Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Habib sakit


__ADS_3

Sudah puluan kali Gadis itu menghela nafas, diam dalam kesunyian dengan seorang pria didepannya ini. kakinya sudah bergerak kekiri dan kekanan layaknya sirkus ikan lumba-lumba. Matanya tajam dan gelap, tangan terlipat didada dan juga menyender diSingle sofa. Tetap bungkam dengan pendiriannya dan tak mau ditanya apa salahnya. Satu alisnya terangkat ketas melihat gadis didepannya ini terus saja menuduk, sesekali mendongak dan menatapnya namun kembali menuduk saat tau ia sedang diperhatikan. “Jadi, kau tak mau menjelaskan sesuatu pada ku hari ini Nona Rindu Azzahra...” Ujarnya sinis. Ia persis bgaika Hakim yang sedang mengintimidasi koruptor.


Rindu menghela nafas lagi, namun berbeda dengan yang tadi. Jika tadi nafas lelah dan bingung sekarang nafas lega karena situai ini terpecahkan., bukan karena ia takut, hanya saja ia bagaiman orang yang masuk kedalam sel tahan oleh manusia didepannya ini. apa salahnya hinga diintimidasi seperti ini.


“Memang apa yang harus saya jelaskan tuan?” ia juga bingung, memang ia melakukan kesalahan apa saat ini?. Namun lucuhnya saat ini ia ingat dua manusia botak dari alias yang suka berkhayal jadi detektif dadakan. Hahaha.. apakah Tuannya sekarang juga sedang berkhayal seperti kartun Malesya yang populer itu? Kartun upin ipin..


Tuannya berdecih. Ia menukar kakinya yang bersilang, yang tadinya kaki kanan diatas dan kaki kiri dibawah sekarang kaki kiri diatas sedangkan kaki kanan dibawah, yaiyahla dibawah, terus mau dimana lagi jka bukan dibawah? Ia menatap Rindu kesal. “ Jadi kamu tidak merasakan punya kesalahan kepada saya Rindu?” Tanyanya menekan setiap kata-kata.


“Mana saya tau jika bapak tidak memberi tau saya. Jika bapak suruh saya mikir terus bagaimana bisa saya tau jika tidak diberi tahu harus berpikir apa.” Ujar Rindu jujur.


Bagaimana bisa ia disuruh berfikir sedangkan ia tak tau harus berfikir apa. Emangnya dia cenayang? Atau anak Roy martin yang punya mata batin. Ia itu mana tau jika tidak dikasih tahu.


Tadi saat ia memasuki rumah sdah membuatnya merinding. Ia sudah disambut oleh wajah dinginnya Habib didepan pintu, masih ingat sekali Rindu saat ia bertanya 'Oh, ternyata masih ingat jalan pulang ternyata,’ Itulah yang ia ucapkan membuat Rindu kicep tak tau harus jawab apa. Padahal mereka pulang sore looo. Bukan malam, Habib itu bagaikan seorang ayah yang baru saja melihat putrinya sedang diantar oleh laki-laki yang notabenenya pacar.


"Oh ayolah. Bukannya kau cerdas? Masa kau tak tau dimana letak kesalahanmu? Fikir sendiri saja. Sebagaimana kalian yang selalu menanyakan apa kesalahan pada kami tanpa mau menjelaskan apa salah kami..” Ujarnya sinis.


Yasaalam...


Ini kok bawah bawah cewek baperan? Apa Habib mau menjadi cewek sekarang? Dasar pria tak berpri keperempuanan.


“Jadi apakah salah saya karena saya mengikuti Nona Ify?” Tanyanya namun Habib menggeleng. “Karena aku pulang sore? Bukankah baru sore bukan malam, dan itupun au pulang mendahului Nona Ify dan Nayla.?” Tanyanya lagi sekaligus menjelaskan. Namun lagi lagi Habi dain dengan tatapan tajam yang artinya bukan itu. “Lalu apa?” Tanya Rindu putus asa. Nafasnya naik turun melihat Habib bagaikan gadis PMS dihari pertama,


“Fikirkan sendiri.” Ujar Habib dingin.


Rindu mengeleng.” Jika tuan sepertiini saya mau undur diri saja jadi pelayan pribadi anda, sebab saya tak memiliki kemampuan khusus untuk menjawab pertanyaan tapa penjabaran. Saya manusia biasa Tuan, yang tak mampu berfikir diluar blogika. Saya capek jika harus seperti ini..” Ujar Rindu. kakinya sakit, belum lagi pinggangnya terasa mau patah, ia tak disuruh duduk sama sekali oleh Habib selama Dua jam. Bayangkan itu...! belum lagi pingangnya memang sangat sakit, kurang ajar nggak tu? Andai enggak ingat Habib lebih tua udah ia terjang mungkin.


Ingat Rindu. kamu sudah bertaubat,.. –authurrrr


Brak... Habib mengebra meja didepannya membuat Rindu mundur beberapa langkah karena terkejut, tanganya mengepal karena tak suka Rindu mau keluar dari pekerjaannya, ia menegakkan tubuhnya lalu menatap Eindu dengan dalam. Ia mendekati Rindu dengan mata tajam.” Jika au keluar. Maka kau harus membayar uang sesuai gajinya sebesar lima kali lipat dikali dengan lima tahun, kau ingat bukan perjanjiannya?” Ia mendekat dan semakin mendekat.


Rindu mundur lagi karena Habib semakin mendekat, ia berusaha untuk tetap tenang meskipun dadanya bergemuru saat ini. namun ia terpojok didinding ruangan itu, satu tangan ia mencoba kabur kekiri namun tangan Habib langsung menahannya didinding membuat ia mengurungkan niatnya. Lalu ia memimgirkan tubuhnya kekanan namun tangan Habib sudah merada disisi kanan menempel didinding. Terjadilah sekarang Rindu didalam kurungan Habib. Mencoba tenang dan tak gentar adalah kekuatan untuk Rindu.


Nafas Habib naik turun saat ini. ia menaruh telunjuknya didagu Rindu untuk mendongakkan wajahnya supaya bisa saling tatap, namun Rindu menepisnya membuat ia mengerang marah, terjadilah ia mengapit pipi Rindu saat ini supaya dapat saling tatap.


Rindu yang dibuat semacam itu menatap Habib, manik coklatnya bertemu dengan mani k elang itu. Nafas Habib menerpa buli mata lentiknya saat ini, wajahnya tertutup cadar itu membuat nafasnya tak sampai menerpa wajah Habib. “Kenapa kau dipeluk orang lain? sedangkan kau tak mau aku memelukmu.” Ujar Habib mendes.


Gap... ia menarik pinggang Rindu kedalam pelukannya, ia ingin sekali memeluknya seperti ini, sudah lama bahkan dan kali ini ia berani.


Rindu yang ditarik itu terejut, ia tak tau jika Habib mau memeluknya. beberapa detik ia belum sadar, namun saat ia sadar dengan cepat ia mendorong tubuh kekar Habib dan menendang asetnya membuat Habib mundur beberapa langkah karena meringis kesakitan.

__ADS_1


Arghh.. teriak Habib sakit. Masaa depannya kikuk karena Rindu. namun wajah Rindu masih saja tenang dan damai. Ia menatap Rindu tak percaya.


Arg... Brak..brak.. brak... ia menghancurkan banyak guci diana. Ia menghancurkan banyak pot bunga dan menyerakkan dokumen disana.


Ia mengerang frustasi sekaligus kesakitan. Masa depannya sakit dan uga harga dirinya sakit. “Kenapa kau menolakku Rindu?” Tanyanya keras untunglah itu ruangan kedap suara jadinya tak sampai kedepan. Ia menatap Rindu nyalang.” Apa aku kurang tapan?" Tanyanya mendekat lagi, Ia Memojokkan Rindu didinding tanpa disekap atau apapun.


Rindu hanya diam tanpa menjawab. “Apa aku kurang kaya?” gendang telinga Rindu seperti menggema saat ini, sebab Habib mengatakkannya hanya berjarak tiga jari diwajahnya, keningnya bahkan hampir menyatu tapi Rindu masih berusaha tetap tenang.


“Apa kurang ku Rindu dari pria pria diluar sana.. kau minta barang dengan mereka , kau mau bersama mereka diluar sana.. sedangkan denganku tidak. Aku kaya, aku tampan dan aku punya segalanya Rindu. bilang padaku apa yang aku tak punya sehinga membuatmu tak mau menikah denganku?” Tanyanya membentar. Ia memegang pundak Rindu saa ini lalu menggoncangnya,


Sudah hampir satu tahun ia mencintai namun tak terbalas kan. Rindu sudah berkerja padanya hampir dua bulan namun tak ada prubahan. Ia frustasi namun ia ingat jika Rindu suka memainkan laki-laki kaya ia juga pernah melihat Rindu dan pria keluar dari rumahnya. “Aku tak akan peduli jika kau mau dengan hartaku, jika kau mau denganku aku tak apa, sebab bagiku laki-laki yang bilang perempuan matre adalah laki laki kere.. apa lagi yang kurang? bahkan aku terima jika kau sudah tak suci lagi. Aku sudah melihat kau berdua dengan pria dirumahmu itu.. aku tau tapi aku tak peduli..” Ujarnya membentak.


Rindu terejut. Ia menadakan wajahnya menatap Habib. Ia tersenyum tipis. “ Aku bukan perempuan yang bisa stay bersamamu.” Ujarnya.” Aku tak baik untukmu. Aku bahkan mungkin akan membuat luka dihatimu saat aku menerimamu nanti. Aku tidak bisa Tuan.”


“Kenapa Rindu kenapa? Apakah aku salah mencintaimu?” Rindu tak menjelaskan tentang ia masih suci atau tidak mampu membuat Habib sedikit kecewa ia yakin Rindu sudah tak suci lagi, tapi ia masih tetap akan terima salahkah? Tidak, ia yakukin Rindu yang terbaik untuknya.


Rindu mengeleng. Ia menjulak dada bidang Habib. “Maafkan aku Habib. Meskipun aku mencimtaimu pun aku tak bisa bersama, karena Takdirku bukan bersamamu. Jadi lupakan aku..” Rindu menahan dadanya yang bergemuru lalu keluar dari kamarnya.


Arghhh.. Habib mengerang marah lalu menjambak rambutnya sendiri. Ia memukul dinding beberapa kali karena frustasi. Ia sangat takut dan terjeut sat ini.


“Rindu.....!” Teriak Habib saat bagun dari tidurnya, nafasnya tersenggal senggal karena mimpinya. Argh... Ia mengusap wajahnya kasar karena mimpi itu seperti nyata. Ia mengusap kepalanya namun tertahan ketika ia melihat ada kompres. Apa ia sakit?


“Ada apa tuan?” Tanya sosok gadis yang tertidur dilantai, kepalanya diatas ranjang karena tertidur. Ia adalah Rindu Azzahra.


Habib terkejut.” Kau kenapa disini?” Tanyanya tak bisa menghilangi rasa keterkejutannya.


Rindu menghela nafas. Lalu menceritakan. “ Tadi saat saya pulang dari kamusnya Ify dan Nayla saya melihat Tuan tertidur disofa ruang tamu, saat saya mendekat tuan mericau tak jelas, jadi saat saya cek Tuan demam. Karenanya saya minta bantuan Penjaga menggendong tuan kesini. Bik Yanti sedang tak ada dirumah, Nyonya Nina dan lainnya sedang pergi kepesta, sedangkan Ify dan Nayla katanya pergi kemall. Jadi saya tak bisa menolak untuk merawat kamu, jadi maafkan saya saya ketiduran disini.” Ujarnya pelan lalu mengecek dahi Habib.


“Eh.. Kitakan bukan Muhmin.” Ia menahan tangan Rindu yang baru saja mau mendarat.


Alis Rindu terangkat.” Muhmin?” Tanyanya sedikit bingung.


Habib mengangguk.” Iya. Yang tak boleh bersentuhan itu.” Ia mengerjab polos.


Rindu mengeleng tak mengeru alan pikiran Habib. “Mahrom Tuan, Bukan Muhmin. Untung bukan marmut.” Ketuasnya lagi namun dalam hati haha.. “ Tida apa mungkin, sebab saya mau cek suhu kamu bukan modus kok, dikit saja, sebab tak ada orang yang bisa diminta tolong, dan ini tugas saya sebagai pelayan pribadi anda.” Ujarnya lalu mengece suhunya.


Rindu mengangguk “Sidah tak sepanas tadi.” Ujarnya pelan.”Kamu mau makan tuan?” Tanyanya lagi pada Habib sesudah ia mengambil kompres itu. Ia sedang tak menggunakan sapu tangan, tapi mengunakan manset, iabmau memerah kompres itu karenanya ia ta bisa menggunakan sarum tangan.


Ia meletakkan didahi Habib ringan. “Kamu mau makan?” Tanya Rindu pelan lagi dan Habib mengegeleng. Namun ingat jika ia sakit dan mau disuapi oleh Rindu membuat ia mengangguk antusias. “Mau.” jarnya cepat.

__ADS_1


Rindu menahan senyumnya, tadi mengeleng sekarang mengangguk, tidak konsisten sekalikan. Ia bangkit lalu berpamit.” Jika begitu saya buatan sop saja ya. Soalnya kalo bubur saya tak suka, saya juga mau makan soalnya.” Ujar Rindu jujur lalu pergi.


Habib menggeleng,” Biasanya orang mau cari perhatian na kamu malah terlalu jujur, dasar Tuman..” Gumamnya pelan.


Rindu pergi kedapir untuk memasak bubur juga, ia tadi hanya bercanda dengan Habib, mana mungkin ia berbuat hal semacam itu haha, lucu saja jika memang ia selancang dan setidak tahu malu itu. Ia juga memasak sup Iga buat dirinya dan Habib. Menghabisan waktu lebih dari empat puluh menit sudah cukup baginya untuk keluar dengan nampan berisi mangkok bubur dan sup iga, namun ia letakkan sup Iganya dua mangkuk supaya ia bisa kaan bersama. Dua gelas air putih dan obat paracetamol disana.


Ia membuka pintu kamar Habib dengan tanganya lalu mendorong pintu itu dengan punggungnya. Ia jga menggunakan kakinya untuk menutup pintu. takut Zina karena hanya berdua? Tapi Rindu sadar ini tigasnya, jadi ia harus berkapang dada bukan


“Looh katanya kamu nggak mau masak bubur.” Gumam Habib melihat nampan itu.


Rindu terkekeh” Ennlggak lah. Saya nggak tega sama tuan saya nggak mungkin setega itu hehe.” Jawan Rindu meletakkan nampan itu diatas meja, ia mengambil mangkuk bubur itu dan memberikannya pada Habib.” Apa tuan bisa makan snediri?” Tanya pada Habib.


Habib yang tadinya brau saja mengubah tidurnya menjadi duduk lalu menatap Rindu, mau menjawab tidak bisa takut dibilang lebay, namun jika bilang bisa malah nggak bisa modus, sekarang yang harus dikurangi itu gengsinya atau tujuannya?


Karena Habib diam saja,Rindu beranggapan itu artinya tak bisa, jadi ia menyendokkan bubur itu lalu mengarahkan pada mulut Habib.” Makan tuan.” Ujarnya ia duduk disisi ranjang dengan menyuapi Habib.


Awalnya Habib terejut tapi sebentarnya tersenyum dan menerima bubur enak buatan Rindu. ia mampu melihat mata Rindu yang terpokus pada buburnya dan kerjaanya, tak pernah Rindu menggidanya dan baru kali ini Rindu mau duduk didekatnya apakah ia harus sakit terus ya supaya Rindu mau didekatnya terus.


“Apa saja yang kau lakukan hari ini apakah dikamusnya Nayla menyenangkan?” Habib memancing Rindu, apakah Rindu akan jujur atau berbohong.


Rindu diam sejenak lalu kembali menyendokkan bunur dan menyuapi bayi bajangnya. “Lumayan.” Jawabnya singkat.


“Hanya itu? Tak ada cerita lain.. emm maksudku tidakbada tragedi tragedi peluk pelukan?” Habib mengutuk mulutnya yang lancang ini. baru saja dekat tapi ia bertaya sebagaimana ia suka menguntit. Bagaimana jika ia ketahuan nanti?


“Tadi saya bertemu dengan teman saat masa Smp tuan, seidkirt berbincang bincang jadinya,” Ujarn


“Teman atau mantan?” Tanya Habib mencibir,


Rindu menghentikan bubur itu diudara dengan rat tabda tanya, “Kau tau dari mana aku berpelukan dengan mantan? Kau menguntitku he?” Tanyanya tegas.


Habib mengeleng tegas,” aku mau makan. Suapi au lagi.” alibihnya.


Rindu menghela nafas. Ia tau dan tak mau memanjang tali kelambu dan kembali menyuapi bayi bajangnya, setelahnya ia memberi obat untuk Habib.


.


.


Like komen And vote ya..

__ADS_1


__ADS_2