
Hendarawn dapat mendengar kata-kata itu dengan syair ketulusan, dihunuskan dengan hati, dan dilafaskan penuh penjiwaan. Ia bahkan dapat metasakan rasa yang mendalam meskipun ucapan itu hanya singkat. “Saya punya syarat untuk kamu jika mau saya maafkan.” Ujarnya.
Rindu mendengar itu mendongak menatap pak Hendrawan, hanya dua detik lalu kembali menunduk.” Apa itu? Jika saya mampu, maka saya akan lakukan demi maaf bapak.” Ujarnya.
Hendrawan tersenyum tipis. Jarak mereka hanya dihalangi meja makan para pembantu. Jika diukur sejauh empat meter saja. “ Saya mau kamu bantu keluarga saya toubat..” Ia menitihkan air matanya.” Bantu kami kejalan Allah swt, bantu kami untuk mengenal agama lebih dalam lagi dan maafkan saya yang sudah memfitnah kamu...” Ia menghapuskan air matanya pelan karena terlalu membawah perasaan, entah lah, lafas ini sedikit menyayat hatinya. ada rasa beban yang hilang setelah mengataknnya. Tapi ia tak tau apa itu.
Ia sudah fikirkan hal ini, semua penuturan Rindu. mulai dari makam ibunya, sholat, kecelakaan, almarhum putrinya dan permintaan anaknya. Ternyata ia memang sudah sangat jauh meningalkan Tuhannya. Ia bahkan sudah tak pantas mengatakan jika ia punya Tuhan, sebab ia sudah sangat jauh meningalkan Tuhannya.
Rindu mendengar itu mendongak.” Maksud tuan?” Tanyanya pelan.
Hendrawan tersenyum tipis.” Saya sadar ketinggalan saya selama ini, saya terlalu lupa jika saya punya Tuhan untuk disembah, saya lupa jika sajadah menungguhku dirumah, dan saya lupa jika Al-Quran lebih penting dari pada dokumen-dokumen saya. Saya juga sudah lupa jika matinya saya hanya satu kali tapi saya menyia-nyiakan kesempatan untuk menyiapkan kematian saya.” Ia memberi jeda sejenak karena kehabisan nafas. “ Saya mau kamu mengajarkan keluarga saya agama, sebab saya mau kembali dijalan Allah sebelum saya menghadapnya.”
“Tapi apakah saya masih pantas untuk menyebutnya Tuhan? Sedangkan saya tak pernah menyembahnya? Apakah saya masih pantas mengatakan jika saya mau bertoubat sedangkan saya sudah berlumburan dosa? Saya merasa jika saya tak pantas Rindu..” Ia menggeleng kuat dengan harapannya. Ia rasa jantungnya dihantam batu besar. Sangat sait dan sesak. Sangat susah dijelaskan. Kesalahnnya terlalu fatal saat ini. ia meninggalkan Tuhannya bukan hanya satu hari atau dua hari, satu tahun atau lima tahun. Tapi sedari ia kecil, sedari ia lahir, dan sampai ia tua ia tak mengenal tuhannya, sedari ia kecil ia tak pernah tau. Ia bagaikan Atheis berbalut Islam.
Rindu menggeleng. “ Saya juga gitu. Saya suka tauran, saya juga pernah bunuh orang, saya suka membantah dan membuat orang tua saya marah. Saya pembangkang dan saya pemberontak. Tapi saya masih punya satu kepercayaan, yaitu Tuhan menunggu saya untuk kembali bersujud dan kembali kepangkuannya. “ Rindu berusaha tegar supaya tak menangis saat ini. “ Saya tau jika dosa saya dibandingkan dengan buih lautan, maka saya tak akan dapat membedakannya tuan, tapi saya masih punya kepercayaan jika saya bisa menghilangkan buih itu meskipun hanya sedikit, setidaknya saya sudah berusaha.”
“Saya bukan Tuhan yang tau apakah toubat kita bisa diterima atau tidak, tapi kita sebagai makhluknya, kenapa kita bisa takut dan tak percaya akan Toubat kita. Jika kita masih meminta jika Tuhan menerima Toubat kita, berarti ita pamri dan meminta pembalasan. Yang harus kita lalukan hanya bertoubat dengan khusuk dan dengan hati. mari pak kita sama-sama memperbaiki diri.”
Hendrawan mengerjab.” Kamu pernah bunuh orang?” Tanyanya terkejut.
Rindu terkekeh. ia mengangguk.” Bahkan saya lupa seberapa banyak saya menyakiti orang lain. saya tak sebaik yang bapak kira kok.” Ujarnya pelan.
Hendrawan mengangguk.” Jadi kamu maukan bantu keluarga saya Hijrah?” Tanyanya pelan.
Rindu mengangguk.” Saya mau tuan., tapi untuk para laki-laki alagkah baiknya mencari ustadz saja, sebab itu bukan jalur saya....”
Hendrawan mengangguk. “Terimakasih Rindu. terimakasih karena sudah menyadarkan kami, terimakasih sudah membuka pikiran kami..” Ujarnya pelan.
“Ahh... Dad ngajakin melow ih..” Hewndrawan tersentak saat Ify memeluknya dari belakang.
Rindu terkekeh. ia sebenarnya tak tau ada mereka, tapi melihat Ify mengintip tadi membuat ia sadar. Jadilah sat ini ada Yohan. Panji, Nina, semuanya menangis mendengar akan hal itu. “ Makasih ya Rindu... Mkakasih buat semuanya... Loe ngerubah segalaanya dikeluarga kita...” Ify memeluk Rindu kencang.
Baru pertama kali Rindu menerima pelukan seseorang. Ia membalas pelukan Ify dengan lembut. “ Makasih ya Rindu. saya juga mau belajar agama diusia yang sudah tak muda ini...” Yohan angkat bicara pada Rindu.
Rindu mengangguk.” Terimakasih juga karena sudah mau memaafkan Rindu..” Ujarnya lembut.
Jadilah acara peluk-pelukan, acara melow melowan. Mereka menyadarkan satu sama lain. namun ada tatapan berbeda dimata Habib. ‘Terimakasih Rindu. sebab kau sudah menjadi lampion dikeluargaku. Kau sudah membawa cahaya dikeluargaku. Ku harap kau selalu bercahaya dikeluargaku, dan kelak akan menjadi keluarga kau juga’
...
“Jadi Rindu. apa yang harus kita lakukan pertama-tama bertoubat dan Hijrah?” Tanya Sarah antusia, dia diatas tenpat tidur dengan Ify yang maih diam ditenpatnya ia disamping ibunya. Disana juga ada Nayla, dan Nina. Tapi yang paling antusia untuk berubah saat ini adalah Sarah dan juga Ify mungkin karena musibah kemarin membuat merka takut akan kematian, atau mungkin karena mereka sudah merasakan hidaya. Kadang memang benar. Kita harus diberi musibah terlebih dahulu supaya kita sadar jika kita sudah meningalkan Tuhan?
Rindu mendekat lalu memikirkan suatu hal. “Sudah berapa lama kalian tidak sholat?” Tanya Rndu pada mereka.
Sontak saja Sarah terdiam dan melihat anaknya. “Lebaran tujuh tahun yang lalu..” Jawabnya sedih.
Bungkam.
Rindu tak mampu menjawab, ini sudah sangat jauh ternyata. “Jika begitu kita harus melafaskan syahadat kembali untuk mengembalikan diri kita dijalan Allah. kita mulai dengan yang baru, kita hidup dengan yang baru. Setelahnya kita sholat bertaubat,” Jawab Rindu.
__ADS_1
Benar bukan? Sudah sangat diragukan lagi keiaslaman kita jika sudah sejauh itu. Sebenarnya tak ada hukumnya, tapi Rindu hanya mau mereka memulai dengan yang baru dan mengklam mereka baru masuk dan memulai sedari awal.
“Jibab?” Cicit Sarah pada Rindu takut.
Rindu mengerutan keningnya. Ia tak dipersilahkan duduk ya.. ingatkan itu, sakit sekali rasanya. “ Jika saya mau menggunakan Jilbab bolehkah?” Tanyanya lagi takut.
Rindu mengangguk.” Kewajiban...” Jawabnya singkat. “Jilbab itu adalah suatu kewajiban bagi bumat muslim. Tapi jika ibu mau menggunakan jilbab hanya karena kepala itu yang botak itu sudah menyalahkan arti. Lebih baik menggunakan dari hati supaya ber'arti..”
Sarah menelan Salova kering. Ternyata Rindu tau alasannya ia mau menggunakan jilbab. Ia tau Sarah mau menggunakan jilbab karena mau menutupi kepalanya yang botak. “ Jika ibu mau menggunakan jilbab hanya untuk menutupi kejelekan ibu, atau mau mempercantik diri, maka jilbab itu tak akan bertahan lama. Jika suatu saat rambut ibu sudah panjang dan kembali cantik, saya bisa jamin ibu pasti akan tergiur kembali membuka jilbab.” Ujar Rindu lagi.
“Jangan sotoy. Nggak usah sok Cenayang..” Sembur Nayla. sedangkan Nina hanya diam saja.
Rindu menatap Nayla datar.” Saya menggunakan jilbab dari kelas Satu SMP. Saat itu saya anak perempuan satu-satunya yang menggunakan jilbab dari semua siswa. Saya menggunakan jilbab itu dari pertama masuk setelah mos membuat semua orang mengatakan saya sok alim. Beda dengan zaman sekarang, jilbab sudah biasa dikalangan kita. sudah menjadi Fashion dan menjadi trandee. Jilbab sebenarnya sudah disalah gunakan dan sudah tak sama dengan artinya.”
(Sebenarnya kata Jilbab saya gunakan karena jilbab itu kata sehari-hari kita ya. Dan arti jilbab itu adalah kain yang menutupi seluruh tubuh. Seharusnya menggunakan kata Khimar, tapi saya lebih kekata sehari-hari supaya tetap mudah dimengerti)
“ Saat temen saya main kerumah, mereka kira rambut saya kriting atau ikal, karenanya saya mau menggunakan jilbab. Tapi saat itu juga mereka mengatakan jika saya tak menggunakan jilbab jauh lebih cantik. Dan pada akhirnya saya hampir goya.. Saat saya mau melepaskan jilbab saya, Abi saya bilang. Kadang kita enggak perlu cantik didunia, sebab cantik didunia bakal luntur juga. Saat ini memang teman kamu bilang kamu cantik kalo engak pakek jilbab, tapi jika kamu lepas jilbab kamu maka mereka akan bilang kamu munafik dan sok baik, Keburukan dan kekurangan kita memang selalu dicari oleh manusia... “
“Jilbab itu bukan Kulkas atau pintu yang dengan mudahnya kita pasang lalu tutup. Jadi jika kamu memang belum mampu berhijab secara mantab, jangan sampai kita mempermalukan agama kita dan juga diri kita sendiri. Dan semenjak itu saya tak pernah melepas jibab saya. “ Ujar Rindu lagi.
Ify dan keluarganya diam lagi. Rindu tak tau harus menjawa apa, sebab Sarah berjilbab bukan karena hati, tapi menurut Rindu berjilbab itu memang harus dari hati. tidak meski hati bersih tapi jilbab ituu memang wajib, kewajiban. Tapi jika kita menggunakan jilbab yang hanya menutupkan kejelekan akan membuat kita sendiri salah.
Banyak yang bilang yang penting jilbab in kepala dulu baru hatinya. Namun menurut Rindu yang jilbabkan itu harusnya hati terlebih dahulu. sebab jika hati itu mudah goya, mudah sekali membolak balikkannya. Bukankah kita perlu dikuatkan dulu baru baru melanjutkan langkahnya? Sebab jilbab bukan mainan yang dengan mudahnya kita permainkan dengan senang hati... Sungguh, berjilbab itu harus didahului dengan hati....
“Gue sii belum mau pakek jilbab. Soalnya gue memang belum siap dan juga gue masih mau cantik-cantik..” Ujar Nayla memecah keheningan.
“Maksud loe?” Tanya Nayla masih belum nyambung.
“Maksud gue ya gue berjilbab bukan untuk diri gue sendiri. Diibaratkan itu, satu langkah gue keluar dari rumah tanpa menutup aurat gue, sama dengan gue mendorong ayah dan abang gue masuk neraka. Jadi saat gue ngelakuin hal itu bukan berefek Cuma buat gue, tapi juga untuk orang tua gue. ayah gue rajin sholat, ia taat agama, lucu aja nanti pas di akhirat dia masuk neraka gara-gara gue yang ngak ada akhlak. Gue terlalu sayang buat ngegeret ayah gue masuk neraka.” Ia terkekeh geli. “ Cukup dia nanggung dosa dia aja, nanggung beratnya ngurus gue aja, jangan sampai nanggung dosa gue juga. Ditambah lagi buat kita yang sudah bersuami. Maka kita bakal gerek suami kita juga buat masuk neraka. Dan gue engak mau orang yang gue sayang masuk neraka.”
Ayahnya Rindu memang pandai dalam agama, imam didesanya. Ia juga membimbing Rindu sangat ketat akan agama. Ia bahkan membimbing Rindu dengan keras supaya Rindu mau belajar agama. dipukul, disumpal mulutnya, ditampar bahkan ayahnya pernah mengejar Rindu menggunakan rotan supaya Rindu mau belajar ngaji. ia suka menyiram wajah Rindu dengan air saat ia malas bangun sholat subuh, saat siang ia akan membecut atau memukul sengan ranting kayu. Sungguh. orang tua Rindu sangat kejam jika berurusan dengan agama dan Rindulah yang paling banyak mendapatkan siksaan dalam belajar karena ialah yang paling malas da pemberontak. Tak jarang Rindu kabur karena malas.....
Mulut Rindu bahkan pernah dipukul seratus kali menggunakan rotan oleh abinya saat Rindu marah pada abangnya dan memamggil abangnya dengan sebutan "Anjing dan keparattt..." Bibirnya sampai berdarah karena hukuman itu.
Rindu juga pernah tak diberi makan dua hari dan dua malam saat orang tuanya tau jika Rindu mencuri buah mangga tetangga. Ayahnya sangat keras....
Nayla diam. ada rasa sedikit menyayat dihatinya. Rindu bergera dengan kain didalam jilbab lebarnya. Ia mengeluarkannya. Sedari tadi ia menyembunyikannya karena ia mau mengeluarkan diwaktu yang tepat. Jilbab itu memang tak nampak sebab jilbab Rindu sangat lebar. “Jilbab itu diibaratkan permen dibungkus, kalo permen enggak dibungkus pasti bakal banyak yang deketin dan ngambil manisnya sedidkit demi sedikit dan pada kenyataanya kita sendiri yang rugi. Atau jika saya kasih kalian pilihan, jika saya kasih dua permen yang udah dibuka sama yang masih dibungkus kalian mau pilih mana?” Tanyanya.
“Yang dibungkus sii.” Cicit Ify talut. Ia menunduk takut saat ini.
Rindu menganguk.” Gue dukung apapun keputusan kalian. mau kalian pakek jilbab buat nutupin kejelekan kalian, mau nutupin karena botak. Tapi gue harap semoga jilbab itu memang dari hati, supaya jilbabnya tahan lama, bukan sesaat. Saya dukung apapun itu. Kalian tau? Berjilbab itu mudah, tinggal dililit atau dikat saja, dikasih jrum pentul jadi deh... tapi yang berat itu mempertahankan dan istiqomanya. Sebab banyak diluar sana berjilbabnya bisa dihitung jari, karena engak mampu buat mempertahanin jilbabnya.”
“Dunia luar terlalu berat buat orang yang memang enggak punya prinsip. Jika jilbab Cuma karena niat tapi enggak dari hati. maka kata orang jauh lebih berati(Pendapat orang). Jadi, lebih baik kalian menguatkan hati terlebih dahulu sebelum kalian PHP in Allah. Di PHPin itu sakitkan?
Mereka saling lirik. Ada hantaman besar dihatinya Sarah, malu dirinya. Sakit hatinya. tapi ia tak bisa menjawab apa-apa. Yang ia tau sekarang harus mengintrofeksi diri. Ia harus melihat dirinya, apakah yang diucapkan Rindu benar? Sedangkan Nayla masih mencerna ucapan Rindu. ia sayang ayahnya dan abangnya, ia tak mau mereka masuk neraka.
“Saya taruh disini saja ya jilbabnya. Ini jilbab saya dulu sebelum saya pakek Niqob, jilbabnya enggak terlalu panjang dan engak tipis, buat pemula ini lebih baik.” Ujar Rindu meletakkan jilbabnya disamping Sarah.
“Kok tebel banget? Biasanya tipis Rin.” Ujar Nayla melihat jilbab itu. Ia memegag dasar jilbab itu. Jilbab berdasar wolfis.
__ADS_1
Rindu tersenyum tipis. “Kalo tipis bukan jilbab namanya. Jilbabkan mau nutupin rambut sama telinga. Kalian mau berjilbab atau mau mengunaan kain? Dan jangan lupa Ciput jilbabnya ya. Supaya nanti rambutnya enggak kelihatan kalo kalo kalian mau beli peralatanya.” Ujarnya lagi.
Jilbab tipis itu jilbab terawang ya...
Sampai detik ini ia tak ditawarkan untuk duduk sedangkan kakinya sudah keram. “Jika begitu saya permisi. Nanti mungkin kalian rapatkan lagi aja, mau syahadat lagi atau engak. Mau berhijab atau enggak. Saya permisi keluar ya.. Assalamu’alaikum.”
Rindu meningalan mereka yang sama sama melirik satu sama lain. lalu mendesah.
Sedangkan Ify diam menatap jilbab itu, ia sudah sangat mantap untuk menggunakan jilbab saat ini. hatinya sudah sangat yakin untuk Hijrah.. bahkan ada air mata yang mengelinding dipipinya.’Aku pasti bisa. Bantu aku YaRob’’ gumamnya dalam hati.
Sedari tadi Rindu menggunakan dua bahasa yaitu ‘Saya-kamu’ dan ‘Loe-Gue’ bukan salah penulisan ya. Disini Rindu menggunakan bahasa formal untuk Nina dan Sarah, sedangkan dengan Nayla ia menggunakan bahasa gaul. Ia hanya menyesuaikan keadaan dan orang lain. sebab menurutnya kita butuh persamaan supaya saling mengerti, salah satunya bahasa.
...
“MORNING All...” Teriak Nayla menuruni tanganya. Ia menatap keluarganya penuh dengan senyumnya.
“Morning Darrling... Ayo ikut sarapan..” Ujar Panji saat Nayla mengecup pipinya.
“Ify mana?” Tanya Nina disana. Disana sudah ada Hendrawan, ada Yohan sebagai kepala keluarga, ada Sarah dan ada Habib. Hanya saja mereka fokus dengan makanannya.
“Engak tau. Mungkin lagi siap-siap..” Ujar Nayla mengambil duduk disamping Habib. Ify sudah memasuki bangku kulianya hari ini. karena kejadian satu minggu yang lalu.
Keluarga Habib sudah melakukan syahadat kembali dan tentunya belum terlalu berubah. Mereka masih belum berjilbab semejak Rindu peringati. Sedangkan yang lain juga masih belajar sholat dengan ustadz yang memang sudah disewa oleh Yohan. Ia akan cerama tiga hari sekali.
“Ini Tuan. Roti bakarnya...” Ujar Rindu. ia menahan batuknya karena rasa sakitnya. Tak ada yang tau akan hal itu. Ia meletakkan roti itu dipiring Habib lembut.
Habib tersenyum lembut.” Terimakasih Rindu calon istrinya saya.” Ujarnya mengoda Rindu.
Nayla yang mau memakan nasi gorengnya sekarang mengaga tak jadi memasuki nasi gorengnya. Ia menatap Habib dengan alis terangkat satu. Tapi keheningan terpecahkan dengan suara orang.
“Assalau’alaikum...”
Satu ucapan dan sapaan yang tak penah terdengar dari keluarga Hollmas. Sapaan biasanya seperti Morrning... Pagi san apaoun itu...
Semua mengalihkan pandangan pada gadis cantik yang baru turun dari tangga. Gamis panjang menutupi seluruh tubuhnya berwarna ping bunga bunga. Jilbab abu-abu senada dengan corak bunga disana. Ia tersenyum manis menatap keluarganya. Dia Ify..
Rindu melihat itu tersenym manis. Ia bahagia, ternyata ia berguna dimuka bumi ini. ify yang melihat Rindu tertawa sembari menangis sekarang menghampiri Rindu lalu memeluknya.
.
.
.
.
.
Come back... Sorry yey kalo enggak seduai harapan... Jangan lupa like komen and vote yey
__ADS_1