
“Rindu.. ayo kita makan siang..!!” Habib menyentu Rindu mengunakan ujung pulpen. Ia tau jika Rindu tak mau disentuh tapi ia tak kehilangan akal untuk membangunkannya tanpa menyentu. Awalnya sii ia mau mengunakan air untuk menyipratkannya. Tapi ia takut Rindu marah dan urusannya akan menjadi panjang.
Masa perjuangannya nanti sia sia...
Rindu yang merasakan pipinya dicolek sesuatu membuat ia dengan cepat bangun. Ia terkejut dan juga takut. Takut tragedi Arga dulu menimpanya kembali. Namun ia menghela nafas dikalah melihat waka Habib yang ada didepanya. “Tuan mengagetkan saja..!” Desusnya mengusap matanya untuk membersihkan seuatu. Kalian taulah ya apa yang ia bersihkan.
“Memang kamu pikir diruangan ini ada siapa selain saya hm? Dokter kamu itu?” Tanya Habib mengejek. Iya.. dia tau jika Rindu dekat dengan dokter Rey dan itu mampu membuat ia bagaikan cacing kepanasan. Ia tak suka kedekaan Rindu dan dokter Rey. Saat Rindu sakit dulu saja dokter Rey sangat perhatian pada Rindu meksipun Rindu tak memberikan respon yang berlebihan. Tapi Habib tetap cemburu. Sesaat ia menyesal menjadi pengusaha, ia mau jadi dokter saja supaya bisa berdekatan dengan Rindu.
Rindu mengeleng samar melihat Habib. “Bukan begitu.. sayakan hanya kaget, memangnya kaget bisa direncanakan?” Desisinya Rindu pada Habib.
Habib mengibaskan tanganya.” Sudah-sudah, ayo kita makan saja, Debat manusia tidak penting itu. Jam istirahat kita habis nanti..!”! Ujarnya melirik arloji dilengan kekarnya.
Rindu mendengar itu mengelus perutnya lalu menganguk. Sebenarnya Rindu itu suka puasa senin kamis. Hanya saja Habib tak tau, ia saja awalnya terkejut dikala mau makan, sebab hari ini hari senin. Tapi ia lupa jika ia sedang datang bulan.” Ayok..” Ujar Rindu.” Tapi ajak Filos ya..” jarnya kepada Habib.
Habib memicingkan matanya.” Kenapa harus mengajak Filos? Kamu suka dnegan Filos?” Ia mengangkat alisnya karena terkejut mendengar ujaran sii Rindu. Dasar cemburuan....
Rindu ingin sekali menjitaki kepada Habib. untung masih ingat jika Hbaib adalah bossnya, jika tidak tak cubit ginjalnya. “ Jika berdua itu tidak baik, jadi lebih baik kita ajakin dia aja ya..!!” Ujarnya Rindu pada Habib sebaik dan sesabar mungkin. Habib itu suka sekali mencari jalan supaya bisa berdua duaan. Padahalkan agama kita melarangnya.
Habib menganguk pasrah saja. Rindu tersenyum senang karenanya. Habib membuka pintu mereka diikuti Rindu dibelakangnya. Ia mendatangi Filos yang ruangannya ada didepan ruanganya Habib. Filos memiliki dua ruangan. Satu didepan ruang Habib dan satunya lagi diruang Privasinya. Yang berada disamping ruangan Habib. sesuai tempatnya dan tujuannya. Jika didepan Hbaib itu untuk umum, siapapun bisa mendatanginya. Tapi jika diruangan Privasinya ia tak bisa diganggu kecuali memiliki janji. Dan kebetulan sekali Filos berada disana denga asistenya. Filos sedang berdiri disana dengan menulis sesuatu dkertas.
“Filos... Apa kamu sudah makan?” Filos terkejut ketika pundaknya ditepuk oleh Habib dan tiba-tiba Habib menanyakan ia sudah makan atau belum. sesaat otanya blank bagaikan nyawanya sedang diawang-awang karena kaget. “Woy Filos..!!” Ujar Hbaib lagi karena tak mendapat sahutan.
Rindu menggelengkan kepala melihat itu. Jika Habib menegur secara baik-baik pasti tak akan Filos menjadi orang bodoh seprti itu. Namun boss selalu benar bukan? Filos kembali kedunianya dan menatap Habib penuh tanda tanya. “ Ada apa Tuan?” Tanyanya. Sedangkan asistennya tersenyum melihat dua orang itu.
Habib mendengus.” Saya tanya kamu sudah makan atau belum, kamu tingal jawab iya atau belum, jangan kembali bertanya, saya pusing mau jawab apa soalnya..!”! Ujar Habib sok pusing sendiri. Lah dia yang nanya dia yang pusing. niat nggak sii?
Filos menggeleng kakuh. Baru kali ini Habib menanyakannya sudah makan atau belum. bolehkah ia salting? Ataupun merona malu layaknya orang jatuh cnta? Bukan itu yang Filos rasakan. Ia rasakan dunia jungkir balik saat ini. apakah prediksi kiamat akan segra datang itu benar benar akan terjadi? “ Belum tuan..” Jawabnya jujur.
Habib mendengus mendengarnya. Ia berharap Filos sudah makan tadi.” Ikut saya jika begitu..!!” Ujar Habib menatanya tajam membuat Filos merasa itu adalah satu perintah. Mata Habib menatap asistennya Filos juga membuat sang asistennya menatap Habib takut.” Kamu juga ikut. Supaya dia tidak jadi obat nyamuk nanti.” Ujarnya sinis lalu melangkah.
Asistenya Filos mengerjab tak pagham namun ia cukup senang. Tapi ia juga malu, dan tapi lagi ia tak PD. Akh susah sekali ya..
“Ayo Rindu..!!” Ujar Habib lembut pada Rindu mebuat Filos mendegus. Giliran bicara dengan Rindu saja bagaikan mengelus telur. Takut sekali pecah dan Retak.
Gosip akan hubungan Rindu dan Habib tak perlu diragukan lagi. Habib bukanlah sosok yang sadis layaknya bos biasanya akan mudah membunuh siapapn, menghancurknan perusahaan manapun yang merusak atau mengahancurkannya. Maka keluarga Holmas tidak melakukan hal semacam itu. Mereka memang tegas namun tak membunuh. Apalagi melakukan hal yang curang. Tidak sama sekali. Mereka memang terkenal dingin dan tegas. Itu hanya kedok semata supaya musuh pikir dua kali jika melakukan sesuatu.
__ADS_1
Mereka melesat memasuki restoran tak jauh dari perusahaan Habib. tak jauh juga dari kampusnya Rindu dulu. Rindu menatap hal itu tersenyum rindu pada Vivi dan Gevan. Vivi yang cerewet, yang mempunyai hobby dan sifat ala-ala orang Korea, aksesoris orang Korea, Film-Film orang Korea, lagu-lagu Korea. Ah dia itu sangat menyukai hal yang berbau-bau Korea. Sedangkan Gevan sang pangeran kampus. Dengan wajahnya yang tampan dan manis mampu membius orang-orang yang melihatnya. Namun banyak yang takut akibat ia pernah membunuh orang. Namun Gevan nyatanya punya trauma tersendiri dengan sentuhan orang lain. ya, dia memiliki trauma semacam itu membuat tak semua orang bisa bersentuhannya. Makanya semua orang fikir mereka menjalani hubungan waktu itu.
“Kamu mau pesan apa Rin?” Tanya Habib melihat Rindu yang menatap luar restoran. Tepatnya dekat jalan menuju gerbang kampus membuat Habib yakin Rindu mengingat masa lalunya.
Rindu menatap kedepan lalu menatap menunya. “ Saya mau Pindang kepala kakap, sama nasinya satu. Ayam dada yang pedas level 7 juga dua saja. Hmm seblak sayap satu. minumnya jus avokat..!”! Ujar Rindu tersenyum manis dibalik niqobnya.
Habib dan lainnya menatap Rindu tak percaya.” Kmau bakal habis makan sebanyak itu Rin?” Tanya Fils dan berada disamping Habib. setaunya Rindu tak pernah makan sebanyak itu selama ini.
Rindu mengangguk. “ Saya dulu suka makan disini. Makanannya enak-enak. Saya hanya rindu makan-makanan disini membuat saya memesan itu semua. Lagi pula dulu saat saya dikosan saya jarang masak, jadi ya saya suka makannya disini, beli apa-apa disini. “ Ujarnya menjelaskan. Ya. Rindu memang suka tempat ini. makananya enak, harganya terjangkau. Ia suka disini karena makanannya terasa dan pas dilidahnya.
“Sudah.. biarkan saja.. saya juga mau pesen pak..!”! Ujar sang asisten Filos pada Habib membuat Habib mengangguk ramah. Ia memesan makanannya tak sebanyak Rindu. ia hanya memesan ayam geprek dan juga minum. Akh Rindu melupakan ayam geprek tadi tapi siapa yang akan memakannya jika semua ia pesan. Disini itu lengkap. Ada ayam bakar, ikan bakar dan semuanya. Ia juga sangat menyukai pecel ayam disini. Sebab sambalnya yang cukup pedas dan juga sayur beningnya menambah kesukaan Rindu. akh jika mengungat semua itu Rindu berasa ingin memborongnya semua. Tapi Rindu sadar, jika yang ia pikirkan dan yang ia inginkan itu adalah nafsu belaka. Percayalah., makanan itu hanya sampai ketonggorokan, jika sudah masuk. Maka keluarlah nafsu berlebihan kita.
“Mbak.. kita belum kenalan loo.” Rindu dikejutkan oleh asistennya Filos yang menarik sedikit bajunya membuat ia menoleh. Sebab gadis itu duduk disamping Rindu,
Rindu menganguk samar.” Kenalin. Namaku Arma.. Nama kamu Rindu kan?” Ia menadakan tangannya didepan Rindu dengan senyum yang lebar.
Sruf.. Sruf...
Rindu yang baru saja mau menyentu tangan Arma itu terkeut dilkalah Habib mengemprotkan cairan antiseptik ketangan Arma. “Kamu ngapain sii?” Tanya Rindu terkejut mentap hal itu. Begitu juga Arma mengelus tanganya terkejut.
“Ih tapikan saya tidak corona pak..” Ujar Arma kesal pada Habib.
“Kata siapa? Kamu sudah tes belum? belumkan? Jika calon istri saya kena corona kamu mau tangung jawab ha?” Tanya Habib pada Arma sengit tak mau kalah. sebenarnya Habib hanya melakukan hal yang menurutnya baik. Tanpa pikir perasaan orang lain.
Arma terkejut medengar Habib yang mengatakan Rindu sebagai calonnya. Sedangkan Rindu memutar bola mata malas, kebiasaan Habib memang suka ngada-ngada. Suka ngomong seenak undelnya saja. Tanpa memikir perasaan nama yang ia sangkut pautkan. Filos? Ia juga terkejut, namun mau bertanya tapi ia malas bertanya kalian pernahkan merasakan kepo tapi malas bertanya?
“Yey pak. Tinggal taggung jawab apa susahnya sii pak? Malah saya bersyukur, kalo mbak Rindunya mati karea Corona saya bakal jadi penggantinya. Saya janji pak saya tangung jawab dan mau nikah sama bapak..!”! Ujar Arma mencelos tanpa memikir sesuatu saja.
Rindu tersenyum dibalik niqobnya sata mendengar itu.” Ngomong apa kamu? Ngomong itu dipikir dulu dong. Jangan asal biacara kamu, kamu nyumpahin calon saya mati?” Habib sedikit membentak mendengar hal itu..” Lagaipula kamu yang mau nikah sama saya. Saya mah oggah nikah sama kamu. Kamu nunggu aja hujan emas baru saya bakal nikah sama kamu..!!” Ujarnya sinis.
Arma menepuk tangan Habib diatas meja membuat habib terkejut lalu menjauhkan tangannya.” Yey bapak mah suka ngada ngada. Kalo udah hujan mas saya nggak bakal mau nikah sama bapak. Soalnya saya udah jadi orang kaya. Sayakan mau nikahnya sama bapak karena saya mau jadi orang kaya..!!” Ujarnya jujur lagi.
Habib medesis.” Dasar perempuan materrek.. mikirnya Harta mulu..” Ujarnya memutar bola mata malas.
“Ya pak. Cuma cowok kere yang bilang cewe matrek pak.. Hidup itu realistis. Saya mau nikah itu supaya hidup saya bahagia dan seneng. Bukan mau susah. Kalo nikah sama cowok kismin mana bisa bahagia saya. Sengsara iya. Kalo cuma mau sengsarah lebih baik saya nggak nikah dulu deh pak. “ Ujarnya.
__ADS_1
"Terserah kamu saja deh... Pulang nanti langsung buat surat pengunduran diri ya.. Kamu tidak lupakan saya boss kamu?
Dug... Arma diam mencernah kata katanya sedari tadi. Dan ia menjadi pucat akan hal itu.
“Kalian cocok ya.. “ ujar Rindu membela jalan pedebatan. Ia sedari tadi menahan perutnya yang keram karena menahan tawa. Begitu juga Filos.” Bener Rindu. mereka cocok banget jadi pasutri. Saya yakin Tuan Habib bakal bangkrut Cuma buat beli piring doang nanti kelo mereka nikah...“ Ujarnya Filos terkekeh. Piring yang dimaksud Filos itu karena piring terbang yang akan tercipta oleh Arma dan juga Habib. Biasanya orang ributkan banting-banting perabotan.
“Rindu..!! Kamu mau saya potong gajinya?” Habib menajamkan matanya menatap Rindu yang tertawa. Saat melihat Filos ia tak kalah tajamnya. Bahkan bagaikan singa lapar. Tatapanya menunuukan dengan kalimat ‘Sudah berani ya kamu dengan saya’
“ Ampun Baginda..!!” Ujar Rindu terkekh geli lalu menyatuhkan tanganya didada bagaikan kerajaan-kerajaan membuat Habib terkekeh juga. Arma? Ia baru sadar apa yang ia ucapkan pada Habib membuat ia menggigit kukunya karena takut dan terkejut. Bagaimana bisa ia bicara tanpa dipikirkan dulu. Ia reflek tadi.
Arma memang punya penyakit Barbar
Setelahnya Rindu melihat pintu karena suara lonceng berbunyi pertanda akan ada yang masuk kedalamnya. Matanya membulat sata melihat orang tersebut, dia Vivi... Sat ia bangkit, pelayan datang membawa pesanan mereka. “Silakan menikmati Kak.. Mbak..” Ujarnya ramah sembari menyusun makanan itu didepan mata mereka. Bukan depan mata sii. Tapi diatas meja hehe. Rindu saja yang lebay.
“Terimakasih..!” Ujar Rindu lembut. Armapun mengucapkan terimakasih, hanya saja Haib dan Filos tidak. Sebab mereka malas mengucapkan hal keramat itu.
Mata Rindu penuh biar menatap makanannya, niatnya untuk menegur Vivi urung karena ia sudah lapar. Ia langsung saja makan nasinya, tak ia makan semua nasinya takut tak habis. “Makan..!!” Ujarnya manis lalu mengambil kepala kakapnya. Incaran dari smeua akananya, sebenarnya tak bisa ia makan karena ia memakai cadar. Ia mendesah pelan karena ingat akan hal itu. Ia harus menelan ludahnya karena mendadak liyurnya membumbung tinggih.” Kenapa tak jadi dimakan Rin?" Tanya Habib saat Rindu menjulak lagi Ikan itu lalu mengalihkan pada ayam nya.
Rindu yang mendengar itu hanya mengeleng lesuh.” Ini dibungkus aja. Soalnya saya tidak bisa makannya disini. Tapi nanti saya bisa makan dikantor hee..” Ia memaksa tersenyum membuat Hbaib terkekeh. ingin sekali rasanya Habib mengelus kepala Rindu sayang. Tapi nyatanya ia tak dbolehkan hal semaca itu.
Rindu melanjutkan makannya. Ia makan menggunakan ayam saja, setelah itu ia makan seblaknya. Seblak yang sangat ia rindukan. Rindu pecinta seblak memang. Seblaknya memang tak terlalu pedas namun ia suka dengan cita rasanya.
Makannya Rindu terhenti dikalah ia medengar namanya disebut dalam suatu obrolan.
“ Kamu dulu deketkan sama Rindu? rindu beneran bunuh selingkuhan pacarnya ya?”
.
.
.
.
.2017kata..
__ADS_1