
Sosok tampan itu menatap langit yang memancarkan sinar mataharinya, dipinggir matanya ada lingkaran hitam yang sangat kentara dengan kulitnya yang putih, sesekali ia menyesap Coffelatenya yang sudah semakin tak terasa panas lagi.
Lagi dan lagi ia menghembuskan nafasnya karena terasa berat, ia meletakkan cup Coffenya diatasnya lalu memijit pelipisnya yang terasa berat dan juga keram karena sedari kemarin ia gagal fokus dan tak bisa tidur. Pikirannya terpecah memikirkan ucapan Rindu padanya dihari itu tentng agama, kenapa ia sangat pusing dan juga merasakan jika hatinya sekarang sangat gelisa.
“Entah kenapa gue mau ngerasaan punya Tuhan..” Gumamnya. Ia ingin memiliki Tuhan yang ia percayakan dan banggakan seperti Rindu, apakah ia salah? Ia sangat ingin memiliki Tuhan layaknya orang lain. ketika memiliki masalah bersimpuh dan meminta ampunan dan meminta pertolongan, dimana ia merasakan tempat ia pulang. Tapi ia masih tak percaya akan adanya Tuhan. Bagaimana coba?
“Ehh... Udah lama pak datengnya?” Tanya sang pria yang membuat Dokter Rey membuyarkan lamunanya, ia tersenyum melihat dokter Rey dengan tangan didepan dan badan sedikit membungkuk.
Dokter Rey mendengus,” Duduk sana No...” Ucapnya pada pria yang ia panggil namanya ‘No’ pria yang pernah bersama Habib ketika Rindu membantu mereka. (Ingatkan ketika Rindu membantu dokter Rey yang hampir dibunuh waktu itu? Nah inilah dia, dia bernama Jino.)
Pria yang berkulit hitam manis itu tersenyum lalu duduk didepan dokter Rey. “Kamu mau pesan apa? Pesan saja dulu,” Ucap dokter Rey pada Jino yang tak lain adalah temanya sekaligus asistennya yang mengatur dan membantu ayahnya dokter Rey mengurus perusahaan.
Dokter Rey itu memiliki orang tua yang masih lengkap, orang tua dokter Rey adalah pengusaha besar dan memiliki kekayaan yang tak perlu ditanyakan lagi, dokter Rey juga memiliki tiga saudara, semuanya pria dan dia anak kedua. Awalnya ayahnya dokter Rey menyuruh dokter Rey mengurus perusahaan keluarga saja, tapi dokter Rey menolak dengan alasan itu bukan bidangnya, dokter Rey mau menjadi dokter spesialis organ dalam seperti hati dan dan jantung.
Orang tuanya tak bisa menolak kemauan anaknya, jadilah perusahaannya dokter Rey hanya diurus oleh ayahnya dan kakaknya yang belum menikah meskipun usianya sudah memasuki 32tahun, sedangkan adik, adik dokter Rey itu sekolah diAmerika dan sedang mengurus skripsi, jika dokter Rey tak salah, mungkin tiga minggu lagi ia akan balik keindonesia karena hanya menunggu wisuda saja lagi nanti..
Jiino mengangguk lalu memesan coppucio yang ia sukai dan mulai mendatap dokter Rey yang tak seperti biasanya.” Ada apa pak?” Tanyanya sopan .
“Jangan pakek pak dong. Kayak sama siapa aja loe, udah ahkk, gue belum setua itu kali....” Ucapnya pada sang asisten keluarga.
Asisten itupun tertawa garing.” Iya dee. Loe kenapa bro?” Ucapnya lagi saat melihat dokter Rey tak seceria dan selepas biasanya.
Dokter Rey menatap Jino dalam, ia ingin bertanya tapi takut, tapi jika ia tak bertanya, maka ia tak tau harus menjawab apa.
“Menurut loe, orang yang enggak punya agama kayak gue, bisa enggak bersatu sama cewek yang memegang tegu agamanya?” Tanyanya yakin.
Jino mengerjab, “Kenapa? Loe mau nikah?” Tanyanya pelan. “Sama siapa? Kenapa eggak bilang sama tuan Geon? Sama nyonya Jenny? Mereka pasti seneng banget, secara mereka kan mau nimang cucu bro..” Lanjutnya antusias.
Mengingat umur kedua orang tua dokter Rey tak memungkiri ia sangat ingin menggendong cucu dari dokter Rey dan kakaknya, tapi sayangnya mereka belum ada yang mau menikah membat dokter Rey dan kakaknya Alex pergi dari rumah. perkara menikah itu bukanlah hal yang gampang bagi mereka.
Dokter Rey mendengus. Yang ditanya apa, yang dijawab apa. Ini namanya tak mendapatkan jawaban. “Gue nanya boleh enggak?” Tanyanya tak mau menjawab pertanyaan Jino.
Jino berdecap. “Tergantung sama ceweknya sii. Kalo dia beriman, pasti mati dia rela dari pada melenceng dari agamanya.” Jawabnya.” Lagi pula loe mau sama siapa sii Boy? Sama Carolin? Sama Fina? Sama Hana? Enggak usah difikirin, dengan adanya tahta loe kayak sekarang, loe bakal bisa dapetin mereka dan ngebuat mereka ningain agama mereka, sekarang itu, dimata ciwi-ciwi adalah harta, tahta dan uang. Percuma kalo punya agama *** engak punya uang. Semua cewek itu matre.”
Dokter Rey menggeleng lau meminum coffenya yang sudah hampir habis. “Dia beda bro... Gue enggak yakin dia mau keluar agamanya hanya karena gue.” Ucapnya pelan sembari membayangkan kerasnya kepala Rindu, yaa, dia menyukai Rindu sedai awal bertemu, dimana Rindu membantunya, awalnya ia hanya menyukai, tapi entah lambat laun, rasa sukanya menjadi semakin dalam membuat ia semakin menggilai sosok Rindu yang tegar dan tak pernah mengeluh barang sedikit pun karena penyakit, tak pernah mengelu barang sedikitpun ketika tak punya uang.
Jino menepuk lengan dokter Rey pelan.” Loe itu sempurna, tampan iya... Harta? Jangan tanya... Tahta? Bahkan loe bisa beli pulau diindo. “ Ia menatap dokter Rey dari atas sampek bawah. “Lagipula, cewek yang nawarin diri untuk menghangatkan ranjang loe itu punya agama semua looo? Mereka yang mau ngelus dada loe punya agama semua, bahkan mereka rela merangkak keranjang loe demi menghabiskan satu malam sama loe. Masa diajak nikah dan melepas agamanya aja dia engak mau. enggak mungkin dan enggak akan pernah..” Ia menganguk yakin akan hal itu.
Dkter Rey itu memang sangat tampan, ditambah kekayaan dan juga profesinya membuat ia sangat gampang mendapatkan wanita, jangankan wanita biasa, wanita yang luar biasa saja pernah ia tiduri dengan Cuma-Cuma. Iyaa.... dengan cuma-cuma tanpa ada bayaran dengan dali suka sama suka dan senang sama senang...
__ADS_1
Maksud dari kata Jino bukanya menghina agama ya.. maksudnya itu banyak yang punya agama tapi kayak enggak punya agama, agama mana yang membolehkan Zina dan tak memiliki kehormatan? Agama mana yang tak mengajarkan tentang harga diri? Tidak ada agama yang mengizinkan hal itu, semua agama mengajarkan akan kebaikan kita, jangan berzina dan jagala kehormatan. Tapi zaman sekarang? Banyak orang yang hanya memberi tubuhnya secara Cuma-Cuma, banyak yang memberikan kehormatanya secara Cuma-Cuma dan juga mengahalalkan apa yang dilarangkan agama layaknya manisia tanpa agama. Apakah mereka masih dibilang memiliki agama? Padahal atensi agama itu adalah membatasi diri kita, membuat kita berada dijalurnya dan membuat ia selalu diajarannya. Jika kita tak menjalankan apa yang agama kita beri, apakah kita masih dibilang mahluk beragama?
“Tapi ini beda. Dia kuat banget sama agamanya, dan juga dia kuat dalam sini.” Dkter Rey meletakkan telunjuknya dibagian otak dekat pelipisnya.” Otaknya. Dia beda, dia berfikir secara penalaran dan fikiran. Dia bukan perempuan yang seperti biasa, hanya mengandalkan hati, ia menghubungkan hati dan Fikiran. Ia lebih suka berfikir secara nyata dari pada berandai-andai.” Ucapnya lagi menggambarkan Rindu yang ada dibenaknya.
“Maksudnya?” Tanya Jino yang masih tak paham.
Dokter Rey berdecap.” Gini lo... Dia tu kalo diberi pilihan, dia memilih dengan otak bukan pakek hati dan perasaan yang semu kayak cewek biasa.” Ucapnya lalu menarik nafasnya dalam.” Kalo cewek lain itu pasti berfikir dan memilih apa yang ia rasakan saat ini, bukan dari segi apapun lagi, kalo cewek ini berfikirnya menyeluruh, Hati dan fikiranya menyatuh, dan lagi ia sudah memiliki ancang-ancang dikedepanya, diibaratkanya itu. Dia berbuat dengan ke'efesienan sesuatu. Gimana ya jelasinnya..” Ia mengenggamkan tanganya gereget karena tak memiliki kalimat,” Intinya dia tu bukan cewek yang bakal mudah nerima suatu hal yang semu kayak cewek lain. Yang tinggal kasih duit nempel atau yang dikasih janji bakal malu malu kucing padahal anjing....”
“Emang ada cewek kayak gitu? Gini yaa Rey. Cewek itu sukanya dikasih uang dan berlian. Loe kasih dia itu. Mana ada cewek yang bisa nolak karena ada pemikirannya. Udah de jangan memuji hal yang menurut lo pantes dipuji. Pencitraan dia kalli...” Ucap Jino masih tak percaya.
"Kalo enggak percaya ya enggak apa apa sii. Tapi..."
Dokter Rey mengeleng tapi memantapkan hati untuk bertanya. “Menurut loe. Kalo gue masuk islam gimana?” Tanyanya pada Jino.
....
Sesudah ucaan Rindu pada keluarganya Habib membuat mereka bungkam dengan apa yang mereka rasakan. Diibaratkan ucapan Rindu itu menancap sepenuh nya direlung hati mereka. Dan sampai sekarang mereka hanya diam dengan tangisan yang dipendam. Larut dalam pemikiran sampai pada waktu malam tiba.
Seperti biasa, ada tahlilan dan juga penyambutan dari keluarganya sang berkabung. Sebenarnya tahlilan dirumah orang meninggal itu banyak pendapatnya, katanya ada yang membolehkan, ada yang mengatakan tidak boleh( diharamkan) tapi sampai detik ini belum ada yang pasti, ditambah tahlilan dirumah orang meningal itu sudah menjadi tradisi dikalangan orang-orang, baik desa maupun dikota.
Ada yang mengatakan diharamkan makan dirumah orang yang sedang berkabung, tapi ada juga yang mengatakan tidak. Tapi pada intinya, haram ketika sang punya rumah, atau sang berkabung terbebani untuk memberi makanan pada tamu. Misalnya sang berkabung, atau keluarga yang berkabung itu adalah orang miskin, atau ia adalah anak yatim piatu yang sudah tak punya orang tua lagi, dan pastinya makanan itu sangat memberatkan jika ia dari kalangan miskin, jika sudah seperti ini, maka bisa saja makanan yang kita makan akan menjadi haram karena sudah membuat sang anak yatim piatu yang sedang berkabung dan juga bersedih itu harus susah juga mencari makananya. Tapi jika mereka keluarga yang terpandang dan memiliki uang yang mampu membiayai makanan untuk tamu, maka makanan itu tidak haram.
Tapi jika tahlilannya itu tak diharamkan menurut sebagian, karena menurut kita yang menganut, tahlilankan bertujuan untuk mendoakan orang yang meningal, tapi ada yang mengatakan diharamkan itu karena tak ada dalilnya dan mereka mengatakan jika tahlilan adalah( Bid’a). Sudah, jangan dipeributkan. Karena negara kita selalu mempeributkan haram atau halalnya tahlilan, sedangkan negara lain sudah mendebatkan robot bagaimana lagi untuk membantu manusia, mari kita berfikir kemajuan negara dan tak mengikut capurkan perbedaan pendapat, selagi memang rasullulhah tidak melarang dan tak keluar jalur dalam islam.
“Jadi? Siapa yang mengaji untuk pembukaan?” Tanya pembawa acara malam ini. membuat bik Liyan diam dan memfokuskan matanya kedepan, tempat sang pembawa acara, Disana juga ada Ustadzt yang Masyaallah tampannya, apa lagi ia masih muda, Tapi ia bersama ayahnya yaitu Kyai yang lumayan berumur.
Seperti biasa. Ada pembukaan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’An seperti klaamgan lainnya. Suasana didesa ini katanya sangat ramai. Pembukaan ini harus melibatkan pihak keluarga, terutama dalam membaca Al-Qur’an membuat mereka saling lirik.
“Dari pihak keluarga siapa yang mau membuka dengan membaca ayat suci Al-Qur’an?” Tanya sang pembawa acara pada keluarga besar, tepatnya mereka berkumpul dibagian paling depan dengan tisyu ditangan masing-masing, bahkan Nina masih Sempat-sempatnya menggunakan kaca mata hitam untuk menutup matanya yang bengkak. mereka baru selesai melaksanakan sholat Isya, jadi memang menunggu saatnya cerama dari Ustadzt
“Siapa yang baca? Habib ya?” Bisik Hendrawan pada Habib.
Habib mengeleg dengan kencangnya.” Enggak. Om aja, saya sedang enggak enak tenggrokannya.” Ucapnya mengadakan tangan cepat.
Hendarawan diam. ia sudah lama seali tak mengaji, bahkan ia lupa kapan ia terakhir kali mengaji, yang lebih parahnya lagi, ia bahkan tak tamat Iqra’, begitu juga dengan Nina dan juga Robby. Lalu menurut kalian, dengan orang tua yang tak bisa mengaji dan melupakan ayat suci Al-Qur’an, apakah anak-anaknya bisa mengaji?
“Terus siapa?” Gumam Panji meradang.
Wajah mereka sudah memerah karena bisik-bisik sudah terdengar. “Dilan? Ify? Nayla? Atau Roby? Ayo maju. Malu ini...” Desak Panji yang sudah malu. Sedangkan yang dipangil diam sembari menunduk seakan tak mendengar apapun.
__ADS_1
“Ehmm.. sepertinya----“ Ucapan pembawa acara terpotong dengan ucapan Habib yang mengatakan suara sangat tegas.
“Biarkan calon istri saya saja yang mengaji, soalnya saya dan keluarga masih dalam keadaan berduka, apa lagi habis menangis membuat suara kami sedang tidak bagus.” Ucapnya membuat mereka hening. Keluarga Habib? mereka merangah, maksudnya? Siapa calon istrinya Habib? Kapan Habib punya calon istri? “Ayoo Rindu. kamu maukan membuka pengajian ini dengan suaramu. Untuk Eyang.” Ucapnya pada Rindu.
Rindu yang awalnya mendengar Habib punya calon istri terkejut, tapi lebih terkejut lagi dikalah namanya dipanggil Habib. Ia mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk, ia ingin memastikan jika Habib memanggil nama Rindu yang mana? Apakah ada Rindu selain dirinya? Tapi mata Habib menatapnya membuat ia terkejut.
“Ayoo Rindu..” Ucap Panji yang mulai paham akan keinginan Habib dan pilihan Habib.
“Saya?” Tanya Rindu pada Panji dan Habib. Ia mengarakan teunjuknya di arah tubuhnya sendiri.
Dengan pelototan Habib membuat Rindu bungkam. Ia melirik semua orang yang menatapnya, disana juga ada pembawa acara dan lainnya yang juga sedang menunggunya. Ia kembali menatap Habib dan kembali mendapat pelototan, ia meringis. Mau menolak tapi takut, tapi kalo enggak ditolak berarti ia mendukung Habib berbohong dong? Ia kan bukan calon istrinya Habib, kenapa pula Habib mengatakan ia calon sitrinya.
“Bissmillahirrohmanirrohim..” Gumamnya lalu bangkit. Ia sedikit mengusap cadarnya yang sedikit terasa naik dan menggangu penglihatanya. Ia melangkah melewati tatapan dan suara sinis warga.
“Ighh. Kok pakek ditutup sii wajahnya? Apa dia jelek ya?”
“pasti giginya monyong, karenanya ditutup tu muka."
“Jerawatan tu pasti.”
“Pasti cantik dee. Matanya aja cantik, lagipula Habib enggak bakal mau nikah sama cewek kejekkan?” Banyak lagi tangapan yang lain membuat Rindu diam saja.
Pembawa acara itu adalah pembawa acara yang memang keluarga Habib sewa. Ia memberi ruang untuk Rindu duduk.” Silakan ukhty.” Ucap pria yang sebaya dengan Rindu. soal tampan, bukankah semua pria itu tampan?
Rindu mengangguk lalu duduk dikursi yang memang sudah disiapkan, disana ada bantal untuk temat Al-Qur’annya. Ia menarik nafasnya dalam. “A’uzuullaahiminnas syaitonnnirrajiiim...Bismillaharrohmaanirrohiim.....” Suara awalnya Rindu mampu membuat semua orang diam, yang awalnya menunduk sekarang mendongak. Bahkan kyai dan anaknya mengangkatkan kepala dan menatap Rindu yang sekarang diam dan mengatur nafas.
Suara murotal Rindu mampu membuat mereka menangis. Melody uang naiknturun menyayat hati. Tajwidnya pun tak usah diragukan lagi. Suara Rindu bagaikan di ambil dari hati dan masuk kedalam Kolbu setiap insan yang mendengarkannya. Apakah ada yang menangis karena mendengar murotal? Entah kenapa rasanya murotal Rindu menyayat hati dan masuk kehati, bukan hanya mereka, tapi juga Rindu yang menangis sembari menangis, karena, semenjak Rindu tau ia sakit dan akan menghadap ajal membuat Rindu selalu menangis diahadapn Allah, rasanya ia tak pantas dengan semua yang ia miliki, ia jahat tapi Allah masih mendukungnya.
Ada senyum tipis dibibir Ustadzt muda itu.... dan ada senyum bangga dibibir Habib dan keluarganya akan Rindu. ahhh andai Rindu nyata menjadi calon istrinya, pasti ia sangat bahagia sat ini.
.
.
.
.
.
__ADS_1
like komen and vote ya
....