Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Mimpi kah?


__ADS_3

...Saya memang hina...! Tapi ketika anda menghina saya, saat itu juga anda lebih hina dari pada diri saya. .. NVS31...


.


.


Setelah kejadian itu Rindu masuk kedalam kamarnya sendiri untuk menenangkan dirinya. Ia tau jika Abbinya tak marah, contohnya saja ia tidak dipukul, ia tau abinya itu menyembunyikan suatu hal dan yakin jika pilihan abbinya itu adalah yang terbaik.. Ia tau akan hal itu.. Semua orang boleh bilang jika abbinya jahat dan tegaan kepada anaknya sendiri , tapi dalam hatinya tidak.. Ia tau abbinya menyayanginya melebihi nyawanya sendiri.


“Kamu sekarang istihat aja ya. Nanti kalo udah maggrib abang panggil buat sholat dan makan.. abang tau kamu capek.”Ujarnya Rasyid dengan Rindu disana mengelus kepala Rindu sayang, ia tersenyum tulus disana.”Dan masalah abbi jangan dipikirin ya, kan kamu tau abbi gimana..”Ujarnya kepada Rindu sendu takut adiknya kepikiran.


Rindu menganguk kaku disana kepada kakaknya, matanya sudah sembab sekarang dan entah kemana itu sakit paru-parunya,. Bisa bisanya ia bisa menangis tanpa rasa sakit paru-paru.” Iya bang.. Rindu istirahat dulu ya.”Jawan Rindu membuat Rasyid menganggguk. "Terimakasih ya bang.. " Lanjutnya tulus.


Rasyid menatap Rindu dengan sendu lalu keluar dari kamar itu.”Nanti kalo butuh apa-apa panggil aja, abang dikamar aja kok enggak kemana mana.’'Ujat Rasyid sebelum menutupi pintu Rindu, namun ia memberikan tanda semangat terlebih dahulu untuk adiknya itu.


Sedangkan Rindu menatap kamarnya, yang ternyata kamarnya tetap sama, tetap sama dengan yang sebelumnya. Benar bukan? Abbinya menyayangi dia dna merindukan dia? “Hiks hiks... Abii.” Gumammnya dengan air mata yang mengalir.


Ia mendekati kasurnya yang masih sangat bersih disana pertanda jika selalu dibersihkan, lalu matanya menatap rak buku yang bahkan besarnya lebih dari lemari baju disana. “Heheh..”Gumamnya terkekeh dan tertawa bahagia.. ia bahagia dikalah melihatnya.. Ia tak bisa berkata-kata dikalah melihatnya.. dulu disana hanya setengah terisi karena Rindu tak memiliki banyak uangmu untuk membeli buku banyak-banyak.


Rindu mendekat kelemari bukunya yang sudah terisi penuh disana.. dan disana ada tulisan abbinya yang bertulisan arab itulah dengan tulisan.” Untuk Rinduku.. semoga menjadi anak shaliha terus ya nak…”Itulah artinya.. abbinya tau Rindu menyukai buku, abinya tau Rindu pecinta buku.


Rindu disana melihat ada lagi kertas yang bertuliskan kalimat arab yang tak lain dari tulisan tangan Abinya. “Tetap menjadi pemberontak ya nak.. supaya kelak kau mampu memimpin diri kamu sendiri, bukan orang lain..!!” Rindu terkekeh dibuatnya llau memeluk tulisan itu.


Entah kenapa abbinya menulisnya, mungkin itu untuk dia kelak ketika ia pulang, namun nyatanya ia sudah pulang membuat ia bisa membaca semua tulisan itu. Abbi Rindu memang pandai dalam hurup arab dan hurup gundul. Dan Rindu mempelajari semuanya. Bahkan ayah Rindu juga bisa mengenakan bahasa Manarin.


Tangan Rindu terulur menyentu kaca disana lalu mengusap air matanya. Ia tak paham kenapa ayahnya memenuhi isi lemarinya itu. Disana banyak seklai buku yang Rindu sukai. Apa Rasyid yang membelikanya? Ia rasa bukan, sebab Raysid lebih menyukai mempelajari empat Kitab untuk dipelajari, bukan buku aktivis, pemikiran, filosofi dan sejara. Abangnya bahkan muak melihat buku-buku seperti ini. Katanya mempersulit hidup saja jika semua harus dipikirkan.


Ini pasti ayahnya bukan? Rindu menghapus air matanya melihat buku yang berjudul’The Story Of Java’ Buku yang bahkan harganya sampai dengan satu juta lima ratus ribu rupia, dan ini asli.. Ia dulu meminjam buku temannya untuk membacanya karena tak mampu membelinya, Dan sekarang sudah ada membuat ia terkekeh sedih dan bahagia.


Lalu matanya menyusuri buku yang lain, novel yang ia sukai. Gendre islami dan pola pikir ktitis dan sebagainya. Bisa dikatakan jika buku-buku yang mampu membuat orang lain tersesat jika tidak mampu mempelajari dan menelaahnya, namun mampu membuat otak orang lain berjalan lebih kuat dan lebih terbuka lebar.

__ADS_1


Rindu menggigit bibir bawahnya melihat semuanya disana.. puluhan buku baru yang ia sukai ada disana, mulai dari novel dan sebagainya. Sampai pada hakikatnya seorang wanita membuat ia mnggigit jarinya sendiri tak percaya.” Abbi baikan sama Rindu? Tapi kenapa abbi buat Rindu kayak gini? Rindu tau abbi yang lebih tau Rindu bi..”Ujar Rindu lalu terduduk dikursi dimana tempat ia suka memba buku biasa..


Lalu ia buka cadarnya menampilkan mukanya yang hampir bengkak itu lalu mengusap ingusnya.. ia membuka lemarinya dan kembali dikejutkan.. jika sudah diisikan dengan gamis-gamis disana dan celana kulot, tak lagi ada jins sobek sobek miliknya, sudah tak ada lagi semua permak pernik seperti lelaki disana. semuanya cantik cantik dan juga tertutup., yang utama adalah longgar membuat Rindu menggigit bibir bawahnya. Ia tak habis pikir kenbapa ia diberi semua ini tapi ia tak dibolehkan kembali oleh abbinya.. ia tak paham dan ia tak bisa berfikir secara realistis.. Jujur saja.. ia tak bisa menebak sedikitpun saat ini.


Ia pergi kekopernya disana lalu mengambil mineral disana untuk minum, ia butuh obat dan makan. Ia belum makan sedari tadi, ia harus mengerti kesehatanya saat ini. Disana ia juga sudah siapkan roti dan juga beberapa makanan yang harus bia makan, lalu meminum pillnya, ia tak bisa berfikir dikalah ia kabut dan bersedih seperti ini, ia harus memfreskan otaknya, baginya berfikir dikalah bersedih sama sama dengan bohong bukan?


Setelah semuanya, ia merasa mengantuk, efek dari menangis dan memimum obat sudah bersatu membuat ia menaiki kasurnya yang lumayan empuk itu, namun tak seempuk kamarnya dirumah Habib, tapi ini tempat ternyaman baginya.. ia tertidur pulas tanpa mengenakan selimut katena ia masih mengenakan gamis hitam miliknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Disisi lain ada sosok paru baya yang menyentuh foto dikamarnya yang tak lain adalah foto Rindu sendiri, pipinya sudah basah disana karena melihat pahatan dimana Rindu tersenyum riangnya memamerkan mendali dan piala ia mendapatkan juara taekwondo itu.. mungkin umurnya sudah masuk dua belas tahun disana tapi sudah mengenakan hijab tanpa diperintahkan sedikitpun olehnya.” Maafin abbi uya Rin.”Gumammnya disana mengusap pipi Rindu disana.


Ia tersenyum piluh disana menmgusapnya itu, “Abi jahat ya? Tapi abbi enggak mau kamu dapet hal yang lebih menyakitkan dari ini Rindu.. abbi seneng banget liat kamu jadi gadis pemberontak.. karena abbi memang mau kamu jadi pemberontak, bukan gadis penurut saja..”Ujarnya mengusap Rindu itu.


“Abbi sayang banget sama Rindu.. Abi kangen aduh Fighting sama Rindu..”Gumamnya jujur.” Tapi abbi lebih enggak mau Rindu pergi, dan abbi enggak mau Rindu benci abbi.” Ujarnya.


“ Hamba mendidiknya dengan cara hamba yang terlalu keras karena ingin membentukkan karakternya supaya menjadi wanita kuat bahkan membuat ia menjadi wanita pemberontak sekalipun, supaya kelak ia tak dibodohi dan bisa menentukan pilihanya sendiri meski dunia sendiri membencinya. Supaya kelak ia tak sama dengan ibunya.. ia memang wanita tapi ia berhak menjadi pemimpin dirinya dimasa depan.,.”Gumamnya mengusap air matanya.


“Dan hamba-hamba belum siap untuk semuanya.. Biarlah hamba Nampak menjadi ayah yang kejam, biarlah… Demi dimasa depan Rindu masih bisa tersenyum dan menikmati karakternya… Biarlah.. supaya kelak ia bisa bahagia dengan pilihan dan kehidupannya. “Gumamnya sakit lalu mengusap pipinya.”Hamba belum siap melihatnya menangis mendengar semua kenyataan yang seharusnya tak ia dengar..”Gumamnya menggeleng disana.


Sampai pada ia memeluk foto Rindu, sang anak tersayangnya, sang anak yang serring ia pukul, ia marahi. Ia jemput disekolahnya hanya karena ia pulang lebih dari jam 5 sore, anak yang selalu mengajarkan ia kedisiplinan dan mengajarkanya keras untuk mengajarkanya mana yang wajib dan mana yang bukan, mana yang harus ia utamakan dan mana yang bukan.


Semua yang ia lakukan tak seperti orang lain fikirkan, ia mendidik Rindu supaya tak keluar malam karena apa? Karena ia tak mau Rindu ada apa-apa. Memang benar itu semua adalah kebebasan, tapi bagi abbi Rindu, kejahatan datang kebanyakan karena ada kesempatan.. Ia menghukum Rindu menulis dengan banyak supaya Rindu jera. Dan yang terakhir.. Ia memeluk Rindu kapan ia harus memukul dan kapan bukan..


Semua orang berfikirnya jahat, semua orang berfikirnya kejam, tapi lihatlah sekarang.. Rindu menjadi gadis yang kuat, bahkan beberapa kali ia dijatuhkan lawan dan beberapa kali mau diperkosa, tapi bagaimana Rindu menyikapinya? Dengan lantang ia berkata bahwa ia lebih memilih putus dan mati asal harga dirinya maish tetap terjaga. Itu didikan siapa? Didikan Abbinya..!! dimana Rindu hampir beberapa kali dibunuh tapi Rindu mampu melawan dengan tenangnya.. itu didikan siapa?didikan Abbinya...!


Dimana ketika Rindu memilih suatu pilihan untuknya, apakah Rindu sama dengan wnaita lainnya? Yang selalu memilih yang menurutnya semenurutnya saja tanpa pikir panjang luasnya? Tidak.. Rindu selalu menelaahnya yang mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang harus diutamakan dan mana yang bukan. Rindu paham karena ia sudah terdidik memilih yang mana yang harus ia gapai karena setiap pilihan yang ia pilih akan ada resikonya.. dan semua itu atas didikan siapa? Itu adalah atas didikan Abbi Rindu....!


Abi Abi.. adam semuanya aabiii....!

__ADS_1


Detik jam terus berjalan seirama dengan Rindu yang masih terlelah dalam mimpinya, dan bertepatan dengan ia merasakan kepalanya dielus dengan lembut membuat matanya berat melihat siapa si pelakunya., karena kelelahan ia masih tetap melanjutkan tidurnya dengan sedikit mengintip dibalik matanyaa. Apakah Rasyid? Ternyata bukan, itu abbinya membuat ia tertegun. Sedang apa abbinya mengelus kepalanya seperti itu?


Disana ada abbi Rindu, sudah dari tadi ia melihat Rindu tidur dikalah semua orang sibuk. Rasyid yang sibuk membantu uminya membereskan rumah dan Uminya masak untuk makan malam. Dimana Caca? Ia main sedari tadi membuat abbinya disana bisa menjenguk Rindu sesukanya.


Abbi Rindu duduk dipinggir kasur dengan menatap lemari Rindu. “Itu buku abi beli karena tau kamu seorang pemikir keras Rindu.. kamu wnaita cerdas dan juga kuat.”Ujarya bercerita,” Lihatlah, ada buku aktivis, rasissi, biografi sampai kenovel dan teknik bela diri abbi beli untuk kamu, semoga kamu suka ya.”Gumamnya, ia tak tau jika Rindu mendengar ucapanya itu.


Lalu matanya meihat lemari yang lain.”Abi juga beli gamis buat kamu karena abi mau kamu menjadi wanita sholeha. wanita tak cukup dengan mengandalkan ilmu saja jika kewajibanya saja belum bisa ditaati.. dan betapa bahagianya abi melihat kamu sudah menutupi diri kamu mengenakan Niqob Rindu.. itu adalah kado terbaik bagi abbi ketika kamu pulang.” Gumamnya dengan menitihkan air matanya.


Rindu? Ia setengah sadar setengah sadar disana, ia tak terlalu melihat karena masihh dialam mimpi membuat Abi Rindu mengusap pipi anaknya itu sayang dan bergumam.” Kamu putri abbi dan akan tetap menjadi putri abi bagaimana pun keadaanya kedepan nanti.. inget ya..!” Ujarnya menunjukan hidung mancung Rindu.”Eh kamu masih tidutrr ya hehe.”Gumamnya terkekeh.


Abi Rindu menatap wajah Rindu yang sekarang mulai kurus itu membuat ia mengernyit.” Kamu kurusan banget ya sekarang… apa disana kamu jarang makan? Apa kamu menderita diluar sana?” Tanyanya lalu menggeleng.” Tapi abbi yakin, dengan kepintaran kamu, dengan kekuatan kamu dan dengan bekal yang abbi kasih selama ini untuk kamu enggak bakal buat kamu terlantar diluar sana.. “Ujarnya terkekeh, ia percaya jika sesoerang punya skil dan kepintaran, kecerdasan maka ia akan tetap bisa berusaha dan berjuang.


Abbinya Rindu menghela nafas sebentar disana lalu mendekati bibirnya dipuncuk kepalanya Rindu sayang, mengecupnya lama disana.” Maafkan abbi yang sayang.. abbi sayang banget sama kamu, tapi maaf jika suatu saat nanti akan ada kekecewaan yang lebih mendalam untuk kamu dengar, tapi satu hal yang harus kamu percaya.. jika abbi sangat menyayangi kamu melebihi nyawa abi sendiri.. abbi sayang banget sama kamu.. jadi wanita kuat dan hebat ya sayang.. Cupp..” Gumamnya disana lalu mengusap pipinya yang basah dan menjatuhkan cairan beningnya dipipi Rindu itu.


Ia menghela nafas lalu bangkit, ia menatap Rindu sebentar lalu mencium pipi kanan dan kiri Rindu sebentar barulah ia pergi,, ia pergi meninggalkan kamar Rindu dengan menutupi pintu kamar Rindu dengan lembut supaya tak menimbulkan bunyi.


“Rindu juga sayang abbi.”Gumam Rindu dikalah tidurnya itu karena ia rasa itu hanya mimpi, ia tersenyum dimimpi indahnya yang tak ingin ia lewatkan itu sampai pada ketukan dikamarnya itu membuyarkan mimpi indahnya.


“Rindu bangun..!! bentar lagi kita sholat magrib loh… “Teriak Rasyid diluar membuat Rindu bangun dari tidurnya dan mengerjab,”Iya..”Gumam Rindu membuat kegaduhan itu berhenti. Rindu menghela nafas dikalah sadar akan yang ia alami tadi mimpi, ia harap mimpi itu tak akan berakhir namun Rasyid membuyarkan semuanya membuat ia mendenngus.


Ia mengusap matanya dan pipinya.


Basah? kok bisa? Lalu ia menatap jarinya yang basah itu membuat ia tertegun?” Tadi aku nangis ya dimimpi? Tapi kok Cuma pipi yang basah? Apa tadi abbi kesini beneran ya? Gumamnya tak paham disana.


.


.


... Ada yang berfikir abinya Rindu jahat? rata rata ya semua berfikir begitu? sahaja Tak apa.. Karena itu sifat alami manusia yang selalu melihat sisi buruknya dan membuang sisi baiknya...!...

__ADS_1


__ADS_2