Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Tragedi 4


__ADS_3

“Tolong... Arghh.. Tolong..!!”


Rindu membelalak dikalah mendengar suara Nayla yang berteriak kecang. Itu suara Nayla..!! Rindu kenal itu. Mau tak mau Rindu harus mausk dan membantunya seorang diri. Namun ia kembali mengambil hapenya lalu mengirimkan pesan pada Habib, ia mengirim Share look dan jiga pesan yang berisis


“Saya sekarang berada dilokasi ini. tolong bantu saya disini dan bawah polisi. Nayla dan saya dalam bahaya..!!” Itulah isinya.


Meskipun tak ada sinyal dan tak ada internet namun Rindu berdoa semoga ada Sinyal lewat sebentar saja, lalu pesannnya terkirim. supaya Habib melihatnya. Ia tak mematikan hpnya dan masih menghidupkan selulernya. Rindu panik lalu memasuki rumah itu.


Sebelum masuk ia mencari apapun yang bisa ia gunakan, ia tak bisa datang dengan tangan kosong. Hebat bukan? Rindu bisa berfikir jerni dikalah darurat. Inilah Rindu, bertindak dengan otak. Bukan dengan perasaan..!!! Sebab otak harus bekerja sama dengan hati, jika hanya menggunaan perasaaan, maka Tuhan tidak menciptakan otak bukan?


Matanya tertuju dikayu yang besarnya selengannya dan panjangnya sekitar saru metersetengah membuat ia tersenyum tipis. Ia pernah belajar seni bela diri yang menggunakan Bambu, kayu dan berjenis benda tumpul.


Setelahnya ia berlari memasuki Villa besar itu dengan langkah besarnya. Tak mengunaan kekerasan dikalah membuka pintu, wajahnya terlihat tenang dan datar. Namun matanya dapat melihat disana ada Nayla yang diikat dengan tali, mulutnya disumpal dengan kain. Ah bukan Kain, melainkan celana dalamnye sendiri membuat Rindu ingin muntah.


Baju? Jangan tanya, bajunya sudah kurang bahan menjadi sobek dibalian depan. lengannya mengeluarkan darah karena gesekan antara baju yang ditarik paksa, bahkan ada yang terluka dnegan kulit yang terkelupas. Pasti sangat pedih bukan?


Aset berharganya sudah terbuka, dengan dua jari pria bernama Will itu yang sudah masuk diinti tubuhnyamembuat Rindu jantungan. Apa ia sudah terlambat? Belum lagi satu pria yang memainan dua benda sintal itu rakus. Beberapa pria disana sudah Nakert membuat ia mendadak lemas. Benda mereka terpampang nyata membuat Rindu mengerjab.


Mata Nayla menatap Rindu dengan memelas. Air matanya mengalir deras dipipinya membuat Rindu memandangnya datar. Apakah ini dosa? Pipinya sudah lebam lebam dan berdarah


“Siapa loe? Beraninya gangguin kita?!!!” Bentak Will dengan kencang. Ia tak menutupi asetnya lalu menatap Rindu terang-terangan.


Rindu menatap pria itu. Namun ia membellak dikalah ia ingat siapa itu Itu adalah Willy, kakak tingkatnya dulu yang pernah berurusan dengannya beberapa kali. Ingatkan bagian bab satu? Dan bagian bersama Habib itu?


Semuanya berhenti bagaikan video yang sedang dipouse membuat Rndu meletakkan tongkatnya didepan dengan wajah datar.” Lepasin dia..!!!”


Willy tersenyum sinis.” Cewek ya..” Ujarnya setelah mendengar suara Rundu ia tak tau itu Rindu karena Rindu mengunakan cadar, ingat Cuma cadar bukan Niqob, sebab tadi Rindu terburu-buru. “Gays, tangkap aja, supaya bisa ikut senang-sneang... mungkin dia nyerahin diri..!!” Ujarnya sinis.

__ADS_1


Namun Rindu masih dengan ketenangannya. Mungkin inilah yang namanya. Sungai yang tenang bukan berarti tak berbahaya..


Rindu mendekat dengan menarik kain putih disofa itu lalu melemparnya ketubuh Nayla. Ia benci melihat hal itu, namun tubuhnya tertutup hanya setengah membuat Rindu mendengus. Debu dikain itu meruak membuat mereka terbatuk batuk.


Setelahnya mereka yang jumlahnya lebih dari sepuluh itu mendekat dan menyerang Rindu. ada juga sekitar sepuluh orang yang duduk saja sembari meminum alkohol disamping. mereka sibuk bermain Dom.


Suara ricuh dari Rindu membuat merea mendekat dan melihat apa yang terjadi, “Kita nonton aja. Jangan deketin..!! Cuma satu orang juga... ” Ujar Willy dikalah rombongan lain mau membantu menangkap Rindu. mereka mengurungi niat lalu menonron saja.


Sedangkan Rindu mulai memutar tomgkatnya keras lalu mengeluarkan beberapa jurus yang ia ingat dan ia fasihkan. Kepasihan yang Rindu dapat bukan hanya dengan berlatih semacam latihan biasa. Kalian salah jika Rindu kuat hanya karena latihan layaknya latihan umum


Rindu diajarkan memukul pasir yang sedang dipanaskan mengunaan kayu bakar, setiap latihan perutnya diinjak dengan bobot yang besarnya tiga kali lipat dari dirinya. Kadang ia bahkan terbatuk dan demam, bahkan kawannya banyak yang pingsan dan tak ingin belajar bela diri lagi. Banyak yang kapok.


Belum lagi kaki Rindu yang diikat dengan rantai, rantai itu menggeret Besi yang beratnya mencarai sepuluh kilo, semain hari maka semakin menambah pula berat yang pelatihnya tambah. Dan ia harus lari mengelilingi pantai selama dua jam.


Memakan muntah temannya sendiri, bayangkan saja..!! pelatihan yang Rindu dapatkan itu bagaikan pelatihan militer, tapi karenanya juga Rindu sangat kuat, itulah yang namanya, usaha tiada mengkhianati hasil. Alasannya kenapa Rindu mau latihan seperti itu? Kan sudah dibilang jika dulu Rindu mau masuk kepolisian dibidang Intelgen tapi tak bisa masuk karena giginya yang berlubang, kenapa tak ditambal saja? Sebab menambal gigi itu tidak baik, bisa membuat kita kena kangker. Belum lagi tinggi badannya.


Ia mengalahkan mereka dengan tenang tanpa kepanikan. Namun yang membuat ia panik ketika Willy mendekati Nayla lalu melemparkan kain yang Rindu lempar tadi. Tubuhnya yang mulus kembali terekspor. Rindu takut dan khawatir memuat konsentrasinya terbela.


“Oh. Ayo kita main lagi sayang..!!!” Ujar Willy dengan suara sensual. Orang sibuk berkelahi ia sibik dengan nafsunya membuat Rindu tahan nafas.


Nayla kembali menangis dan menggelengkan kepalnya keras. Gumamannya tak terdengar karena bibir yang tersumpal. Willy disana mencium leher Nayla lalu meninggalkan beberapa jejak disana membuat nafas Nayla tertahan.


Tak sampai disitu. Tangan Willy kembali mengusap paha mulus itu dengan sensual, lalu masuk keinti tubuh Naya. Ia memainkan nafsu Nayla lalu kembali memasukan jarinya.


Rindu semakin kalap membuat seranganya menjadi tak beraturan. Ia takut Nayla terjadi apa-apa. Akh Rindu takut sungguh..!!


Tarh...

__ADS_1


Semain tak konsennya, kepala Rindu dilemparkan Guci kecil membuat darah membasahi jilbabnya. Penglihannya semakin buram namun tetap tertahan. melihat Nayla yang sudah dipermiankan Willy membuat ia harus melawan mereka dnegan cepat dan melepaskan Nayla. Beberapa kali ia terkena pukulan namun masih bertahan.


Bugh.. bugh.. bugh..


Dengan cepat Rindu mengarahkan ujung tongkatnya menuju benda mereka membuat tiga orang bersimpu. Tinggal dua orang lagi yang masih mengundang baju dan celana, meskipun bajunya sudah tak ia kenai lagi.


..


Sedangkan dilain tempat Habib menjadi kalut dan juga takut. Ia mencari kesegala arah namun tak mendapati Rindu, dan kabar buruknya Naylapun juga tak ada. Apa yang terjadi? Apa Rindu membantu Nayla kabur? Tidak mungkin.


“Sudah semua. Tapi eggak ada bang..!!” Ujar Dilan tak kalah khawatir saat ini.


“Coba kamu telepon Rindu bib. Soalnya papi enggak punya nomor Rindu..!!!” Ujar Panji karena sedari tadi menelpon Nayla tapi ta diangkat.


Habih mengangguk lalu memasuki kamarnya untuk mengambil hape. Lalu kembali keruang keluarga untuk menelpon Rindu. wajah mereka masam saat ini karena Nayla. Nayla suka sekali membuat ulah memang.


Mukzizat datang. Pesan Rindu terkirim lima menit yang lalu dan itu tertera dibagian depan hpnya.” Ada pesan Rindu..!!” Ujar Habib membuat mereka menatap Habib serius.


Namun setelahnya mata Habib mau lepas dari sarangnya saat membaca pesan itu. “Rindu sama Nayla dalam bahaya. Cepat telepon polisis didaerah ini supaya mereka membantu mereka duluan. Cepat..!!” teriaknya prustasi.


“Bagaimana bisa mereka---“


“Ngga ada, waktu habib juga engak tau. Sekarang kita hubungi posisi yang terdekat didaerah ini supaya mereka langsung keTKP. Perjalanan memakan waktu lebih dari satu jam membuat mereka mati terdahulu sebelum kiita sampai. Cepat kita pergi sekarang..!!” Habib kalut dan ia bergegas memasuki kamarnya untuk mengambil kunci mobil. Ia juga memberian ponselnya pada Hendrawan.


Hendrawan membaca pesan itu lalu menelpon posisi kenalannya. Ia meminta posisi dicabang daerah itu membantu Rindu. untunglah ia bergerak cepat. Mereka tak ada yang ganti baju membuat mereka keluar dengan baju itu saja. Mereka juga sangat kaget dikalah melihat Scurity mereka tertidur. Ralat buan tidur tapi pingsan..!!


Sebab tadi itu saat Nayla memasuki bubuk itu Scuritynya sadar dan melihat membuat Nayla memukulnya dengan Hilsnya dibagian kepala dan cukup membuat ia kehilangan kesadaran. Semuanya ikut kecuali Yohan,Panji dan juga Ify. Cukup beberapa saja sebab rumah juga harus ada yang menjaga bukan?

__ADS_1


...


__ADS_2