Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Arga


__ADS_3

“Hahah... Rindu, lo nanya apa yang bakal gue lakuin ke lo?” Tanyanya meremeh.


Rindu ingin menangis karena tak bisa berkutik. Tapi Rindu bukan gadis cengeng. Ia menatap Arga tak percaya. “Ngapain lo Arga? “ Tanyanya.


Arga menepihkan rambut Rindu panjang. Saat ia masuk kekamar ini, ia cukup terpanah melihat Rindu tak berjilbab. Meskipun berjilbab Rambut Rindu lurus dan hitam, meskupun tak lebat, tapi rambutnya cukup membuat orang yang tak berjilbab iri. “Kamu cantik nggak pakek jilbab.” Ucapnya. Alih-alih menjawab, ia malah menggorekan luka pada Rindu.


Sudah 6tahun Rindu berjilbab..! Bahkan dirumah saja ia berjilbab. Jangankan orang lain, Ibunya saja tidak pernah melihat dirinya tak berjilbab. Lalu ini apa..! Apa usahanya menyembunyikan mahkotanya sia-sia? Ia menyimpan semuanya dengan baik. “Lo mau apa? Lepasin gue..!” Bentak Rindu menahan tangisnya. Ahh, matanya pedih. Kepalanya sakit, darah sudah menyucur deras dari oelipisnya. Siang tadi pelipis ini ditorehkan luka oleh Alice dan baru saja ia mematuk kepala Arga dengan kepalanya. Sungguh. Rasanya ia ingin mati saja jika terjadi sesuatu yang lebih parah.


“Sayang... Jangan teriak-teriak dong. Aku tu Cuma mau kasih kamu kenikmatan lo. Aku Cuma mau kasih kamu pelajaran karena udah buang aku. Padahal aku udah kasih apapun lo buat kamu..” Jawab Arga berbisik ditelinga Rindu. ia menghirup aroma coklat dileher Rindu membuat ia mengendus bagaikan anjing.


Tentu saja Rindu memberotak serta berpaling. “Lepasin gue Arga..! Lo apa-apaan sii, keluar dari kamar gue.” Teriak Rindu sembari mengibas kepalanya kekiri dan kenanan supaya Arga tak macam-macam.


Arga terkekeh. Matanya menyiratkan aurah yang tak enak. “ Lo tau nggak Rin?” Tanyanya sembari mencengkram rahang Rindu keras. Ahhm pipi yang dulu sedikit tembem kini sudah Tirus. Matanya menatap manik coklat Rindu sendu. “Gue nggak pernah sedalam ini cinta sama orang. Tapi kenapa lo tinggalin gue Rin. Kenapa...!” Teriaknya frustasi. “ Memang bener kalo cewek itu tidur sama gue. tapi semua itu karena lo...! Lo nggak pernah mau gue pegang tangan lo, nggak mau gue peluk Rindu...” Ucapnya lagi.


Jeda..” Tapi malam ini gue diberi kesempatan dari temen-temen lo. Katanya gue bisa tidur sama lo. Kalo . dan gue berharap setelah ini lo hamil dan kita punya anak.” Lanjutnya.


Mata Rindu memerah. “Lo gila...! Jangan macem-macem Arga...! Kalo lo macem-macem sama gue, gue bakal bunuh lo...!” Bentaknya marah. Tapi kemarahannya lebih memuncak saat mendengar jika ini ulah temannya. Diva..! Yang ia jaga dan cari selama ini membuatnya hancur. Teman macam apa dia?


Arga kemabli terkekeh jahat. Tak pernah Rindu setakut ini kepada orang lain. Ia memberontak, ia berusaha untuk melepaskan kedua tangannya yang ikat erat. Sangat erat. Sungguh tangannya masih sakit karena luka. Dan sekarang ia yakin jika pergelangan tanhgannya sudah membiru.


“Nati kalo aku mati lalu siapa yang bakal jadi papanya anak aku.” Ia mencium bibir Rindu sekilas membuat Rindu melotot. “Lepesin ****.. jangan macem-macemArga. Ini zina, lo harus sadar Arga...”


Kembali Arga terkekeh. Pipi Rindu mungkin sudah biru karena cengkramannya semakin kuat. Tangannya menyibak baju Rindu keatas. Untunglah Rindu pakek Tangtop. Jadi tak menampilkan kulit putihnya. Ia mengelus perut rata Rndu membuat sang empu menyiku dengan lututnya dan mengenai punggung Arga. Bukannya menjauh, Arga malah memeluknya. sial..

__ADS_1


“Ah. Kamu udah ngak sabar ya..” Ucap Arga penuh gairah. Ia membuka bajunya secara paksa membuat Rindu memberontak.


“Tolong... Tolong..!” Teriak Rindu. ia memberontak sembari menarik paksa tangannya supaya bisa terlepas. Untunglah kakinya belum diikat oleh Arga. Ceroboh..!


“To...!” Arga membungkam lagi bibir tipis Rindu dengan bibirnya. Tanganya bergerak liar mengelus dan mengerayangi tubuh atas Rindu membuat Rindu setengah mati memberontak. Ia tak peduli jika tangannya nanti putus. Ia tak peduli jika kepalanya kembali berdarah. Yang ia harus lakukan adalah melawan orang gila ini.


“Le..” Tak ada cela untuk Rindu melepaskan bibir arga. Arga mencengkam rahang Rindu keras membuat Rindu tak bisa menggigir. Bahkan Rindu dibiarkan untuk menggerakkan kepalanya. Rindu takut, sangat takut... air matanya menetes. Tak ada lagi yang harus ia banggakan jika mahkotanya diambil. Tuhan, apakah Rindu boleh bunuh diri? Mengapa semua begitu berat?


“Halo Rin...” Suara Diva diambang pintu membuat Rindu dan Arga menghentikan semuanya. Rindu menatap Diva sendu dan tak percaya.


“Lo tega Div... lepasin gue.” Teriak Rindu tak berhenti. Bahkan suaranya sudah putus-putus.


Diva terkekeh. Dibelakangnya ada Danil dan juga meme. Mereka mendekat sembari memegang kaki Rindu erat sebela kanan, sedangkan Meme memegang kaki kirinya Rindu. membuat Rindu memberontak. “ Gue Cuma mau lo negarsaain apa yang gue dan Meme rasain. Gue mau lo hancur..!” Bentak Diva.


Bugh..


Satu pukulan mendarat dipipi Arga saat Arga kembali mencium Rindu. membuat Arga terpenta kelantai, sedangkan Danil dan lainnya pun terkejut saat tau jika ada orang yang memukul Arga secara mendadak.


“Lo ngak apa-apa Rin?” Tanya seseorang itu menaap jika wajah Rindu sudah penuh dengan darah karena pelipisnya kembali terluka, matanya sembab menangis, ditambah bengkak, bahkan mata kiri Rindu sudah tak lagi terlihat karena tambah bengkak.


“Hiks hiks.. lepasin gue Gev.” Ucap Rindu pelan.


Gevan pun mencari apapun untuk memudahkannya membuka tali ditangan Rindu. ia melihat gunting, mungkin bekas mereka mengikat Rindu. ia pun menggunding tali ditangan Kanan Rindu.

__ADS_1


Bugh..


Tapi ia ditendang dari belakang oleh Dainil setelahnya. Sedangkan Arga sudah mereka bantu saat Danil mau membuka tali ditangan Rindu. Danil pun terjungkang kesamping dekat dengan meja, kepalanya tersnatuk meja.


“Bangsa*t. Siapa lo?” Teriak Arga marah. Ia merasa terganggu karena aksinya terganggu.


Danil tegak susah paya karena pening melandanya.” LO yang brengs*k. "


"Berani beraninya lo nyentu Rindu..!” Teriaknya.


Argapun tanpa mau berucap lagi mendekati Danil dan mulai memukulnya, tak hanya sampai disitu, Danil pun ikut-ikutan mengkroyok Gevan. Sedangkan Diva dan Meme sudah beringsut keluar dari kamar karena takut.


Gevan tak bisa melawan mereka, ia tak sekuat itu untuk melawan Arga dan Danil. Wajahnya sudah babak belur, darah keluar dari sudut-sudut bibirnya, bahkan disudut matanya.


“Itu akibat karena lo udah ngerusak kesenangan gue..!” bentak Arga saat Gevan sudah lemah


Rindu yang sudah membuka tali ditangan kiri dan kedua kakinya pun turun dari ranjang. Ia memamfaatkan mereka yang berkelahi supaya bisa terlepas dari tali. Matanya merah dengan amarah yang memuncak. Tangannya terkepal erat bagaikan menujukan bahwa kekuatan tangannya sudah berkmpul disana.


Ia berlari dan.


Bugh..


Satu tendangan sebelumnya ia berputar dan terkenah pipi kanan Arga. “Bangs*t kalian semua...!” Bentak Rindu. saat ini ia sudah dikontrol oleh amarah yang meraja lela.

__ADS_1


__ADS_2