
Namun tanpa Rindu sadari ada seseorang diantara ibu ibu itu memisahkan diri lalu menelpon seseorang dengan berbisk bibisik, disela itu sosok yang menghidupkan hapenya lalu menekan beberapa nomor, senyumnya yang dengan gembira itu terpancar jela diwajahnya disana.”Hallo…” Gumamnya disana berbisik-bisk lalu menatap kesebelahnya takut ada yang mendengarnya.
“Iya tuan.. saya Mus yang rumahnya disamping Rumah pak Azwardi dan buk Fitri.. saya mau kasih kabar pak jika putrinya Rindu sudah pulang,,”Ujarnya dengan berrbisik, takut ada orang lain yang mendengar pembicaraanya disana.
Ia tersenyum disana dibuatnya mendengar jawaban dari sosok diseberang.”Sebagaimana janji bapak akan memberikan saya uang seratus juta jika saya kasih kabar itu bagaimana pak?” Tanyanya dengan tersenyum malu padahal ia memalukan itu.
Ia terkekeh disana lalu menjawab.”Siap pak. Nanti saya kirim nomnor rekening saya ya pak.. saya tunggu transper—Tut Tu Tut..” Ucapanya terpotong dikalah hapenya berbunyi seperti itu, ia mengerjab polos lalu melihat hapenya.” Eh hallo. Halo. Pak.. bapak bisa dengar saya?” tanyanya kepada hapenya yang padahal teleponnya sudah mati disebela pihal itu.
Bik Mus itu mendengus dibuatnya.,”Ih.. untung kalian orang kaya… kalo enggak udah aku habisin kalian.. cih…” Ujarnya dengan kesal karena sadar jika teleponnya dimati secara sepihak oleh orang yang ia telepon, lalu senyum liciknya keluar dikalah itu dikalah mengingat uang seratus juta.”Heheh.. aku bakalan kaya nih.. Kayaknya bisalah ya punya tanah kayak Umi Rindu… hmmm.”Ujarnya dengan menyunggingkan sudut bibirnya lalu pergi.”Lumayan seratus juta huuhuyy...” Ujarnya lagi sembari berjalan bagaikan anak kecil saja disana.
Dilain tempat yang mendapatkan kabar itu tersenyum melihat hapenya yang baru saja mendapatkan kabar yang cukup membuat ia puas itu.. sosok laki-laki berbaju jas hitam dengan mata angkuhnya itu, stelan serbah mahal bahkan sangat mahal. Rumah yang megahnya bagaikan istana hayalan.. Ia menatap sang Istrinya yang sedang menyiapkan sepatu miliknya dikamar itu lalu tersenyum.” Saya ada kabar bagus buat kamu.”Ujarnya dengan sombongnya.
Sosok yang sebagai istrinya itu menatap suaminya itu dengan tatapan tanda Tanya lalu merapikan sepatunya. Ia masih sangat cantik dan seksi, jika dilihat ia bahkan semuda saja dengan Rindu, karena punya uang dan perawatan membuat ia bagaikan artis korea saja sekarang,. Hanya saja ada memar biru dibagian tubuhnya yang tak akan diketahui oleh orang lain… kecuali dirinya dan juga suaminya.. juga anak laki-lakinya.” Kabar apa si mas?” tanyanya dengan Tanya biasa saja itu.
Suaminya nampak menghela nafas lalu merapikan stelan jasnya.” Rindu sudah ditemukan dan sudah pulang…”Ujarnya dengan datar dan juga tanpa ada kata kata tanpa kasih sayang. Why? Padahal itukan istrinya sendiri? Tidak seprti suami pada umumnya.
Istrinya itu nampak bangkit dan mendekati suaminya, hanya saja ia tak duduk disamping suaminya, ia lebih memilih duduk satu meter dari suaminya, itu saja suaminya bilang.”Jangan dekat dekat..!!! kamu harus ingat posisi kamu dan peraturan yang berlaku….!!|" Itulah yang ia ucapkan membuat istrinya mundur beberapa langkah dan berdiri dua meter dari suaminya itu.
Matanya Nampak memerah sekarang.” Rindu siapa si mas?”Tanyanya tetap menahan hatinya supaya tegar.
Suaminya itu malah tergelak… “Ya siapa lagi kalo bukan anak dari mantan pacar kamu itu.. dan anak dari orang yang saya cintai?!!!” Tanyanya dengan sinisnya disana lalu kembali berdiri dari sana.” Saya memenuhi semua yang putra kita inginkan, semoga saja ini akan membuat dia bisa berubah., saya lelah melihat anak kamu yang jadi penerus yang tidak becus seperti itu..!!” Ujarnya tajam.
Lalu ia mendekati istrinya itu lalu menarik rambutnya kejam membuat istrinya pun meringis, ia menatap istrinya itu tajam.” Ini semua itu gara gara kamu.. jadi wnaita engggak becus mendidik seorang anak.. seharusnya kamu belajar dari Fitri bagaimana caranya mengajari anak supaya bisa menjadi anak yang baik…!!”Ujarnya lalu menyentak kepala istrinya itu.
Istrinya meringis dibuatnya lalu memegang kepalanya, ia tak berani melawan padahal sudah belasan tahun, bahkan sudah puluhan tahun mereka menikah ia selalu mendaptkan perlakuan kasar dari suaminya ini, tapi ada yang lebih penting. Anak? Fitri? Apa dia Rindu yang dimaksud?
Suaminya itu mendengus melihat istrinya yang lemot itu lalu melihat sembarang arah.” Dasar wanita bodoh, nanti malam kita kesana menjemputnya.. persiapkan dirimu, jangan sampai anak itu Mendekati aku,”Ujarnya lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Istrinya menatap suaminya yang menjauh itu nanar, maksudnya apa? Lalu ia berlari kecil menuju laci digudang rumahnya itu, ia harus kesana dan menatap apa yamng diucapkan oleh suaminya itu.. lalu ia menemukan foto bayi disana membuat ia menguraikan air matanya.” Apa nama kamu Rindu?” Tanyanya dengan nanarnya, air matanya jatuh saat ini.
__ADS_1
Ia terkekeh disinis ekarang lalu memeluk poto anak itu dengan tulus.” Rindu?” Gumamnya.” Apa benar? Tapi kenapa aku tidak suka kamu ditemukan Rindu? Bisakah kamu pergi jauh dari sini supaya kamu tidak menerima penyiksaan seperti saya?” Tanyanya dengan nanarnya itu.
Ia terduduk disana tanpa memikirkan semua barang disana, hidungnya memerah dengan mata yang juga memerah, pipi tirusnya yang sangat jauh berbeda dengan Rindu itu sekarang memerah. Ia sangat tak sama dengan Rindu. Jauh berbeda, ia lemah dan ia tak berdaya. Bagaikan kerbau ditarik hidungnya.
Beda disini, dimana tempat Rindu dan uminya yang sedang berada dipasar itu… disana ada banyak orang yang memandang Rindu dengan tatapan sinis, ada yang bilang ninjalah, ada yang bilang terorrislah, ada juga yang menghujat dan sebagainya. Hanya saja Rindu tak mendengar semua ucapan semua orang disana, ia tetap berjalan mengandeng uminya itu.”Ummi kenapa enggak jualan si Mi? emang cabe dikebun kita udah enggak berbuah lagi?” Tanyanya Rindu sembari membawa beberapa belanjaan uminya.
Umminya mengeleng.” Enggak Rindu, tadi kata abbi ummi enggak usak jualan hari ini supaya bisa masak masakain yang kamu suka, umi mau masak lontong sama masak makanan lainnya supaya nanti malam kita bisa makan bersam dan kumpul keluarga..”Ujarnya jujur disana dikalah uminya baru selesia membeli bawang.
Rindu tersenyum dibuatnya.”Lagi pula Ummi baru bisa masakin kue bolu it itu lohhy. Duh ummi lupa namanya tapi enak banget Rindu, kamu harus belajar supaya nanti suami kamu tambah sayang sama kamu ya.. dan supaya anak kamu betah dirumah hehe.”Ujar Uminya itu dengan semangat mencerikannya itu.
Rindu hanya memutar bola mata malas dibuatnya. Kebiasaan memang, jika ada apa-apa Rindu jadi korban, pasti ini nanti uminya mengajarinya dengan celotehan yang panjang, hadeww tapi entah kenapa kue buatan umminya ini memang sangat enak enak lohh.. ini juga yang dulu ia tak suka dengan Umminya, uminya itu selalu menuntutnya untuk bisa didapur smapai lupa jika Rindu mual hanya dengan melihat dapur. Tapi sekkarang beda kok..
“Kalo jalan liat liat dong..! buat loe ya..!! mangkanya muka tu jangan diutup tutupi segala..! sekalian aja tu muka loe tutupi, pasti muka loe ancur ya kenapa ditutupi segala.. dasar anjing..!” Rindu kaget dikalah ia ditabrak oleh laki-laki tua didepannya itu., mana dimki maki pula lagi.
“He apa kamu bilang?”Itu Uminya Rindu yang menjawab.” Muka ancur muka ancur..! lambemu yang hancur.. Bugh bUGhh.. mamam tu tomat hancur…” Teriaknya melempar tomat mateng disana banyak kepada lelaki itu membuat lelaki itu menghindar dan menjauh melihat mereka disana.
“Gila..!” Gumam daru lelaki itu melihat umminya Rindu yang sungguh ganas itu, masa barunya terkena tomat semua jadinya.” Dasar keparattt loe ya…! Awas loe nanti.”Teriaklnya lagi tak terima namun ia takut melihat mata ibunya Rindu yang tajam itu. Rindu terkekeh dbuatnya melihat uminya yang sunggu kelewatan manisnya itu.
Rindu disana menatap uminya yang hanya mengenakan hijab seadahnya, jika dirumah tidak dan disekitar rumah juga tidak, hanya bepergian saja ia mengenakanya. Rindu menghela nafas.”Umi kapan pakek kayak gini? Supaya Rindu cantiknya enggak sendirian Umi.. bukankah ini kewajiban?” Tanyanya dengan sendunya kepada uminya itu.
Uminya Rindu mengerjab menatap Rindu disana lalu menatap penampilannya itu, ia tertutup kok, mengenakan gamis, hanya saja gamisnya itu ketat, ia juga mengenakan hijab ko. Tapi ya dadanya kelihatan sedangkan Rindu?
Suaminya bukan sekali atau dua kali mengingatkannya, hanya saja ia memang belum siap sampai detik ini membuat ia selalu mengelak untuk menurutinya itu.. hanya saja suaminya tak pernah memukulnya atau bagaimanapun caranya, suaminya selalu mendoakanya, tapi ada kalah juga ia dibentak dan dimarah.
“Yan nanti lah umi pakek yang tertutup, nanti kalo Ummi udah dapet hidaya kayak kamu, lagian kan Umi sekarang lagi belajar pakek hijab rindu.. “Ujarnya sembari memilih lagi tomat didepanya itu dengan pura pura.
“Kapan?” tanya Rindu polos.” Bukanya Umi bilang kayak gitu dari Rindu kelas 2SMA Mi? dan kata abbi hidaya itu bukan ditunggu, tapi dijemput mi, karena kita sekarang sedang menunggu kain kafan ditenun lohh. Umi mau nanti Rindu cantik sendiri disyurga? Lagian kasihan abbi sholat tapi masuk neraka karena umi enggak mau nurutin perintah dia.. Lagian juga Umi kenapa si takut pakek hijab mi? takut umi enggak cantik lagi? Umikan udah nikah, ngapain mikirin ucapan orang lain?” tanya Rindu membauat uminya memilih tomat yang pastinya bukan tomat yang sudah matang, lebih ketomat yang masih ada kekuningan supaya tahan lama dan tidak cepat busuk.
Ummi Rindu diam menatap tomatnya itu, tanganya mengengam erat satu tomatnya. Yang dikatakan Rindu semuanya benar.. ia melihat kesekelilingnya. Ada banyak orang yang jauh lebih tua darinya yang jika dikatakan hijab itu wjaib tapi tetap saja tidak mau mengenakanya membuat ia menghela nafas.
__ADS_1
“Tomat yang Umi saya buang buang tadi dibayar juga sekalian ya mang hehe. Maaf Umi saya emosian soalnya.. “Ujar Rindu membuat Umminya itu bangkit dari dunia pikirannya yang kacau tentang dirinya itu. Dirinya sadar dirinya salah, hanya saja memanmg dirinya yang memang tidak mau memulai untuk berbah, jika ditanya pasti besok besok saja..
Tukang yang menjual tomat pun tersenyum kepada Rindu.”Enggak apa-apa neng, enggak usah dibayarin, mamanng tadi mau juga lemparinnya pakek tomat tapi keburu emak neng yang lempar hehe.. masa wanita sholeha dibilangn hancur… ada ada aja si itu orang…”Ujarnya membuat Rindu tersenyum.” Yang hancur tu remaja zaman sekarang neng, meski enggak semua sii, mereka lebih malu dikatain kayak emak emak karena memakai baju syaria'at islam dibandingkan menggunakan baju yang enggak layak pakai.. bahkan sekarang paha ayam lebih mahal kan, paha ayam dijual tapi paha perempuan sekarang malah dipamerin Cuma Cuma.”Ujarnya lagi sembari mengilokan tomatnya itu.
Ibunya Rindu diam disana, sebenarnya ia tak mengenakan bagus seksi,karena ia memang suka fashion hijab yang kekinian.. , karena abi Rindu akan membakar pakaian laknat itu. Abbi Rindu akan berkata’ Demi Alllah aku enggak ridho, wanita syurgaku dilihati oleh banyak pria diluar sana.. kau lebih indah jika tertutup. Bagaikan kue slaju putih, jika dibuka sedikit saja cela nya., maka akan banyak semut yang menghampirinya dan menggerogotinya sedikit demi sedikit,, dan itu akan membuat nilai jualnya semakin berkurang dan peminatnya juga menutup matanya, bahkan tak bisa dijual kembali, beda dengan kue salju yang masih tertutup rapat dan tersegel oleh yang punya, bagaimanapun caranya, sang penjual, sang pemilik akan mempertahankan harganya dan sang pembeli tidak akan ragu untuk membelinya. ‘ Ahhggh Abbi Rindu romantic ya? Ya iyalah, jika tidak bagaimana bisa pernikahan mereka bisa sejauh ini, meski pasti ada yang namanya ribut dan hampir ada kata cerai terlontarkan oleh kedua bela pihak. Itu biasa bagi suami istri bukan?
Rindu menyenggol uminya yang termenung sambil tersenyum itu.”Ummi itu mamangnya mau bayaran tomatnya aduh. Ummi ngapain termenung sambil senyum senyum sendiri si? Mii.. mikirin abbi ya?” tanya Rindu menggoda umminya.
Umi Rindu gelagapan dibuatnya, ia menjeliti matanya karena merasa jadi kekehan si penjual.” Aduh Rindu kamu ini hobbynya bikin Ummi malu ya.. awas ya nanti ummi hukum.”Ujarnmya meringis lalu membuka dompetnya. Rindu malah terkekeh dengan ulah uminya.
“Ini Mang… Ini bayarannya makasih ya..”Ujarnya memberi lembaran uang yang cukup itu.
“Ummi harganya tu tujuh ribu bukan lima ribu..”Gumam Rindu dengan umminya lagi.”Is pasti ummi lagi gerogi karena kepergok kangen sama abbi nih ih, padahal baru aja jauh... ..”Ujar Rindu lagi engan ummminya itu dengan tatapan mengejek dan main mainnnya.
“Ih Rindu jangan malu maluin umii.”Ujar uminya itu menggapai Rindu untuk mencubit perut anaknya itu.
”Enggak kena yeyee”Ujar Rindu tergelak dikalah umminya tak dapat menyubitnya itu.
Sang penjual hanya geleng geleng melihatnya. Umi Rindu mengeluarkan uang lima ribu lagi karena memang ia tak tau harga tomat itu tujuh ribu.”Ini mang kembalianya ambil aya ya hehe.” Ujarnya memberikan uang itu kepada sang penjuual.”Rindu awas ya kamu.. sini umi bales..!” Teriaknya kepada Rindu yang sudah menjauh darinya itu. Rindu yang dikejarpun tergelak dibuatnya, dikalah umminya sudah bisa menggapainya.
“Berani godain ummi ya sekarang.. “Ujarnya menjewer telinga Rindu yang malah membuat sang empu tergelak karena yang dijewer uminya bukan telinganya, tapi alas jilbabnya. “Ih mana si telingamu ini Rindu.”Ujarnya umi Rindu membuat Rindu tergelak, ada untungnya ia mengenakan cadarkan?
“Haha.. ampun ummi.. maafin Rindu.. nanti bakal Rindu ulangin deh janji.”Ujar Rindu jail membuat uminya malah menatap Rindu negan tatapan tak terima,.
”Ih Rindu.. bisa bisanya ya kamu ..”Rindu semakin tergelak disana membuat beberpa orang tersenyum melihat Rindu dan umminya, ada juga yang julid dan sebagainya. Maklum manusia ya….
.
.
__ADS_1
.