Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Masak itu?


__ADS_3

Rindu sudah menyalin buburnya. Ia menatap bik Yanti.” Kalo makan cabenya enggak bik, biasa aja saya mah, Cuma kulit aja, kulit saya itu bukan sensitif tapi ya kayak kurang trombisit gitu bi, kurang pertahanan, jadi mudah melepuh kalo kena cabe. Saya juga mudah kedinginan. Disaat semua orang sering kepanasan saya bahkan kedinginan. Entah lah, temperatur suhu tubuh saya itu nggak setabil. Saya juga susah ngejelasinnya. Tapi yang jelas saya ngak bisa kena AC atau kipas angin, kalo engak besoknya langsung demam, ngak bisa kena saus atau cabe tapi beberapa bulan belakangan ini saya selalu berurusan dengan cabe dan AC. Jadi ya kayak gini.”


Rindu membuka sedikit hanshoknya, disana ada bekas biru gara-gara pristiwanya hampir diperkosa itu, namun juga kulit yang berbercak merah dan mengelupas.” Nih gara-gara keciprat air cuci piring, padahal Cuma keciprat. Apa lagi pas Dicafe itu sering gunain sabun yang bahan kimianya besar, jadi yaa gini bik.” Ia hanya tersenyum dibalik niqobnya..


Bik Yanti meringis melihat tangan Rindu yang seprti itu. Ia kira biru-biru itu juga.” Aduh kasian banget dong. Kalo gitu kamu ngak usah cuci piring ya, biar bibik aja yang berurusan kayak gitu. Nanti tambah parah lo...” Ia mengelus sedikit ngeri ngeri sedap pada kulit Rindu.


Rindu tersenyum.” Udah bik. Kita anterin makanannya yuk. Kayaknya semua udah pada kumpul.”


Bik Yanti menganguk. Bik yanti membawa nasi goreng sedangkan Rindu membawa bubur yang beraroma luar biasa membuat mata semua yang duduk disana menoleh. “Wah Wahh... Baunya enak banget, masak apa sii bik?” Tanya Nina ibunya Habib.


Diruangan itu sudah ada Nayla Habib dan juga kedua orang tuanya, baru saja sampai. Bik Yanti tersenyum.” Ini. rindu masakin bubur kacang ijo, katanya baik kalo dimakan pagi-pagi.”


“Bubur kacang ijo? Wah kesukaan papi dong. Semenjak nenek kalian meningal, papi ngak pernah makan bubur. Papi mau dong...” Ucap Panji girang. Ia tersenyum senang saat mendengar bubur kacang Hijau.


Nayla mendecap.” Cih.. Cari perhatian.” Cibirnya.


Rindu malas menawab. Ia hanya diam saja lalu menuangkan bubur dimangkok pak Panji .” Mami juga mau dong...” Sahut Nina girang.


“Ehm.. Saya juga.” Ucap Habib melirik Rindu supaya meletakkanya diatas mangkoknya. Rindu menganguk lalu meletakkan secara bergantian.


Nayla yang terasa dikacangi membuat ia geram.” Bik. Aku mau makan nasi goreng buatan bibik aja.” Ucapnya keras. Ia menyendok nasi goreng lalu meletakkanya diatas piringnya secara kasar.


Mata Panji membulat saat merasakan sensasi lumer dimulutnya. Ia meniup hawa panas dalam mulutnya. Bubur itu masih sangat panas tapi Panji sama sekali tak berniat untuk berhenti mengecapnya. “En Enak sekali..” Ia menganguk bagaikan tukang cicip diiklan TV membuat Rindu menahan senyum. “Rasanya hampir sama dengan bubur ibuku. Hanya saja ini lebih gurih sama creami...”


“Bener... Enak banget Rindu. “ Sahut Nina tersenyum. Ia makan lebih kamen dari Panji.” Kamu belajar masak dari mana?”

__ADS_1


Rindu yang masih berdiri disana sebenarnya sudah mau pergi, tapi mereka mengajak mengobrol jadi ya diam dulu.” Saya ngak belajar kok bu, dulu ummi saya suruh saya belajar masak, tapi sayanya males.” Ia terkekeh mengingatnya.” Tapi masih dipaksa belajar, jadi yaa saya Cuma liatin aja ummi saya masak, tapi saya ingat bahan dan cara pembutanya. Ini pertama kali saya buatinnya.”


Rindu sangat jujur. Dulu umminya selalu memaksa Rindu untuk belajar masak. Tapi Rindu tak suka masak, tapi umminya selalu memaksa, jadinya Rindu hanya diam lalu memperhatikan. Untung otaknya cerdas.


“Emmm.. Nasi goreng bik Yanti enak benget. kok beda dari biasany ya bik. Nasinya wangi banget, terus pedes-pedes, rasa makan diretoran gitu. Pasti enakan nasi goreng dari pada bubur itu.” Nayla masih tak terima Rindu dibangga-bangakan membuat ia berbicara keras lalu melirik sinis pada Rindu bagaikan musuh bebuyutan. Tapi dia jujur tentang masakan nasi goreng yang sangat enak.


“Tadi saya sedikit telat bangun non, jadi yang masak nasinya Rindu, dia masaknya pakek daun apa itu, daun pandan atau daun apa gitu, jadi nasinya aja udah wangi, terus pas bibik mau masak ehh nasi gorengnya udah dimasakin sama Rindu. jadi itu masakanya Rindu.” Jelas bik Yanti disana sembari meletakkan minuman kopi pada Panji.


Wajah Nayla memerah. “Engak jadi enak. Nay mau pergi kulia aja gitu...!” Ia membanting senduknya lalu melirik Rindu tajam.


“Habisin makanmu dulu. Nanti berangkatnya.” Titah papinya.


“Oke. Karna papi yang memaksa.” Ucap Nayla sedikit tersenyum. Ia memakan nasi gorengnya lagi. Sejujurnya ia memang sangat lapar, ditambah makanan Rindu sangat enak. Ahh, ia malu, tapi mau. Untung papinya peka.


Tak berprikemanusian memang.


Rindu tak diajak duduk atau makan gitu?. Bolehkah Rindu sakit hati?


“Ehmm. Saya mau kedapur dulu ya buk.” Tak mau menawab. Ia juga tak enak ditanya sedangkan mereka makan. Apalagi lihat orang makan, sedangkan ia hanya berdiri.


“Jawab dulu pertanyaan saya.” Ucap Nina masih ngotot.


Rindu menghela nafas. Nasib pembantu gini amat yaa. Ngak tau apa kalo Rindu juga laper.


Aaahhh abii.... Rindu nggak kuat... hikshiks..

__ADS_1


“Ibu saya selalu mengarahkan saya untuk belajar memasak. Katanya, setingi apapun jabatan kita, tapi jika kita tak bisa masak, maka kita masih ditempat terendah. Karena apa? Karena kodrat seorang waita itu didapur. Setiap seorang perempuan, itu akan menadi istri dan ibu suatu saat nanti. Mudah memang jika kita punya uang, tingal pesan lalu makan, tapi sayangnya makan yang beli dengan makanan yang dibuat itu berbeda. Ada bumbu cinta yang kita taruh dimakanan kita, ada rasa sayang kita kita menyajikanya untuk suami dan anak kita dan ada senyum dikalah anak dan suami kita bilang’ Masakan kamu enak’ “ Rindu tersenyum terlebih dahulu.


“Dan karena itu, meskipun saya tak suka memasak, dan tak mau belajar memasak. tapi saya tetap memperhatikan ibu saya memasak, karena saya tau. Saya calon ibu dimasa depan... Saya tidak ikhlas makanan perama yang masuk dalam tubuh anak saya masakan orang lain, dan saya juga tak ikhlas jika setiap pagi saya harus mendengar jika suami atau anak saya memuji makanan pembantu ataupun chaf paramusaji yang sama sekali saya tak kenali... Saya mau nama saya yang disebut dan dibanggakan oleh suami dan anak saya nanti...“ Ucap Rindu tersenyum.” Jika begitu saya permisi kebelakang.” Ia pergi tanpa melihat sekitar.


Ia tak sadar jika Nayla dan Nina merasakan hantaman dihatinya. Nina yang sedari dulu tak pernah mengajarkan dan tak memperbolehkan Nayla masak sekarang dihantam jika ia bukan ibu yang baik. Begitu juga dengan Nayla yang tak pernah belajar dan mendengarkan papi dan maminya. Hingga membuat keadaan hening beberapa menit..


Berbeda dengan keadaan Habib yang tersenyum senyum sendiri. Ahh, semakn ingin memiliki Rindu rasanya. Ia bahkan masih makan dengan santai.” Jika kita menikah, aku pasti selalu makan dirumah.... Ahhhhh. Bahagianya keluarga kita nanti...” Batinnya. Ia menikmati bubur danpa berucap.


Ahhh, ia moodnya pagi ini sangat bagus.


.


.


.


.


.


.


**Yeyyyyy.... Like komen dan vote sebanyak banyaknya ya....!


Ada yang rindu dengan Rindu**?

__ADS_1


__ADS_2