Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Cerita


__ADS_3

“Sayang.. kamu kenapa disini? Kan papa suruh tunggu diruangan kamu..” Suara itu membuat pandangan merea berdua menujuh kesatu arah. Yang tak lain kearah stau pria yang masih muda dan tampan, menggunakan jas hitam dan berdasi. Angan lupakan jika matanya memerah saat ini, karena matanya sipit sekarang mata itu hampor menyatu membuat Rindu menahan tawanya. Sunggu pria ini sangat lucu batinnya.


Sedangkan pria itu menatap Rindu tajam setaam silet... ia mendekati Raisa dan mengelus kepala anaknya membuat Rindu ingat kara Raisa tadi.” Gimana Rai? Gimana rasanya dielus? Nyaman nggk?” Tnayanya terkekeh.” Kalo kamu Shoa atauun lemari mungkin sekarang kmau sudah berdbbuh ya.. atau bisa jadi kamu sudah dimakan rayap dan menjadi lapuk.. iya lapuk.. selapuk dan rapu hati kamu ya haha..” Sinisnya Rindu didepan pria itu.


“Mkasud mbak apa ya mbak?” Alisnya terangkat menatap Rindu tajam.” Bak sedang menyindir saya begitu?” Tanyanya mendekap sag anak supaya tak teralu dekat dengan Rindu. padahal Rndu mah sudah dekat.


Rindu menaikan stau alisnya. “ kamu tau pak. Yang saya katakan tadi itu adalah pertanyaan..” Ujranya menekan katat erakhirnya.” Dan pertanyaan ataupun pertanyaan akan bisa menjadi hal singgungan atau bisa membuat orang tersinggung karena dia merasa jika pertanyaan atau pernyataan itu adalah dia. Dia merasa dan dia sadar..” Ujar Rindu menekan setiap kata-latanya dan tersenyum sih.


“Kamu siapa berani beraninya mengajak saya bicara begitu ha? Kamu oikir saya bodoh untuk tidak menyadari ucapan kamu? Saya lulusan terbaik disalah satu universitas XXX Asal kamu tahu dan saya sekarang sudah memegang titel Fropesor karena kepintaran saya..!”! Katnya dnegan sombongnya.


“Pa...” Saat Raisa ingin bcara tapi sudah didekap oleh papanya membuat suara itu tertahan saja.


Rindu melipatkan tanganya didepan dada lalu menyilangkan kakinya. Ia menatap lurus kedepan dengan mata datarya.” Saya pernah mendengar suatu cerita yang memang bisa membuat bapak sadar.. bapak mau mendengarnya?” Tanyanya. Namun saat ia mau angkat bicara Rindu sudah menyesal terlebih dahulu.” Ada seseorang propesor yang bercita-cita untuk merubah dunia pak dengan kepintarannya. Tapi lama kelamaan dia menyerah karena ia tak mampu mengubah dunia..” Ujar Ridu mulai berdialog.


“Tidak sampai disitu... karena dia tak mampu merubah dunia. Maka dia berpindah haluan untuk mengubah negaranya saja. Karena ruang lingkupnya lebuh kecil bukan? Dia berusaha berusaha dan terus berusaha. Tapi pada akhirnya ia kembali gagal dan kembali jatuh..” Ujar Rindu mengangguk. Pria itu diam mendengar cerita Rindu bagaikan anak kecil mendenhar cerita dongeng saja. Raisa? Menatap Rindu dengan tatapan kepo. Namanya anak kecil.


Rindu mengubah posisi duduknya lalu menatap keRaisa.” Tapi tak sampai disitu.. dia masih mencoba lagi dan lagi. Karena ia tak mampu merubah dunia dan juga negara. Maka dia berniat untuk merubah lingkunganya saja. Dia ingin merubah orang orang sekitarnya dan membuat mosi baru untuk seklilingnya.” Rindu terkekeh terlebih daulu.” Tapi kembali gagal pak.. ia gagal mengubah lingkunganya karena lingkungannya itu beragam, ada yang berkulit putih dan ada yang berkulit hitam mereka saling mencela satu sama lain. belum lagi bahasa, ras, suku dan budaya. Yang lebih susahnya lagi adalah agama ya... agama yang berbeda dan bertolak belakang. Ia gagal untuk kesekian kalinya


Kepala papanya Riasa mulai dilanda kebingungan karenanya. Ia menatap Rindu dengan keng mengerut, mungkin rasa tertariknya sudah meningkat saat ini. “Sampai pada dia lelah dan juga menyerah tapi bukan berarti dia tak mau lagi berusaha ya. Dia orang yang gibih kog..” Ujar Rindu mengangguk-ngangguk. “Dia merubah agi keinginannya. Ia tak mampu mengubah dunia, tak mampu mengubah negara dan tak mampu mengubah lingkungannya. Membuat ia ingin mengubah keluarganya kelarga yang selama ini kebangkalai, karena dia yang terlalu berambisius karenanya. Karena yang ada dibenaknya selalu megubah-mengubah dn mengubah saja. Ia sampai lupa punya keluarg dan anak... jadi dia ingin mengubah keluarganya, kelarganya yang sudah kacau ini supaya lebih hangat dan lebih baik.”


Papanya Riasa mulai paham dengan pembicaraannya Rindu membuat ia masih menungu akhir cerita. Idia bahkan tak sadar jika sebenarnya saat ini dia lebih mirip dengan orang bodoh, beda sekali dengan hari-hari biasanya yang terlihat Cool dan juga dingin.


Rindu menghela nafas menatap papanya Raisa “Tapi sayangnya pak. Seiring lamanya dia mengejar dunia, negaranya bahkan lingkunganya. Ia semakin lama semakin tua. Dan dia yang mau merubah keluarganya itu juga sudah terlambat. sebab anaknya yang kurang kasih sayang dia sudah membencinya anak yang selama ini tak pernah mendapatkan pelukan dan kasih sayang darinya sekarang sudah merasa tak mempedulikan dan juga menginginkan dia. Anak yang dulunya mengharapkan bermain denganya tapi sekarang anaknya sudah dewasa da menggenal cinta dan ia tak lagi butuh bermain bersama ayahnya. Mereka tak butuh..!!” Ujar Rindu dengan sinisnya.


“ Istrnya? Bahkan karena jarangnya suaminya pulang istrinya selingkuh. Istrinya adalah manusia biasa, butuh kasih sayang, butuh kelembutan, butuh penyemangat dan juga butuh penghangat ranjangnya dia manusia normal yang butuh akan suatu hal dari kebutuhan Pisik maupun pinansial. Jadi meskipun suaminya sudah berubah dan mau memperbaiki semuanya sekalipun sudah percuma, karena semuanya sudah hancur semuanya sudah hambar. Rasa cinta itu sudah hilang sejak lama, rasa hangat yang ia butuhkan itu sudah lenyap dimakan wkatu. sampai pada harapanya. semuanya sudah lenyap dibawah harapan dan dihenpaskan dengan kenyataan.” Rindu tergelak setelah menjelaskanya. Sangkan papaya Raisa tertegun mendengarnya.


“Atas nama Rindu Azzahra dalam antrian Nomor 189...” Itu sara dari mbak penjaga apotek itu membuat Rindu menatap kearahnya. Suster yang sudah kenal dengan Rindu itu tersenyum dengan ramanya meksipun jarak mereka masih cukup jauh.

__ADS_1


Rindu berdiri.” Saya permisi pak.. Rai.. Assalamu’alaikum..!” Ujar Rndu mengambil tasnya dna meninggalkan dua generasi yang berbeda itu.


“Tungguh..!” Suara dari papanya Raisa itu membuat Rindu berhenti dan menatapnya dengan alis terangkat. “Kamu belum selesai bercerita. Akhirnya bagaimana?” Tanya dari papanya Raisa karena rasa penasarannya sudah mengalahkan harga diri harga mati dirinya.


Rindu mengangguk.” Akhirnya dia menua dan meningal tanpa membawa apa-apa.. tanpa perubahan dunia ataupun negaranya, tanpa perubahan lingkungan ataupun keluarganya. Semuanya hancir dan dia tak bisa merubahnya membuat ia tua dan memiliki penyakit. Ia hidup diakhir waktu dengan nafas yang menipis. Tapi ia pernah bicara dan berpesan.” Seandainya aku dulu tak berambisi mengejar dunia, mengejar negara ataupun lingkunganku. Maka aku yakin, aku bisa berbahagia dengan kelargaku. Dan seandainya aku bisa mengulang waktu. Maka AKU TAK AKAN MAU MERUBAH APAPUN DIDUNIA INI TERKECUALI MERUBAH DIRIKU SENDIRI. MERUBAH HIDUPKU SENDIRI TERLEBUH DAHULU.”Ujar Rindu mengagguk.


“Saudara Rindu...” Seruan lagi didapatkan Rindu membuat Rindu melangkah dan meninggalkan keterdiaman sang papanya Raisa. Matanya nanar menatap punggung Rindu yang mengambil obat dan membayarnya ada banyak obat yang diambil Rindu membuat ia yakin ika Rindu memiliki penyakit yang bahkan lebih parah dari pada milik anaknya..


Tak ia sadari jika air matanya jatuh tanpa ia kehendaki. Ia sadar jika cerita Rindu itu menyingung dirinya dan juga kehidupanya yang sibuk kerja, lupa dunia dan sebagainya membuat keluarganya terlantarkan dan tak terurus. Ia sadar akan hal itu.


Ada tau hal yang membuat ia sakit saat ini. yaitu mengingat istrinya. cerita Rindu persis dengan kehidupanya dan juga perjalanan cintanya. istrinya meningalkanya dengan anaknya karea lelah. Lelah karena ia tak pernah ada dirmah untuk dirinya dan anaknya. Ia lelah karena ia selalu memikul bebannya sendiri tanpa bantuan dirinya. Sampai pada dirinya melahirkan anaknya Raisa ini ia tak hadir karena ia tinggal disingapure disana.


Bahkan dulu ia pulang saat Raisa sudah berumur dua bulan. Istri mana yang tak sakit? istri mana yang tak lelah? Istri mana yang tak piluh? Dan saat dia pulang istrinya ketahuan selingkuh. Ia memaafkan istrinya tapi sayangnya istrinya tak mau memaafkannya.


Dia dulu tak merasa bersalah dan menyalahkan istrinya. Istrinya meninggalkan dirinya. Dulu ia mau membawa Raisa tapi sayangnya papannya Raisa menahan Raisa membuat istrinya mau tak mau menigalan Raisa asalkan ia bisa bebas dari jeratanya dirinya. Istrinya pergi meninggalkan dirinya dan anaknya. Meninggalkan luka memuat ia tak mau pulang. Anaknya sangat mirip dengan mantan istrinya membuat ia tak betah bersama anaknya. Sampai pada hari kemarin suster mengatakan jika anaknya mimisan. sebenarnya sudah lama suster itu mengatakanya tapi ia tak ambil pusing. ia pikir tu biasa saja namanya anak kecil.


..


Apakah dia sekarang berada diposisi orang yang sdeang dibiarakan oleh gadis yang tak ia kenali itu? “Papa.. ayo pulang.. ngapain bengong?” Suara Raisa membuatnya tertegun dan kembali keduninya. Raisa tak bisa melihat air matanya karena dirinya yang sangat tinggi. Disana ia bsa melihat anaknya yang cemberut menatap sang ayahnya itu. Sebenarnya susternya Raisa sudah lama tau penyakitnya Raisa tapi Raisa menyuruhnya diam saja. Jadilah susternya itu memberikanya Wig..


“Iya sayang.. maaf.” Ujar papanya Riasa lembut. namun saat ia mau mengelus kepala Rasa, Raisa sudah mengindar membuat tangannya hanya menyentu angin saja membuat ia tertegun, ia diam menatap Raisa. Serasa dunianya berhneti disatu titik tanpa rasa harapan. Rasanya kebahagiaannya selama ini hambar dan melebutur.


Sedangkan Raisa diam saja. Bebar kata Rindu. ia sudah hilang akan harapan untuk kasih sayang, ia sudah tak lagi menginginkan elusan kaena rasa lelahnya yang menunggu selama ini. seakan ketika ayahnya memeluknya ataupun mengelus kepalanya maka rasanya sudah hambar. Tak ada lagi rada rasa hangat atau apapun itu. Yang ada hanya rasa tak wajar dancanggung. Rasanya sangat asing untuk dirinya. Dan itu membuat ia tak nyaman ketika papanya besikap lembut padanya. Ia bahkan smepat bertanya’ Apakah ayahnya saat ini sedang menyesal dan mau mencoba memperbaiki semuanya?” Dia bisa memperbaiki semuanya. Hanya saja jika harapan sudah tak ada maka cinta sudah menjadi hambar meksipun itu adalah ayahnya sendiri dan darahnya sendiri. Bohong sekali jika ada anak yang mengatakan jika ia bahagia dikalah ayah atau ibu yang sekian lama, selama ia hidup tak pernah memberikan kasih sayang mendadak menjadi sayang dan dekat itu enak dan menjadikan rasa bahagia.. haha lucu.. dan Raisa yakin, karena mereka belum ada dititik dimana rasa skait yang tak bisa diucapkan melalui apapun.


Baik dari air mata, mimik wajah, kespresi ataupun senyum sekalipun. Tak ada... selain hanya kata hmm.’’”


Ini cuma penambahan cerita saja ya untuk pengetahuan.. may be nggak bakal jadi tokoh lgai. Soalnya saya mempersulit toko dicerita ini wkwk)

__ADS_1


...


Sangkan Rindu yang sekarang sudah diam duduk didsampingnya Nayla yang sedari tadi bercelote dan bertanya apakah dia sudah cantik atau belum membuat telinganya panas, iya panas karena perkatan dan pernyatana itu terus sedari tadi ia dengar. Sakit sekali telingatnya ‘Udah cocok belum?’


‘make upnya udah bagus atau ketebelan Rin? ‘


Rin gimana gue degdegan.


’ Rin calon gue gimana ya? Ganteng atau engak ya? Atau Rin apa dia perutnya bunt kan serem’


Rindu bagaikan meladeni anak kecil saja saat ini. sedangkan Habib tak kalah menemani Nayla. Ia juga tak ma kalah dekat dengan Rindu. dia bahkan yang saat tadi menjawab pertanyaannya Nayla karena sedari tadi Rindu hanya menjawabHmm..’ saja karea lelah. Ia tak terlalu paham phasion sialnya. apalagi make up. Baginya hijab nomer one bukan dres selutut ataupun punggung yang terbuka. Da dia pecinta sneaker bukan hils yang tingginya layaknya tiang saja.


“Nayla.. calon kamu udah sampek...!!” Ucaan dari Nina diluar itu membuat yang lainnya menatap keasal suara. Ya memang karena hari ini sudah hampir jam delapan malam, jadi wajar saja kan calonnya sudah datang. Dan kalian tau dari jam berapa Nayla dandan? Dia danda dari jam empat dan itu membuat Rindu ataupun Habib geleng-geleng kepala saja


“Duh gimana ni kak, Rin.. duh gue gimana gue takut..” Nayla mengigit jarinya sendiri menatap Rindu dan kakaknya bergantian.” Atau gue ganti aja ya bajunya. Kayaknya terlalu berlebihan deh ya kek gini. Nanti kalo otangnya udah tuakan barabe, da jatih cinta gimana.. atau-“


“Stop Nayla..!” Rindu memijit pelipisnya yang terasa pening. Mendadak penyakitnya bertambah sekarang. Ya.. penyakit migren asal kalian tau.. ia menghembuskan nafansya untuk mentralkan emosinya. “kamu sudah cantik. Jadi jangan buat yang lain menungu kamu ya.. udah cukup kek gini. Nanti bik Yantinya kasihan mau ngurusin baju kamu yang berserakan kek gini.” Ketusnya menatap sekeliling. Lebih mirip dengan kapal pecah membuat siapapun akan mengira jka tempat ini adalah tempat dagang baju batam/seken, ya. bertumpuk dan berserakan.


“Tap-


“Nay dah. Yang dikatain Rindu calon kakak ipar kamu itu bener. Jadi jangan banyak bicara deh. Lebih baik kamu sekarang kebawah dengan cepet-cepet.. nanti kena marah lagi sama mami..” Ketuas Habib kesal kepada adiknya.


“Nayla.. Habb... Rindu cepetan turun...!! kalian ngapain sii diatas? Mau mami sira sama bensin kalian disan supaya kalian berlari keluar rumah? Atau nunggu gempat bumi?” Teriakan sang nyonya kagi membuat Habib dan Rindu terkekeh. Nina ngomongnya kek anak kecil padahal sudah tua.


“Ih mami..”Gumamnya Nyala dengan gerutu. Ia mengunakan soflen hitam membuat matanya tanpah belo dan juga bersinar.” Yaudah yuk Rin.. kita keluar. Tapi gandeng gue ya.. salnya gue takut gue grogi dan gue malu..” Ujarnya kepada Rindu dan langsung mendekap tanganya Rindu dengan erat.


Rindu menganguk saja. “Tapi benerankan gue udah cantik dan nggak berlebihan?” Tanya Nyala lagi membuat Rindu maupun Habib memutar bola mata malas dan berteiak serntak” Engak...!” Dan Nayla erkekeh melihatnya

__ADS_1


__ADS_2