
mamusia paling sulit menerima takdir, paling pahit menerima perpisahan dan paling lupa dengan nikmat ketika diberi ujian. Padahal Tuhan memberi dua priode, yaitu masa lalu dan masa depan. Masa lalu berguna untuk dipelajari dan masa depan untuk disiapi. menangis boleh, tapi jangan diratapi.---Rindu---
Rindu merasakan hatinya diremas. Ia memeluk Rian dan Rani erat, ia tak boleh menangis dan menunjukan sakitnya pada anaknya. dokter Rey yang mendengar itu hanya mampu menatap lamgit yang kelabuh. Ia tak sanggup, sungguh!!!
“Liat bunda..!!” Ujar Rindu membuat anak-anaknya menatap wajah Rindu sendu. Wajah mereka penuh dengan air mata, hidung yang memerah dan bibir yang bergetar. Ia mengelus pipi anak-anaknya sayang, menangis tanpa isakan, air matanya jatuh detik ini. “Nanti jika bunda pergi, bukan karena bunda tidak menyayangi kalian, tapi Tuhan sedang memberi pelajaran pada kalian. Kalian harus kuat dan kalian harus menjadi tangguh. Bukankah sudah bunda bilang, jika kalian itu istimewa..!!” Ujarnya lembut. mati-matian menahan dadanya yang sesak.
“Tapi kami tidak mau kehilangan bunda, kami menyayangi bunda dan kami tidak mau kehilangan bunda...!!” Ujar Rani menunduk.
Rindu menahan dahu Rani membuat ia kembali menatap bundanya” Kalian menyayangi bunda?” Tanyanya.
“Iya bunda. Sangat..!!” Jawab Rian dan Rani serentak.
Rindu tersenyum lembut.” Maka dari itu. Kalian nanti harus menjadi kuat ya. Jika bunda pergi, maka jangan menangis, sebab tangisan kalian akan membuat bunda sakit apa kalian mau bunda sakit?” Tanyanya membuat mereka mengeleng.
“Emang bunda mau pergi kemana?” Tanya Rani polos.
Rindu mengeleng lalu memeluk mereka lembut. ia meletakkan kepalanya diatas kepala Rian ia tak mampu menjawabnya ia tak mampu sungguh..!!! apa ia harus menjawab jika dijemput oleh Tuhan? Atau menjawab dijemput ajal? “Kematian tak ada yang dapat menebaknya sayang. Nanti jika bunda pergi menghadap langit, bunda akan sampaikan pada ayah dan ib kalian, jika mereka punya anak sholeh dan sholeha, mereka memiliki anak-anak yang tangguh dan kuat. Mereka punya anak yang dewasa dan Thafiz Qur’An. Dan bunda yakin jika mereka pasti bangga pada kalian.” Ujar Rindu lembut.
“Kami tidak mau, biarkan saja surat kami tidak sampai, asalkan bunda tidak pergi.!!” Rani memeluk Rindu semain erat.
“Kadang kita tak mampu menentang ajal sayang. Tapi bunda janji akan berusaha sebagaimana Tuhan menyertai bunda. Jadi kalian harus tetap menjadi sebagaimana bunda ajarkan ya. Bunda sayang kalian!!”
“Kami lebih menyayangi bunda...!!!”
__ADS_1
Mereka berpelukan tanpa melihat tempat
Dokter Rey melihat wajah Rindu dengan lewat air matanya menetes, detik itu juga bagaimana bisa ia tak menangis melihat itu? Ia kembali menatap langit dan menghela nafas. ‘Langit, bantu aku untuk mencari tau apa itu Islam ya? Supaya Dunia tak memisahkan mereka. Bantu aku untuk berjuang bersama salah satu bidadari syurga kalian izinkan aku mencintainya. Aku tak mau kisah mereka terhenti karena petir ditengah pelangi..!!!” Gumamnya dalam hari lalu mengusap ujung matanya yang berair.
“Manusia memang sangat sulit menerima perpisahan, sedangkan kita diciptakan memang harus ada perpisahan.” Ujar Rindu ringan.” Berpisah itu pasti, dan Allah menjanjikan kita untuk bisa berkumpul lagi diAkhirat yang lebih abadi dari pada didunia ini hanya sementara sayang, jadi, jika kita berpisah, itu hanya sesa’at jika mau abadi ya disyurga jika mau masuk syurga kita harus jadi Sholeh dan Sholeha, ikuti syariat dan cintai ajaran agama. Jadi, jika kalian mau sama-sama denga bunda didunia maupun diakhirat kalian harus jadi anak rajin ya.. jadi anak sholeh,!!!”
“Pasti bunda..!!” Ujar Rian semangat.
“Pasti hanya milik Allah. maka dari itu, bicaralah dengan Insyaallah, sebab Inysaallah dapat membantu kita keriidhonya Allah ya sayang.”
Setelahnya mereka bercakap-capap penuh sayang, Rian dan Rani yang bermanja-manja, Rindu yang tersenyum sepanjang hari, mereka sangat bahagia, ditambah dokter Rey yang membeli makanan yang luar biasa banyaknya dan luar biasa enaknya membuat mereka sangat bahagia sama-sama melengkapi membuat mereka bagaikan keluarga bahagia. ahhh Rindu ingin sekali memiliki keluarga seperti ini suatu saat nanti.
“Bunda pulang dulu ya sayang.. Nanti jangan males disini..!!” Ujar Rindu menepuk pelan kepala Rian dan Rani.
“Kami engak bakal nakal bun, kami Cuma sedikit jaiil..!!” Rani menampilan gigi putihnya membuat Rindu terkekeh. dokter Rey mengelus kepala Rani sayang membuat Rani menghangat, ia bagaikan mendapatkan ayah saat ini.
“Makasih ya Bun.” Ujar Rian dan Rani mengambil barang yang Rindu sodorkan.
“Yaudah Bunda pergi. Assalamu’alakum..!!” Rindu mengusap kepala mereka lau memasuki mobil dokter Rey. Mereka dadah-dadah ria membuat mereka saling melempar senyum.
“Bunda kamu baik banet ya Ri Ra. kalian beruntung banget punya mereka, enggak kayak aku. Aku bahkan enggak punya ibu..!!” Ujar anak kecil disamping Rian dan Rani. Ia menatap mereka dengan mata yang berkaca-kaca. Dia salah satu teman yang Rian dan Rani kasih es krim.
Rian menatap mobil yang sudah menjauh.” Iya. Kita beruntung tapi bunda aku juga bunda kamu, jadi jangan sedih..” Ujar Rian lalu merangkul mereka berdua menuju kelas, sedangkan Rani? Ia hanya sampai perbatasan mereka pisah. Beda kelas dan beda asrama, mereka memang sangat tertutup dan terhalang sangat ketat, sekalipun mereka masih berusia Lima tahun. Hitung hidung meminimalisir Zina mendatang
__ADS_1
.
“Dokter enggak mau mampir?” Tanya Rindu pada dokter Rey mereka sudah sampai kerumah Habib.
“Ini rumah siapa?” Tanya dokter Rey menatap rumah yang super besar itu.
“Majikan saya..!!” Ujar Rindu lalu turun, diikuti oleh dokter Rey membuat Rindu hanya diam saja.
“Dari manaa kamu?” Tanya seseorang membuat Rindu menatap asal suara.
Disana ada Habib yang memakai baju santai, rambut urak urakan bagaikan manusia terkacau, atau bisa dibilang pemulung? “Ada urusan.”
Habib mendengus lalu menatap paper Beg ditangan Rindu. tanganya mengepal, padahal ia tak tau jika isinya itu adalah obat obatan Rindu dan masalah paperbeg lain, itu hanya berisi jilbab Rindu yang sudah basah karena darah. Ahhh Habib tak tau apa-apa.
“Masuk..!!”
“Tu—“
“Saya bilang masuk.!!!” Teriak Habib membuat Rindu dan dokter Rey diam bukannya dokter Rey mau melawan, tapi merekakan tak ada hak, apa lagi pria didepanya ini majikan Rindu.
“Dasar gadis murahan. Masih saja memamfaatkan pria diluar sana..” Teriak Habib memasuki rumah meninggalkan Rindu yang mematung.
.
__ADS_1
.
.Like komen nd vote ya...