
---
Entah karunia atau mukzizat. Rindu sadar setelah 2jam. Tepat saat Habib memasuki perkarangan rumah yang begitu megah. Rindu mengerjab lemah melihat sekita, nafasnya seikit tersengal masih menyisahkan rasa sakit. Tubuhnya sangat lemas membuat ia bersender saja. Tak mau mengagumi rumah yang bisa dibilang istana.
“Kita sudah sampai. Itu tuan Habib sudah menunggu.” Ucap Habib saat melihat Habib sudah didepan pintu. Ia mengabarkan Habib saat hampir sampai tadi. Tapi ia sama sekali tak sadar jika Rindu pingsan. Habib fisana hanya menggunakn baju santai.
Rindu bisa merasakan jika wajahnya sedikit mengeras karena darah yang membeku.
Jorok? Tentu saja, tapi mau bagaimana lagi? Ia mengerjab dengan mengumpulkan nyawa sebanyak mungkin supaya tak ada yang curiga.
Fios keluar lalu mendekati Habib yang wajahnya sudah memerah.” Kalian dari mana? Kenapa lama sekali?” Tanyanya sepertinya ia sudah lama menungu.
“ Maaf tuan. Jalan tadi sangat macet, ditambah tadi dijalan ada tabrak lari membuat semakin macet.” Jelas Filos. Dia jujur.
“Dimana gadis itu?” Tanya Habib mencari dimana keberadaan Rindu.
Rindu yang mendengar itu langsung menghela nafas. Ia membuka pintu mobil lalu mendekat. “Iya tuan..” Ucapnya pelan. Ia mash sanat lemas saat ini.
“Masuk.. Bawa barang-barangmu.” Ucapnya datar.
Rindu mengangguk. Ia melirik Filos. Mengerti lirikan itu, Filos membuka bagasi lalu mengeluarkan koper Rindu. Rindu menerima dengan dengan lemah. Ia hanya diam saja lalu memasuki rumah itu. Sama sekali tak mau mengagumi indahnya syurga dunia. Rindu lebih memilih untuk menetralkan penyakitnya.
“Siapa itu Bie?” Tanya wanita paru baya yang duduk disofa bersama satu pria paru baya yang tak lain suaminya..
“Dia pelayan pribadi Habib Mi..” Ucapnya singkat.
Sontak saja Panji sebagai ayah Habib dan Nina sebagai maminya bangkit. Bagaimana bisa Habib membawa terrorris dan mengatakan jika ia akan jadi pelayan.
“Halo bang...” Sahut anak gadis yang usianya beda tipis dengan Rindu. ia turun dari tangga dengan baju yang hanya sebatas pusatnya menampakkan perut rata dan celana jins yang bisa dikatakan kejar-kejaran dengan celana dalam. Rambut omre merah jagung. Ia menjinjit tas kecilnya pertanda ia akan pergi.
“Ehh. Abang bawah siapa? Kok serem banget?” Tanyanya terkejut saat melihat Rindu yang berada dibelakang Habib dengan mengenggam gagang koper hitamnya.
“Dia pelayanku mulai hari ini.” Ucap Habib. Rindu hanya diam dengan lemahnya. Ia tak berniat untuk menjawab atau bicara ataupun bertanya, jangankan beramah-tama, bernafas saja ia susah.
__ADS_1
“Tap tapi dia---“
“Dia aku kenal kok mi. Tenang aja.” Potong Habib mengetahui maksud maminya.
Nayla sang adik Habib yang berumur 20 tahun itu turun. Ia menatap Rindu dari atas sapai bawah. Rindu yang mengunakan gamis Moca dengan garis bawah hitam ekat, jilbab yang menutupi sampai kepergelangan tangan dan niqob berwarna hitam yang hanya menampilkan mata saja, tangannya? Ia menggunakan sarum tangan hitam. “Kalo dia pembantu, kenapa bajunya mahal bang? Pacar abang ya?” Tanya Nayla heran. “ Atau memang dia pacar abang. Karena itu dia tutup-tutup muka segala, biar abang nggak ketahuan kan?” Tuduh Nayla.
Rindu memang menggunakan gamis mahal, berkualitas bagus, maklum, orang tuanya mengajarkan dia membeli barang berkualitas, biar sedikit yang penting puas memakainya, untuk apa beli barang murah jika cepat rusak? Ditambah ia dulu suka menggeret agen atau agen yang memberinya pakaian mahal. Ia hanya diam malas menangapi.
“Diem de Nay. Kenalin dia Rindu. dia pelayan gue mulai detik ini.” Ucap Habib menjelaskan. “Rindu, kenalin dia adik saya.” Ucap Habib menatap Rindu.
Rindu mengangguk. Ia mengulurkan tanganya pada Nayla untuk berkenalan.” Rindu..” Ucapnya.
Tak ada sambutan atau balasan, Nayla hanya melipatkan tanganya didada. Ia melirik Rindu sinis, sedangkan orang tua Habib hanya diam melihat Rindu dengan penuh tanda tanya. “Sorry, gue nga sudi berjabat tangan sama tangan najis kayak lo. Bisa panuan tangan gue nanti.” Ucapnya sadis.
“Nayla..! Siapa yang ngajarin kamu ngomong gitu..!” Bentak Panji sang ayahnya.
Inilah alasan abinya Rindu melarangnya menjadi pembantu ataupun budak orang. Terbukti bukan? Rindu hanya menarik kembali tanganya dan tersenyum kecut. Ia hanya diam saja.
“Kamu bukan teroriiskan?” Tanya Nina takut. Biasanya yang seperti i terkenal organisasi semacam itu.
“Nay. Mi, pi. Rindu bakal tingal disini buat ngurus keperluan Habib. Jadi bersikap baik ya..” Jelas Habib menatap keluarganya.
“Idih.. eneg banget baik sama dengan pembantu. Nggak sudih gue..” Ketus Nayla.
“Nayla..! Jaga omongan kamu..” jelas Habib keras membuat Nayla kicep.
“Abang belain dia? Kayaknya dia memang jala*ng abang benerankan?” Teriak Nayla.” Gue ngak suka dia. Gue nggak bakal mau temenan sama dia.” Ketusnya dengan tangan yang mengepal. Kakinya menghentak layaknya anak kecil.
“Saya juga ngak pernah niatan buat kenal sama kamu.” Itu jawaban dari Rindu. ia menatap Nayla tenang.” Dan saya juga ngak ngemis kenal sama kamu. Jadi, jangan sombong.” Lanjutnya membuat keluarga Habib menganga.
Ini pembantu kok sombong sekali?
Bisa-bisanya dia sombong didepan majikan..!
__ADS_1
“Lo sombong banget ya..! pembantu tak tau diri..!” Bentak Nayla sambil menunjuk-nunjukkan wajah Rindu.
“Kamu pernah dengar nggak’ SOMBONG DENGAN ORANG YANG SOMBONG ITU SEDEKAH..!” Jawab Rindu tenang membuat Habib dan lainya kicep.
“Lo berani sama gue..!”Masih gencar dengan menginjak Rindu. Nayla menatap Rindu marah.
Rindu tersenyum.” Kenapa takut? Selagi masih ngehirup udara yang sama.. Lo nggak ciptain oksigen sendirkan didunia ini?” Tanya Rindu menyeringai.
“Apa yang mau lo sombongin? Kita sama-sama di lahirin dengan Mani yang kotor bukan? Hidup dengan oksigen yang sama, berpijak ditanah yang sama, matipun dikubur dalam tanah. Lo mau sombong sama rumah gede lo? tunggu aja sunami, rumah lo hancur dengan hitungan detik. Kalo engak kebakaran aja karena konslet listrik, dalam hitungan jam rumah lo jadi abu.” Lanut Rindu tanpa takut.
“Mau pamer harta? Cih.. sekejab aja kalo Tuhan mau ambil, dengan kehilanganya investasi karena penipuan, ataupun saham terbesar kalian diambil oleh sii investor kalian bakalan miskisn seketika. Atau perusahaan kalian difitnah ngebuat kalian bakal jatuh sejatuh jatuhnya. Kalo mau sombong nanti siapa yang gali kuburan lo?. Bisa memang mati gali kuburan sendiri?” Rindu tak takut. Ia tak mau dinjak-injak.
Tolong jangan salahkan niqobnya. Yang jika biasanya perempuan berniqob akan diam saja jika dihina atau diinjak. Rindu tak akan mau jadi sebodoh itu. Katakan saja jika Rindu masih jauh dari akhlak yang menawan. Karena setiap manusia memiliki prinsip masing masing.
Baik Nayla maupun kedua orang tua Habib terdiam. Mereka terpaku akan ucapan Rindu. semuanya benar, tak ada yang meleset membuat merka malu sendir atas ulahnya Nayla.
“Dasar pembantu ngak tau diri..” Gumam Nayla yang sudah tak tau mengatakan apa-apa lagi.
“Maaf, saya memang pembantu. Tapi dalam kontrak saya, saya hanya akan menjadi pembantu untuk tuan Habib, bukan anda sebagai adiknya. Jadi jangan salahkan saya jika saya sama sekali tidak takut dengan anda..!” Ucapan Rindu sudah menunjuk dengan kata ‘Anda’ yang bermaksud. ;Kita tak saling kenal’
“Hmm.. Rindu ikuti saya saja kekamar kamu.” Putus Habib, takut jika dilanjutkan adiknya semakin menjadi.
Rindu menganguk.” Mari tuan, nyonya..” Ucap Rindu lembut lalu mengikuti Habib tanpa mennyapa Nayla.
“Siapa dia Filos?” Tanya Panji kepada Filos yang masih mematung.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Come back yuhuuu. like komen and vote yaa guys