umi Ira antusias.
Rindu tersenyum miris. “Iya Mi. Suara Umi sama Abi tu bagus banget. Bahkan suara ngaji Rindu kalah jauh dari mereka” Jawab Rindu sedih. “Dulu waktu Rindu kecil, Rinduu susah banget belajar ngaji, sampek-sampek Rindu selalu kena pukul, bahkan mulut Rindu pernah disumpel pakek kain. Katanya kalo nggak bisa ngaji lebih baik nggak bisa bicara sekalian. Nggak ada gunanya suara kamu kalo nggak bisa ngaji.” ucap Rindu bersedih saat ia mengingat semua hal itu.
__ADS_1
Iya mengingat betapa sedihnya bibirnya sampai berdarah karena disumpel paksa dengan kain oleh orang tuanya karena tak bisa mengajih dan tak serius. Ia ingat betapa sakitnya Abinya memukulnya pakai rotan saat ia malas mengaji dan semua ibadah.
Karena itu Rindu tak betah dirumah. ia memilih tinggal jauh dari Umi dan Abinya supaya ia tak terlalu berdosa karena durhaka kepada orang tua. Tapi ternyata dengan ia keluar dari rumahnya ia mendapatkan dosa lebih besar, bahkan ia masuk kejurang neraka yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya.
Umi Ira menatap Rindu sendu. Ia menepuk punggung Rindu. “Dulu Umi sama Abi Rindu maksain Rindu untuk jadi hafidz, tapi Rindu nggak suka ngehafal, Rindu nggak mau ngehabisin waktu kayak gitu” Lanjut Rindu.
“Umi sama Abi kamu sama sekali nggak salah. Dengan sifat kamu yang keras membuat mereka tak menyerah untuk mendidik kamu dalam beribadah nak. Ia selalu berusaha buat kamu dekat dengan Allah.” Jawab Umi Ira tegas.
“Jika kamu berfikir Umi dan Abi kamu keras. Seharusnya kamu bersyukur mereka menyayangi kamu. Mereka tak ingin mulut kamu, suara kamu sama sekali tak bisa mengaji. Kamu lihatkan hasilnya, kamu bisa mengajih dengan sangat baik. Coba kamu liat Umi.” Ucap Umi Ira memegang bahu Rindu.
Rindu menghadap kepada Umi Ira. Semua anak-anak menjadi saksi akan Rindu. “Kamu tau kenapa Umi dan Abi kamu nyuruh buat kamu ngehafal Al-Qur’an dan selalu beribada?” Tanya Umi Ira.
Rindu hanya diam tak menjawab. Ia terus menatap Umi Ira. “ karena Umi kamu mau kamu masuk syurga, karena Umi dan Abi kamu nggak mau liat kamu masuk neraka. Mereka mau kamu berguna buat agama.siapa yang tak ingin anak sholeha nak?.” Suara Umi Ira tercekat. Ia bahkan menjelaskan dengan menangis. Rindu menunduk merasa bersalah kepada oramg tuanya. Bukannya ia membenci orang tuanya, tapi karena ia tak menyukai semua itu tapi orang tuanya selalu memaksakan kehendak mereka membuat hidup Rindu tertekan.
“Orang tua kamu mau kamu mendapatkan mahkota dari rosullullah. Kamu bakal dapat tempat terbaik disisi Allah nak kalo kamu bisa menghafal Al-Qur’an. Belum lagi kemulyaan ketika kamu mendapat 7jubah untuk kamu berikan kepada siapapun yang kamu mau. Kamu bakal kasih jubah itu untuk kedua orang kamu. Kamu kasih kado terindah untuk orang tua kamu berupa syurga, siapa yang kamu kasih jubah itu akan masuk syurga nak. Karena itu ibu kamu mau kamu menghafal Al-Qur’an. Dahsayatnya perhargaan dari Allah tak akan bisa membandingi dunia ini barang secuilpun. Bahkan penghafal Al-Qur'an mrndapatkan tenpat sendiri dari Allah SWT.” Ucap Umi Ira menangis. Ia sangat menyayangkan Rindu mengabaikan pendidikan orang tuanya, ia sangat menyayangkan betapa bodohnya Rindu.
.
.
.
.
***Alhamdulillah bisa update lagi meskipun banyak yang nggak baca hehe.
jangan lupa like, vote dan komen ya biar novel ini lanjut. rasanya berat buat nulis tapi nggak dibaca haduh....
semoga mendapat ilmu***...
__ADS_1