
Kapan romantisnya?
ini novel memang bkan khusus romantis, tapi intuk mengingatkan kita... Jadi maaf yaa.
.
.
.
.
.
“Bunda kami mau main layang-layang boleh enggak?” Tanya Rian pada Rindu yang sedang duduk dikursi taman itu, tak jauh disana ada Rey juga yang duduk disana, hanya saja dipisah oleh Rian dan Rani yang ada ditengah mereka.
Rindu menatap Rian dengan alis yang menyatu.” Memangnya disini ada latang-layang?” Tanyanya kepo dan bingung ,disinikan asrama. Mana sama dengan dengan dunia luar yang layang-layang ada dipinggiran jalan, disini terbatas, bahkan penjual gerobak saja tidak boleh masuk kecuali hari jumpat sore. Dan itupun ada jamnya.
Rian mengangguk.” Kami disini ada kerajinan bun, jadi layang-layangnya itu dibuat oleh kakak tingkat kami. Mereka jualnya dikoprasi bun. Boleh ya?” Tanyanya membujuk Rindu.
“Ini uangnya, kalian boleh kok..” Bukannya Rindu yang menjawab, melainkan dokter Rey, ia memberikan uang berwarna merah itu pada Rian dan Rani, Rian dan Rani menatap Rindu meminta persetujuan membuat Rindu tersenyum lalu menganguk.
“Ayikkk makasih ayah dokter sama Bunda.” Ujar mereka semangat lalu berlari meninggalkan Rindu. Mereka berpamitan menuju koperasi yang ada disana. Sedangkan dokter Rey masih menatap pungung Rian dan Rani. Mereka sangat patuh dan menurut pada Rindu membuat ia kagum dan juga salut.
“Kenapa sii mereka bisa nurut banget sama kamu? Kamu beri apa sama mereka? Boleh dong bagi.” Ujar dkter Rey sedikit iri pada Rindu.
__ADS_1
Rindu terkekeh geli. “ Dalam Islam mengajarkan jika kita memang wajib untuk menghormati ibu, jadi mereka hanya melakukan kewajiban saja kepada bundanya. Indah bukan jika anak kita dididik dalam agama ? Mereka memiliki tujuan hidup sedari kecil, dan mereka memiliki batasan tersendiri, batasan itu mengikat hati masing-masing. Jika dalam hukum negara, kita takut akan sanksi, maka dalam agama kita akan takut pada dosa. Jika dinorma kita takut dihujat karena durhaka pada bunda dan ayah, maka dalam agama, Hati kita yang terasa sakit. hati kita terikat. Makanya, anak kecil butuh ibu dan ayah yang membatasi yang baik dan yang buruk, supaya tujuan mereka jelas dan memiliki perinsip yang tinggih. “ Ujar Rindu tegas.
Dokter Rey terasa tersinsir. Ia atheis yang tak punya agama dan tak memiliki tujuan hidup. “Saya dulu tanpa agama juga nurut sama bunda saya. Saya juga baik kok.” Ujarnya mencicit ia kira jikka Rindu sedang menyinggungnya.
Rindu menghela nafas.” Jika kamu nutut sama bunda kamu itu karena kamu takut bunda kamu marah tapi jika kita didiki takut karena dosa, maka kita akan mendapatan pahala doble, pahala ketika patuh pada orang tua dan pahala jika kita ingat kita punya Allah. dalam agama islam itu sangat mudah dalam mendapatkan pahala, hanya satu kuncinya. Ikhlas, “ Ujar Rindu menjawab sandai,.
Dokter Rey tersenyum tipis. Benar adanya, ketika ia yang tak punya agama yang menuruti keinginan ibunya karena takut dihukum, beda halnya dengan orang yang punya agama, mereka pasti takut akan dua hal, taut dodsa dan juga takut dihukum oleh bundanya ahh jika dipikir memang indah, hanya saja umat manusia terlalu menyepelekan masalah penyakit hati, penyakit yang suka lupa keihklasan dan ketulusan.
“Bunda. Kita udah dapet layang-layangnya..!!” percakapan mereka terpurus dikalah Rian dan Rani mendekat dengan dua layang-layang, satu layang-layang yang berwajah upin dan satu lagi bewajah ipin, yaa mungkin karena mereka kembar membuat mereka mengambil gambar yang kartunnya juga kebar.
“Itu kertas sama spidolnya buat apa?” Tanya Rindu pada mereka yang membawa kertas dan spidol, disana juga ada botol soda yang tak terpakai lagi sepertinya.
Rian dan Rani menatap bahan yang mereka bawah lalu mendekati bunda nya dan dokter Rey. “Ini surat buat ibu dan ayah yang dilangit...” Ujar Rani pelan
“Kirim suratkan lewat doa, bukan lewat kertas sama botol Rian, Rani..” Gumam Rindu pada anaknya itu.
“Tapi jatuhnya sirik sayang, kalian ingetkan jika mempercayai suatu hal seperti ini itu menduakan Tuhan. Percaya jika surat kalian dibaca oleh orang tua kalian. jika kalian mau menyampaikan suatu hal, sampaikan pada Allah, maka yakinkan jika orang tua kalian mendengarkan kalian.” Bunda mendidik mereka sedari kecil. Tradisi dan juga kebiasaan dalam kehidupan memang sangat berperanguh dalam ingatan dan juga tindakan anak-anak kita. seperti halnya sekarang, siapa yang bilang, barang semacam itu akan sampai pada bunda dan ayah mereka? Terlalu banyak suatu kebiasaan yang tanpa kita sadari membawa kita kesyirik.
Salah satunya membuat syarat yang dibubung rumah, peniti dan juga bawang putih untuk anak bayi, gunting dan cermin untuk anak yang baru lahir disana kita memperayai jika itu alat pengusir setan dan juga pelindung dari setan. Disini sudah nampak bukan? Bukankah pelindung yang paling terbaik itu adalah Allah Azzawazzalah? Kita percaya jika barang itu bisa mengusir setan, bukankah Allah yang menciptakan setan? Lantas apa hubungan gunting dan sebagainya pada setan? Tanpa kita sadari, ketakutan kita, kepercayaan kita rusak karena syirik tak nampak ini. banyak orang yang mengatakan jika itu hanya syarat saja, tapi pada kenyataannya syarat itulah membuat kita jatuh kedalam sumur neraka. Iman kita menkadi goya...
“Tapi bun..” Ujar Rian sedih. “Maaf, maafin, tadi itu saran dari temen kami bun.” Ia menunduk meremas botol itu kuat.
Rindu menatap anaknya sedih. Ia menguap kepala Rian sayang,” Kamu beli balon saja yuk..” Ujarnya memberi uang lima pulih ribu. “Balon gas ya” Ujar Rindu.
“Buat apa bun?” Tanya Rian pelan, ia mengerjab tak mengerti.
__ADS_1
“Beli aja. Dua buah ya, nanti bawah kesini. Adakan dikoprasi?” Tanya Rindu membuat Rian mengangguk, ia meletakkan layang-layangnya diatas tanah, begitu juga botol dan sebagainya. Ia berlari menuju koprasi disana.
Tak lama kemudian ia membawa dua balon udara yang berwarna ping dan juga biru.” Ini bunda.” Ujarnya memberikan balon itu.
Rindu menerima balon itu “Nahh. Sekarang kalian tulis surat buat ayah sama ibu kalian ya. Bunda tunggu.” Ujar Rindu pada mereka pelan.
“Buat apa Bunda?” Tanya Rani.
“Buat aja dulu, nanti kalian akan tau kok.” Ujar Rindu membuat mereka mulai menulis.
Sedangkan Sokter Rey hanya mengamati saja ia tak tau apa yang Rindu inginkan. Rindu itu orang yang konsisten, jika ia bilang tidak, maka harus tidak. Seperti ini, andai dia yang dimintai oleh Rian dan Rani tadi, pasti ia sudah luluh dan membolehkan Rian dan Rabi mengirim surat lewat botol, tapi beda dengan Rindu tak ada toleransi jika menyangkut agama.
Rindu itu belajar dari abbinya biarkan tersiksa didunia dari pada tersiksa diakhirat. Biarkan kamu menangis didunia dari pada dineraka..! *sebab abbi rela dibenci dari pada melihat kamu menangis dalam lautan neraka..
.
.
.
.
**Sebenarnya ini novel memang sibuat aku supaya kita sama sama belajar. apa lagi isinya banyak tentang kehidupan pribadi yang memang salah namun diterapkan oleh orang orang. bukankah kita harus saling mengingatkan?
Btw makasih yang masih setia bacanya meskipun isinya nggak sesuai apa yang kalian inginkan. dan semoga selalu bermaamfaan buat kita yaa...
__ADS_1
Syafakillah***....