Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Tragedi 3


__ADS_3

“Woy jangan kabur..!!!” Langkah kaki Nayla tak ada artinya dengan langkah para pria, ditambah Nayla menggunakan Highill membuat ia berlari ta kuasa.. tanganya ditarik paksa saat ia sdah berada diluar Villa itu.”Mau kemana loe?


Maaf klo salah. soalnya aike nggak tau gimana tukisan Highills


“Tolong jangan apa-apain gue Pliiis... “ Nayla mulai terisak kencang dengan kaki yang meronta-ronta, namun sayangnya tak didengar oleh mereka, mereka sibuk mengeret Nayla kencang. Apa lagi mereka berjumlah 5orang membuat Nayla terepung oleh mereka. Tenaga Nayla tak sebanding dengan satu pria apa lagi Lima orang.


“Mau kabur kemana hm??” Dengan lancangnya sii pria bernama Will itu menyentil benda pusakanya Nayla membuat Nayla semakin memberontak. Ia takut, ia tekejut dan ia ingin menghilang saja dimuka bumi ini, andai ia bisa sulap.


“Lepasin gue brengsekkk..!! Kalian mau apa ha?” Teriak Nayla dengan suara yang terputus-putus membuat semua orang disana tertawa mengerihkan. Bahkan tawa itu lebih mengerihkan dari tawa Film horor yang pernah Nayla tonton. Dan saat ini juga Nayla menyesal karena terlibat didunia malam.


Cup.... Bahunya dicium oeh pria lain yang bernama Baron itu. Ahh Nayla tak kuat lagi, jika dilepas ia yakin jika bagian tubuhnya banyak memar dan juga tergores karena terkena kuku-kuku para Bastart itu. .


Sedangkan ditempat lain ada sosok yang sangat gelisah. Gelisanya pun ia tak tau kenapa, “Rindu sudah tidur belum ya?” Ia bergelung-gelung dibawah selimut tak karuan, bahkan Alas kasurnya sudah seperti digiling saja. Dia adalah Habib.


Habib menatap jam dinakasnya, disana jam memasuki jam 12:45 Malam, namunn ia tak bisa tidur sedari tadi. Habib memang sosok yang gila kerja, kaya raya dan juga sibuk. Tapi ia sosok yang sangat menjunjung tinggi kesehatan, jika sudah jam 10malam maka ia akan berhenti bekerja, itupun jarang sekali jika ia tidur jam segitu, biasanya ia akan tidur dijam 9malam. alasannya? Bukannya biasanya orang yang kaya raya dan memiliki perusahaan besar itu suka tak teratur tidurnya, makannya dan seolah-olah dunianya adalah kerja?

__ADS_1


Tapi itu tidak berlaku bagi keluarga Hollmas. Sebab mereka berfikir, jika sebenarnya uang itu untuk memenuhi kebutuhan mereka, mencakupi apa yang mereka inginkan dan memenuhi kebutuhan, primer, skunder dan tersier. Sudah cukup. Tak perlu namanya uang berlimpah, tak perlu uang yang menggunung. Jika sakit, apa gunanya uang? Uang tak akan pernah mampu membeli kesehatan..!! Apalagi kebahagiaan keluarga, uang tak akan mampu membayarnya, jika Cuma mau pamer dan juga hidup berlebihan Keluarga Hollmas tak menerapkannya. Tapi entah kenapa mereka tetap menjadi kaya meskipun bukan keluarga terkaya didunia atau diIndonesia. Tapi mereka sangat kaya.


“Ngintip dikit boleh kali ya supaya bisa tidur,,!!” Habib mengusap kepalanya kasar dikalah ini karena tak bisa tidur, ia memilih bangkit dan mengintip kamar Rindu saja, mungkin saja ia belum tidur, kan bisa ngoberol sebentar.


Langkahnya sedikit berjinjit supaya tak menimbulkan suara, dengan hati—hati melangkah kedepan pintunya Rinu. Ia sedikit ragu untuk mengetuknya, ia takut jika Rindu sudah tidur lelap. “Rindu... Main yukk..!!” Ujar Habib. Namun sesaat setelahnya ia menepuk bibirnya karena biacara ngacok.” Apaasii Bib..” Gerutunya pada dirinya sendiri.


“Rindu.. Kamu sudah tidur?” Suaranya sekarang sudah terkontrol menjadi baroton. Namun tetap saja tak ada sahutan membuat ia mengerang kesal. Apa Rindu sudah tidur? namun kenapa ia ingin sekali melihat Rindu.


Naun ia memberanikan diri memutar Knop pintu, namun ia sedikit membulatkan mata dikalah pintu itu ta dikunci. Biasanya jika Rindu diluar ataupun didalam kamar, pasti kamarnya selalu dikunci. Apakah Rindu lupa? “Rindu...!!” Ia menyempil sedikit kepalanya dicela pintu. Entah kenapa, padahal memasuki semua tubuhnya saja tidak apa-apa.


Namun ia tak melihat Rindu membuat ia semakin membuka cela pintu. Ia menatap segala penjuru kamar namun tak ia temui. “Rindu kamu dimana?” Teriak Habib dikalah itu. Namun tak ada sahutan membuat darahnya berdesir, entah kenapa ia sat ini takut dan kalut, takut Rindu kenapa-napa dan takut Rindu kabur.


“Ada apa sii Bib. Teriak-teriak, kenapa?” Suara itu membuat Habib membalikkan tubuhnya. Disana ada Yohan yang sedang mengenakan baju tidur dengan wajah bantalnya. Tak jauh darinya juga ada Panji dan ibunya, Hendrawan dan juga Sarah. Merea kompak sekali, mungkin karena suaranya yang keras ditambah mereka semua adalah penghuni kamar atas. Ahkk Habib lupa.


“Rindunya nggak ada Kek. Kalian ada yang liat nggak? Soalnya udah melem loh kenapa dia enggak tidur?” Tanya Hanbib tak dapat menyembunyikan kekhawatirannya.

__ADS_1


“Mungkin didapur. Coba cek sana..!!” Gerutu Yohan pada Habib, sebab Habib menggangu tidurnya saja, tidak mungkinkan Rindu kabur? Memangnya kenapa ia kabur? Kayak anak kecil saja..


...


Rindu kehabisan nafas didalam bagasi itu. Sebab tadi ia tak punya pilihan lain selain memasuki bagasi mobil itu. Ia harus membuntuti Nayla bukan? Apa lagi perjalanan itu tadi sangat jauh dan jalannya sangat berbelok-bepok bagaikan jalan Liku sembilan. Mau tak mau Rindu menjadi mual dan pusing. saat mobil itu berhenti ia tak segera turun karena harus menunggu sang empu keluar beneran.


“Udah kali ya..!!” Ia mengibaskan tanganya diara kepalanya supaya hangat. Ahkk Rindu sangat capek saat ini.


Namun saat ia ma turun, ia mendengar suara Nayla teriak dan berlari membuat ia mengurungkan niat untuk keluar. Jantungnya dipacuh begitu cepat membut ia menghela nafas sakit akh, bagaimana bisa ia lupa jika paru-parunya bermasalah..!! namun ia menunggu sampai suara itu tak lagi terdengar membuat ia segera turun dari mobil.


Matanya membola dikalah melihat hutan, hitan apa ini? namun disana ada dua rumah, bukan rumah namun Villa... Villa yang didepannya dihiasi pohon Markisa yang dibuat melengkung indah menjadi sangat cantik. Buahnya bergelayut manja membuat Rindu sedikit tersenyum. Sedangkan satu rumahnya itu rumah yang terbuat dari kayu, ada tiga lantai mungkin, cukup besar namun asri, sedangkan satu Villanya lagi lebih besar dan berdisain mega dan mewah. Dan itu membuat Rindu pusing, dimana Nyala berada?


Namun Rndu memilih duduk sebentar sembari menghirup udara segar supaya sakitnya menghilang. Setelahnya ia mengambil obat ditas jinjitnya. Obat yang memang ia selalu bawa kemana-mana, sangat penting ini untuk kita..!!


Setelah itu Rindu mengambil Hapenya ditas jinjitnya. Ia bukan orang ceroboh yang akan masuk bagaikan pahlawan, ia manusia biasa dan butuh bantuan orang lain. ia mencari nama Habib disana lalu menelponnya, namun ia terkejut dikalah tau jika disana tak ada sinyal.

__ADS_1


Ini dimana sampai tak punya sinyal? Zaman purbakah? Rindu memutar otak saat ini, ia tak sekuat dulu yang bisa mengalahkan sepuluh orang. Rindu meminjat pelipisnya karena terasa sakit dan pening.


“Tolong... Arghh.. Tolong..!!”


__ADS_2