Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Dunia Baru


__ADS_3

Riindu hanya menganggukan lagi kepalanya dan berucap terimakasih. Tapi sama sekali tak direspon. Ia melangkah keluar dari ruangan itu.saat didepan ia melihat ada scurity yang masih menunggunya.


“Udah mbak?” Tanyanya .


“Iya pak.”


“Kamu pasti banyak dikasih bogeman didalam kan sama mbak Alice?” Tanyanya selidik.


‘O**h namanya Alice’, batinnya.


“Enggak juga kok.” Jawab Rindu.


“Nggak mungkin. Dia tu emang kayak gitu. Mulutnya lebih panjang dari jalan tol mbak. Kalo kerja disini kamu harus kuat sama dia mbak.” Jawabnya.


Rindu hanya Tersenyum..


“Oh iya. Kita belum kenalan mbak. Nama saya Ujang” ucapnya. Ia menadakan tangannya unruk berkenalan


Rinddu menerima uluran tangan Ujang. “Rindu,” Ucap Rindu. “Yaudah pak. Saya dualuan ya.” Lanjut Rindu saat sudah sampai didepan Pintu.


“Hati-hati ya mbak.” Ucap Ujang. Rindu hanya mengannggukan kepalanya.


Rindu melangkahkan kakinya ringan. Ia sangat bahagia karena mendapatkan pekerjaan. “Mau pergi sama umi Ira ahh. Mau cari tau tentang menjadi akhlak yang lebih baik.” Gumam Rindu.


Rindu sadar jika tobat bukan sekedar ‘TUHAN AKU TOBAT’ tapi kita harus memulai dari baru. Ia harus mencari tau tentang agama lebih banyak, ia harus menjadi lebih baik.


Untungnya masjid yang Rindu bertemu Umi Ira tak jauh dari sini. Jadi ia memilih berjalan dari pada naik angkot. Ia mau naik ojek, tapi sama sekali tak bertemu. Jadi ia memilih berjalan, hitung-hitung berhemat.


Saat ia telah sampai didepan masjid. Ia melihat banyak anak-anak disana yanga lagi mengelilingi Umi Ira. Ia memasuki masjid dan melangkah mendekat. ”Assalamu’alaikum Ummi..”Ucap Rindu sopan.


Umi Ira tersenyum menatap Rindu.” Walaikum salam Rindu. Silakan duduk nak.” Ucapnya sambil menepuk tempat tak jauh dari sisinya.

__ADS_1


Rindu melangkahkan kakinya mendekat.


“Rindu boleh gabung buat belajar kan Mi?.” Tanya Rindu.


Umi Ira mengangguk dan memegang tangan Rindu. “Boleh dong. Kebetulan kita belum mulai.” Ucap Umi Ira, ia menatap Anak-anak didepannya. “Anak-anak kenalin ini kak Rindu namanya.”


Anak-anak itu menatap Rindu yang tersenyum kepada mreka. “Kakak. Kakak yang malam tadi kan?” tanya salah satu dari mereka.


“Iya. Salam kenal semua” Ucap Rindu Riang.


“Salam juga kak Rindu.” Ucap mereka kompak.


“Jika begitu kita mulai belajarnya ya” Ucap Umi Ira. Semua diam untuk mendengarkan cerama Umi Ira. “Umi mau nanya dulu ni. Siapa yang tau mengapa kita diwajibkan sholat?” Tanyanya.


Anak-anak mulai berbisik-bisik. Rindu hanya diam melihat mereka. “Coba kakak Rindu aja yang jawab..” ucap Salah satu dari mereka.


Rindu mengangkat alisnya. Ia menatap Umi Ira. Umi Ira menganggukan kepala tanda mengiyakan. “Karena Sholat makanan buat rohani kita. Sholat juga tiang agama kita, diabaratkan rumah tampa pondasi akan hancur. Begitu juga sholat. Ruman tanpa tiang nggak akan bisa berdiri. Jadi ya iman nggak bakal bisa berdiri kalo nggak sholat...” Jawab Rindu.


“Tidakk....”


“Jika Rumah tanpa pondasi bisa dibilang rumah tidak?”


“Tidak...!”


“Karena itu kita diwajibkan sholat jika kita ingin membangun rumah iman kita. Rumah islam kita. Tempat kita bertedu. Sholat itu juga sebagai pecegah kita berbuat mungkar. Jika kalian sholat, maka kalian akan dijauhkan dari perbuatan mungkar. Dalam sholat kita smengucapkan ‘IHHDINASYIROTOLLMUSTAQIM’ saat sholat. Surah Al-Fatiha ayatke5. Yaitu. “Tunjukan kami jalan yang lurus”


Rindu mengerutkan keningnya. Ia berfikir jika ia melaksanakan sholat terus. Tapi ia masih sering melakukan kesalahan. Ia masih sering berbuat kesalahan. “Mi. Kalo gitu kenapa Rindu masih sering berbuat dosa?. Rindu sholat 5waktu Mi?” Tanya Rindu.


Umi Ira menatap Rindu. “Karena kita hanya sholat. Bukan sholat sesungguhnya. Ketika kita hanya menganggap sholat hanya sebagai kewajiban. Maka kalian ibaratkan makan nasi tanpa sayur. Hambar, tidak ada Rasanya. Tidak ada Vitaminnya, dan kalian masih aja kurang gizi meskipun kita sudah makan dengan kenyang. Sholat itu dari sini” Umi Rindu menepuk Dada bagian hatinya. “Sholat harus pakek hati. Ingat akan kekuasaan Allah.ketika sholat, jadikan sholat itu pengubah kita untuk menjauhi kejahatan.”


Rindu diam. Ia mengingat semuanya. Memang benar. Ia sholat tapi tak berniat beriubah. Ia hanya sebatas sholat. Bukan yang seharusnya sholat.

__ADS_1


Cerama yang bertema sholat mengalir deras. Alirannya bagaikan menerjang Rindu. Ia baru tau jika selama ini ia hanya Sholat tanpa makna. Yang hanya melakukan tapi bukan melaksanakan. ia juga mengenal betapa mulyanya sholat malam. Dulu Uminya selalu menyuruhnya melaksanakan sholat malam. Tapi Rindu sama sekali tak pernah melaksanakannya karena malas bangun. Tapi ia akan bertekat memulai semuanya dari sekarang.


Saat cerama sholat telah selesai. Ia masih duduk disamping Umi Ira. Ia mengucapkan terimakasih atas siraman rohaninya. “ Umi. Rindu pulang dulu ya. Besok pagi Rindu akan kesini lagi.” Ucap Rindu sambil mencium tangan Umi Ira.


“Kamu dateng aja kepanti asuhan permata hati. Ummi tinggal disana. Itu semua adalah anak-anak ummi. ” Jawab Umi Ira,


Rindu tak bisa terkejut akan hal itu. Ia baru tau jika mereka adalah anak panti. Wajar saja mereka selalu disini. “Tempatnya dimana mi?” Tanya Rindu.


“Hanya pisah 3rumah dari sini. Dibagian kanan. Kamu kesana aja ya.” Jawab Umi Ira.


Rindu tersenyum dan mengangguk. Ia beranjak berdiri dan melangkah keluar masjid. Tapi tangannya ditahan oleh salah satu anak panti membuat ia terkejut. “Ada apa?” Tanya Rindu sambil tersenyum lembut.


“Gelang sama jam kakak bagus. Pasti harganya mahal.” ucapnya Ringan. Ia memutar-mutar tangan Rindu.


Hati Rindu terhenyat dalam. ‘Andai kamu tau ini barang haram.” Batin Rindu.


“Reyhan. Kamu nggak sopan..” Ucap Umi Ira sedikit marah.


Anak yang dipaggil Reyhan pun melepaskan tangannya dari Rindu. “Maaf umi.” Gumamnya sendu.


“Nggak apa-apa kok umi.” Ucap Rindu miris. “Kakak pulang dulu ya Reyhan” Ucap Rindu lembut. Ia mengelus puncak kepala Reyhan lembut.


Reyhan pun tersenyum. Rindu melangkah meninggalkan mereka. Ternyata ia sudah lama disini. Hari ini bahkan sudah hampir Gelap. Rindu cepat-cepat melangkah pulang.


Ia memesan ojol. Ia sama sekali tak tahan dengan angkot. Saat ojek yang ditumpangi Rindu sudah sampai didepan rumahnya. Tepat saat azan magrib berkumandang.


“Allhamdulillah.” Gumamnya. Ia melangkah cepat untuk mandi membersikan tubuhnya. Setelahnya ia melaksanakan sholat. Ia ingat ucap Umi Ira jika sholat ia harus mengingat.


‘Saat sujud, kamu rasakan jika Allah mengelus kepalamu dengan sayang. Saat sujud kedua ia mencium puncuk kepalamu, begitu seterusnya. Nikmati semua ayat yang kamu baca, dan jika kamu masih tak merasakan sholat itu indah. Maka kamu lihat sejaddahmu. Bayangkan sejjaddah itu adalah liang kuburmu.’


Rindu melakukan itu semua. Tapi ia terlalu menghayati semuanya dengan indah. Sampai-sampai ia tak merasa jika matanya sudah menitihkan air sucinya. Ia mengingat betapa cintanya Allah kepada dirinya. Dan ia mengingat jika ia adalah sii calon mayat.

__ADS_1


__ADS_2