Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Hijrahku hanya dipenampulanku


__ADS_3

Kadang hijrah itu hanya mudah dalam melafaskan. Sebagaimana Rindu. Mudah melafaskan namun takmudah baginya mengubah sifatnya yang keras, prundamental emosional dan juga dingin menjadi baik, lembut dan penuh perhatian... Bagaikan bunda Khadijah..


Kenapa Rindu bisa keras? karena didikannya sedari kecil. 19 tahun ia hidup penuh dengan kekerasan dan itu mampu membuat ia keras. Karena orang tuanya lah ia belajar bela diri. Rindu bukan sosok yang hanya pasrah dalam takdir. Ia berusaha kuat supaya nanti ia mampu memberontak ketika orang tuanya kasar dan mengekang. Salahkah? Tentu salah jika tak ada diposisinya.


Ia bahkna memilih pergi dari rumah untuk menghindari orang tuanya. Kenapa? karena ia sadar jika ia tetap akan kalah meskipun ia kuat dalam fisik. Sebab hatinya lemah jika harus memukul ayah ataupun ibunya....


Back topick oke


.............


Ify, Nayla dan Rindu sudah keluar dari Fakulas, sebab Ify baru memberi data-data dirinya keDekan... “Terus kemana lagi ni?” Tanya Ify pada Nayla dan Rindu.


Rndu sibuk melihat sekeliling, kampus ini memang tak jauh beda dari kampusnya, hanya saja karena Rindu baru melihatnya membuat ia melirik kanan dan kiri. Jika dikampusnya dulu banyak yang menggunakan jilbab dan Niqob, maka disini kebalikanya kampus ini menuju Internaisonal ini sangat-sangat umum.


Jika kampus Rindu dulu melarang rok atau celana lima centi dari litut disini bahkan ada yang sekilan lebih tinggi dari lutut. Ada yang memakai baju yang bisa disebut Tangtop membuat Rindu neneguk saliva kering. Rindu bukannya nafsu ya.. Tapi memang jiwa Rindu jika melihat aurat perempuan yang berlebihan membuat ia malu sendiri pada dirinya. Entah kenapa orang lain yang memakai ia yang malu ia tak tau.


“Kita kekelas gue dulu Yuk. Soalnya Dosen gue nggak masuk, gue mau ngumpulin tugas aja sama komting..” Ujar Nayla pada Ify. Ia menunjukan dua makalah yang sudah dijilid rapi berwarnah hijau.


Ify memutar bola mata malas ia masih sja mengandeng tangan Rindu. “Males banget sebenarnya gue ngeliat temen-temen loe itu.” Ujarnya malas.


Nayla bedecap.” Loe tu sama aja ya sama Bonyok gue. mereka tu baik loo.” Ujarnya cemberut.” Benteran doang kok. Yukk..” Ujarnya menarik tangan Rindu. ia tau jika Rindu ikut, pasti Ify akan ikut. Ify itu bagaikan ekor Rindu.


“Woy tungguin...!” Sontak saja seluruh orang yang diruangan itu melirik Ify yang berteriak.


ify hanya tercengir lalu mengangguk sopan. Ia mencicit pergi menyusul Rindu yang ditarik oleh Nayla. Sumpah serapa ia beri pada Nayla yang jahatnya enggak ketulungan, masa ia dibiarkan berteriak bagai orang gila seperti itu?


Sepanjang jalan banyak sekali orang melirik Rindu sinis, ada yang terang-terangan menjauhinya dan meliriknya takut. Apakah ia kuman? Atau virus corona yang harus dihindari? Rindu menhela nafas supaya tak mau mengambil pusing omongan orang. Ia terlalu apatis untuk mendengar pendapat orang lain pada dirinya. Toh ini hidupnya? Manusa memang terlalu bodoh menimbun dosa,.... Padahal ngga aka faedahnya kan?


Berbeda dengan Ify dan Nayla. Tatapan mereka menjadi manis dan lapar. Nayla yang sexy menggunakan Dress manis sedangkan Ify yang cantik dan lembut. Rindu? Ia menggunakan seluruh berwarna hitam. Hijab, Jilbab, Niqob, kaus kaki, sarum tangan, sepatu dan tas sekalipun hitam. Kenapa? Karena Rindu mengasingkan diri dari orang lain. penampilan mereka yang berbeda seperti itulah membuat mereka menjadi pusat perhatian.


“Nayla...”! Teriak salah satu gads di ujung kelas disana. Ia melambaikan tanganya dengan senyum cerah.


Nayla yang mendengar namanya dipangil pun mendongak dan mencari asal suara. Saat ia menemukan asal suara membuat ia melambaikan tangan juga. “ Susan..!” Ujarnya sembari berlari meningalkan Ify dajn Rindu.


Rindu melihat itu hanya mengerjab. Pasalnya jika ia mau pergi kesana ia harus berjalan melewati banyak mahasiswa yang sedang nongkri-nongkri manja didepan kelas, ada yang congkel telinga teman, ada yang tertawa ngakak, ada yang merokok dan ada yang memegang buku. Sedangkan disamping sana juga ada yang duduk dilantai dengan menulis sesuatu dibukunya membuat Rindu sedikit risih, mungkin karena sudah lama tak melihat pemandangan sperti ini. Atau karena ia tau jika semua ini akan membuat ia jatuh dalam zina mata? dan zina hati?


“Yuk Rin..” Ify menepuk punggung Rindu membuat Rindu tersadar. Ia mengangguk lalu kembali berjalan.


Benar bukan, saat ia berjalan banyak sekali nyinyiran dan cibiran yang ia dapat. Ada yang bilang '


'*Ih serem banget sii ni cewekk..'


'Ada juga yang bikang'


'Kayak terroris ya.. '


'Atau ini organisasi gelap itu? Yang suka kasih pelajaran sesat*?’


‘*Nutup aurat tu engak kayak gitu juga kali. Sekalian aja matanya ditutup biar semuanya item. Kayak kepompong.’


'Hahah kepompong*.'


“Kalian bisa diem ngak sii? Jangan ngejudge orang senak jidad kalian.” Bukan Rindu yang menjawab, tapi Ify. Ia mengepalkan tangannya karena panas mendenar hinaan dan cacian dari orang lain untuk Rindu. entah kenapa ia yang panas, padahal Rindu yang dicaci.


Adakkah yang seperti ini? berarti kalian peduli dan mengangap teman kalian penting. Dan jika kalian memiliki teman seperti ini pertahankan oke.

__ADS_1


“Yey.. Kitakan ngomong kepompong item itu. Kenapa pula loe yang teriak dan engak terima?” Tanya pria paling gendut dan paling item disana. Ia yang duduk didepan pintu dengan jumlah sepuluh orang lebih disana. Suaranya lah yang paling besar tadi.


Rindu diam saat Ify membelanya. Ini bukan pertama kali orang membelanya saat dihina, tapi ia cukup terharu sebab iakan baru kenal dengan Ify. “ Lo tu sadar diri gendut..!” Ujar Ify maju, ia maju dengan wajah merah dan menatap tajam pria gendut itu. “Udah jelek, dekil, item, ngehina orang lain lagi. Enggak ngotak memang loe ya..!!!” Teriaknya.


Refles saja pria itu berdiri. Ia menatap Ify tajam.” Guekan memang ngomong nyata. Tinggal tutup matanya dia jadi kepompong, emang salah ucapan gue?!!” Ia tak kalah berteriak dari Ify membuat suasana hening, hanya ada suara mereka dan bisik-bisik., para teman pria itu juga berdiri lalu menatap Rndu dan Ify mengejek.


“Ya salah lah.. enggak ada akhlak memang loe sekolah ya.. Mending enggak usah sekolah sekalian, kasian gue sama emak loe, nyekolahia anak tapi nggk pernah bawah otak. Ya gini de. Kepala loe isinya sampah..!” Ucapan Ify menyebutan ‘Gue-Elo’ sedikit lucu sebab ia yang biasa menggunakan aku kamu. Bisa dibilang jika Ify memaksakan diri. Bolehkah Rindu tertawa?


“Loe yang sampah...!” Teriak sang pria itu.


Nayla yang tadinya berpelukan dan sapa sapaan dengan temannya sekarang terkejut mendengar suara sepupunya menggema. Ia melihat Ify dan Rindu sudah dikepung oleh orang-oang membuat ia glagapan.” Yaampun Ify.. Maafin gue, gue duluan ya..” Ia mencicit pergi meningalkan dua temannya yang berdana Susan dan Fera itu


“Awas-Awas....” Nayla membela jalan dan menatap Ify dan Rindu. disana Rindu membujuk Ify yang menyuruhnya tenang.


“Udah Fy. Enggak usah didengerin..” Itulah kata Rindu. ia tak mempunyai kata-kata lembut. sebab memang dirinya dididik tanpa kelembutan. Ia buta akan kelembutan. Sungguh...! Ia lembut hanya untuk sii kembarnya saja, Rian dan Rani.


“Ada apa sii Fy?” Tanya Nayla menarik Ify menjauh.


“Ini cowok nggak ada akhlak ngomongin Rindu. padahal cowok, banci bangetkan?" Ujarnya menatap Nayla meminta persetujuan dan pembelaan.


“Gue ngomong fakta.. Loe yang ngak ada akhlak. Pakek jilbab tapi mulut kayak sampah. Najis tau nggak..” Teriak temannya sii pria. Ia turun karena Nayla turun. Ibaratnya itu jika teman lawan ikut campur maka teman kawan juga terjun payung.


Nayla mengusap lehernya pelan. Sebab Ify mencari perang dengan mahasiswi tua Cuy... yang pastinya disegani.” Aduh maaf kak. Temen gue ngak tau, mereka anak baru, maafin ya..” Ujarnya meminta maaf pada kakak Tingkat itu.


“Loe kok minta maaf sii Nay. Enggak asik loe ah..” Ujar Ify tak terima melihat Nayla meminta maaf.


“Udah Fy.. minta maaf aja, lagipula jika kita minta maaf nggak bakal jatuhin harga diri kita..” Ujar Rindu. ia sudah toubat mencari gara-gara sama orang lain. ia emosian, prundamental. Sudah marah maka kosequensinya patah tulang.


Ify menatap Rindu ta percaya.” Loe kanapa pula nyuruh gue minta maaf sii Rin. Padahal gue belain loe... Jangan baik banget jadi orang.” Ketusnya.


“Gue bukannya baik banget jadi orang..” Ia menjeda ucapannya sebentar.” Manusia memang gitukan? Bisanya Cuma ngeritik orang lain, nggak pernah melihat diri sendiri. Selagi apa yang dia ngomongin enggak nyakitin fisik gue biasa aja. Soalnya apa yang dia bilang tentang gue nggak bakal ngaruh apapun pada diri gue. Bahkan ucapannya itu ngaruh untuk dirinya sendiri. Semakin dia bilang orang lain lebih jelek pada dirinya, maka lebih BUTAlah dia pada kejelekan dirinya sendiri.” Ujar Rindu tegas.


Rindu tersenyum tipis lalu menatap lawan nyalang.” Pertanyaan klasik buat manusia tersinggungkan?” Iblis diri Rindu keluarkan? Ia mulai emosi dan prundamnetal. Padahal ia sudah menekan emosinya sebaik mungkin sedari tadi.


Pria itu mengepalkan tangannya lalu.. Plak... Ia menampar pipi Rindu. tapi sayangnya Rindu lebih dulu berbelok kesmaping membuat tamparan itu hanya lewat.” Mainan loe kayak cewek. Tampar. Banci aja sekarang udah pakek tonjokan boy..” Rindu terkekeh membuat pria itu smeakin gelaga[an.


Prang... ia menendang kursi membuat kursi itu melesat dan jatuh keekskapator. Sebab ia menendang terlalu keras, untung tidak jatuh kelantai satu secara terbang. “Mau main-main ama gue?” Ujarnya keras, Semua orang menatap mereka sekarang...


Rindu semakin tersenyum sinis.” Semakin kita ngungkit kejelekannya semakin marah dia? Semakin emosikan dia?” Rindu menatap semua orang disana. Ify dan Nayla sudah diam tak berkutik. “ Nyatanya loe Cuma tukang kritik tapi enggak mampu dikeritik. Loe belum pantes jadi cowok kalo loe engak terima kritik boy..” Ujar Rindu lagi.


“Wahh wahh. Jilbab boleh panjang, tapi mulutnya sampah ya..” Ujar salah satu temannya lain.


“ Bener. Karenanya, jangan liat covet, depan alim, padahal isinya iblis.” Celetuk yang lain. pria yang mengatai Rindu tersenyum sinis melihat Rindu, membuat hidungnya yang memang lebar dan sedikit mendongak itu sedikit kembang dan semakin besar.


Salahkah Rindu tergelak karena geli akan ciptaan Tuhan? Pasti salah ya? Tapi mau gimana lagi, ia tak tahan melihat pria itu.


Semua orang menatap Rindu aneh, sebenarnya Rindu tertawa tidak kencing, ia hanya menutup matanya saja. “Kan udah gue bilang, gue bukan orang baik... Gue sadar dan gue tau itu..” Rindu menatap mereka nyalang. “ Dari pada kalian? bisanya ngomongin orang tapi engak tau kelauan diri sendiri? Mana yang lebih lucu?”


Brak,,,


Hampir saja tubuh Rindu dilempar kursi lagi, andai Rindu tak menghindar. Pastilah kepalanya akan berdarah saat ini.


Rindu tetap diam dan menatap mereka nyalang. Dan,


Brak.... Tepat kursi itu mengenai kepala yang melempar kusri barusan. Suara teriakan para perempuan disana gisteris saat kepala itu mengeluarkan darah. Rindu diam dengan mata dinginya. Sebenarnya ia tadi hanya mau menggertak, tapi nyatanya kursi itu tepat sasaran. “ Sory..” Gumam Rindu merasa bersalah.

__ADS_1


“Anjing...! Mudah banget loe minta maaf?!!” Tanpa aba-aba mereka maju dan melayangkan pukulan. Namun untunglah suara instruksi dari yang luar menghentikan mereka.


“BERHENTI...!” Suara bariton nan tegas itu menghentikan semuanya. Sebenarnya Rindu memang tak akan melawan, sebab ia merasa bersalah membuat kepala kawan lawanya berdarah seprti itu. Ahh,, Menyesal kan? Kenapa Rindu mudah sekali emosi!!!


“Ada apa ini? kenapa ada ribut-ribut? Kursi bahkan sampek terbang kebawah kenapa?!!!” Tanya teman yang menghentikanya tadi.


Semua orang nampak bungkam dan diam. sepertinya yang menghentikan ini adalah orang penting dan disegani.


“Dia..!” Pria gemuk itu mengarahkan telunjuknya kewajah Rindu membuat Rindu mengerjab, ia beum melihat yang menyelamatkannya tadi. “ Dia lempar kursi kekepala temen gue Dim...!” Teriaknya marah. Ia merarahan tatapannya menuju temannya yang menahan emosi, darah tetap menetes dipelipisnya. Ia malu dan marah.


“Eh... Kalian duluan yang nyerang ya...! dan ralat, dia engak lempar, tapi nendang dan temen loe aja yang diem aja..!!” Tekan Ify pada mereka.


“Kalian siapa?” Tanya sii teman yang namanya ‘Dim’ itu pada Ify.


“Bisa nggak siii berfikir logis..!” Teriak Rindu.” Loe nggak berotak..! bawah temen loe kerumah sakit sekarang...!” Teriaknya pada lawannya. Ia sudah cukup melihat darah itu menetes, menambahkan rasa bersalahnya saja.


Barulah mereka membelalak lalu membawah temannya keluar.” Loe masih berurusan sama gue..!” Ia menatap tajam Rindu dan Rindu hanya diam mematung. Ia hampir membunuh orang lain lagi..!


Rindu menghela nafas. “BUBAR SEKARANG...!” Suara pria bernama Dim itu sangat tegas membuat orang membubaran diri secepat mungkit, takut amukannya.


Rindu menghela nafas lagi. Ribuan Zhikir ia ucapkan, istighfar ia lantunkan. Ia menelan saliva berkali-kali supaya tak menangis. Ia menyesal. Kenapa ia mudah sekali lepas kendali? Apa karena kebiasaanya?


“Mau kemana loe?” Tangan Rindu dicegat saat Rindu mau berlari lalu menangis. Ia mematung dengan tanganya dicekal.


“Mampus Rindu..!” Gumam Nayla panik. Ia terlalu takut pada pria ini. pria bernama Dimas Herlangga, pria berhati iblis, berwajah dingin, tegas dan anaknya Herlangga. Siapa yang tak kenal Herlangga? Salah satu pria terkaya diIndonesia, Dimas menjabat sebagai Presiden Mahasiswa membuat siaapun tak akan berani menatapnya dan berbuat masalah.


Dimas dikenal sosok yang anti perenpuan, ia bahkan akan tetap bersikap dingin dengan temannya sendiri. Selama ia kulia dikampus ini, dikabarkan ia tak pernah kenal perempuan kecuali sekretarisnya sendiri!!! Jikapun kenal, mungkin hanya nama atau wajahnya saja.


Rindu menghempaskan tangan itu, tapi tangan itu sangat kuat membuat ia mendongak untuk menatap siapa sang pelaku. Matanya membulat saat tau siapa sosok lelaki itu, ia bahkan mundur beberapa langkah. mata elang dan tajam, wajah dingin tak pernah tersenyum itu... “Kak Dimas..” Gumanya terkejut. Ia kenal..!


pria bernama Dimas itu terkejut saat melihat mata Rindu. ia seakan kenal dan ciren tapi ia lupa. Mata yang ia suka, apa lagi dengan panggilan gadis didepannya ini. suara itu? “Loe siapa?” Tanyanya, sebab memang wajah Rindu sudah ditutup rapat, hanya matanya saja yang nampak.


Rindu tersenyum tipis dibalik niqobnya. “ Aku Rindu kak. Kakak enggak inget?” Tanyanya pelan.


Satu detik... dua detik.. tiga detik...


.


.


.


.


.


Ada yang bisa nebak diapa Dimas? Hayo siapanya Rindu?.....


.


.


.


Like komen and vote ya...

__ADS_1


Selamat ID Adha..


.


__ADS_2