Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Geva


__ADS_3

Baju yang berwarna putih tulang itu sangat cocok dengan kulitnya yang putih dan bersih. Wajah yang tak terlalu norak make upnya dan juga cukup sederhana, rambutnya yang hanya dicurrly dan dibiarkan tegerai saja. Tangannya gemetar sembari memegang tangan Rindu disebelahnya..


Dia adalah Nayla Manoswari Holmast..


Saat melihat kebawah tangga ia sudah melihat ada kelarganya, Panji dan Nina selaku ayahnya dan ibunya, ada Handi dan keluraga, serta tak lupa Yohan yang mengatur pertemuan ini. disana cukup ramai karena ditambah sosok asing tiga orang disana. Dan disana ada dua pria yang sudah paru baya dan satu wanita paru baya. Ia meneguk saliva karenanya, apa salah satu pria tua itu adalah calonnya? memikirkan itu sama membuat ia bagaikan tertimpa meteor membuat ia keluh dan terdiam ditangga itu.


Rindu diam menatap Nayla, dan Habib yang berada dibelakang mereka pun terhenti. “Cabut Rin.. gue ngak mau sama dia.. dia tua banget.. awas...”Ketus Nayla mendorong tubuh kakaknya yang tegap masih menarik tangan Rindu. namun Habb tak bergeming sama sekali dan mentap adiknya dengan tatapan bertanya. Tenaga Habib itu jauh lebih besar dari oada Nayla jadi Nayla yang tubuhmya bagaikan jelly itu mana bisa menggeser keberadaannya itu.


Namun saat Rindu maupun Habib ingin bertanya, suara Yohan sudah membuat jantung Nayla terasa ingin bunuh diri.” Oh.. Itu cucu saya sudah datang.. sini Nay.. keluarga calon kamu ini...!” Ujar dari sang kakek Yohan semangat dikalah melihat Nayla datang kesana.


Nayla mengerjab dan mengerutu. kenapa juga kakeknya bisa melihatnya ini? kan dia jadi tak bisa kabur akh.. jadi ia memasakan diri menatap sang kakeknya dan meringis. “Hehe. Iya kek..” Ujarnya mendekat dan mengerutu sakit. sedangkan Rindu yang sudah dilepaskan oleh Nayla karena mengerutu itu menatap Habib.


Namun Habib yang ditatappun menatap Rindu, entah apa yang membuat mereka tersenyum dan terkekeh karena ekspresi Nayla yang tadi seperti orang yang sedang mau buang air besar tapi tidak jadi karena toiletnya penuh. Kalian bayangkan saja ya..


“Kita kedapur saja yuk.. saya bantu kamu siapkan makan malamnya..” Ujar Habib dengan Rindu karena memang dirumah ini hanya beberapa maid saja karena beberapa lainnya sedang cuti karena ada yang lahiran dan ada yang anaknya sakit. Jadi Rindu juga turun tangan.


Rindu menggeleng.” Saya tidak enak. Kamukan bosnya. Masa iya kamu bantu saya. Nanti apa kata dunia? Mana cwok lagi..” Ujar Rindu jujur kepada Habib.


Habib menatap Rindu malas.” Kau lihat disana..” Habib menunjukan tepat orang-orang berkumpul disana. dan Rindupun menatap arahnya, tapi Rindu belum konek akan ucapan Habib jadi ia mengerut menatap Habib. “ Sudah tidak ada tempat duduk lagi. Masa iya saya duduk lesehan sedangkan yang lain duduk diatas. Turun derajat saya nanti..” Dengusnya membuat Rindu terkekeh karena paham."Lagi pula laki laki dan perempuan itu sama saja tak ada bedanya. Kmi juga bisa didapur kok... Hanya pria sombong saja yang tak mau mengenal dapur.." Lanjutnya santay dan bersandar di pembatas tangga itu.


Rindu menatap lagi dan disana memang sudah tak ada tempat duduk. Wajar sajalah. Karena disana banyak sekali orangnya membuat ia mengangguk.” Yasudah.. tapi makanannya jangan dicolek-colek ya..” Ujaranya sinis kepada Habib, karena kebiasaan Habib suka sekali colak-colek makanan. Cicip sana cicip sini kan jadinya nggak enak. Masa makanan dimakan seperti itu. Kalo makan ya kenapa enggak langsung saja.


Sedangkan disisi lain Nayla menunduk dan mendekati sang papinya, namun tak ada tempat duduk lagi selain disamping Yohan membuat ia mau tak mau duduk disamping kakeknya saja. Lalu disamping kakeknya ada Hendrawan dan istrinya kog. Ada yang menanyakan dimana Dilan dan Ifyan? Maka jawabannya mereka sedang pergi acara kampus, jadi mereka sedang tak ada dirumah.


“Nahh. Kenalin Nay.. ini adalah keluarga calon suami kamu nanti..!” Tangan Yohan mengarahkan kepada dua orang didepannya itu. Ralat ada satu lagi pria yang sudah sedikit beruban, tampan sii, tapi sudah tua, sudah nampak sekali jika ia sudah tua. Sialan batinya Nayla.


Nayla meringis dan memaksakan tersenyum.” Malem.. Om.. TANTE.. KENALIN NAMA SAYA Nayla..” Ujar Nayla dengan meringis menatap ketiga orang tersebut. Ia meremas sisi bajunya karena terpaksa. Percayalah, jika hatinya sekarang sedang mengobaran api masal.

__ADS_1


Ketiga orang itupun tersenyum manis, ralat, satu yang tak menyambutnya senyum, dia adalah pria yang disangkah Nayla adalah calon suaminya membuat ia semakin tak sudih menikahinya.” Hallo cantik.. ih tante nggak nyangkah kalo kamu secantik ini. soalnya kata kakek kamu kamu itu jelek sama kumel. Apa lagi katanya kamu itu pemalas dan juga suka bangun siang... bahkan katanya nggak bangun-bnagun kalo enggak laper.” Ibu ibu disana menyerocos dengan senyum manisnya, nampak sangat antusias sekali membuka aibnya Nayla.


Nayla yang mendengarnyaun meringis malu, ia mengaggaruk sisi kanan kepalanya karena malu, ia tak bisa mengungkapkan betapa malunya dia. Bagaimana bisa kakeknya mengatakan aibnya. Ia melirik opanya itu dengan tatapan permusuhan.


Yohan yang ditatap seperti itu pun mengerutkan keingnya pura-pura tidak peka menatap Nayla.” Kenapa tatap Oppa sperti itu?” Tanyanya dengan polos.” Memang benar semua bukan yang Opa katakan itu?” Katanya dengan polos lagi membuat Nayla mengerutu dan menyumpahi kakeknya sendiri.


Ibu dari calon metuanya itu terkekeh, sama dengan pria disampingnya itu, satunya lagi hanya tersenyum tipis membuat ia bingung. “Oh iya.. kamu bingung ya.. kenalin.. nama Tante Henny.. dan ini adala Daddynya calon suami kamu namanya Doni” Ujarnya mengenalkan dirinya dan mengenalkan satu orang disampingnya yang sedari tertawa dan tersenyum juga.” Nah kalo yang ini itu adalah Ayahnya calon suami kamu. Namanya Koko..” Ujarnya mengenalkan sosok yang datar disamping suaminya itu.


Nayla tertegun menatapnya. What? Bagaimana bisa? Ia diam menatap tiga sosok didepanya itu secara bergantian. memang sii tante Henny itu cantik bak orang korea. Tapi masa? “Tante Punya suami dua?” Tanya Nayla dengan polosnya. “Terus calon suaminya Nayla mana?” tanyanya lagi tak bisa membendung rasa penasarannya.


“Hhahaha..” Suara gelak tawa dari orang disana pecah karenanya. Dan Nayla kembali meringis karena malu, ia menepuk bibirnya yang sudah lancang menanyakan suatu hal yang bukan haknya itu. “Maaf Tante.. aku Cuma nanya kok. Soalnya ada ayah ada Dedy kan kirain tante punya dua suami..” Ujarnya dengan cengengesan dan menggaruk lehernya.


Tante Heny itu pn mengangguk menatap Nayla lembut.” Tapi memag mereka berdua suami tante kok hehe..” Ia cengenegsan membuat Nayla tertegun.” Ceritanya panjang kalo tante mau jelasin... Tapi yang pasti mereka berdua ayah dari calon suami kamu. Tapi ini ayah aslinya calon suami kamu..“ Ujarnya mengarahkan matanya menatap sosok pria yang sangat datar sedari tadi. beda sekali dengan satu pria lain.


Nayla tersenyum cangung.” Udah-udah.. lihat Tante Heny cantik kek gitu. Jadi wajar dong kalo banyak yang rebutin. Dari pada ada yang bunuh diri dari salah satunya kan.. hahaha.” Suara Yohan kembali membuat ledakan tawa mengema diruangan itu membuat Nayla tak habis pikir. Mengapa mereka kompak sekali tertawa bagaikan kontes tertawa antar grub. sepertinya mereka akan menang.


“Assalamu’alaikum...” Suara itu membuat semua orang didadalam sana menatap kepintu tapi tidak dengan Nayla karena melayang-layangkan pikirannya. Pikiran nakalnya sekarang sedang merancang perikahan Henny dengan para suami.. bagi waktu sepertinya lucu. Malam ini dengan suami satu dan malam besok suami ini.


"Waalaikum salam...!" Nah ini anaknya dateng juga sini masuk..!" 7Ujar Henny menatap anaknya itu


“Hello Nayla...! Itu calon suami kamu loh..!” Suara itu membuat Nayla kembali kedunianya membuat ia mengerjab dan menatap kedepan. Ternyata itu adalah kakeknya yang menepuk pundaknya membuat ia harus sadar dan kembali kealamnya.


Nayla melengos dan meringis.” Maaf. tadi Nay sedikit kurang konsetrasi.” Ujarnya mengaruk tengkuknya.


Tante Henny terekeh, sedangkan pria yang tak lain calon suaminya Nyala hanya menatap Nayla dnegan tatapan santay saja. tidak sinis ataupun pemujaan layaknya pria menatapnya. hanya tatapan biasa saja.” Nggak apa-apa.. kayaknya masih kepikiran sama pernikahan kita” Ujar dari satu pria yang humurnya sangat receh. Dia adalah Dodi sang Dedynya calon suami.


“Ih Geva. Kenalin calon kamu ini.. cantikkan?” Ujar dari Tante Henny membuat Nayla menatap kedepan. Disana ada sosok baru yang masih muda. Mungin seumuran denganya. Uh wajahnya? Jangan salah. Mirip dengan Jefri Nicoll. Hidung mancing. Mata tajam dan bibir seksoi. Ia tak tersenyum saja sangat tampan apa lagi tersenyum.

__ADS_1


“Hallo.. kenalin aku Henny ehh.. aku Nayla maksdnya aduh..” Ujar Nayla gugup sampai menyebutkan nama Tante Henny membuat mereka geleng-geleng dan tergelak. Mereka kenapasi? Dari tadi tertawa ngakak terus? Kek ada yang lucu luar biasa saja batinnya Nayla meringis. Fasalnya sedari tadi objek yang ditertawakan itu adalah dirinya apakah sekarang ia bisa mendaftarkan stand up comedi ?


Pria yang bernama Geva ituun mengangguk dan menyambut tangan Nayla.” Geva... “ Ujarnya dengan tersenyum tipis. Ada rasa tak suka didada Nayla dikalaah Geva mengataknya dengan nada Biasa saja. Apakah ia tak mneyukai Nayla.


“Maaf ya. Geva memang pendiam orangnya. Jadi jangan masukin hati kalo dia ngomongnya singkat banget kayak chatnya anak alay jaman sekarang..” Ujar dari om Dodi Deddy sang Geva itu meringis menatapnya Geva


Nayla mengangguk paham saja.. “Kamu kenapa telat Gev?” Tanya dari ayahnya Gevan dengan tajam. Dia yang sedari tadi diam sekarang angkat bicara, dia adalah ayah Koko disamampingnya Geva sekarang.


Geva meringis menggaruk tengkuknya.” Tadi pas Gev kesupermarket ada yang mirip temen Gev ya. Jadi ya Gev susulin, ehh nggak taunya bukan temen Gev.” Ujarnya jujur. karena memang dia tadi perginya nyusul, bukan bareng orang tuanya.


“Loh kok enggak bareg orang tua kamu Gev?” Tanya Yohan.” Oh iya.. kenalin Saya kakeknya Nayla. Kenail,, nama saya Yohan. Kamu bisa panggil Oppa Yohan. Dan ini ada Nina ibunya Nay ada Panji ayahnya. Dan ini paman dan bibinya Nay. Sarah sama Hendrawan. “ Ujar Yohan mengarahakn telunjuknya kearah-arah orang-orang yang disebelannya tadi.


Nayla meghela nafas mendengarnya... “Maaf ya oppa. Tante Om... tadi ada kendala dirumah buat saya nggk bisa bareng keuarga hehe.” Ujarnya dengan senyum tulusnya lalu mencium satu persatu tangan mereka sopan kecuali Nayla


“Iya.. tadi tu Gevannya masuk siring gara-gara dikejar angsanya ayahnya sendiri. Jadi ya kami yang dah siap langsung pergi saja. Dia nyusul jadinya..” Ujar Henny dengan jujur. ya.. tadi Geva saat ingin pergi dia dikejar angsa. Ayahnya Koko itu memelihara banyak angsa. Katanya angsa itu sangat bagus dan juga suci karena warnanya itu. putih.


“Hmm..” Nyala terkekeh mendengarnya. Dan ia mendapatan jelitan dari Geva karena mendengar suara tawa tertahan itu. Yang lainnya hanya tersenyum maklum saja. Namun perhatian mereka terhanti dikalah Rindu datang dengan menatap yang lain.


.


“Makanannya sudah siap tuan.. nyonya.. mari makan dulu..” Iya.. disini tadi sudah diingatkan oleh Nina katanya kalo makanan siap langsung saja bilang dan ajak yang lain makan.


Nina yang mendengarnya itupun menatap Rindu dengan senyum.” Yasudah kalo gitu ayo.. kita makan dulu yuk. Keburu makanannya dingin. “Ujarnya semangat.” Tapi maaf ya. Bukan saya yang masak, soalnya saya tidak bisa masak.” Ujarnya jujur dan meringis. biasanya setiap orang akan bangga mengumumkan jika dialah yang masak dan menyiapkan semuanya untuk tamu spesial. Tapi tidak dengannya.


“Tidak apa-apa. dengan kalian menyambut kami dengan baik seperti ini itu sudah lebih baik kok..” Ujar dari Henny ramah.” Soalnya saya juga tidak terlalu bisa masak. Hanya bisa dikit dikit saja. Saya juga masih belajar.” Ujarnya dengan jujur.


Rindu disana tertegun menatap sosok didpepannya itu. Begitu juga dengan Geva. Geva mrasa tak asing dengan suara Rindu dan Rindu tak asing dnegan Geva membuat Rindu tersenyum tulus.” Kamuu Rindu bukan?” Tanya Geva membuat kedua keuarga itu menatap Geva dengan tatapan bertanya dan bingungnya lalu menatap Rindu yang menggunakan baju serbah hitam itu.

__ADS_1


“May Be.” Ujar Rindu mengangkatkan bahunya dan terkekeh membuat Gevan berdiri dan menghampiri Rindu.. ia menatap Rindu dengan tatapan rindu. karena memang beberapa lama ini ia selalu mencari Rindu. terakhir mereka bertemu dicafe namun saat ia kecafe lagi Rindu sudah tidak ada. nomor Rindupun sering tidak aktif membuat ia putus asa.


__ADS_2