Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Mise


__ADS_3

Habib tau jika Rindu mulai bicara, maka ia akan menjabarkan Fakta dan membuat semua orang bungkam dan tak dapat berkutik. Ia saja sang motivator sangat kagum padanya. Dengan ia menggunakan Cadar tak membuat ruang lingkupnya menjadi sempit.


Biasanya orang yang sudah menutup diri sepertinya akan memilih untuk diam tanpa menjawab, atau hanya tersenyum dan menangis. Berbeda dengan Rindu, selagi itu adalah argumennya, selagi itu menurutnya benar, maka Rindu tak segan-segan untuk mengatakannya.


Rindu itu diibaratkan pemberontak sejati. Memberontak dikalah semua orang salah, tak segan untuk dibenci dan tak takut untuk dimaki. Jika itu sudah benar dalam penglihatan maupun dalam penelitian, maka Rindu akan maju paling depan. jiwa Rindu sangat kental akan sifat kepemimpinan.


Rindu tak suka menggunakan perasakaan. Terbukti saat Habib sering menghinanya atau Nayla yang menghina. Tak ada lirik mata yang sakit hati ataupun getir, tak menangis dan tak pula mengeluh dan menjawab. Ia selalu berfikir jika semua ucapan orang baik dalam segi fositif mau pun negatif untuk dirinya tak ada pengaruh. Dia menjalankan hidupnya tanpa mau mendengarkan ucapan orang lain, tak mau memusingkan apapun yang orang lain pusingkan untuk dirinya.


Rindu itu beda...


.....


Habib mengejabkan matanya saat mendengarkan lantunan ayat suci yang sangat merdu menyergap ditelinganya. Ia mengeram namun susah untuk melewatkan suara yang begitu indah ini. “Huammm.. Siapa sii ngidupin murotal Youtube dini hari..” Gumamnya kesal.


Ia melirik jam yang masih menampilkan pukul 04:00 subuh dan itu membuat Habib mengernyit. Ia mau tidur lagi tapi tak bisa membuat ia bangkit dari zona nyamannya.” Huamm..” Ia merengang tubuhnya lebar lalu menguspap rambutnya.


“Bukannya itu dari kamar Rindu ya? Soalnyakan dikamarnya gue sadap..” Batinnya heran..


Yaa.. kamar Rindu itu Habib sadap untuk mengetahui apa saja yang Rindu perbuat, apalagi kamar Rindu itu disamping kamar Habib. Bukannya ia curiga pada Rindu. hanya saja ingin mencuri semua informasi tentang Rindu tanpa ia bertanya..


Habib menurunkan kakinya lalu menguap lagi. Ia menggaruk dadanya lalu berjalan menuju kamar Rindu. ia menyatukan dahinya saat kamar Rindu dikuci..” Kok dikunci siii?” Gumam Habib saat kamar Rindu dikunci.


“Oh iya... Kan gue punya kunci serap...” Gumamnya lalu berlari menuju kamarnya. Ia mengobrak-abrik laci lalu menemukan kunci yang ia cari.


Ia berjalan lagi menuju kamar Rindu. pelan-pelan ia membuka kuncinya, begitu juga dengan pintunya.


Habib menyelipkan kepalanya mengintip Rindu disegala penjuru kamar. Tak bisa menemukannya membuat ia sedikit melebarkan pintu, tak lebar, hanya selebar tiga jari saja, Habib takut dibilang tukang mengintip.


Tapi memang lagi ngintip.


Ia bisa melihat Rindu yang sedang bersandar dipinggir kasur dengan mata yang terpejam, sedangakn tanganya terangkat bagaikan menghitung sesuatu. Mulutnya melantunkan ayat yang sangat merdu. Ia duduk beralaskan sajjadah dan dipangkuannya adalah Al-Qur'an


Ini sangat merdu, melebihi merdu yang ia dengar dari kamarnya tadi. Hatinya berdesir saat melihat wajah Rindu tanpa Niqob. Masih tetap damai dan juga manis. Dengan melihat wajahnya saja Habib bisa merasakan jantungnya berdetak tida kali lebih cepat.. ia bersyukur Rindu menggunakan Niqob, setidaknya ia tak merasakan serangan jantung setiap harinya.


Saat menikmati pemandangan itu. Habib dikejutkan dengan tepukan dibahunya. Untung ia tak berteriak, hanya mata saja yang melotot.” Sedang apa? kamu ngintip siapa....?” Ucap Panji dari belakang.


Habib melotot tanpa sadar meenutup kamar Rindu sedikit beruara. Rindu mendengarkan hal itu terkejut sekaligus panik. Ia mencari niqobnya lalu menggunakan nya. Ia tak tau jika Habib ada didepan.


“En enggak Pi. Habb mau ambil minum..” Jawanb Habib mengernyit.


Rindu keluar dengan niqobnya. Saat ia membuka pintu, disana ia melihat Habib tak menggunakan baju, sepertinya memang Habib kebiasaan tidur tanpa baju, sedangkan Panji menggunakan piama mengkilat. “Ada apa ya?” Tanya Rindu heran.


Panji melebarkan mata.” Ini kamar kamu?” Tanya Panji. Ia tak tau jika Rindu ditenpatkan kamar yang sangat luas ini. dia kan pembantu.


“Iya pi. Biar nanti kalo Habib butuh sesuatu lebih muda manggilinnya, kan Rindu pembantu Habib.” Alibih Habib cepat.


“Oh..” Ucap Panji paham, sebenarnya ia sedikit curiga pada Habib, tapi yaa dia harus percaya jika dihadapan Rindu.” Terus kalo gitu ngapain kamu disini? Kalo hauskan kedapur, bukan kekamar Rindu. apa mau nyuruh Rindu yang ngambilin?” Tanyanya.


Skak matt.


Habib gelabakan.” Tadinya sii iya, tapi ngak jadi... Habib udah nggak haus. Habib mau tidur lagi aja...” Habib melangkahkan kakinya.” Habib tidur lagi yaa.. “ Ia berlari menuju kamarnya dan melupakan kunci serap yang masih menggelantung dipintu Rindu.


Rindu diam tak menjawab, mau menuduh takut dosa, mau marah tapi tak tau marah apa.” Yaudah Rindu. saya mau keruangan kerja saya...” Ucap Pani membuat Rindu terkejut.


“Ngapain kesana jam segini?” Tanya Rindu heran.


“Saya harus menyelesikan pekerjaan saya. Memang suatu kebiasaan saya untuk mengerjakan tugs diwaktu dini hari.” Jawabnya membuat Rindu mengangguk.” Jika begitu saya pergi dulu. Jangan letakkan kunci didepan pintu gitu, kamukan anak gadis, ngak baik..” Ucapnya lagi lalu pergi meningalkan Rindu sendirirn.

__ADS_1


Rindu menatap arah pandang Panji tadi. Disana ada kunci yang menggelantung membuat ia menarik kunci itu.” Perasaan kunci kamar gue ada didalem dee..” Gumamnya heran.


Ia menutup lagi pintunya lalu melirik disela kunci dan benar adanya ada kunci disana membuat ia geram. Ia yakin jika ini ulah Habib. Ia memejamkan matanya supaya tidak marah dan tak huzuuzon. Ia memilih mengambil kunci itu lalu menyimpannya secara baik-baik.


...


Pagi ini pagi yang berbeda bagi Rindu, karena ia kesal akan Habib sedangkan Habib sangat kikuk karena ketahuan mengintip kamar Rindu.


Rindu sudah menyiapkan semua keperluan Habib, mulai dari baju, sepatu dan lainya seperti kemarin, yang berbeda hanya Habib yang sudah tak tidur lagi. Habib tak bisa tidur karena gelisa, gelisa karena takut Rindu marah sekaligus gelisa karena bayangan wajah Rindu bergentayangan dipikirannya. Saat Rindu kekamarnya saja ia bersembunyii dikamar mandi supaya tidak bertemu.


“Wahh Rindu lagi yang masak? Masak apa Rindu? nasi gorengkah? Buburkah?” Tanya Panji semangat untuk mencairkan suasana.


“Hanya nasi goreng..”Jawab Rindu jujur.


“Pagii tante Nina... Pagi om Pnji.. Pagi Habib pagi adik ipar..” Suara itu membuat Rindu menatap asal suara. Disana ada gadis yang sangat Rindu kenali. Dia adalah Mise yang dulu sempat bertemu dengan Rindu dan Habib saat dimaall. Kalian ingat dibab sebelumnya?


“Pagi... Ehh,,, kok keisini pagi-pagi nggak ngabarin tante....” Ucap Nina senang. Sedangkan Habib mendengus kesal.


“Cih... Rubah masih aja mau kesini. Kenapa? Masih ngarep jadi mantu orang kaya terus bisa jadi nyonya? Mimpi aja terus...!” Ketus Nayla sembari memakan nasi gorengnya.


“Nay... Nggak boleh ngomong gitu...!” Ketus Nina melihat kelakuan anaknya itu, sedangan panji memilih diam saja tak mau melhat Mise yang menurutnya menjjikan. Yaa menjijikan dengan busana yang menggoda.


Mise yang diejek oleh Nayla merasakan jika hatinya memanas, tapi ia memaksakan untuk tersenyum. “Ihhh adek ipar masih aja judes..” Ia bahkan berani mencubib pipi Nayla gems.


Nayla menepis tangan itu kasar.” Jorok ihhh tangan loe... Bau omperan, ngak sudi dipegang manusia kayak loe... Mending gue disentu sama Rindu, meksipun dia pembantu dan miskin, dia keren sama pinter. Yaa kan bang, Pi..” Ia menatap Habib dan Panji meminta persetujuan, tentu saja diangguki oleh Panji yang merasakan jika Rindu itu sangat cocok untuk Habib. Sedangkan Habib hanya menatap Nayla datar padahal hatinya sudah terombang ambing dilautan kebaperan.


“Rindu?” Beo Mise mengernyit.


Nayla menganguk” Itu Rindu..” Ia mengarahkan muncungnya kearah Rindu yang baru datang dengan kopi untuk Habib.


Mise manatap Rindu terkejut.” Riri?” Tanyanya takut. “Loe beneran Rindu? katanya loe pacarnya Habib, nahh ini jadi pembantu..


“Kalian kenal?” Tanya Panji melirik Rindu dan juga Mise bergantian.


“Iyya oiyalah om, dia tu yang dibutik dulu ngatain kalo dia pacarnya Habib terus nagatain kalo aku itu pelakor, eh nyatanya dia Cuma pembantu..” Ia tertawa sinis melihat Rindu.


Ini dia... Berbohong akan membuat malu pada waktunya....


Rindu tersenyum sinis dibalik noqobnya.” Tapi kayaknya kita kenal sudah lebih dari itu. Benarkan Mie?” Tanya Rindu menghentikan tawa dari Mise. Ia menatap Rindu tajam membuat keluarga Habib diam tak mengerti.


“Kok terroris dipekerjakan sii Tan?” Tanya Mise yang langsung duduk tanpa dipersilakan oleh tuan rumah membuat Panji dan lainya tak suka.


“Dia Habib yang bawah. Mami awalnya keget, tapi liat kerjanya memang bagus banget..” Jawa Nina, meskipun ia tak suka pada Rindu yang sudah berani meneruti keinginanya kemarin, ia tetap tak bisa berbohong. karenanya Panji dan lainya tau jika maminya itu masih sangat Polos dalam pemikiran.


“Dia itu mantan jala*g loe mi.. Jangan mudah percaya sama mulut manisnya itu, apalagi sikapnya yang sok jadi pemimpin sama sok suci, ahhh, dia tu memang suka caper...” Ucap Mise sinis melirik Rindu yang dipuji oleh Nina.


Rindu memejamkan mata lantas tak mau berdebat. Ia memilih pergi saja kedapur tapi ditahan oleh Nayla. “Disini aja teman miskin.. Aku sumpek liatin Rubah itu..” Ucapnya sinis.


Rindu mau menolak, tapi tanganya ditarik paksan oleh Nayla untuk duduk disampingnya, mata Nayla melirik Mise sinis. Sedangkan Rindu hanya diam tak tau harus berbuat apa. “ Ini makan ya temen miskin..” Ucapnya Nayla sembari meletakkan nasi goreng diatas piring Rindu sedikit kasar.


“Mii... Kok Rindu makan dimeja sii, dia kan pembantu. Lagipula gara-gara dia ni Habib mutusin perjodohan, padahal Cuma fghting baju lagi...” Aduh Mis merengek pada Nina.


Nina melirik Rndu yang sama sekali belum menyentu nasi goreng diberi Nayla. Rindu hanya melirik tanpa mau memakannya, bukan karena ia sombong atau tak berterimakasih, tapi cara Nayla memperlakukanya seperti itu membuat ia tak akan makan nasi tersebut. Bukan karena kata’Miskin’ Tapi karena ketika Nayla meletakkan nasi itu berdenting keras dengan nasi berserakan.


Katakan saja Rindu sombong, tapi Rindu tak suka diberlakukan bagaikan orang mengemis ataupun kucing kelaparan yang memohon makanan. Jika dipikiran orang mungkin Rindu saja yang baperan, tapi jika Rindu tetap lah Rindu..


Sebenarnya adakah yang ganjal dari bab-bab sebelumnya? Rindu mengggunakan kata ‘Aku-Kamu’ Ketika seseorang menggunakan kata Aku-Kamu’ Ia juga mengucapkan kata Loe-Gue’ ketika orang berbicara denganya menggunakan ‘ Loe-Gue’ Dan ia juga menggnakan kata ‘Saya-Anda’ Jika memang harus dikasarkan. Karena apa? Karena ia bersikap layaknya seseorang bersikap padanya. Ia sopan ketika awal berbicara, tapi jika orang lain tak bisa sopan sepertinya, maka ia akan megikuti alur orang...

__ADS_1


Dan pada initinya Rindu akan bersikap sebagaimana orang lain bersikap, ia akan menjadi manusia yang paling baik jika orang lain menanam satu kebaikan, ia akan menjadi sopan jika orang lain menghargai kesopanannya. Ada yang bilang Rindu melakukan sistem Timbal balik? Pada kenyataanya memang benar adanya jika menyangkut kehormatan.


Gila hormat? Bukan gila hormat, hanya saya kita harus bersikap selayaknya supaya kita bisa dihormati. Sebab Rindu bukan sosok yang mau diinjak-injak ataupun dihina. Maka dari itu ia bertindak sebagaimana supaya ia tak diinjak dan dihina lagi dan lagi.


“Rindu.. Saya mau pergi kerja.. Antarkan saya kedepan...” Ucap Habib lalu mengelap bibirnya dengan tisyu. Ia bisa melihat jika gerak Rindu itu menggambarkan ketidak sukaan tapi dipendam membuat ia berinisiatip untuk menjauhkan Rindu dikondisi ini.


“Kamu itu kayak suami stri saja. Kan Mise tunangan kamu dan calon istri kamu..” Ucap Nina heran pada Habib. Ia juga heran awalnya kenapa Rindu ditempatkan kamar Mewah dan juga menjadi pelayan pribadi Habib, padahal Habib itu sosok yang tak suka masalah pribadinya dicampurkan oleh orang lain,


“Diakan asistennya Habib. Udah ahh, Ay Rindu bawakan tas saya..” Perintahnya dengan beranjak, ia membenarkan jasnya terlebih dahulu, sebenarnya kenapa ia menyuruh Rindu membawakan tasnya hanya alasan, dan yang paling peka disana adalah Panji sang ayah Habib, tapi nampaknya ia menykai Rindu, buktinya sekarang ia tersenyum manis.


Rindu yang mendapatkan perintah itu menganguk lalu bangkit.” Ehh makanan lo kok ngak dimakan sii? Nggak ngehargai banget..!” Ketus Nayla tak suka melirik nasi Rindu yng masih utuh.


“Rindukan makai cadar Nay.. Mana bisa dia makan ditempat umum kayak disini..” Bela Panji pada Rindu.


“Dia kan bisa nyingkep dikit pi... Udahlah, sombong tetep aja sombong, belagu ihh nyeselin ihh... udah dijadiin temen tetep ngelunjak..” Nayla menghentakkan kakinya dengan bibir yang mengerucut.


Rindu serba salah pada keluarga ini Nayla terlalu kekanak-kanakan diumur seperti ini, sikapnya yang kurang ajar menunjukan bahwa orang tuanya tak pernah keberatan apapun yang dilakukan pada anak mereka, yaa manja dan kurang ajar didiri Nayla itu beda-beda tipis. “Maaf..” Civit Rindu., tak masalahkan jika Rindu minta maaf terlebih dahulu?


“Rindu saya sudah telat..” Desis Habib lalu meningalkan Rindu. rindu yang melihat itu segera menggeserkan kursi untuk keluar dan melangkah mengikuti Habib dari belakang.


Sedangkan Mise hanya meradang melihat itu.” Mi Aku nyusul Habib dulu yaa..” Ia beranjak dari duduknya untuk bertemu dengan Rindu. yaa, tujuannya Rindu, bukan Habib sang pujaan hati.


Habib dan Rindu yang berada dibelakngnya berhenti didepan pintu mobil kemudi, Habib berbalik lalu menatap Rindu yang menunduk dan diam saja sedari tadi. “Nanti siang nggak usah masak, soalnya saya ada rapat diluar kota sampai sore..” Ucapnya.


Rindu mengangkatkan kepalanya.” Bolehkah saya pergi?”Tanyanya,


Habib mengangkat sau alisnya.” Kemana?” Tanyanya heran, bagaimana pula baru dua hari kerja minta izin keluar.


Rindu tersenyum tipis.” Dikontrak saya tak ada cantuman jika saya harus menjawab masalah pribadi saya..” Uapnya sopan namun tegas.


Sial...


Rindu tetaplah Rindu yang penuh dengan bantahan dan perlawanan.


Habib menahan gejolak didadanya.” Jika saya tidak tau urusan apa yang kamu buat diluar, mana bisa saya izinkan. Mungkin diluar sana kamu mau bersenang-senang.” Ucap Habibb.


“Lagi pula jika saya dirumah juga tidak ada kerjaan, saya tidak suka memasak jika tuan tidak menyuruh saya memasak, tugas saya juga bukan bersih-bersih layaknya pembantu lainya kan? Jadi apakah saya salah jika saya meminta izin keluar ketika saya tak ada tugas?” Tanya Rindu lagi.


“Yasudah kamu beres semua sudut ruangan rumah sana, biar kamu tak keluar rumah sekalian...” Ketus Habib. Ia berfikir mungkin Rindu akan bertemu dengan kekasihnya, padahal Rindu mau mengantarkan Rian dan Rani kepondok pesantren yang sudah didaftarkan oleh Rindu.


Rindu tak bisa diam saja, “ Tapi kan ada pembantu, dan saya katakan lagi jika saya berkerja hanya menyangkut tuan, bukan keluarga, apa salahnya saya diberi izin keluar? Apakah salah jika saya mau membeli barang ataupun bersenang-senang sebentar ?” Tanya Rindu yang masih menyetabilkan suaranya, tapi keningnya yang terlipat menampilkan jika ia kesal.


Habib menyerah.”Iya sudah jika begitu kamu boleh pergi.” Putus Habib kepada Rindu membuat Rindu mengucapkan “Terimakasih.” Sangat pelan.


Setelahnya Habib memasuki mobilnya dan menutup pintu mobilnya, sedangkan tas Habib sudah terlebih dahulu Rindu beri. Saat Rindu mau berbalik kaca penumpang dibuka oleh Habib. “Assalamu’alaikum..” Ucapnya Habib dengan lembut diiringi dengan mobil yang melaju pelan.


Rindu terhenti ditempatnya, benarkah Habib mengucapkan salam? ini pertama kali baginya, apakah Habib mendengarkan saranya pada salam? “Waalaikum salam..” Jawab Rindu sembari tersenyum, yaa dia bahagia ketika orang lain mau mendengarkan nasihat yang ia berikan.


Saat Rindu melanjutkan jalannya menuju dapur, ia bertemu dengan Mise dibalik pintu. Mise menarik tangan Rindu hingga memasuki ruangan tempat penyimpanan gelas dan piring. Disana tangan Rindu dicekal erat oleh Mise membuat Rindu terkejut. Tapi saat tau itu Mise membuat ia diam saja mau melihat apa yang Mise akan lakukan padanya.


.


.


.


.

__ADS_1


**Inget yaa. Mise itu cobaan kwwk.....


Like komen and vote biar mangat nulis😁😁😁**


__ADS_2