
“Pagi-pagi udah sial aja gue” Gumam Rindu diselah-selah memegang dada dan mengatur nafas akibat kabur dari Habib.
Ia melangkahkan kakinya menyusuri kota. Mendatangi satu persatu yang menerima lowongan. Tapi dengan ijaza SMA saja membuat ia kesulitan mendapatkan pekerjaan. Ditambah dengan ia menggunakan jilbab membuat ruang lingkupnya terbatas. Ada beberapa tokoh yang tidak menerima pegawai berjilbab, dengan dalih. Tak menarik dipandang oleh pembeli.
Rindu mengelap keringat yang membanjiri dahinya. Sudah hampir Dzuhur tapi ia belum mendapatkan pekerjaan. Untunglah hati Rindu terbuat dari baja, jika tidak. Dapat dipastikan ia akan mengeluh dan menangis saat ini.
Ia memandang Ijazahnya yang terbungkus oleh mab. Ada senyum miris di bibirnya. “Kenapa sii manusia liatnya ijaza? Padahalkan ijaza nggak ngejamin kualitas kerja.” Ucapnya kesal.
Ia hanya miris melihat sekitar. Yang memandang hal dari luar. Tanpa melihat didalam. Bukan karena ia merasa ia pintar. Tapi ia adalah orang yang optimis dan Berkomitmen. ‘Ketika kamu punya skill. Segudang ijaza orang diluar sana tidak menjamin bisa memiliki skil yang kamu miliki. Maka dari itu, berusahalah untuk optimis.' Ini yang Rindu terapkan.
Azan sudah berkumandang menandakan sholat Dzuhur telah tiba. Ia memilih untuk mendatangi masjid terdekat untuk melaksanakan sholat. Ia mulai mengambil air Wudhu dan melaksanakan sholatnya. Disetelahnya ia tak lupa untuk berdoa supaya dipermudahkan dalam segala hal. Saat merasakan sudah selesai beribadah. Ia memilih mencari makan terdahulu. Dari pagi ia belum makan barang satu biji nasi pun. Ia butuh pasokan energi untuk mencari kerja lagi.
“Mas. Saya pesan nasi uduk porsi sedang ya. Sambel terinya dibanyakin.” Pesan Rindu. Ia tak meemesan minum karena sudah memiliki mineral, lumayan menghemat uang.
“Tunggu sebentar ya neng.” Ucap pemilik rumah makan. Rindu hanya mengangguk dan tersenyum.
Sembari menunggu Rindu memilih membuka handphonenya. Dulu ia sering memoroti pria-pria yang dianggap Agen oleh mereka. Rindu sering gonta-ganti hanphone terbaru. Karena itulah handphone yang telah diambil Ayah Rindu tak membuat Rindu pusingkan. Ia masih memiliki 3handphone mahal dilemari pakaiannnya.
“Ini neng pesenannya.” Suara itu membuat Rindu mengalihkan pandangannya. “Makasih mas. “ Ucap Rindu sambil tersenyum manis.
Pemilik rumah makan itu terpaku melihat senyum Rindu. Senyum Rindu sangat manis. “ Neng mau cari kerja ya?” Tanyanya.
Rindu mengerutkan keningnya. “Tau dari mana mas?” Tanya Rindu heran.
“Heheh. Liat baju neng kayak gitu. Jadi tau dee mas” Ucapnya salah tingkah.
Rindu melihat penampiannya. Ia baru ingat jika ia menggunakan baju pormal. “Iya mas hehe.” Jawab Rindu.
“Udah dapet neng?”
“Belum mas. “ Jawab Rindu santai.
Pemilik Rumah makan itu mnatap Rindu.” Kalo neng mau. Di cafe nggak jauh dari sini ada neng lowongan kerja. Soalnya kemarin saya dan ibu saya lewat buat beli sayur liat posternya.” Ucapnya.
Rindu mendongak menatap pemilik rumah makan itu. “Beneran mas?”
__ADS_1
“Ia neng. Tapi Cuma jadi pelayan neng. “ Jawabnya Takut.
Rindu tersenyum. “Makasih ya mas informasinya.” Sahutnya sopan.
Pemilik rumah makan ini masih muda mungkin berusia sekitar 25tahun. Ia tersenyum menatap Rindu. “ Yaudah saya balik lagi ya neng. Silakan makan neng.” Ucapnya sopan lalu pergi meninggalkan Rindu.
Rindu berfikir sejenak. Apa ia daftar aja di caffe yang dimaksud pemilik Rumah makan ini. ia memang sangat membutuhkan pekerjaan untuk biayanya cek up setiap dua minggu. Dan itu memerlukan uang yang cukup banyak. Ia memilih untuk melamar disana untuk sementara, setidaknya ia ada pemasukan uang sebelum mendapatkan pekerjaan yang lebih besar penghasilannya. Saat sudah memutuskannya, Rindu mulai membabat habis makanannya.
Saat sesudah makan Rindu memilih untuk bertanya kepada pemilik rumah makan ini untuk mengetahui lokasi yang lebih akurat. Setelahnya ia membayar makanannya dan melangkah menuju Caffe yang dimaksud.
Jarak Caffe dari rumah makan itu hanya beberapa kilo. Untungnya juga tak terlalu jauh dari kosan Rindu. Ia memandang Caffe yang ingin ia melamar kerja. Ternyata caffe ini adalah caffe ia dan temannya sering ngadem bersama Agent. Caffe ini buka sampai jam 11 malam.
Ia memasuki caffe tersebut dengan diawalli 'Bissmillahirrahmannirrohim. “Permisi pak. Disini ada lowongan kerja nggak pak?” Tanya Rindu kepada scurity didepan Caffe tersebut.
“Oh ada mbak. Mari ikut saya menemui managernya.” Jawabnya sopan.
Rindu mengucapkan terimakasih dan berjalan menuju tempat yang digiring oleh scurity itu. Ia memasuki ruangan manager. Manager itu seorang pria. Ia cukup tampan. Tapi Rindu tak mempedulikan hal itu. “Kamu mau ngelamar kerja disini?” Tanyanya saat scurity keluar.
Rindu menatap pria yang berjabatan manager itu. “Iya pak.” Jawabnya.
Rindu tanpa menunggu waktu lama langsung duduk dimana tempat yang diperintahkan. “Terimakasih pak.” Ucap Rindu. “Ini surat lamaran kerja saya pak sekaligus ijaza.” Lanjut Rindu sambil memberi mab coklatnya.
Pria itu menerima mab yang diberi Rindu. Ia bergantian menatap berkas Rindu dan wajah Rindu. Sedangkan Rindu hanya diam melihat saja. “Nama kamu Rindu?” Tanyanya.
“Bapak bisa melihat langsung diberkas saya pak.” Ucap Rindu datar.
Pria itu terkejut. Bisa-bisanya prtanyaannya menjadi suatu perintah. Kalimat Rindu merujuk kepada ‘ bapak bisa membacakan.Hey. saya manager loo...!!” Batin pria itu.
Ia menatap Rundu tajam. “Wajah kamu kenapa?” Tanyanya kepo saat melihat wjah Rindu banyak memar biru.
“Ini karena kecelakaan pak.” Rindu tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya bukan?
“Baiklah. Saya Terima, soalnya kami memang sangat membutuhkan kariyawan dicaffe ini. sebab karyawan sebelumnya mengundurkan diri karena melahirkan.” Ucapnya.
“Terimakasih pak.” Jawab Rindu tersenyum menampakkan lesung pipinya.
__ADS_1
Senyum Rindu memancing pria itu untuk terpesona. Ia cepat menggelengkan kepalanya. “Kamu langsung kekepala Chef ya. Nanti kamu akan dikasih seragam. Disini juga pakek Shif. Dan itu bertukar, kadang kamu dapat malam dan kadang siang.” Jelasnya.
Rindu hanya tersenyum. “ Siap pak. Saya permisi kebidang chef dahulu jika begitu.” Jawab Rindu tgas.
“Iyaaa. Dan jika kamu butuh sesuatu. Kamu bisa datang kesini. Perkenalkan nama saya Rendy Jeriskon. Kamu bisa panggil saya pak Jeje.” Ucapnya.
“Baik pak Jeje. Saya permisi.” Ucap Rindu sambil membalikkan tubuhnya untuk pergi.
Pria itu membelalak. Apakah Rindu tak ingin bertanya sesuatu?.
“Tunggu....”
Rindu membalikan lagi tubuhnya. “Ada yang saya bisa bantu pak?” Tanya Rindu sopan.
“Kamu nggak mau nanya sesuatu?” Tanya Jeje.
Rindu mengernyit. “Tidak.”
“Kamu yakin?” Rindu mengangguk sebagai jawaban. Ia kembali pamit dan pergi menuju cheff utama.
Jeje menggaruk tengkuknya. “Napa gue ngarep dia nanya gue jomblo atau enggak ya” Gumamnya frustasi.
Rindu kembali menghadapi scurity tadi untuk menunjukan dimana ruang Cheff. Scurity itupun mengantar Rindu dengan senang.
Saat Rindu sudah berada Didepan Kepala Cheef, bisa Rindu liat, jika Cheff ini adalah perempuan cantik berusia dewasa. Diwajahnya terdapat sikap sombomg yang pekat. “Kamu pegawai baru?” Tanyanya sombong.
Rindu menganggukan kepalanya. “Iya.”
Perempuan itu membuka lemari yang tak jauh dari sana. Ia mengambil satu stell baju karyawan dan membuangnya didepan Rindu. “Itu baju kamu.” Ucapnya sinis.
Rindu mencengkam baju itu erat. Andai ia tidak membutuhkan pekerjaan ini. sudah ia pastikan tangan prempuan didepannya ini akan patah ditangannya. Ia terpaksa tersenyum sopan. “Terimakasih mbak.”
“Kamu dengar baik-baik ini....! kita disini berkerjanya tidak tetap. Kadang malam dan kadang siang. Kamu besok akan memulai berkerja disiini diwaktu malam, dari jam 5sore sampai jam 11malam.. itu selama dua hari. 2hari berikutnya kamu akan bekerja pagi. Dari jam 8pagi sampai jam 5sore. Disini kamu harus rajin. Mulai dari cuci piring dan lainnya.” Ucapnya tegas.
Rindu henya menganggukan kepala mengerti. Ia mulai mengingat apapun yang dikatakan perempuan didepanny. “Jika kamu sudah mengerti. Silakan pergi. Dan kamu harus ingat ya. Jangan cari perhatian disini!!” Ucapnya terang terangan.
__ADS_1
Riindu hanya menganggukan lagi kepalanya dan berucap terimakasih. Tapi sama sekali tak direspon. Ia melangkah keluar dari ruangan itu.saat didepan ia melihat ada scurity yang masih menunggunya.