Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Cerita Rian dan Rani


__ADS_3

Rian mulai bercerita tentang yang mereka hadapi.


Flashback...


Ctar...


Ctar...


Arh....


Suara cambukan itu menggema di ruangan itu. Suara tangisan anak kecil bersahut-sahut. Satunya menangis karena melihat adik perempuan yang ia sayangi dicambuk, dan satunya lagi menangis karena merasakan sakit dipunggungnya.


“Paman tolong jangan siksa adik saya. Saya mohon...” Teriak sang kakak laki-lakinya bersujud. Ya dia adalah Rian dan Rani sang anak kembar. Matanya penuh dengan air mata pilu. Sungguh, ia lebih suka dirinya dicambuk dari pada kembarannya.


“Dia anak yang malas.” Ucap sang paman sambil menendang dada sang Rian secara kasar.


Rian terpental jauh membuat punggungnya terbentur dinding. “Kakak. Hiks hiks. Kakak...” Teriak Rani sambil menyucurkan air mata. Ia menatap sang kakak yang meringis kesakitan.


“Kalian saya kurung disini sebagai hukuman karena memakan makanan dikulkas.” Teriak paman merka lalu pergi meninggalkan Rian dan Rani yang mengerang sakit satu sama lain.


“Kakak maafin Rani hiks hiks, nggak seharusnya Rani mencuri es krimnya Tara hiks hiks. Gara-gara Rani kakak jadi gini.” Ucapnya sembari merangkah menuju kakaknya.


Rian memaksakan dirinya tersenyum. “Nggak pa-pa kok. Ini semua salah kakak. Kakak nggak bisa kasih kamu makan es krim.” Jawabnya sendu.


Rian memeluk adiknya yang penuh luka lembut, ia juga menepuk pelan kepala adiknya dengan sayang.


Rian dan Rani adalah anak yatim piatu. Ayahnya meninggal saat ibunya mengandung mereka, ibu mereka juga meninggal saat sesudah melahirkan mereka. Orang tua mereka saat masih hidup berkerja sebagai PNS, menyebabkan mereka mendapatkan tunjangan dari Ayah dan Ibunya. Tapi sayangnya paman mereka tamak, mereka memakai embel ‘paman’ Untuk mengambil uang tunjangan untuk Rian dan Rani untuk dinikmati oleh keluarganya.


Sejak lahir Rian dan Rani selalu dipukul dan disiksa, mereka selalu diperlakukan layaknya babu, padahal umur mereka masih sangat kecil. Tapi saat ini Rian bertekat akan mebawa adiknya kabur dari rumah ini.Ia sudah lelah melihat adiknya disiksa. Ia tak mau lagi adiknya menderita.


“Pelan-pelan ya, nanti kamu lompat.” Bisik Rian saat dijendela, ia menggendong Rani untuk bisa dijendela. Untunglah gudang ini berada dibelakang dan memiliki Jendela yang cukup besar.


“Kakak. Rani takut.” Ucap Rani meringis.


“Nggak apa-apa. Kita harus pergi sebelum paman nyiksa kita lagi.” Jawab Rian sembari membantu adiknya.


Hap...

__ADS_1


Rani melompat dari jendela dan isusul oleh Rian. “Kamu nggak apa-apa?” Tanya Rian saat sudah melompat dari jendela.


“Kaki Rani sakit kak.” Jawab Rani sambil menangis.


“Jangan menangis. Nanti kalo kita udah keluar kita bebas. Katanya kamu mau makan es krim yang banyak, nanti kakak kerja buat kamu.” Ia mengelus kaki Rani dengan penuh kasih sayang.


“Janji?” Rani mengangkat kelingking kanannya dengan raut polos nan menggemaskan.


Rian terkekeh geli dan mengaitkan kliingking mereka. “Janji.” Jawabnya. “Tapi kamu harus kuat ya.” Lanjutnya yang dibalas anggukan dari Rani.


Rian membawa adiknya hati-hati. Mereka harus melewati jalan belakang rumah, jika mereka melewati jalan depan. mereka tak akan bisa kabur. Tapi sayangnya tak ada jalan jika lewat belakang. Dibelakang rumah itu ada tembok yang sangat tinggi, mana mungkin mereka bisa memanjat setinggi itu, tapi mata Rian beralih kelubang yang terbuat dari besi. Lebih tepatnya jalan untuk keluar dan masuknya anjing sii paman.


Karena tubuh mereka masih kecil. Sepertinya muat untuk mereka lewati.


“Ayo dek. Kita lewat sini.” Ucapnya sembari mendorong adiknya untuk pergi duluan.


“Ih kakak. Nanti luka lagi, liat besinya tajem-tajem.” Jawab Rani takut.


“Cepet dek. Kamu pasti bisa, nanti kita ketahuan paman.” Ucap Rian.


“Nggak mau. Itu jalan untuk anjing kak.” Rani menolak keras. Lubang itu sangat kecil, ditambah disisi-sisinya ada banyak besi yang tertancap, pastilah akan menggoresi tubuh mereka jika lewat sana.


“Diem..” Gumamnya saat Rani meringis perih karena tubuhnya terluka. Saat Rani sudah keluar ia mengikuti Rani dari belakang. Untunglah mereka tak ketahuan, sepertinya istri pamannya memang setuju jika mereka pergi. Buktinya saat ini ia tak peduli padahal Rian tau jika bibinya itu tau jika Rian dan Rani pergi.


Sesudah kejadian itu membuat Rani dan Rian lontang-lantung dijalanan, sudah seharian ini mereka tak makan. Ditambah Rani yang karena cambukan dan luka saat melewati jalan lubang anjing membuatnya demam tinggi. Lapar? Sangat lapar. Membuat Rian mencuri roti disebua warung untuk adiknya. Disaat itulah mereka ditangkap.


Of flashback...


“Hiks hiks...” Rian menangis sesegukan menceritkannya. “Kami tak pernah bertemu ayah dan ibu, bahkan kami tak pernah melihat foto mereka.” Lanjutnya dengan nada pilu.


Air maat Rindu lolos saat mendengar itu, ia menenggelangkan bibirnya. Lagi-lagi ia dihantam kesadaran. Sungguh ia orang yang beruntung dimuka bumi ini. memiliki orang tua yang sayang, memberi apapun yang ia mau serta keras dalam didikan. “Lalu kalian mau kemana setelah ini?” Tanya Rindu.


Rian menggelengkan kepalanya lalu memegang tangan Rindu. “Jangan bawa kami kembali kerumah paman, ku mohon kak. Aku tak mau Rani disiksa lagi.” Pintanya.”Tinggal kan saja kami dijalanan, aku akan berkerja untuk adikku.” Lanjutnya


Rindu tersenyum sembari berfikir. Masa iya dia setega itu membiarkan mereka dijalanan. Rian dan Rani itu anak yang sangat manis, sungguh. Pipi tirus sama sama memiliki lesung pipi, kulit putih meskipun tak terawat. Apa ia membawa keksosan? Lalu siapa yang merawatnya? Apa Diva dan Meme membolehkannya? Senyumnya terbit setelah berfikir keras. “Kalian mau tinggal dipanti asuhan tempat kakak berkerja? Disana ada banyak teman untuk kalian.” Ucap Rindu semangat.


Rian mengerjabkan matanya. “Bolehkah? Apakah disana kami akan disiksa? Apa disana nanti Rani akan kelaparan?” Tanyanya polos.

__ADS_1


Nyit... hati Rindu cubit. Apakah sedalam itu perhatiannya Rian pada kembarannya? “Tidak. Disana kalian akan menemukan banyak teman, banyak saudara. Dan kalian tak akan kelaparan.” Jelasnya.


“Kakak tidak bohong?” Tanya Rian.


Rindu menggelengkan kepalanya. “Tidak..”


“Ayo kita pulang. Aku mau punya teman.” Sahut Rani yang sedari tadi diam. wajahnya penuh dengan semangat.


Rindu terkekeh. “Kamu masih harus dirawat. Besok saja ya.”


“Tidak mau. Aku mau bermain dengan teman. Aku selama ini tak punya teman.” Ucapnya kekeh.


Rindu kembali terdiam. Mau menahan mereka ia juga tak punya uang. Tapi jika mereka pulang, takut mereka sakit lagi. Apa Umii Ira menerima mereka? Tapi Rindu yakin ummi pasti memberi izin. Ia menatap dokter Rey yang sedari tadi diam menyimak saja.


Dokter Rey menatap Rindu juga, ada senyum miris bibirnya, ia juga tak tau harus menjawab apa.


“Ayolah kakak. Aku mau bermain, aku sehat kok.” Bujuk Rani dengan mata penuh harap.


Rindu menghela nafas. “Yasudah. Kalian bersiap-siaplah. Kakak keadministrasi dulu.” Putus Rindu.


“Tapi kakak nggak ninggalin kamikan dipanti?” Tanya Rian.


Rindu menatap Rian dengan senyuman. “Nggak kok. Tapi kakak nggak bisa disana setiap hari. Kakak harus kerja setiap harinya. Tapi kalian akan aman kok disana.” Jawabnya.


“Janji?” Ia memamerkan kelingkingnya. Tanpa banyak bicara Rindu menyambar kelingkin itu dengan kelingkingnya dan mengaitkannya. “Insyaallah ya.”


.


.


.


.


Bentar **Lagi ada konflik kok. Tenang. Masih beberapa bab lagi...


Met Id Fitri semua.

__ADS_1


mohon maaf lahir dan batin ya..


Like komen dan vote ya**...


__ADS_2