Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Sikembar


__ADS_3

Rindu menghela nafas. Memang susah jika bicara kepada orang awam, belum lagi, tak semua dari kalangan kita memiliki ilmu tinggi dan memahami ucapan kita. Salah sedikit saja bicara, pasti akan melebar kemana-mana.


“Saya bukan kakaknya. Tapi saya tegaskan kepada kalian, Negara kita negara hukum. Tak sepantasnya bapak-bapak menghakimi orang seenak perut kalian. kalian pikir roti kalian bisa bawa kekuburan? “ Ucap Rindu tegas. “Jika bapak-bapak tidak mau bubar sekarang juga, maka saya pastikan saya akan melapor kepada polisi, dan siapapun yang sudah melukai anak ini akan masuk penjara. Dan tenang saja, saya anak hukum. Mudah bagi saya untuk menyebloskan kalian kepenjara.” Peringatan sekaligus ancaman dari Rindu.


Sebenarnya tak ada sangkut pautnya anak hukum dan penjara, tapi jika ia pengacara mungkin sangat berpengaruh. Apa lagi ia sekarang tidak kulia. Rindu hanya mencari alibi untuk tak memanjang tali kelambu.


Para warga pun saling bertatapan. “Kami bebaskan kali ini. tapi jika lain kali dia mencuri lagi, habis...” Acam salah satu warga.


Yang lainpun mengangguk. Saat sudah mengancam, barulah mereka pergi meninggalkan Rindu dan anak-anak itu.


Mata Rindu beralih menatap anak-anak didepannya. Tangisnya sangat piluh. Ia mendekat dan berjongkok didepan anak-anak itu. “Kalian nggak apa-apa?” Tannya Rindu.


“Kak. Jangan masukin kami kepolisi kak. Tolong kak. Maafin kami. Ini salah Rian, Rian mencuri karena adek Rani sakit belum makan dari kemarin, hiks hiks. Sekarang gara-gara Rian, Rani jadi gini. Kak bantuin Rian, Rian nggak mau Rani mati.” Ucapnya terisak-isak.


Tangisannya begitu piluh didengar Rindu.


Tangan Rindu terulur memegang kepala pria kecil yang kumuh itu. “Kakak nggak bakal masukin kalian penjara. Sini kakak bawah adik kamu kerumah sakit.” Ucap Rindu lembut.


Mata pria kecil bernama Rian itu berkaca-kaca. Jejak air mata suci masih mengalir deras dipipinya, wajahnya kotor penuh tanah. Disudut-sudut bibir dan mata-nya penuh memar. “Beneran kak?” Tanyanya penuh harap.


Rindu mengulurkan tangannya menggendong gadis kecil yang bernama Rani , awalnya Rian tahan, tapi Rindu mengucapkan. “Ayo. Nanti adik kamu makin sakit mau?” Tannya Rindu.


Tangan Rian langsung melepaskan adiknya, ia tak tau apa ini pilihan yang tepat, tapi ia sangat butuh abntuan gadis remaja didepannya.


Rindu mengangkat Rani berdiri. Tubuh Rani sangat kurus, bagaikan kurang gizi, wajahnya begitu pucat, tapi entah Rindu merasakan punggung gadis ini ada cairan yang menempel dibajunya dan merembas kekulitnya, bajunya berwarna biru tapi sudah menjadi hitam terkena debu dan tanah. Ia memegang tangan mungkin Rian digenggaman tangan kirinya. “Ayo. “ Ucap Rindu pelan.


Wajah Rian mendongak menatap Rindu. Lalu matanya beralih menatap tangannya yang ditangkap dan digenggam lembut oleh Rindu. Ia pun mengikuti jalan Rindu dengan terpincang-pincang sambil menggigit bibir bawahnya.


Rindu menghentikan jalannya, ia menatap Rian “ Kaki kamu sakit?” Tannya Rindu.


Rianpun menggeleng takut, ia menggigit bibir bawahnya kuat, bisa ia rasakan kakinya pasti terkilir, atau mungkin tulangnya retak karena pukulan dari warga..


Rindu menatap Rian, ia tahu jika Rian berbohong. tapi bagaimana ia bisa membawa dua anak sekaligus, ia saja sedang sakit sekarang. Tapi bagaimana ini? mereka bahkan belum sampai diarena bus atau dijalan besar. Ia memilih berjongok. “Naik punggung kakak aja.” Ucap Rindu.


Rian menatap Rindu. “Tapi Kak—“


“Ceperan. Nanti adik kamu tambah para loo.” Ucap Rindu lembut. Rianpun mau tak mau memeluk Rindu. Tangannya melingkar sempurnah dileher Rindu, kakinya menghapit kaki Rindu erat.


Rindu berdiri. Tak bisa ia berbohong, jika Rian dan Rani jika digabungkan Sangat berat. Tapi sebisa mungkin ia berjalan cepat pergi kejalan raya dan mencari taksi. Tangan kanannya memopong tubuh Rani. Sedangkan tangan kirinya menahan tubuh Rian dipunggungnya, supaya tubuh Rian tertahan. Ia beberapa kali berhenti dan memposisikan tangannya supaya bisa menahan Rian dan Rani.


“Kalo kakak nggak kuat, Rian jalan aja, nggak apa-apa kok.” Ucap Rian merasa bersalah.

__ADS_1


“ Kita cari taksi dulu. Baru kamu bisa jalan ya.” Jawab Rindu ditengah menarik nafas dalam.


Untunglah Allah sangat menyayangi Rindu. Saat mereka sudah sampai dipinggir jalan, Rindu dapat melihat taxsi. “ Taxsii...” Panggil Rindu kencang.


Taxsi itupun berhenti Didepan Rindu. Rindu bejongkok sebentar untuk.menurunkan Rian., “ Ayo masuk.” Ucap Rindu.


Rian melepaskan tangannya dari leher Rindu, ia masuk kedalam taxsi terlebih dahulu, lalu disusul Rindu yang masih menggendong Rani.


“Kerumah sakit terdekat ya pak.” Ucap Rindu kepada supir taxsi. Supir taxsipun melaju mobilnya cepat.


Mata Rian tak lepas dari Rani, seakan takut Rani kenapa-napa. Rindu menatap itupun tersenyum tipis. “Jangan takut. Dia akan baik-baik saja. Kamu cukup doa ya.” Ucap Rindu. Ia mengelus rambut Rian lembut.


Rian menatap Rindu sendu. “Terimaksih kak. Terimakasih sudah mau bantu kami.” Jawabnya.


Rian merasa jika Rindu saat ini menjadi malikat baginya. Bagaimana tidak, semua orang mau membunuhnya, tapi Rindu malah membawa mereka tanpa jijik.


“Ibu sama ayah kalian dimana?” Tanya Rindu.


Rian kembali menunduk. Matanya kembali basah. “Ayah sama bunda udah dilangit sama Tuhan.” Jawabnya piluh.


Rindu meringis merasa bersalah. Ia mengelus lembut kepala Rian. “Maaf.” Ucapnya lirih.


Rindu bahkan lupa jika ia sudah memesan ojol, apa kabar dengan ojolnya? Setelah larut dalam pikirannya, ia tersadar saat supir berucap. “Sudah sampai dek.”


Rindu kembali sadar dari lamunannya. ia mengambil dopet dalam tasnya. Ia mengeluarkan dua lembar uang lima puluh ribu. “Ini pak. Makasih ya.” Ucapnya. Sebenarnya ini sangat memboroskan, jika naik angkot atau ojol. Mungkin ia hanya membayar sepuluh ribu. Tapi ya sudahlah. Nyawa orang lebih penting saat ini.


Rinu turun dari taxsi. Rian mengikuti Rindu. “Ayo..” Ucap Rindu kembali berjongkok. Rian kembali digenong oleh Rindu. cepat-cepat Rindu melangkah masuk kedalam rumah sakit. “Sus, dok....Bantuin saya.” Ucap Rindu berteriak.


Ada beberapa suster datang ketika panggilan Rindu kembali terdengar, bahakn lebih keras. Rindu meletakkan Rian dan Rani brangkar masing-masing. Rian dan Rani dibawa keruang untuk dirawat. Rindu hanya mengikuti dari belakang.


“Mbak tunggu disini saja ya,” Ucap salah satu suster ketika melihat Rindu mau mengikuti Rian dan Rani. Rindupun hanya menganngguk patuh.


Rindu memilih menungguh didepa pintu, sakitnya kembali kumat, matanya terpejam. Sedari tadi ia tahan, tapi sakitnya menjadi-jadi.


“Rindu..” Ucap seseorang yang tak asing bagi Rindu. tapi setelahnya ia tak bisa mendengar apa-apa. ia tak sadarkan diri.


----


Rindu membukakan matanya yang berat, ia mengerjab, kepalanya sakit. Tangannya terangkat memegang kepalanya.


“Syukurlah. Kamu sudah siuman.” Ucap seseorang.

__ADS_1


Rindu mengalihkan pandangannya kearah sumber suara. “Eh dokter Ray.” Guam Rindu. mata Rindu membulat saat ingat Rian dan Rani. Cepat-cepat ia duduk dari kursinya. “Gimana keadaan Rian dan Rani?” Tannyanya.


Dokter Ray menatap Rindu sejenak. “Mereka sudah dirawat, mereka ada disebelah.” Ucapnya,


Mata Rindu beralih kearah kirinya, disana tertutup hordeng biru. Tangannya terulur membuka hordeng itu. Dapat ia lihat dua anak polos yang terlelap tidur,. “Gimana keadaan mereka?” Tanya Rindu, tanpa peduli akan keadaannya sendiri.


Dokter Ray tersenyum hangat. “Tubuh mereka ada banyak luka, anak kecil perempuan itu,” Dokter Ray menunjukan tannganya pada Rani. “ Seluruh tubuh anak itu, sepertinya terkena cambuk dengan kejam. Ada luka di tubuhnya yang sudah terinfeksi dan mengakibatkannya demam tinggi. Untunglah kamu membawanya cepat kesini, jika tidak, saya tak tau apa yang terjadi dengannya.” Jelasnya.


Mata Rindu menatap Rani sedih. “Lalu keadaan Rian?” Tannya Rindu.


“Rian anak laki-laki itu?” Tanya dokter Ray. Rindu mengangguk sebagai jawaban. “Dia tidak terlalu parah. Hanya saja tulang kakinya retak dan tubuhnya mengalami banyak lebam. Tapi yang saya bingung, diseluruh tubuh mereka banyak sekali bekas luka, seperti sering terkena pikulan benda tajam.” Jelasnya.


Rindu mengerutkan keningnya. “Maksud dokter?” Tanya Rindu. sebenarnya ia paham, tapi ia ingin mendengar pasti dari dokter Rey.


“Sepertinya mereka mengalami kekerasan fisik. Lihat saja, tubuh mereka penuh luka dan saya bisa pastikan jika mereka makan makanan yang tidak bergizi.” Jelasnya.


Rindu tertegun, benar dugaannya. Ia menatap Rian dan Rani sendu. Tapi surah dokter Ray kembali menyita pandangannya. “Apa kamu masih sakit?” Tannyanya.


Rindu kembali mengingat dirinya. “Jadi dokter yang menolong saya?” Tannya Rindu.


Dokter Ray tersenyum sebagai jawaban. Memang benar, tadi saat Rindu berteriak meminta bantuan, dokter Ray baru saja keluar dari ruangan pasien, sontak saja ia mengikuti jalan Rindu. ia ingat jika Rindu adalah pasien nya.


“Terimakasih ya.” Ucap Rindu.


“Saya butuh bicara masalah penyakit kamu.” Jelas dokter Ray.


.


.


.


.


Alhamdulilah udah 2capt sekaligus hehe.


Makasih buat yang masih setia nunggu Rindu hehe.


klik Like dan masukin komentar kalian ya. jangan lupa Vote.


makasih semua....

__ADS_1


__ADS_2