
Filos yang sedari tadi melirik tuan mudanya mengerut keningnya. Faktanya baru kali ini Habib mau berlaku baik terhadap perempuan. Ia selalu mendengar jika Habib belum pernah menyukai perempuan, Habib pun juga mengakui jika ia belum perna tertarik dan jatuh cinta kepada seseorang. Apa sekarang ia mulai menyukai gadis yang selalu membuatnya kesal?..
“Puk.. puk.. puk.. Hey, bangunn. Kita sudah sampai dirumahmu.” Ucap Habib sabil menepuk wajah Rindu..
Rindu mengerakkan kepalanya yang sekarang sudah dipangkuan Habib. Sontak membuatnya langsung sadar dan menatap Habib tajam. “Hey, loe apain gue,.” teriaknya.
“Kamu tidur dan jatuh dipangkuan saya. Saya tidak tega bangunin kamu, jadi saya biarkan saja. Seharusnya kamu ucapin terimakasih.” Jawab Habib bohong. Ia memindahkan Rindu kepangkuannya karena ia sedikit takut Rindu tidak nyenyak dan tidak nyaman jika bersandar dibahunya. Apalagi ia tidur miring membuat kepala ya akan sakit saat terbangun.
“Yaudah. Kali ini gue ucapin terimakasih. Tapi lain kali loe siram pakek air aja gue dari pada tidur dipangkuan loe.” Jawab Rindu seakan akan, ia akan sering menumpag, “Tunggu. Guekan tidur. loe dari mana tau rumah gue.” Tannya Rindu heran. Ia melihat rumahnya yang masih terbuka.
“Saya tak butuh kamu buat mencari info.Cepat turun, saya sudah sangat lelah dan mau istirahat.” Ia mengalihkan perkataan Rindu. Ia tak ingin ketahuan jika ia sudah menyelidiki Rindu selama ini.
Rindu membuka pintu mobil. “Iya orang kaya mah bebas. “ Gerutunya. Tapi sebelum ia menutup pintu mobil, ia membungkuk dan menatap Habib dan Filos secara bergantian. “Terimakasih ya. Hati-hati dijalan, udah malem. Assalamu’alaikum.. puuuk.” Ia menutup pintunya dan menjauh tanpa mendengar jawaban dari salamnya.
Wajah Habib terkejut tak percaya atas perhatian Rindu. Ia tersenyum lebar. Ia sangat merasa bahagia. ‘Apa ini rasanya jatuh cinta?’ Batinnya. Ia bahkan tak sadar jika Filos selalu menatapnya dari cermin.
Filos tersenyum melihat tingkah lucu tuannya. Ia bahkan menggeleng melihat tuannya yang suka berbohong jika berhadapan dengan Rindu, padahal ia bukanlah tipekan suka berbohong. seperti saat ia berbohong tentang Rindu yang tidur dipangkuannya. Padahal ia sendiri melihat tuannya membawa kepala Rindu secara hati-hati kepangkuannya.
Jangan lupakan jika tangan Habib selalu mengelus dan menepuk-nepuk sayang dikepala Rindu bagaikan menjaga bayi penuh cinta.
Sedangkan Rindu melangkah masuk menuju Rumahnya. Matannya berhenti pada mobil merah yang terparkir didepan rumahnya, pertanda bahwa tamu belum pulang, ia melirik jam yang ditangannya, yang sudah menunjukan angkah. 01:10. Ia menghela nafas kasar dan melangkah masuk kerumah yang sedikit terbuka. “ Assalkamu’alaikum.” Ucap Rindu.
Mata Rindu membulat Saat melihat banyak botol minuman keras dan ada beberapa pria dirumahnya, yang lebih mengagetkan Diva dan Meme yang sedang dipangkuan pria-pria itu sedang berciuman mesra. Mata mereka bertemu saat mendengar Rindu mengucap salam.
“Diva... Meme, apa sii kalian...!” Teriak Rindu. Wajahnya merah marah, seketika rasa sakit dan penat ditubuhnya hilang menatap teman-temannya yang berzina.
“Hay cantik...!” Ucap salah satu pria yang membawa gadis lain didalam rumah itu.
“Keluar kalian dari rumah gue...!” Bentak Rindu marah.
Diva berdiri dengan sempoyongan, ia mendekat kepada Rindu. “Apaan sii loe. Kalo nggak suka tinggal pergi... nggak usah ngatur hidup orang...!” Bentaknya.
Rindu mengernyit saat mencium bau alkohol keluar dari mulu Diva. Marahnya semakin memuncak, ia mendekat tempat dimana Alkohol berserakan. Ia menarik alas meja menyebabkan alkohol itu jatuh dilantrai berserakan. “Keluar loe pada....!” Teriak Rindu marah.
“Apaan loe. Loe taungak kalo minuman itu mahal..! Anj*ng loe”
__ADS_1
“Eh bangs*t. Kalo hidup pakek otak.” Teriak mereka bersahut-sahut.
Rindu menatap mereka tajam. Ia melayangkan satu pukulan kepada salah satu mereka. “Pergi kalian. atau gue anciurin mobil kalian..” Teriak Rindu lagi.
“Rindu.. loe apa-apan sii..!” Bentak Meme.
“Kalian yang apa-apaan. Loe tau nggak kalo minuman ini haram, loe zina sama cocok kayak mereka. Otak kalian dimana..!” Teriak Rindu.
Plakk...
Tamparan itu mendarap dipipi Rindu dari Diva yang masih mabuk. “Gue benci banget sama loe. Gue benci...!” Teriaknya menggema,rindu memegang pipinya yang memang sudah memar ditambah dengan tamparan. Sakit itu melipat ganda, apa lagi ia mendengar penuturan temannya seperti itu.
“Gara-gara loe, nggak ada cowok yang suka sama kita. Loe rebut semua dari kita. Loe pinter, loe selalu dipuji dan dipuja, sedangkan kami Cuma jadi bayangan loe. Gue benci akan semua itu Rindu...!. Loe anak orang miskin tapi orang tua loe selalu kasih baju bagus, mewah dan sekolah ditempat yang bagus tanpa kerja. Nah gue harus berusaha supaya bisa nyaingin loe. Gue harus kerja, gue harus ikutin semua perinta nyokap gue. “ Teriaknya mengungkaokan isi hatinya.
Saat SMP atau Sma memang Rindu selalu mendapatkan juara umum, ditambah prestasinya dibidang taikwondo dan karate menjulang tinggi membuat orang-orang segan dan menghormatinya. Semua orang memujinya. Meskipun wajahnya tak terbilang cantik, bisa dikatakan Diva dan Meme lebih cantik darinya. Tapi entah mengapa siapapun yang digebet atau disukai oleh sahabatnya itu lebih tertarik kepada Rindu, dengan dalih ‘Rindu lebih manis. Meskipun ia nggak cantik, tapi senyumnya sangat manis dan menarik’.itulah ucapan dari mereka.
“Div. Gue nggak pernah rebut apapun dari loe. Gue ngak pernah ambil apapun. Kita sahabatan sejak lama, dan selama itu loe ngebenci gue?” Tannya Rindu marah.
“Iya. Gue benci sama loe...!” Teriak Diva. Lalu pergi meninggalkan Rindu yang masih berdiri disana.
“Rin. Loe nggak usah ngatur tamu gue sama Diva. Kalo loe nggak suka, loe tinggal pergi..!” Teriak Meme.
Amarah Rindu mencapai ubun-ubun. Ia mendorong salah satu pria disana dan memukulnya. Ia mengambil botol minuman yang belum pecah. Ia melagusar keluar rumah.
Plackk...
Ia melempar botol kaca alkohol kemobil didepan rumahnya. Ia menatap marah semua orang yang kaget akan tindakannya.
“Woy... anj*ng.. Loe gila, mobil gue rusak bang*at,...!” Teriak salah satu dari mereka. Sudah dipastikan ia pemiliknya,
“Kalian pergi dari sini. Atau gue bunuh loe pada..!” Teriak Rindu.
“Rindu...!” Teriak Meme marah.
“Loe diem..! Loe bilag gue pergi.! Loe jangan lupa, gue bayar disini. Suruh temen loe pergi ...!” Teriak Rindu marah dengan temannya.
__ADS_1
Bugh...
Satu pukulan mengenai wajah Rindu. Sontak saja Rindu yang amarahnya memuncak dan membabat habis para pemabuk itu. Hingga salah satu dari mereka pingsan tak sadarkan diri. Lagi lagi ia berkelahi ditengah malam.
“Gue ingetin. Pergi... atau gue bunuh loe pada..!” Bentak Rindu lagi. Ia menyekah darah yang keluar dari bibirnya. Semua wanita yang mereka bawa berteriak histeris. Rindu bagaikan dewa kematian saat itu.
“Awas loe...!” Ucap salah satu dari mereka yang masih sadar. Mereka membawah teman-temannya masuk kedam mobil dan meninggalkan Rindu dan Meme.
Saat mobil pergi meninggalkan Rindu. Hanya Meme yang menatap Rindu tajam. Plakkk... ia menampar pipi Rindu yang memang sudah berdarah. “Gue benci sama loe Rin...!” Teriaknya.
“Terserah kalian mau benci gue atau apapun itu..! gue ngelakuin semua ini karena gue nggak mau kalian nyesel disuatu hari nanti..!” Jawab Rindu tanpa membalas tamparan itu. Jika ia mau membalas, mudah saja baginya. Tapi rasa sayangnya membuat semua terlalu sulit.
Meme meninggalkan Rindu yang berdiri didepan rumah, ia menutup pintu kamar secara kasar, menimbulkan bunyi yang melengking sampai ketelinga Rindu.
Tubuh Rindu lemas setelahnya. Perban ditangannya sudah terkoyak, lukanya kembali terbuka, darahnya sudah keluar begitu banyak. Rindu baru meringis merasakan perih diwajah dan ditangannya. Tapi hatinya lebih pedih saat ini, ketika tau jika teman-temannya begitu membencinya. Penampilan Rindu sangat kacau saat ini. Sangat kacau....!
Buliran suci dimata Rindu jatuh seketika. Ia melangkah masuk dan mengunci rumah. Tanpa ia sadari jika keributan dirumahnya mengundang banyak warga yang mengintip dari jendela...
Rindu melangkah masuk. Ia menuci tangannya, wajahnya. Ia meringis pedih, wajahnya sudah sangat banyak bekas luka. Tangannya sangat pedih saat ini. “Sampek kapan sii gue kayak gini..” Gumam Rindu sedih. Ia membenamkan bibirnya perih.
Ia melangkah keluar dan mengganti baju. Ia memilih tidur dimusholah rumahnya dengan laskan sajadah dan berselimut mukena. Ia sama sekali tak mengobati lukanya. sungguh, Tuhan lebih tau, jika luka yang ia dapatkan sangat pedih. Luka pisik dan luka hati membuatnya sangat lelah akan hidupnya.
“Mungkin mimpi membawaku tenang meskipun seesaat. “ Itulah selalu kaliamat yang ia rapalkan Rindu saat sakit menggerogo fisik maupun batinnya saat ini.
.
.
.
.
Rindu Come Back....
Thanks yang masih setia ngikutin hijra Rindu.
__ADS_1
like, komen dan vote ya hehe. Buat kasih nutrisi....