
“Yarobku. Izinkan hamba merubah takdirku. izinkan Hamba untuk bertaubat” gumamnya lemah. Bahkan suaranya sama sekali tak lagi ingin keluar. Ia menangis sejadi-jadinya.
Umi Ira menitihkan air mata menatap Rindu. Ia bisa merasakan rasa yang dirasakan Rindu. Ia berjalan mendekat. Ia duduk bersimpuh disamping Rindu. Ia memeluk Rindu erat.
Rindu hanya membenamkan wajahnya dada umi Ira.”Kau harus kuat” ucapnya.
Rindu masih menangis. Ibu Ira menepuk punggung Rindu lembut. “ketika hamba Allah berbuat kesalahan, dosa. Allah menutup aibnya serapat mungkin, bahkan malaikatpun tak ia beri tahu. Tapi ketika Hambanya bertobat. Maka ia mengumumkan kepada seluruh mahluk diatas langit. ‘lihatlah Hambaku sudah bertaubat’ ia mengumumkannya dengan bangga dan bahagia’. Bukankah itu indah?” tanyanya..
Rindu mendongakkan kepanya menatap Umi Ira. “Benarkah?” suaranya parau.
“Hmm.” umi Ira menganggukan kepala. Ia membelai wajah Rindu. “ Jadi, kamu adalah orang yang beruntung bukan?. Mulai dari sekarang. Mulailah berbuat baik. Dan mengubah diri.” ucapnya. “Jangan menangis lagi. Muka kamu udah jelek tambah jelek tauk.” Lanjutnya mengejek.
Rindu mengerucutkan bibirnya sambil menyedut ingusnya dalam. Ia mengelap air matanya. Umi Ira tertawa melihatnya“Kamu pulang kemana?” Tanya Umi Ira.
“Di jalan mangga bu. Mungkin nggak jauh dari sini.” jawab Rinduu.
“Yaudah. Kamu pulang gi.. nanti orang nyariin kamu lagi. Udah malem soalnya.” Ucapnya lembut.
Rindu menatap jam didinding. Jam sudah menunjukan pukul 9 malam. Ia menganggukan kepala, ia melepas mukenanya. “ Makasih ya Mi. Udah mau bantu Rindu.” Ucapnya.
“Iyaa....” jawabnya lembut sambil mengelus tangan Rindu.
“Rindu boleh datang kesini lagi nggak?” tanyanya.
“Boleh dong. Kamu boleh kesini setiap hari”
“Beneran mi?”
__ADS_1
Umi Ira menganggukan kepala. “ Kamu bisa cerita apapun pada Umi. Dan kamu bisa kesini kapanpun kamu mau.”
Rindu tersenyum lembut dan memeluk Umi Ira. “Makasih ya Mi...” Ucapnya.
“Iya sayang” jawabnya lembut.
Setelah mrasa lebih tenang Rindu berpamitan uuntuk pulang. Tapi Rindu lupa jika ia sama sekali tak memegang uang. “Sial...” Umpatnya.
Ia harus berjalan menuju kosannya. Untungnya kosannya tak begitu jauh. Hanya beberapa kilo meter saja. Rindu merasa lapar, capek, sakit. Semua menjadi satu. Ia baru ingat jika ia belum makan sejak pagi. Ia mengelus perutnya dijalanan. Layaknya gelandangan.
Ia melihat jam yang ada ditangannya. Jam itu adalah jam bermerk. Ia memiliki beberapa koleksi jam dirumah.”Jual aja kali ya. Lumaya buat makan. Kan uang udah diambil Abi
..” Gumamnya.
Ia mengangguk mantap. Ia pergi ketempat penjualan jam yang ia lewati.
“Ada yang bisa saya bantu mbak?” Tanya salah satu pegawai toko.
Rindu melepaskan jam ditangannya. “Ini mbak, saya mau jual jam saya. Ini jam asli no KW. “ tawarnaya semangat.
Pegawai itu menatap jam yang dipegang Rindu. Jam itu berwarnah silver. Didalamnya ada seperti taburan kilauan. Dari tampilannya memang jam itu sangat mahal. Ia menatap Rindu lagi. “Mbak langsung masuk saja untuk menghadap pemilik toko.” Jawabnya sopan.
Rindu hanya menganggukan kepala. Ia melangkah masuk menunju tempat yang diiringi pelayan lain. Ia berhenti di sebuah meja yang berisi banyak jam dan ada satu pria paru baya yang sudah memaki kacamata disana. “Permisi pak...” Ucap Rindu sopan.
Pria itu mengangkatkan kepalanya menatap Rindu. “Ada yang bisa saya bantu mbak?” Tanyanya sopan.
Rindu mendekat. “Gini pak. Saya mau jual jam ini, apa boleh?” tanya Rindu.
__ADS_1
Pria itu menatap jam yang ditangan Qira, “Coba saya lihat dulu.” Ucapnya sambil mengambil jam tersebut. Ia meneliti secara saksama. Ia bahkan menggunakan teknologi canggi unntuk mengukur kadar keasliannya. “Ini asli. Ini limited dedition ...” Ucapnya.
Rindu tersenyum dan mengannguk. “Iya pak. Saya baru menggunakannya dua minggu. Tapi sekarang saya lagi butuh uang pak.” Jawab Rindu.
Pria itu trsenyum saat mendengar ‘Rindu sedang membutuhkan uang’. “Saya beli 3juta aja ya.” Ucapnya.
Rindu terkejut mendengar itu. Ia menjawab cepat. “Bapak mau mainin saya ya. Itu harga jamnya 10juta ke atas. Bapak mau beli 3juta. Kotaknya aja nggak dapet pak.” Jawabnya ketus.
Pria paru baya itu tersenyum mendengar tanggapan Rindu. “Yaudah 5juta. Soalnya saya juga mau jual lagi. Saya nggak mungkin jual barang seken setara dengan barang baru, saya juga mau untung.” Ucapnya.
“Nggak bisa nambah lagi pak. Dikit aja.”
“Nggak bisa. Cuma segitu mbak.” Ucapnya. Ia memberi jam itu kembali pada Rindu. “Ini kalo nggak mau."
“5juta 5ratus aja depak.” Bujuk Rindu.
Pria itu hanya menghela nafas. Ia menimbang sesaat, lalu menerima tawaran Rindu.Rindu tersenyum akan hal itu....
.
.
.
.
.
__ADS_1
rada nggak mau lanjut liat nggak banyak yang like. sedih gue kalo bikin novel islami hikshiks😢😢😢