Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Tuhanku menyayangiku..!


__ADS_3

Jam sudah menunuikan pukul 2malam, namun Rindu masih belum bisa tidur. ia menghela nafas, entahlah. Ia merasa jika hatinya sedang tidak baik... Ia sangat mengkhawatirkan Habib karena Habib sakit, ia mau menemani tapi berdua dalam satu ruangan itu tidak baik. Ia merasa jika Habib adalah tanggung jawabnya saat iini. Ada yang bertanya, Dimana Maid yang lain? maka jawabanya mereka sudah terbang kealam bawah sadar.


Namun karena penasaranya membuat ia mau menginrip saja dari cela Balkon dari kamarnya saja, siapa tau ia bisa sedikit mengintip. Secara kamar merekakan bersampingan. Ia bangun dari tidurnya lalu bergegas berjalan menuju Balkonnya, tempat dimana ia sering menghafal dan menenangkan diri. Balkon disana sangat nyaman dan sunyi, mampu membuat hati Rindu damai dan tenang.


Saat sudah dibalkon ia menginti jendela kamar Habib, tak nampak apapun, Cuma gelap dan tertutup membuat ia membuang nafas kasar. Rindu memukul kepalanya sedikit saat ini. “Kamu mikir apa sii Rin... Dia pasti sudah tidur, jangan mengkhawatirannya..!” Gumamnya lau melafasnya istighfar supaya terhindar dari zina hati.


Lalu ia menghela nafas dan masuk kekamar saja. Ia mau tidur terlebih dahulu. Ia belum melakukan sholat dipersetiga malam, sebab ia belum tidur, jadi ia harus tidur dulu baru sholat malam.


****


Tok... Tok... Tok...


“Rindu... kamu sudah bangun?” Tanya seseorang dari luar setelah mengetok pintunya.


Rindu baru sudah melakukan sholat sepertiga malam dan sedag Muroja’ah. Ia megernyit, kenapa keluarga Habib memangil namanya seperti itu? Apa ada masalah saat ini. “Iya sebentar...!!!” Ujarnya lalu menangalkan mukenanya, ia mengambil cadarnya lalu keluar.


Saat pintu itu dibuka, didepan sana ada Habib yang menggunaan setelan baju kokoh Putih, Sarung Coklat dan kopiah hitam. Rindu akui jika ketampatan Habib tertambah berali-kali lipat saat ini, ia bahkan ta mampu berpaling dari wajah Habib. Ademmmm...


“Sudah liatinnya?” Tanya Habib menggoda.” Udah terpesona nii sama saya?” Lanjutnya dengan alis naik turun.


Rindu baru saja terpesona dan sekarang ambyar... Ia mengeleng dan bertanya.” Kenapa Tuan? Bukankah Tuan sedang sakit? Kenapa keluar kamar?” Tanyanya pelan.


Habb mengaruk tengkuknya. “Saya mau ajak kamu sholat dimasjid saja. Kamu mau?” Tanyanya canggung. “Soal sakit, saya sudah tidak sakit lagi. Lagi pula saya memang jika sakit suka cepet sembuh kok. Ya kayak gini..” Ujarnya lagi menjawab pertanyaan.


Rindu merasa menghangat ketika Habib mengajaknya sholat bersama kemasjid. “Perempuan lebih baik sholat dirumah Tuan. Jadi Tuan saja ya sholat dimasjid. “ Ujarnya menolak.” Dan alhamdulillah jika Tuan tidak sakit lagi.” Ujarnya lagi.


Habib mendadak menjadi lesuh.. ia sudah merancang ini sebelumnya, ingin merasakan pergi bersama Rindu. berjalan beriringan pergi kemasjid, lalu bercanda gurau membuat sama sama tertawa bahagia. sungguh menurutnya itu romantisnya melebihi apapun yang ada dimuka bumi ini. bahkan melebihi manisnya dikalah sang pria memberikan hadia... Ahh semoga apa yang ai harapkan terkabulkan ya.. Amiin.


“Yasudah. Kita sholat berjamaah saja dirumah bagaimana?” Tanya Habib pada Rindu sedikit bersemangat.


Rindu tersenyum lagi. “Laki-lai wajibnya sholat dimasjid Tuan, apa lagi Tuan sudah siap dan tinggal berangkat saja. Jadi lebih baik tuan sholat dimasjid saja.” Ujarnya lagi.


Bukannya mau menolak, tapi memang itu disyariaat islam. Sholatnya laki-laki itu dimasjid, sedangkan sholatnya perempuan itu lebih baik dirumah. mengikuti syariaat memang sulit dan tak semua orang memahaminya,


Habib merosotkan bahunya.” Tapi saya masih lesu jika harus berjalan sendirian. Jadi jika kamu mau sholat dirumah maka saya sholat dirumah, jika kamu mau ikut saya. Maka kita sholat dimasjid. Ya itung itung jika saya pingsan ada yang teriak....” Ujar Habib memelas...


Bilang aja mau sholat bersama Rindu Bib Bib...!! Pakek acara memelas dan mencari alibi segala kau. Dasar tak sadar umur kau...


Rindu mengernyit lagi. Kenapa tak mengajak Panji? Hendrawan? Yohan ataupun Dilan? Bukankah banyak ptia dirumah ini. namun ia tak mau menanyakan itu, sebab ia terbesir satu kalimat diotaknya ‘Modus’ dan Tuan nya saat ini sedang ‘Modus’ Bolehkah Rindu kepedean?


“Jika begitu mari panggil yang lain. supaya kita bisa sholat berjamaah.. “ Ujar Rindu. ia tak mau mematahkan semangat Habib, setidaknya ia bisa menerima meskipun harus beralibih.


Habib mendadak menjadi cerah lalu mengagguk.” Aku akan membangunkan yang lain. kau pergilah kemushola duluan jika sudah siap...” Ujar Habib setelah itu pergi kekamar keluarga terdekat.


Rindu memghela nafas. Inilah yang ia ta mau. Habib semakin mendetinya sedangkan ia tak bisa memberi apapun. Ia memegang pingangnya yang sakit. Sudah satu bulan sangat sakit.. ia mengeleng tak mengerti lalu masuk kekamar.


..


Sesuai kesepakatan. Rindu dan keluarga Hollmast sholat dimusholah seara bersamaan. Ia melangkah mendekat disana.

__ADS_1


Dirumah ini memang ada satu ruangan musholah. Awalnya itu adalah kamar tamu tapi dijadikan musholah keluarga. Belum pernah sholat berjamaah disana dan baru kali ini. Disana nampak wajah mereka yang masih malas, apa lagi wajah Nayla dan Nina. Sedangkan yang lain sudah biasa-basa saja.


Alisnya Rindu terangkat.” Kenapa Kiblatnya kearah sana?” Tanyanya. Faktanya kiblat itu sangat melenceng dari kiblat yang biasanya ia ketahui. Mana kiblatnya menjuju kearah toilet lagi.


Yohan dan lainnya mengerut.” Emang kiblatnya dimana? Bukankah memang disana?” Tanya Yohan pada Rindu.


Rindu menghela nafas.” Bukan. Tapi disana.” Ujarnya menunjuka arah berlawanan membuat siapapun menatap Rindu tajam.


“Jangan sok tau. Kemarin orang menyolatkan istri saya dirumah itu kiblatnya arah sana. Jadi jangan sok tau kamu..” Ujar Yohan ketas. Ia berdeak pinggang saat ini.


Saat nyolati? Berarti sebelunya ia tak pernah sholat?


Rindu hampir tertawa.” Beda lagi kalo dirumah bapak. Jika dirumah bapak arahnya disana, belum tentu disini sama. Jadi ini salah.. yang benarnya itu disana pak.” Ujar Rindu memberi pengertian.


“Jadi kiblat yang benar disana?” Tanya Panii pada Rindu dan mendapatkan anggukan.


Habib dan lainnya mengigit kuku masing masing.” Jadi selama ini kita salah kiblat..” Ujar Habib gugup dan malu.


Yasaalam...!


Rindu mengeleng melihatnya. Sudah satu bulan lebih berarti mereka salah kiblat??!!


“Makanya. Kita harus bertanya.. sebab malu bertanya sesat dijalan.” Ujarnya. “Karena Aku pernah dengerkan kalo belajar tanpa guru itu sama dengn belajar dengan setan...” Ujar Rindu lagi.


Mengapa demikian? Sebab memang seperti itu. Belajar tanpa guru sama saja dengan belajar dengan setan. Kita bisa menafsirkan apapun sesuai pemikiran kita, sedangkan sesuatu itu harus dijabarkan secara menyeluruh. Jadi jangan sampai seperti ini ya...


...


Dan disinilah ia sekarang. Didepan dokter Rey... ia sudah melihat hasil ronsennya. Dan jujur saja hati Rindu sekarang sudah dag dig dug...”Bagaimana keadaan saya dok?” Tanyanya takut. Ia tau jika hasilnya akan memburuk, tapi ia akan tegar dan tetap tenang saja.


Dokter Rey menata Rindu dalam.” Kenapa mingu lalu tak Cek Up? Kenapa tak meminum obat?” Bukannya menjawab tapi ia malah memberikan raut wajah khawatir pada Rindu.


Rindu menunduk.” Saya harus berkerja. Jadi saya enggak sempet buat kesini dok. maaf.” Ujarnya Lirih. Nyaris tak terdengar.


Donter Rey mengusap wajahnya kasar. Ia mengusap matanya supaya ta menangis. “Apakah area pingang kamu suka sakit? Atau apa pernah terbentur?” Tanyanya lagi.


Rindu menganguk polos. “Iya. Suka sakit, bahkan diluruskan saja sulit. Jika duduk terlalu lama maka saya tidak bos berdiri.. Itu semenjak saya terjatuh dua kali.” Ujarnya. Ia ingat saat ia tersungkur karena diterjang Hendrawan dan ia ingat saat ia terjatuh dan melindungi Habib. Setelah itu pingangnya sakit dan semakin sakit. Meradang dan sangat radang. Semua itu ia hanya diam saja. Ia tak pernah pingsan didepan orang lain, tapi ia pingsan saat sudah malam larut. Ia selalu tahan meskipun tubuhnya sudah sangat sakit,.


“Lalu apa lagi yang kamu rasakan selama beberapa minggu belakangan?” Tanya dokter Rey bergetar.


Rindu mengingatnya lagi.”Setiap bangun tidur saya suka muntah muntah darah terus. Tubuh lemas, dan rambut saya..” Ia tak melanjutkan lagi tapi dokter Rey paham.


Dokter Rey mmperbaiki duduknya dan mulai menatap wajah Rindu lurus. “Kamu jangan sedih ya mendengarnya.” Ujarnya membuat.


Rindu mengagguk mantap. “Kangker kamu sudah memasuki stadium akhir,,.” Setik itu juga air mata doter Rey jatuh, ia tak kuat menerima kenyataannya.


Rindu diam merasakan dada nyasesak. Sesaknya tak bisa diutarakan..


“Dan kamu juga mengalami gagal ginjal. Ginjal kamu terluka saat kamu terjatuh sehingga semakin lama semakin terinfeksi.. dan sekarang hiks hiks..” Ia tak mampu melajutkannya. Penderitaan Rindu sangat besar menurutnya.

__ADS_1


Rindu mengalami penyakit kanker hati, jantung dan paru-parinya sudah rusak dan sekarang Rindu harus menghadapi ginjal yang rusak. Ia tak mengerti, apa salah Rindu.


Rindu menghela nafas. Tak menangis dan tak juga menunuikan ekpresi apapun, namun ia mendongak dan menatap nanar... dadanya sesak saat ini... ia tak boleh menangis, sebab jika ia menangis maka ia lemah. Dokter Rey menatap Rindu tak mengerti, bagaimana bis Rindu tak menangis.” Kenapa kamu tidak menangis Rindu? Jika kamu rapuh kamu bisa menangis, menangis tidak akan membuat kamu menjadi lemah kok.” Ujarnya lembut.


Rindu memegang dadanya.” Disini sakit dok jika saya menangis. Setiap saya nangis pasti saya tidak bisa bernafas. Mungkin kenapa paru-paru saya dirusaki supaya saya selalu tegar dan tak menangis. Allah sayang banget ya saya sama dok...?” Ujarnya dengan mata yang berkaca-kaca... ia tersenyum manis dibalik niqobnya,


Dokter Rey megeleng.” Tuhan kamu jahat Rind...! Jika memang dia baik dan sayang sama kamu tidak mungkin dia menyiksa mu.. Dia tidak sayang sama kamu, dia benci kamu..”! Ujarnya lembut. benar bukan? Dia atheis maka ia tak akan mengerti.


Rindu menggeleng lemah. Dadanya semakin sesak. “ Saya sakit karena Allah sayang saya. Karena Allah mau hapus dosa saya. Mungkin kenapa hati saya kena penyakit karena saya selalu dengki pada prang lain, dendam kepada kedua orang tua saya, kotor karena dpenuhi emosi dan duniawi, dan berdenyut tiada arti. Sedangkan kenapa paru-paru saya. Kenapa dia rusa karena saya tidak menggunakan nafas saya secara baik dimuka bumi ini dok... Jantung saya? Kenapa dia rusak, karena setiap detaknya selalu saya sia-siakan dan tak pernah saya syukuri hidupnya. Dan kenapa ginjal saya rusak? karena saya selalu berjalan yang salah..” Ia menangkup wajahnya yang tak lagi mampu menahan tangis. “Allah sayang saya dan saya tau akan hal itu... jangan salahkan Tuhan saya, sebab saya pantas akan hal ini..” Ujarnya. Dadanya sesak membuat ia memukul mukul dadanya.


Dokter Rey yang melihat itu menjadi panik. Ia mendekati Rindu “ Kamu tidak apa-apa Rindu?” Tanyanya panik.


Namun Rindu masih berusaha bernafas. Kan sudah dibilang jika ia tak bis menangis secara terisak. Ia kembali memukul dadanya, ia tak bisa bernafas membuat ia mengerang... cairan merah sudah membanjiri hidungnya... ia kembali terbatuk, ia tau jika ia akan batuk darah dan memuntahkan darah.


Dengan tenaga yang ada Rindu menyibakkan cadarnya dan memuntahkan darah ditong sampah disana.. ia berlari meningalkan dokter Rey.. dadanya semakin sesak. Dan setelahnya kegelapan merenggut semuanya.


Dan itu lebih baik...!


Dokter Rey yang sedari tadi menatap itu menjadi panik dan mendekati Rindu.” Rindu.. Kamu masih mendengar saya?” Tanyanya pelan. Ia menepuk pipi Rindu lembut. Namun tak ada sahutan, ia mengangkat tubuh Rindu lalu menaruhnya keranjang disebelahnya.


“Maafkan saya Rindu.” Gumamnya. Ia merasa bersalah, tak seharusnya ia memancing Rindu. tak seharusnya ia membuat Rindu shock.. ia mulai memeriksa keadaan Rndu.” Mafkan saya Rindu. maaf karena saya sudah membuka kain diwajah kamu.” Ujarnya membuka cadar Rindu, tanganya gemetar saat ini.


Setelah itu nampaklah wajah Rindu yang damai. Doter Rey menahan tangis saat ini. ia mengambil air lalu mengelap hidung Rindu, tanganya bahkan gemetar takut. Dulu wajah ini cubby dan imut, tapi sekarang sudah tirus, dulu mata ini sangat indah, tapi sekarang ada lingkaran menghitam disekitar bola katanya... Rindu sekarang bagaikan mayat hidup.. Andai Rindu tak menggunakan kain ini. Sudah pasti ia bagaikan mata berjalan.


Ia kembali menaruh Infus dan beberapa alat. Ia mengaktipkan Oksigen untuk Rindu... ia mulai dengan semuanya sendiri. Tangan gemetar itu tak lagi mampu menghapus air matanya. Ia mengelus kepala Rindu sayang. “Maafkan saya Rindu..” Ujarnya lalu mendekatkan bibirnya dikepala Rindu. binbirnya gemetar lalu mengecupnya sekilas.


Ia membuka sarum tangan Rindu supaya tak panas. Jari-jari itu mengelupas, sangat kurus dan berwarna Putih pucat... Keadaan Rindu sedang tidak baik-baik saja dan itu karena dirinya.


...


Sudah tiga jam Rindu tak sadarkan diri dan dokter Rey juga tak bangkit dari duduknya ia selalu saja memandang wajah Rindu damai, tapi seaat ia melihat bulu mata lentik itu mengerjab lemah, pertanda bahwa sang gadis akan siuman. Dengan cepat ia bangkit.” Kamu sadar Rindu?” Tanyanya langsung.


Samar samar Rindu menatap wajah dokter Rey lalu tersenyum. Ia mengangguk membuat dokter Rey semakin mendekat.” Biarkan saya memeriksamu ya.” Ujarnya meminta izin. Rindu kembali mengangguk membuat Dokter Rey mulai dengan aksinya.


.


.


.


.


-Menangislah ketika kamu sedang rapuh dan lelah. Sebab itu salah satu kenikmatan tiada tara dari Allah... Karena jika sudah tak bisa menangis lagi. Maka kamu hidup bagaikan kehilangan pelampiasan... -Rindu-


-Apa ada sakit yang lebih sakit dari pada sakit tapi tak bisa menangis?--- Rindu Azzahra--


.


.

__ADS_1


.


Komen like and vote ya...


__ADS_2