
Wakti itu tak dapat dikembalikan atau diulang... Maka perbaiki apa yang ada sekarang supaya nanti kita tak meminta supaya waktu diulang. Rindu..
.
Habib menaikan satu alisnya dengan diam, menatap dokter Rey yang menatapmya dengan tatapan datar nan dinginnya itu. Ia akui jika dokter Rey tak kalah tampan darinya. mungkin dokter Rey lebih tampan dari pada dirinya. sebab wajah dokter Rey lebih putih dari dirinya yang berkulit tak terlalu putih. Mata doker Rey yang sipit bagaikan orang Korea atau cina membuat ia sangat tampan. Habib mengakui hal itu. Namun bukan berarti ia ikhlas jika Rindu bersama dirinya. “Jika begitu kamu korbankan saja Rindu buat saya jika kamu mencintainya. “Ujarnya dengan dingin kepada dokter Rey.
Dokter Rey tergelak kalem dibuatnya.”Tak semudah itu Ferguso...!!” Ujarnya mengeleng lalu mengusap hidungnya yang tak gatal itu “ Saya akan mengorbankan Rindu jika orang itu jauh lebih baik dari pada saya.. dan saya akan mengikhlaskan jikalau takdir yang berkata. Bukan karena kamu..!”Lawannya dengan tegas.
Habib mentap dokter Rey lebih tajam lagi... “Tapi saya akan pastikan jika kalian tidak akan pernah bersama sampai kapanpun. Kecuali jika saya mati..!!” Jawab Habib tak gentar lagi. Maju satu langkah maka para polisi disana menahanya membuat ia hanya mengepalkan tangannya.
Dokter Rey menggeleng dibuatnya.” Kamu sama seperti saya. Hanya manusia biasa. Bukan Tuhan yang bisa memastikan sesuatu memangnya kamu yakin jika masih hidup dua menit lagi?!” Tanyanya dengan mengejek.” Dan saya tak akan pernah takut dengan ancaman kamu. Jalani saja dengan jalur kamu. Saya tidak akan menganggu. Biarkan takdir yang menentukan..!” Ujarnya lalu pergi meninggalkan Habib.
Habib mengusap kepalanya kasar mendengar hal demikian, apa tadi? ia dikalahkan oleh orang lain? bagaimana ia bisa mendapatkan Rindu jika begini? Kembali ia ingat pada kata-kata Rindu jika ada orang lain yang memperjuangkannya membuat ia sadar sekarang. Jika dirinya adalah orang yang kesekian yang tertarik dan mencintai Rindu. dan baru kali ini ia sadar jika ia terlalu meremehkan Rindu didalam hidupnya.
Dokter Rey dan Fey memasuki mobilnya melajukan mobilnya menuju rumah mereka. Dokter Rey sedari tadi diam sembari mengingat wajah Habib. siapa bilang ia tak takut kalah saing dengan Hbaib? Takut tentu saja... hanya saja ia tak mau terlihat takut dan terlihat rapuh.
Ia bisa mengatakan pada hatinya jika Rindu sudah ditakdirkan oleh Tuhan, baik dengannya atau dengan orang lain, itu urusan Tuhan. Tapi lagi lagi.. Manusia tidak bisa membolak balikkan hati. ia hanya bisa bershalawat dan meminta ditenangkan hatinya dengan Tuhan semesta alam.
Fey yang menatap adiknya yang diam saja sedari tadipun menghela nafas.” Tadi siapa Key? Saingan kamu?” Tanyanya. Karena tadikan ia dengan percakapan mereka meskipun diakhir saja ia dengar jika Rindu diperebutkan membuat ia bingung. bagaimana bisa Rindu diperebutkan oleh dua pria sekaligus seperti itu.
Ia juga bisa melihat sebenarnya jika Hbaib juga sangat sangat mencintai Rindu. itu sangat terlihat jelas dimatanya. Apa lagi Habib termasuk tipe perempuan, tampan dan juga kekar, beda dengan dokter Rey yang cukup kurus namun tinggi ini. Habib memiliki tubuh yang pripesional baginya. Wajah lokal yang sangat tampan, bagaikan orang timur saja. sebab hidungnya yang mancung, mata nan tajam dan ais mata yang hampir menyatu itu membuat siapapun akan tergila gila padanya. Hanya saja Fey tidak, sebab dia mengklime jika Habib adalah orang gila..!!
Dokter Rey yangs edar tadi fokus menatap jalan dan fikirannya itu menatap kakaknya dengan tatapan sendunya.” Dia Habib kak.. iya. Dia juga menyukai Rindu..!” Meski mekikirkan hal lain, tapi dokter Rey tetap mendengar kok. Dia tak bleh hilang fokus jika sedang menyetir. Bisa bisa nabrak.
Kakaknya Fey pun menepuk pundaknya Rey membuat Rey meringis sakitx karen aitu bekas pukupan Habib msihbsangat terasa.”Eh maaf..!”Ujarnya membuat dokter Rey diam saja. Fey menghela nafas menatap sang adik.” kamu jangan pusing ya.. kakak yakin jika Rindu bakal pilih kamu kok.. jika pun kalian enggak jodoh kakak yakin jodoh kamu bakal yang terbaik, sebab kata kamu jodoh itu adalah cerminan diri sendirikan?” Tanyanya dengan lembut. Ia memang atheis, namun ketika dokter Rey mendapatan ilmu agama, maka keluarganya adalah orang pertama yang ia datangi dan ceritakan apa yang ia dapatkan membuat kakaknya tahu bukan hanya kakaknya saja, tapi juga orang tuanya.
Dokter Rey hanya tersenyum dan beristighfar. Kenapa bisa ia memusingkan prihal yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan? Memusingkan jodoh yang pada hakikatnya sudah ditetapkan oleh Allah. memusingkan Rindu padahal Allah yang sudah mengaturs emuanya... ia harus sadar da kembali berserah diri kepada Allah.. benar bukan benar???!!!
__ADS_1
Benar dong wkwk.. soalnya enggak ada pilihan lain.. ketahuilah bahwa tak ada yang salah dengan apa yang sudah ditetakan Allah. yang salah itu bagaimana cara kita menerima, menjalankan, dan melewatinya. Hanya itu saja...
Habib yang ditinggalpun memasuki sel saia. Ia mau bertemu dengan Rindu dan sekarang ia sedang menunggu ditempat menunggu, sebenarnya sudah habis jamnya hanya saja ia ngotot meminta membuat polisi memberikanya jam.
Ilham mendekati Rindu yang sekarang diam sembari menatap kitab suci Al-Qur'an ditanganya, mulut komat kamit dengan lantunan yang merdunya mampu terdengar sampai ke langit... “Assalamu’alaikum Rindu..!”Ujarnya membuat mata indah yang awalnya terturup itu terbuka dan menatapnya dengan tatapan sendunya.
Rindu menatap Ilham dengan mengerjab.. “Iya waalaikum salam pak. Ada apa lagi ya?!!” Tanyanya. Baru saja duduk dan sekarang mau apa lagi coba?
“Ini Rindu. diluar ada penjenguk ingin menjenguk kamu lagi.. silakan..”Uarnya Ilham kepada Rindu dengan mepersilahkan Rindu keluar dari sana.
Rondu belum beranjak dari tepat ia duduk lagi menatap Ilham dengan tanda tanya. Perasaan jamnya sudah habis dan siapa yang mau menjenguk nya lagi? Bukannya jam sudah habis ya pak. Lalu siapa yang mau menjenguk "siapaa? Apa dokter Rey tadi?” Tanyanya tanpa bergerak sama sekali.
Ilham menggeleng kepada Rindu. nampak membuat Rindu tambah bingung. siapa jika bukan dokter Rey? Yohan”Siapa? Kalo bukan yang tadi? namanya gitu?" Ia tak mau sembarangan keluar dan menemui orang saat ini. Bukannya tak mneghormati orang. Hanya saja keadaannya yang memhuat ia membatasi diri.
Ilham menhela nafas menatap Rindu “Itu kalo enggak salah namanya Habib.. Iya... Dia sudah menunggu kamu sedari tadi diluar." Jawabnya dengan jujur kepada Rindu.
Gleg....
Rindu menghela nafas.” Katakan sama dia saya btuh istirahat dan tidak mau diganggu. Jadi lebh baik pulang saja..!!” Ujarnya Rindu lalu kembali menatap Al-Qur’an ditanganya. Ia tak mau terlibat lagi dengan perasaan milik Habib yang baginya sungguh memperkeru perasaanya saja.
Polisi itu menatap Rindu.”Tapi dia sudah menungguh Rindu. dia sudah marah-marah meminta waktu sedari tadi..!”Ujarnya, namun Rindu ta merespon. Rindu orang yang berkata A maka tetap A. Ia bukannya membenci Habib, tapi baginya. Langkah baiknya menjauhi orang yang bisa membut ia sakit hati. Habib bukan siapa----?
“Rindu...!!”Ujarnya namun Rindu tetap diam tak menjawab membuat ia menghela nafas.
Polisi itu menghela nafas menatap Rindu yang sudah sama sekali tak menghiraukanya itu. Rindu bagaikan tak ada orang lain disini.”Okey...!”Ujarnya menghela nafas, mungkin Habib sudah berbuat sesuatu membuat Rindu mengabaikannya seperti ini batinnya ia menghela nafas sekali lagi menatap Rindu yang membaca Al-Qur’anya. Lalu pergi dari sana.
Rindu menghela nafas dikalah polisi itu pergi dari sana, ia menatap punggungnya Ilham dengan tatapan biasa saja lalu mulia memfokuskan bacaannya saja. Tak mau memikirkan hal lain, baginya saat ini adalah waktu yang paling tepat menghafal Al-Qur'an tak ada kerjaan, tak ada panghalamg dan ta ada pengganggu. Hanya dirinya seorang diri membuat suasana sangat tenang.... hanya beberapa waktu saja polisi lewat dan menatap dirinya.
__ADS_1
Sedangkan diluar sana Habib yang menunggu sudah mondar mandir. Kadang memainkan tangannya, memainan dagunya sampai mengusap kepalanya yang terasa berat arena masalahnya, ia tak tau harus bagaimana membuat ia gagal Fokus sampai pada sosok polisi tadi sampai dan menemuinya namun disana tak ada Rindu membuat ia bertanya.” Kenapa lama sekali? Lalu dimana Rindu?” Tanyanya dengan bingung.
Polisi itu malah menggeleng dengan dungunya.” Maaf tadi kami bicara sebentar dan saudari Rindu tidak mau menemi anda tuan. Jadi silahkan pergi dari sini..”Ujarnya lalu pergi dari sana... ia ta tau harus apa sebab nampaknya Habib sekarang sedang menggila. Dari pada nanti kena getahnya kan lebih baik pergi dari sana.
Habib mengangkat kedua tanganya dengan waut wajah tak percayanya. Rahangnya jatuh dibuatnya. “What?” Gumamnya tak percaya. Dia ditolak dan dia diabaikan oleh polisi itu membuat ia tak yakin akan apa yang ia dapatkan saat ini. apa mereka tidak tau siapa dirinya ha?
Brak.... ia memukul meja polisi itu kuat namun tidak sampai disitu saja. Ia juga menendangnya sampai ursi itu usak membuat beberapa polisi datang menemui Habib dan melihat apa yang dilakukan Habib.”Lancang kalian ya..!! tidak menghargai saya disini..!”! Teriamya keras lalu pergi.
Mereka saling tatap dibuatnya. Mereka diam menatap Ilham, namun Ilham hanya mengangkat bahu acuh mem buat mereka tak tau harus apa? Mau menangap Habib, tapi spertinya mereka yang salah, ditambah Habib Holang Kaya membuat mereka tak yakin...
Sepanjang jalan Habib menggerutu dan memaki Rindu. bagaimana bisa Rindu tak menerima kehadiranya, padahal tadi ia menemui orang lain.. apakah Rindu membencinya? Apa pedulinya sangat peduli.. tapi ia tak bisa mengungkapkannya. “Sial.. sial.. sial...!” Teriaknya didalam mobil kuat karema tak tahan dengan pemikiran demi pemikirannya. Baru kali ini ia benar benar tertampar dengan keadaan.
Ia menari hapenya lau menghubungi Filos. Namun sepertinya Filos cukup sibuk sekarang membuat ia tak menjawab teleponnya.. membuat ia kembali menghubungi Filos sampai tiga kali barulah Filos mengangatnya.” Hey.!! kamu sudah tuli ya ha?!! Dari tadi saya telepon kamu tapi tidak disahut sahut.. sudah berani kamu?!!!” Terianya keras. Ia menumpahan kekesalanya kepada Filos saat ini.
Filos diujng sana menahan hapenya dari telinga. Lalu menatap hapenya lagi, apa benar ini nomor tuanya? Masa si? Lalu kenapa tuanya sangat keras seperti ini? memang apa salah dirinya? “Maaf Tuan.. Assalamu’alaikum... maaf.. tadi saya rapat Tuan, karena tuan tidak masuknhari ini jadi saya semua yang menggantikannya...!”Ujarnya jujur.
Karea memang semua tugas Habib hari ini diserahkan semuanya kepada Filos, mana sempat ia memainan hapenya, apaagi tadi ia rapat dengan klayen penting memuat ia tak bisa mengangkat telepon Habib. Hapenya disailen.
Habib yang mendengarnyapun mendengus sinis.”Oh jadi kamu menyalahan saya begitu he?” Tanyanya dengan kerasnya.”Itukan memang tugas kamu, jadi bukan salah saya jika kamu bekerja seprti itu.. jadi jangan menyalahkan pekerjaan, itu semua salah kamu..!!” Teriaknya sampai sampai ia sakral rem miliknya mendadak ketika melihat lampu merah didepannya aktip.
Filos menghela nafas. Tuanya ini memang mintah diterjang ya.. ia tersenyum ingin rasanya memaki Habib, ia bahkan belum makan srharian ini karena tugasnya yang terlalu banyak.” Maaf tuan, saya manusia jga.. saya jga bisa berbuat salah ..!!” Ujarnya dengan sabar lagi.
“Terserah sama kamu.. mau kamu manusia mau buka itu bukan urusan saya. Yang saya mau sekarang kamu harus cari pengacara untuk Rindu supaya dia bebas.. saya tidak mau dia didalam penjara, tolong cari bukti, baik itu secara kotor maupun secara baik untuk Rindu. buktikan jika Rindu tidak bersalah, kamu sogok mereka juga tidak apa-apa. Yang penting Rindu keluar dari sana paham?!!” tanyanya dan jelasnya.
Filos mendengarnya tertegun. “Bagaimana bisa apa? Diagama kita tu tidak boleh. Menyogok tu haram hukumnya loh pak, apalagi kita mengembalikan fakta. Nanti dosanya bapak mau nanggung?!!” Tanyanya dengan polos. Ia memang bukan ahli agama atau orang pandai agama, tapi jika suatu hal yang seperti itu ia tau... ia paham sedikit demi sedikit.. karena itu ajaran dikalah ia kecil dan belajar mengajih dulu loh.
“Saya tidak peduli itu haram atau halal. Yang saya Rindu harus bebas bagaimanapun caranya. Biar saya bayar dengan berapapun... jangan membantah dan jangan mengomentari saya Filos..!!” Ujar Habib tak terima diceramahi oleh Filos.
__ADS_1
Fillos tak mengerti lagi dengan tanya ini,semakin lama semakin menjadi saja membuat ia menghela nafas.”Maaf tuan, jika begitu saya tidak bisa.. lagipula pengaara mana yang bisa menerima kasus yang sidangnya itu adalah Besok. Rindu disidang besok tuan, karena dia meminta sidang dipercepat saja... dan kita tidak aan bisa membuat sesuatu secepat itu. Lagpula kalo tidak salah keluarga si Arga itu adalah keluarga hukum, jadi sangat sulit untuk kita mengalahkan mereka hanya dengan sogokan, “Jawabnya Filos dengan tegas,
Habib tertegun. Apa? Besok ia menatap jam dilenganya yang menunjuan pukul 3sore. Lalu bagaimana ini? ia menatap nanar jalanan. Ternyata dia terlambat kah? masih bisakah? Ia segera mematikan teleponnya dan menancap gas menuju tempat lain. los hanya menghela nafas dialah Tuanya yang menelpon degan dibuka tanpa salam dan ditutup tanpa kata dan pamit. Katanya mau berubah"Ini ni yang buat Rindu nggak mau smaa tuan.. Tuan terlalu kekanak kanakan..!"Gumamnya tak jelas...