
...Dibawah adegan mengandung bawang.. Yang ngetik aja nangis enggak tau deh yang baca.. dan Eps yang kalian tunggu....
.
.
.
“Mbak belum mau keluar atuh?” Suara supir itu mengagetkan Rindu yang masih menatap rumahnya nanar sekaligius takut itu. Ia sudah risih karena sudah sepuluh menit Rindu belum juga turun dari mobilnya.” Apa kita salah alamat mbak?” Tanyanya takut. Bisa jadikan salah alamat mangkanya sang penumpangnya itu tak juga turun.. padahal dari tadi Rindu bahkan sudah turun beberapa kali hanya untuk sholat.
Rindu menatap supir itu dengan nanar dan rasa bersalahnya karena sudah membuat sang supir menunggunya terlalu lama disini.
Ia menghela nafas sebentar untuk membuang rasa gugupnya. Ia mengusap dadanmya dan menarik nafas dari hidung dan mengeluarkanya dari mulut untuk menghilangkan rasa gugup. Namun nyatanya masih tetap gugup dan takut membuat ia menatap nanar supir yang menatapnya meminta penjelasan itu. “ Ini alamatnya bener kok pak.”Ujarnya kepada supir itu dengan rasa bersalahnya.
Rindu tak boleh egois membuat ia membuka pintunya sesegera dan memberanikan diri untuk turun, jantung Rindu kembali berdetak tak berirama sekarang dikalah memijakkan kakinya ditanah kelahirannya ini, tangannya bahkan sudah basah hanya karena keringat dingin. “Terimakasih ya pak. ,maaf merepotkan..”Ujar Rindu menutupi pintu mobilnya.
Supir itupun mengangguk kepada Rindu, bayaranya sudah dibayar diawal ya sama Rindu mengenakan aplikasinya. Setelah itu ia mengambilk koper Rindu dibagasi dan menghampiri Rindu.” Sama sama atuh.. nanti kalo butuh saya hubungi saya lagi aja ya.. dengan nomor yang mudah dihafal. Yaitu 089192939459… Jadi nanti saya akan segera meluncur dimanapun mbak berada. Saya siap siaga kok mbak demi anak dan istri saya dirumah.”Ujarnya dengan ramahnya.
Rindu merasa berdosa terlah berzhu'uzon kepada bapak ini, ternyata bapaknya baik banget, ia bahkan masih sangat muda tapi tak ada rasa malunya untuk mengatakan jika ia sudah punya istri dan anak.. Rindu bisa tebak jika dia umurnya mungkin baru 19tahun seumuran dengannya. Dan berarti dia nikah muda.
“Iya mbak saya nikah muda..”Rindu terkejut dibuatnya ketika bapak itu malah mengetahui isi pikiranya.” Soalnya kebablasan pas SMA Heheh dan sekarang anak saya tu cewek udah umur 4tahun.”Ujarnya kepada Rindu membuat Rindu mengerjab.” Dan saya anak Indigo sedari kecil dan kelebihan saya bisa membaca pikiran oranmg lain..”Ujarnya kepada Rindu lagi.
“Yaudah kalo gitu saya pergi dulu ya mbak.. makasih orederannya. dan ini kartu mama saya.. Salam sejahtera semoga berjumpa lagi.” Ujarnya lalu tersenyum meninggalkan Rindu yang bengong disana, mana kepala pusing dan sekarang ia harus berfikir yang diucapkan oleh dia tadi. Rindu menggelengkan kepalanya melihat mobil ojol itu berlalu didepannya.
“Ri Rindu?”
Dugh.. Rindu merasakan jantungnya terasa mau jatuh saat ini dikalah namanya dipanggil.. siapa itu? Demi apapun Rindu sangat gugup membuatnya, ia meremas gagang koper miliknya itu kuat. Ia masih belum siap tapi diharuskan untuk siap.
“Rindu kamu kan itu?” Tanyanya lagi membuat Rindu mengenali suara itu. Rindu berbalik dan menatap seseorang itu dengan sendunya lalu menunduk.. air matanya jatuh saat uni menatap betapa kacaunya orang didepannya ini.
“Yaallah dekk.. abang nyari kamu dimana-mana.. Hiks hiks..” Ya.. dia Rasyid.. Dia langsung menghampiri Rindu dan memeluknya erat sampai Rindu melayang dibuatnya. Rasyid sangat merindukan Rindu membuat Rindu membalas pelukan kakaknya yang hangat itu tak kalah erat.
Ya.. dari tadi Rasyid melihat mobil yang disewa Rindu itu curiga, ia pikir tadi itu penculik yang ingin menculik adiknya yang paling kecil, tapi ketika melihat seseorang berniqob keluar membuat ia terkejut, dimana ada koper dan juga seseorang yang tubuhnya sangat familiar dimatanya membuat ia mendekat dan melihat secara dekat sekali…
__ADS_1
Rasyid menggusuk kepala Rindu sayang mengabaikan lalu lalang yang melihatnya heran.” Dek maafin abang ya enggak bisa jagain adek.. padahal abang udah janji buat jagain adek.. hiks hiks.. abang gagal.” Ujarnya menangis dibahunya Rindu padahal tingginya jauh diatas Rindu..
Rindu tak menangis karena ia sudah lelah menangis sekarang. Ia mengusap bahu abangnya dengan lembut.” Abang tidak bersalah.. tapi disini Rindu yang bersalah.. lagipula dengan kesalahannya Rindu bukankah Rindu menjadi anak yang lebih kuat?” Tanya Rindu tulus.” Seenggaknya abang selalu ada kok buat Rindu.. maaf ya bang, Rindu enggak bisa hubungin abang soalnya Rindu enggak tau nomor abang, abang terlalu sering gonta ganti nomor hape si.”Ujar Rindu tersenyum lembut kepada adiknya itu.
Rasyid masih menangis disana.”Ya abang janji enggak akan gonta ganti kartu lagi.. tapi kamu juga janji ya jangan pergi lagi.. kalo Abi marah nanti biar abang cari uang dan kita sewa rumah lain, nanti biar kamu tinggal sama abang aja..”Ujarnya sedih kepada Rindu.” Abang yang biayain kamu kulia lagi, abang yang peluk kamu.. abang enggak akan biayarin kamu berjuang sendiri lagi Rindu.. kamu udah terlalu lama menderita..:”Ujar Rasyid menangis.
Rasyid bahkan mengeluarkan dompetnya yang berisihkan dua buah kartu dan menunjukkannya kepada Rindu.. ” Selama kamu pergi abang udah nabung kok.. kemarin abang udah juara balap dua kali dan insyaallah cukup buat kita beli satu rumah dan untuk makan beberapa hari. Buat seterusnya biar abang berusaha buat nyari uang. Biar abang cari Rindu asalkan kamu sama abang ya.. jangan pergi lagi ya.” Ujarnya pada Rindu dengan polosnya mengent8u tangan ramping Rindu yang dibungkus dengan sarum tangan hitam itu.
Rindu terharu mendengarnya membuat air matanya jatuh juga, ternyata air matanya sangat cengeng jika masalah hal begini… Ia memeluk abangnya itu lalu meletakkan kepalanya didada abangnya membuat Rasyid mendekap kepala Rindu dan mencium kepalanya sayang. Rindu tak bisa berkata-kata apapun lagi, ia seakan membisu saat ini.
“ Yaudah yuk masuk.”Ujarnya kepada Rindu membuyar Rindu tertahan menatap perkarangan rumahnya itu. Rasyid disana menatap Rindu dengan ibah membuat ia menarik tangan Rindu dan berkata.”Enggak apa-apa kok. Didalam ada abi dan Umi.. kalo mereka marah dan pukul kamu biar abang yang lindungin kamu.. abang janji.”Ujarnya kepada Rindu menguatkanya itu.
Rindu tetap diam sebentar disana membuat Rasyid paham akan adiknya itu, ia menarik koper Rindu dan berkata. “ Ayok biar abang yang bantuin kaju dan bawain kopernya..”Ujarnya membuat Rindu harus memberanikan diri disana, ia harus memberanikan diri bertemu dengan ayah dan ibunya disana.. Rasyid tau seberapa takutnya Rindu dengan ayahnya dan ibunya sendiri disana.
Rindu berjalan pelan menuju pintu rumahnya yang berwarna coklat itu, didepan rumah Rindu tidak ada pagar hanya saja disana banyak sekali tumbuhan dan tanamanya.. Disana ada Caca yang menatap Rasyid dan Rindu, adiknya Rindu. Ia menatap Rindu dengan tanda Tanya, siapakan gerangan? Rindu memang tak terlalu menyayangi Caca dan tak terlalu dekat, tau alasanya? Karena ia sadar jika ibunya lebih menyayangi Caca dibandingkan dengan dirinya.
“Assalamu’alaikum Umi.. Abbbii.. Rindu pulang..” Teriaknya Rasyid dirumah itu riang sedangkan Rindu hanya menunduk takut disana. Ia bahkan meremas tangan Rasyid lebih erat lagi. Belum apa-apa tapi air matanya sudah jatuh, bagaimana ini pemirsa… Rasyid mengusap tangan adiknya itu lembut untuk menyalurkan rasa nyaman dan tenang disana..
Sampai pada Umi dan Abi Rindu yang ternyata didalam sana sembari membaca buku itu menatap kedatangan Rindu dan Rasyid, mereka sedang diruangan mushola disana membuat Rindu menunduk semakin menunduk dan memejamkan matanya karena takut.
Akan mereka tak merindukan Rindu.?
“Assalamu’alaikum Abbi.. Umii..”Ujar Rindu dengan gugup dan takut.., namun suaranya bahkan sudah bergetar sekarang karena entah kenapa air matanya jatuh saja tanpa diminta bahkan disakiti sekalipun. Efek takut atau apa ini?
Abib Rindu menatap Rindu dengan tatapan tak terbaca sama sekali, tapi ia cukup kaget akan Rindu yang sudah mengenakan cadar disana, bahkan sangat tertutup membuat siapapun tak akan mengenalinya, ia bahkan pangling disana” Waalaikum salam..”Jawab Umiinya Rindu membuat Rindu membuka matanya dan memberanikan diri menatap ayah dan ibunya.
Abib nya Rindu masih tetap diam, entah kenapa tapi Rindu bisa merasakan jika abinya Rindu sangat marah sekarang, tapi ia tak tau kenapa abinya marah? “Kenapa pulang? Bukankah abi sudah bilang, jangan pulang sebelum abi suruh Pulang?” Tanyanya penuh penekanan pada setiap kata-katanya yang ia lontarkan disana.
Dugh.. Rindu merasakan jantungnya menciut dan nafas yang tertahan disana. Ia menunduk takut dibuatnya. Namun ia tak bokeh takut membuat ia menghela nafas.” Karena Rindu mau minta maaf sama abbi dan Ummi.. Rindu.... Rindu kangen Abbi sama Umii.. Rindu hiks hiks. Rindu mau minta maaf.”Jawan Rindu dengan derai air matanya disana.
Rasyid disana menatap abinya tak percaya, apa abinya tak merindukan Rindu sampai-sampai membentak Rindu? Ia mengusap punggung adiknya dan menariknya kedalam pelukanya karena tau adiknya butuh penguat,. Cukup 16tahun saja ia tak peduli dengan adiknya.
Abi Rindu masih diam tak terbaca menatap anak anaknya itu.”Abbi Tanya kenapa pulang Rindu?!! Kenapa pulang?!! Kan abbi udah bilang kamu jangan pulang sebelum abi suruh pulang..!!” Ujarnya lagi dengan membentak lebih keras kepada Rindu.
__ADS_1
Rindu semakin menunduk dibuatnya disana membuat Rasyid kasihan kepada Rindu. “ Abbbi..!! abi kok ngomong gitu si?! Abbi enggak kangen sama Rindu apa ha?!!” Tanyanya Rasyid dengan abbinya itu tak terima. Uminya Rindu bahkan berdiri dan menarik tangan suaminya. Namun abbinya Rindu mengangkat tanganya menyuru semua orang Disana diam.
Abinya Rindu menunjukan pintu itu.”Pergi sekarang!!”Ujarnya. telunjuknya tepat menunjukan pintu dengan mata menatap Rindu tajam. “Cepat pergi saya bilang Rindu…!!”Teriaknya kepada Rindu namun ada sesuatu yang janggal dimata abbinya.
Ada ketakutan yang mendalam didirinya menatap Rindu.
“Enggak..!!” Jawab Rindu tak kalah besar disana dengan air mata yang jatuh, ia mendekati abinya melepaskan Rasyid.”Rindu mau minta maaf abi.. Rindu mau minta maaf sama Abbi sama Umi. Tolong jangan buat Rindu begini. Demi Tuhan Rindu akan pergi sejauh mungkin dari kehidupan umi dan abi sampai kalian tidak akan menemukan Rindu lagi.. tapi dengan syarat kalian harus memaafkan Rindu.” Ujar Rindu dengan jatuh didepan abinya itu.”Rindu mohon abbi maafin Rindu..!”Ujarnya kepada Rindu.
“Keras kepala kamu masih tetap sama Rindu..!”Ujar abinya Rindu menatap arah lain dengan gigi yang bergemuruh.” Gadis pembangkang, pemberontak meski sudah mengenakan cadar sekalipun.. memang benar kjata orang.. buah jatuh tak jauh dari pohonya..”Ujarnya.. lalu ia menggeleng.” Tapi ayah lebih mau kamu pergi dari sini secepatnya Rindu.. itu yang terbaik.”Ujarnya.
“Abbbi…!” Ujarnya Uminya Rindu kepada suaminya.”Enggak apa-apa Abi. Jangan kayak gini.. biar Rindu tau semuanya..!! Jangan menghukum nya lagi.. ” Ujarnya kepada suaminya itu dengan mengusap tangan suaminya namun ditepis oleh isuaminya itu.
“Kamu tau apa Fitri?” Tanyanya kepada istrinya." Kamu tidak tau apa-apa tentang Rindu dan tentang apa yang kamu bicarakan.. “Ujarnya lalu memukul dadanya sendiri kuat.” Saya lebih tau yang mana yang terbaik.. kamu tidak tau apa-apa. Yang saya lakukan demi kebaikan dirinya, bukan untuk saya.. Demi Tuhan Fitri ini yang terbaik untuk Rindu..” Ujarnya dengan bibir yang bergetar pertanda ia sudah menahan tangisnya.
Rindu sudah dipeluk oleh Rasyid disana. Rasyid menatap abinya itu dengan tatapan tajamnya.” Abbi egois tapi masih tetap membawa nama Tuhan..!!” Teriaknya kuat bahkan lebih kuat.” Rindu tidak akan pergi kemana-mana, jika Rindu pergi maka aku akan pergi bersama Rindu..!! “Teriaknya lalu mendekati abinya itu.
Abinya menatap Rasyid dengan tatapan tajamnya. Ia menunjukkan telunjuknya didada abinya itu.” Abi bilang abi tau semua tentang Rindu tapi abbi enggak taukan jika Rindu hancur karena ullah abbi?” Ujarnya dengan geram kepada abinya itu.” Abi bilang dia pemberontak dan pembangkang? Tapi abi sadar tidak jika yang mengajarkanya menjadi pembangkang itu adalah abbi… abi terlalu mengatur hidupnya, harus begini, harus begitu., dia bahkan enggak tau lagi caranya tersenyum tulus karena senyumnya bahkan abi yang mengatur abbi,,!!”Ujarnya penuh penekanan.
Abib Rindu melempar buku ditanganya itu sembaranga arah membuat semuanya terkejut.”Kalian tidak ada yang tau perasaan saya. Tidak..!”Ujarnya membentak disana menatap anaknya itu tajam.” Terserah kalian terserah..!! tapi nanti jangan salahkan saya..!! jangan salahkan saya tentang apapun lagi.. saya memang ayah yang jahat.. egois.. buruuk..!! “Ujarnya membentak lalu pergi dari sana.
Didepan pintu kamarnya ia menatap Rindu dan..
Brakk..
Rasyid terkejut dimnana abbinya itu menendang pintu itu sampai jebol, bayangkan saja sebagaimana emosinya itu membuat Rindu semakin menmangis memukul dadanya yang sakit. Abi Rindu pergi dari sana menuju kamar lain yang tak jebol.
Rindu menatap uminya yang diam saja disana tak memeluknya atau apapun, ia hanya menatap Rindu dengan tatapan tak terbaca, namun Rindu bisa lihat ada kerinduan disana. Hanya Rasyid yang memeluknya.....
.
.
.
__ADS_1
Aakhhh authur mewek..