
Rindu bangkit dari duduknya dan menatap pak Hendrawan sendu.” Seharusnya bapak introfeksi diri pak. Seharusnya bapak sadar jika Allah memperingati bapak..! Bapak mungkin diberi peringatan dari Allah. Saya tidak pernah mendoakan yang jelek-jelek pak. Demi Allah subhanahutaa'ala pak, saya tidak pernah berniat jahat...”Ujar Rindu serus. Suaranya terasa berat arena menahan gelinangan air mata.
Hendrawan menatap Rindu dalam. “Bohong... Saya masih ingat kamu mengatakan hal itu dimobil. Dasar sok baik kamu ya...! Pergi kamu...!” Bentaknya marah.
“Hendrawan... “ Seruu Yohan pada sang putra tertua. Perkataan Hendrawan sudah sangat keterlaluan baginya. Jika sudah menghina seperti itu. Ia sebagai ayah tak bisa diam saja.
Habib mau membantu Rindu berdiri dengan rasa bersalahnya, bersalah karena ia ta bisa membantu Rindu untuk menghadap Hendrawan, secara Hendrawan adalah anak tertua dari keluarga ibunya, masa iya dia harus melawannya, sedangkan Hendrawan adalah orang yang paling disegani dikeluarga ini. “Tidak usah. Terimakasih..” Ujarnya getir saat Habib mau membantunya, ia tak suka dibantu semacam ini. ia bukan gadis lemah yang butuh pengibaan.
“Kamu pulang duluan kerumah kami ya...” Ujar Habib getir pada Rindu. ia mengangkat tangannya karena tak disambut oleh Rindu. ia tau jika saat ini hati Rindu sedang tergores.
“Nggak usah dibantu pembantu saja... “Ujar Hendrawan sinis.” Nanti kalo anak dan istri saya kenapa-napa saya pastikan kamu akan tangung akibatnya...” Ujarnya kejam menatap Rindu.
Rindu menatap Hendrawan dengan mata yang berkaca-kaca, tangisnya hampir jatuh. Ia menganguk.” Saya yakin jika Alah Swt tau siapa yang harus ia tolong.” Ujar Rindu sedikit pelan. “Andai bapak mengalihkan musibah ini kehikma yang harus bapak ambil pak.... Sangat banyak...”
“dengan ini bapak bisa tau kapan saja bapak dan keluarga bisa menghadap sang Khalik tanpa diketahui oleh siapapun, bahkan diri bapak sendiri, andai bapak mengalihkannya dengan menyadaran bapk,, jika sebenarnya bapak masih diberi waktu buat ngehadap Allah. Sebab semua musibah itu ada hikmanya.” Gumam Rindu pedih.” maafkan saya pak jika kalimat saya didalam mobil menjadi doa. Tapi Allah maha tau jika sama sekali tak ada niat untuk mendoakan yang buruk untu keluarga bapak.” Lanjutnya tulus.
“Enggak usah cerama disini..! mau saya jahit mulut kamu iya?” Hedrawan menatap Rindu nyalang.” Kalo mau cerama pergi dimasjid saja sana. Saya nggak sudi dengerin cerama kamu yang sok paling benar itu....” Teriaknya.
Banyak pasang mata menatap Rindu iba, bahkan keluarga Habib diam tak berani membantah ataupun membantu, sebab mereka tak tau apa yang jadi permasalahannya.
Rindu menunduk dengan mata yang selalu beredip-kedip supaya tak menangis, sakit sekali rasanya hati ini, bagaikan terimpit batu besar, benar kata pak Hendrawan jika ia tak baik, tapi selalu cerama dan menasehati orang lain. Tuhan maafkan hambamu ini yang selalu memberi wajah sok baik hamba, padahal hati hamba masih sanat buruk. Hamba mohon jangan jadikan hamba dalam golongan orang-orang munafik, orang orang yang menyesatlan dan orang-orang yang merasakan jika dirinya benar dan juga dirinya yang terbaik, sebab hamba masihlah manusia yang berlumburan dosa, hamba tak sanggup jika harus memasuki nerakamu. Bahkan melihatnya saja hamba tak sanggup.
Rindu memejamkan matanya dalam.”Kamu pulang duluan saja Rindu..” Ujar Panji kasihan pada Rindu, ia tersenyum tipis meskipun dapat dilihat jika alisnya menyatu saat ini, tanda jika ia sedang kalut dan bingung.
“Jika begitu saya permisi pak, bu, Assalamu’alaikum..” Ujar Rindu pelan lalu berbalik tanpa mau melihat mereka.
Tepat saat ia berbalik air matanya jatuh, jatuhnya air mata itu tak membawa isakan, hanya saja hatinya terasa sakitnya menyilukan. Langkanya menuju musholah terdekat untuk melaksanakan sholat Isya saja. Ia tak mau pulang karena ia merasa jika keluarga Hendawan tanggung jawabnya, ia merasa bersalah karena perkataannya menjadi doa. Coba saja saat itu ia tak bicara sembarangan, pasti saat ini ia tak seprti ini.
Memang benar yaa jika diam itu emas. Lebih baik diam dari pada bicara hal yang kotor. Tolong ingatkan Rindu dilain waktu supaya ia tak salah bicara lagi.
...
Hendrawan mengusap wajahnya kasar karena frustasi. Sudah setengah jam semenjak Rindu pergi ruangan anak dan istrinya tak juga dapar kabar. Ia mondar-manidir karena sangat mengkhawatirkan mereka.
Sesaat setelahnya pria menggunkan jas putih dan teleskop itu keluar membuat Hendrawan mendekat secara reflek.” Gimana kabar anak dan istri saya dok?” Tanyanya khawatir. Pasalnya mereka masih menggunakan UGD yang artinya mereka ditempat yang sama hanya terpisah oleh tirai saja.
Dokter itu tersenyum ramah. “Putri bapak tidak apa-apa, hanya saja kepalanya memar karena benturan yang sangat keras, ditambah hidungnya juga terbentur membuat ia mengeluarkan darah begitu banyak.” Ujarnya dan memberi jeda sebentar untuk bernafas. “sedangkan istri bapak mendapatkan luka cukup dalam dibagian kepalanya, syukurnya luka itu tak mengores alat vital dikepalanya, jadi ia hanya mendapatan jahitan dibagian dalam sebanyak 5jahitan dan bagian luar 7jahitan, tapi maaf ya pak, soalnya rambut istri bapak bagian atas sebelah kanan kami cukur untuk mempermuda penjahitan, dan lagi tadi disana kami juga ada luka disana cukup besar, jadi luka disana juga dijahit sebanyak 2 jahitan bagian luar saja.” Jelasnya panjang lebar,
“Tapi beneran nggak apa-apa dok? karena tadi saya melihat darah sangat banyak diputri dan juga istri saya.” Ujar Hendrawan masih ragu dan khawatir.
Dokter itu mengeleng tanda ia mengatakan hal jujur.” Tidak pak, itu teradi karena hal yang wajar, sebab mereka mengalami luka dikepala, ditambah tadi saya melihat dibagian leher istri bapak juga ada luka meskipun tak sebesar dibagian kepala. Karenanya darah sangat banyak keluar.”
“Jadi gimana istri saya sekarang dok?” Tanya Hendrawan pada dokter itu masing linglung.
Namanya juga khawatir.
“Puteri dan istri bapak sudah siuman beberapa menit yang lalu, saat saya membersihkan luka mereka, bapak bisa masuk sekarang juga..” Ujarnya lembut dan juga ramah.
__ADS_1
Hendrawan menganguk.”Terimakasih dok..” Tak mau mendengar balasan dari dokter. Hendrawan masuk untuk melihat anak dan istrinya, tak lupa diikuti oleh Dilan dan lainnya, tapi terhenti karena dokter menahan mereka.
“Hanya bisa satu orang saja yang jenguk, sebab ini rumah sakit kecil, didalam ada banyak pasien, dan lagi pasien butuh istirahat.” Ujarnya menahan para keluarga Holmas lainnya.
“Tapi saya kakak dari kembaran saya dok, saya mau liat dia dan ibu saya..” Bantak Dilan marah. Iakan juga khawatir, ia baru saja sampai karena tadi ia tak tau jika keluarganya kecelakaan, saat keluarga lain menelponnya tapi tak diangkat, dan saat ia sudah mau masuk kerumah baru ia rau keluarganya kecelakaan membuat ia memutar arah.
“Tetap tidak bisa dek. Tunggu sesudah ayahnya saja ya, kalian bergantian saja jika mau masuk..” Ujar dokter itu, diname tagnya tertulis nama Tania Arfonse. “Jangan lupa untuk membersikan tangan dulu ya sebelum masuk. Saya permisi.” Ujarnya lalu memasukkan tanganya didalam jas. Ia pergi dengan ramah dan sopanya.
Dilan diam dengan mata yang sayu. Panji melihat itu dengan refleknya ia memeluk dilan.” Yang sabar, ibu dan Adik kamu kan tidak apa-apa.” Ujarnya pelan.
Dilan yang mendengar itu menunduk dan kembali meneteskan air mata. “Dilan Cuma nggak mau kehilangan orang yang sangat berharga lagi om. Cukup kakak Aurel aja yang ninggalin kami. Dilan enggak mau lagi ditinggalin orang yang paling kami sayang..” Ujarnya serak.
Aurell Fareize Holmast. Ana pertama dari keluarga Hendrawan Hollmas, usia dia seharusnya 25 tahun sekarang. yang berjenis kelamin perempuan, ia mengidap penyakit jantung sedari ia menginjak SMP. Tragedi dimana kakaknya itu selalu dibullying tapi ta diketahui oleh keluarganya. Suatu hari kakaknya itu diusili oleh teman-temanya dan membuat suatau hal yang sangat fatal, yaitu mengurungi Aurell didalam Lab Biologi, entah bagaimana lab itu dipenuhi asap karena Aurel menyenggol bahan kimia.
On Flasbahck.
“Lepasin kak. Jangan-jangan kayak gini. Aurel takut gekap...!” Teriak sang gadis cantik itu histeris, tapi tak ada yang mau membukakan pintu, bajunya acak-acakan akibat dibully abis oleh kakak tingkatnya, ia dibully karena ia anak pintar dan juga kesayangan guru membuat ia menjadi musuh bagi murid-murid dikelasnya.
“Hikshiks.. Dadd. Momm bantuin Aurell..” Gumamnya sembari menungkup wajahnya basah. Ia mengusap wajahnya kasar, dan kembali menatap pintu yang tertutup itu.
“Aurel harus bisa keluar, arel harus kuat.” Tekatnya.
Satu..
dua..
tiga..
Bugh...
Ia menggobra pintu itu dengan kekuatan besarnya, tanpa berfikir jika yang ia lakukan itu sangat sia-sia, sebab mana bisa didobrak dari dalam, seharusnyakan dari luar. Tapi yang namanya panik tak akan pernah berfikir kesitu, ditambah Aurel tak mengerti tentang bela diri.
Na’asnya perbuatanya tanpa berfikir itu membuat ia terpental dan menabrak meja yang berisi bahan kimia.
Tar... tar..
Semua yang ada diatas meja itu jatuh diatas lantai membuat Aurel terkejut, dan tak lama setelahnya ada suara yang mengeluarkan ledakan yang sangat besar. Ledakan itu dari kimia-kimia itu yang bersatu dan pada akhirnya ruangan itu penuh dengan asap kimia yang bisa merusak oragan dalam. Aurel yang melihat itu menutup wajahnya takut, taganya semua melepuh akibat ledakan itu, dan lebih parahnya lagi ia tak bisa keluar dari dalam Leb itu. Ia menghirup banyak gas itu membuat ia sesak nafas dan kerusakan organ dalam. Tak ada yang menolongnya akibat Lab itu kedap suara dan juga tanpa pentilasi. Karena memang khusus untuk menaruh Barang-barang kimia.
Aurel ditemukan dipagi harinya dengan keadaan yang sangat kacau. Tanganya penuh luka bakar dan juga tak bisa bernafas legah.
Pristiwa itu awal dari Aurel menjadi pendiam dan juga suka sakit-sakitan. Keluarga Arel tak ada yang datang kesekolah untuk melihat anak mereka, karena apa? Karena mereka sedang diAnsterdam. Dengan mudahnya Aurel menyimpan dan mrnyembunyikan semua penyakitnya. Jantungnya rusak akibat kejadian itu.
Hanya berselang dua bulan Aurel meningal dengan diagnosa jantungnya rusak, dan itu membuat keluaga Hollmas murka dan terasa kehilangan. Sekolah yang Aurel tempati ditutup oleh mereka dan mereka tinggal diAmerika untuk menghilangan luka yang mendalam.
Of flashback.
Semenjak kejadian itu keluarga Hendrawan sangat ketat menjaga anak-anak mereka, dan karena nenek mereka meninggal pula barulah mereka kembali meski masih ada ribuan jarum menusuk jantung. Mereka harus tinggal kembali diIndonesia untuk sang kakek meraka.
__ADS_1
Salahkah jika Hendrawan sangat marah dan murkah pada Rindu? salahkah jika ia sampai menampar Rindu karena dua nyawa kesayanganya?
Karenanaya, jangan selau melihat titik gelap yang dilakukan oleh Hendrawan. Kita hanya melihat apa yang ia lakukan, jahat? Sangat jahat jika kita melihat ia memukul Rindu tanpa perasaan. Sadis? Sadis jika kita melihat Hendrawan mengusir Rindu dan menghina Rindu sangat kasar.
Tapi tak ada yang sadar jika Luka Hendrawan sangat dalam., andai orang lain atau diri kita diposisinya, pernah kehilangan orang yang kita sayangi, pernah kecolongan sepertinya, pastilah kita melakukan hal yang sama terhadap Rindu. mungkin ia melakukan hal yang lebih fatal untuk Rindu. dengan mencakar atau memukul Rindu secara brutal contohnya? Sebab perkataan Rindu dimalam itu memang sangat bergandengan dengan peristiwa ini. siapa yang tak curiga dan tak menuduh Rindu? namanya juga orang kalut dan marah. Siapapun bisa mereka tuduh. Bukankah manusia memang tempatnya melakukan kesalahan?
....
“Kamu engak apa-apa Sayang?” Tanya Hendrawan pada Istrinya yang terbaring lemah. Tanganya gemetar melihat istrinya, setengah kepalanya sudah dicukur habis dan menampakkan kulit putih kepalanya, ada perban disana.
Sarah menangis saat melihat suaminya. Dan hal itu membuat Hendrawan mendekat lalu mengelus lengan istrinya.” Ifyan dimana mas? Gimana keadaannya?” Tanyanya pada sang suami, ia sangat takut Ify kenapa-napa.
Namanya seorang ibu pasti lebih mementingkan keadaan anaknya dibandingkan dirinya sendirikan? seperti halnya sekarang... Tapi beda lagi kalo dengan anak
Diibaratkan kata pepatah. Ibu bisa mengurus dan menghidupkan sepuluh anak sekaligus, tapi sepuluh anak belum tentu bisa mengurus dan menghidupkan satu ibu....
Hendrawa yang mendengar itupun berbelok lalu menyibak tirai hijau itu, disana nampak Ify sedang menatap kedepan dengan tatapan kosong. Sarah dan juga Hendrawan diam tak mampu berkata. Ify melihat kedua orang tuanya dengan mata yang berkaca-kaca.” Kalian engak apa-apakan Dad Mom?” Tanyanya serak.
Sarah yang masi lemah itu tersenyum lalu mengangguk, ingin sekali a mendekap tubuh anaknya itu, tapi apalah daya tubuhnya sangat lemah. “Kamu enggak apa-apakan Son?” Tanya Sarah serak.
Dengan pertanyaan itu mampu membuat Ify menangis histeris. Hendrawan melihat itu tak tau apa-apa. Ia langsung saja mendekati anaknya untuk mendekapnya.” How About With You Baby? Why?” Tanyanya takut.
Kenapa anaknya menjerit dan menangis seperti ini.” Dimana yang sakit? katakan sama Dady. Atau mau dipangil dokter?” Tanyanya. Ia bingung, disisi lain istrinya juga menangis saat ini, ia harus mendekap dan menenangkan yang mana.
Saat Ify sudah sedikit tenang ia mengeleng.” No Ded. “Ia mengusap air matanya, ditengah batang hidungnya ada plaster dingin yang memang untuk tulang hidung, sebab tulang hidungnya retak dan hampir patah. “ Ded... Ify mau taubat..”
Dughh...
Kalimat Ify mampu membuat Hendrawan mengerntiy. Taubat? Kenapa? Apakah karena pengaruh oleh gadis pemberontak itu?
“Toubat?” Tanya Hendrawan menyakinkan.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Maaf yey kemarin absen buat up hehe..
Like komen and vote yey jangan lupa. Kalo typo maaf kyun..soalnya author kukel padahal udah diperiksa loo