
Setelah mendengar cerita Yohan membuat Rindu semakin sadar akan perlakuan ayahnya yang selama ini otoroter. Ayahnya yang selalu berat semaunya dan berbuat dengan menyakitkan anaknya. Apa itu semua juga demi anaknya? Tentu saja demi Rindu, demi siapa lagi coba? Lalu ia merasakan ada hal yang dingin menyentu pipinya membuat ia mendongak. Ternyata Habib memberikannya susu kotak. “Untukmu.” Ujar Habib menatap Rindu.
Rindu yang mendapatkan itu tersenyum lalu megambil minuman itu.” Terimakasih Bib..” Ujarnya dengan lembut. memang kesepakatan mereka jika diluar maka Rindu harus memangul dia nama, bukan Tuan ataupun bapak.
Habib dduk disamping Rindu membuat Rindu bergeser duduknya dan menatap Habib dengan tatapan bertanya, ia bergeser untuk membuat jarak membuat Habib memutar bola mata malas. Mereka diam menatap kedepan, kalian bertanya dimana mereka sekarang? Maka jawabanya adalah mereka sedang dihamparan karpet hijau. Yah itu adalah tempat bermain dan berumpul. Dibawah karpet itu adalah kolam renang, yang memang dibuat secanggi itu, supaya tak memakan ruang lebih. Lagipula ini lebih enak kok..
“Siapa pria tadi?” Tanya Habib membuat Rindu menaikkan satu alisnya menatap Habib, habib yang mengerti isyarat itu membuat ia kembali menjelaskan.” Pria yang diapartemennya Nayla tadi.. yang menahanmu itu lohh.” Ketusnya karena masih kesal. Kenapa pula Rindu memberikan nomor hapenya dengan pria lain.
Rindu diam sejenak untuk mengingat “ Dia kak Dimas... teman lama saya.” Jawab Rindu dengan sntay. Lalu meminum susunya dengan nikmat, tak terlalu dingin dan tak juga panas, rasa vanila pula membut Rindu sedikit bisa menenangkan pikirannya.
“Teman apa teman?” Tanya Habib sinis. Ia tau Dimas adalah mantanya Rindu, dan ia ingat dimana Rindu dipeluk oleh Dimas dikampus saat itu” Oh aku lupa, diakan mantanmu bukan teman.” Ejeknya dengan santaynya dan menyandarkan pungungnya kebelakang menatap langit yang sudah menggelap. Sekarang sudah larut, hanya saja ia tak bisa tidur lelap malam ini, begitu juga Rindu.
“Kau sudah tau tapi masih bertanya. Dasar aneh.” Jawab Rindu dengan memutar bola mata malas. Ia malas sekali meladeni Habib yang bagaikan manusia pengangguran ini. selalu saja merecoki apapun tentangnya dan ingin tau apapun hal yang ia miliki, intinya ia tak suka orang yang cerewet.
Habib berdecap.” Dasar tak peka..” Gerutunya lalu bangkit.” sudah tidur sana. Hari sudah gelap.. nanti kau tak bisa ketemuan dengan mantanmu itu..” Ketusnya lalu melangkah menjauh. Ia mengepalkan tanganya erat karena tak terima, ia cemburu dan ia tak suka.
Rindu kembli menghela nafas, ia takut Hbaib sedang marah dan itu membuat ia menatap kedepan, ia memegang dadanya yang berdetak hebat.” Apa ini yang namanya cinta? “ Tanyanya dengan bergumam. “ tapi kenapa kau datang disaat diujung nyawaku Yaallah? Kenapa datang dikalah aku harus menghadapmu?” Gumamnya sedih lalu mengusap matanya, ia menghela nafas dalam karena sesak didadanya.
Ia tak pernah merasakan jatuh cinta untuk kedua kalinya. Ia hanya jatuh satu kali, dan itupun ia gagal, mantan pertamanya membuat ia tau arti dan rasanya jatuh cinta. Sosok yang sudah khilang kontak tapi masih menghubunginya. Sosok yang cuek dan juga bisa membuat ia merasakan kehilangan sampai detik ini ia bahkan harus menghabiskan waktu bertahun tahun untuk Move On. Saat ia ulang tahun meskipun mereka sudah putuspun mantanya masih memberikan kado membuat ia mengingat hal itu sampai detik ini.
Saat ini ia merasakan ketertarikan untukku Habib dan juga dokter Rey. Jujur saja Rindu tertarik untuk kedua laki-laki itu. Bukan hanya Habib saja, tapi juga untuk dokter Rey. Ia tak bisa memunafikkan itu, laki-laki yang membantunya sampai detik ini. laki-laki yang mengajarkanya untuk kuat, dan laki-laki yang mau meninggalkan agamanya untuk mendalami agama dirinya. Ia menyukai keduanya, dan ia tau, semua itu salah, ia tak bisa memiliki keduanya. Atau ia tak bisa memiliki keduanya mungkin?
Seteah memikirkan hal itu Rindu memilih tidur saja dikamarnya. Ia sudah menghabiskan malam terlalu panjang dan lupa jika ia harus bangun dini hari nanti untuk melaksanakan sholat tahajut dan muroja’a hafalannya. Ia harus cepat tidur dan juga cepat menyelesaikan masalah. namun sebelumnya ia memakan beberapa buah dulu dan minum obat.
...
Pagi ini beda dengan pagi biasanya. Pagi yang biasanya cerah sekarang dikabutkan dengan amarah dari beberapa pihak, itu membuat rindu sedikit tak nyaman. Nampak juga semuanya memandang kursi Nayla yang kosong membuat Rindu menghela nafas. Ini memang bukan keluarganya tapi ia sudah menganggap ini adalah keluarganya.
__ADS_1
“Rindu kamu panggil Nayla untuk sarapan sekarang juga..” Ujar Yohan menatap Rindu yng meletakkan selai dimeja makan.
“Baik tuan.” Ujar Rindu lalu melangkah menuju kamarnya Nayla. Kamar sosok yang sedang galau itu. Saat ia sudah berada didepan pintu Nayla ia mengetok pintu itu.” Assalamu’alaikum Nay. Kamu ada didalam?” Tanyanya dengan nada yang lembut.
Namun tak mendapatkan sahutan membuat ia mausk saja untuk memberanikan diri, ini sudah lebih dari tiga kali ia mengetuk, seharusnya ia pergi saja, tapi ia takut Nayla melakukan hal yang bisa merugikan dirnya sendiri.” Nayla...” Gumam Rindu dikalah melihat nayla yang duduk dipojokan dengan rambut yang berantakan. melihat itu membuat hati Rindu bagaikan di cabik-cabik, sangat sakit rasanya. “Kamu kenapa disana Nay?” Tanyanya sendu menatap anak dari Panji itu.
Disana ia daat melihat mata Nayla yang sudah menghitam pertanda ia tak tidur malam ini, ia membuka tirai kamar itu membuat Nayla mengagkat tangannya.” Jangan. Janga buka..” Ujarnya serak karena tenggorokannya kering dikalah sudah menghabiskan tenaga untuk menangis semalaman. Ia menangis karena meratapi hidupnya saat ini.
Rindu menggenggam erat kain itu karena tak kuat menahan perih didadanya. Nayla sangat kacau saat ini, ia tak tega jadinya. Ia mendekati Nayla lalu mengelus bahu Nayla lembut. “ Kamu boleh peluk aku kog.. kita bagi sama-sama tau rasa sakitnya.. saya sudah menganggap kamu kakak saya...” Gumam Rindu membuat Nayla menatap Rindu lalu memeluknya erat.
“Gue bahkan lupa kalo gue lebih tua dari loe Rin hiks hiks..” Gumamnya memeluk Rindu erat sekarang. Ia bahkan hanya menggunakan tangtop hitam saja lalu menggunakan Hotpant yang Cdnya kejar kejara. Ia nampak sangat kacau.
Rindu memabalas pelukan Nayla lalu merapikan rambut Nyala... “ Loe lebih dewasa dari gue hiks hiks.. loe lebih pinter dan loe.. loe lebih baik dari gue Rin.. gue udah dewasa tapi kenapa ya gue ngerasa gue belum pantes untuk dewasa.. gue malu Rin.. malu.. Hiks hiks.. Maafin gue. gara gara gue loe masuk rumah sakit.. maaf..” Ujarnya terisak menaruh kepalanya dicengkuk lehernya Rindu yang ditutupi kain hitam itu.
“ Yang mendewasakan diri kita itu adalah rasa sakit Nay... rasa sakit saya yang membuat saya begini.. rasa kecewa saya membuat saya kuat dan rasa sakit saya membuat saya harus dewasa menyikapi dunia.. hidup kamu lebih beruntung dari saya.. jadi tolong, jangan seperti ini..” Ujar Rindu mengelus punggung Nayla.
“Berhenti nyakitin diri kamu Nyala..” bentak Rindu menggenggam tangan Nayla..” Kenapa kalian selalu memandang hal yang baik saja didiri saya? Kenapa?” bertanya kepada Nayla membuat tangis Nayla mereda hanya ada sesegukan saja yang keluar. Ia bisa menatap mata terlukanya Rindu sangat jelas, itu sangat sakit jika dipandang. Bagaikan pulau rasa kecewa dan rasa yang sudah dipendam salama ini.
Rindu tergelak kencang menatap Nayla.. “Hahahah.. Hiks hiks..” Rindu mulai menutupi wajahnya.. karena bebannya terlalu berat untuk diungkapkan dan diceritakan, sampai dadanya sesak karena paru-parunya sakit.. paru-parunya terhimpit membuat ia mereda dan memukul dadanya sakit... “Rindu.. kamu kenapa? Rindu kamu ngak apa-apa?” Tanya Nayla khawatr dikalah melihat Rindu yang memukul dadanya sendiri secara kasar.
Rindu memegang tangan Nayla yang ingin pergi..” Se bentar..” Gumam Rindu lelah..
Nayla mendekat Rindu dengan khawatirnya membuat Rindu menghentikan nafasnya sebentar untuk menetralkan sakit itu.. itu memakan waktu cukup lama, sampai sepuluh menit.. karena memang sakit dadanya bukan main, tak bisa bernafas sekaligus mengeluarkan nafas. Kalian pasti tau jika mengidap penyakit kangker paru-paru...
Rindu menatap Nayla dengan sendu.. ia mengelus selurai Nayla dnegan sayu.. sedikit demi sedikit hilang rasa sakit didadanya. Tingal air mata yang luluh tanpa isakkan..” kamu berntung Nayla.. kamu lebih beruntung dari saya... sekarang tolak ukurnya bukan dari pandangan kamu.. tapi tentang bagaimana kamu bisa menerima takdir kamu atau tidak. Bisahkah kamu menerima semuanya dengan baik atau enggak. Semuanya tentang bagaimana kamu bisa menerimanya atau tidak Nayla... kamu jangan melihat takdir baik orang lain saja.. tapi lihat takdir buruk orang lain juga supaya kau tau dan bisa bersyukur akan nikmat yang kamu punya. Nikmat yang Tuhan beri sama kamu..” Ujarnya dengan lemah.......
Nayla menggenggam tangan Rindu sendu.. “Loe kenapa Rin? Loe sakit apa? Kenapa loe gini? Maafin gue..” Gumamnya merasa bersalah. Ia bisa mengegam tangan Rindu yang gemetar saat ini.
__ADS_1
Rindu menggeleng.” saya baik-baik saja.. karena saya menerima takdir saya dengan lapang dada. bahkan saya menganggap jika takdir saya adalah karunia terinda dari Tuhan saya.. tak semua beruntung dan tak semua bisa merasakan nikmat yang saya memiliki saat ini..” Ujar Rindu sendu pada Nayla.
“ Saya pernah hampir diperosa Nayla.. saya juga hampir diperkosa, mungin kisah saya lebih sakit dibanding kamu hik shiks.. saya pernah..” Gumam Rindu dengan air mata yang jath. Nayna memandang Rindu sendu.” Bahkan itu ulah sahabat saya sendiri Nay. Mereka kerja sama untuk menghancurkan itu.. kamu tau gimana rasanya?” Tnaya Rindu membuat nayla menatap Rindu sayu.
Rndu terkekeh geli melihat masa lalunya. “ Dimana saya sudah tak diangap leh kelurga saya.. diusir dari rumah, dan saya hampir diperkosa karena orang orang yang sudah saya percayakan dialami hidup saya.. rasanya kayak dunia saya mau hancur.. dunia saya rasanya mau berhenti didetik itu juga.. “ Ujarnya dengan nada serak..” Tak ada dukungan dan tak ada sandara selain sajadah tempat saya mengelinangkan air mata saya... Saya bahkan sempat mengatakan jika Tuhan membenci saya dikalah itu.. saya benci dengan hidup saya.”
“ Sampai Tuhan berikan malaikat tanpa sayap. Ia membawa saya bangkit, kemudian Tuhan beri saya dua sosok bunga syurga untuk kembali membuat saya berjuang untuk hidup. Baru saya bisa kembali berdiri dan berani menatap dunia.. “Ujarnya.. ia tak memberi tahu sakitnya selama ini, ia tak memberi tahukan sesak akan penyakitkan selama ini. ia tak memberi tahu akan hal itu.. ia tak mau siapapun tau..
“Kamu enak.. masih punya keluarga untuk membantu kamu.. keluarga yang mendahulukan kepentingan kamu Nay.. kamu punya kakek yang berbuat supaya kamu bangkit dan menghilangka trauma kamu. Sedangkan saya? Saya hanya punya iman supaya saya tak keluar dari jalur saya.. saya hanya punya keyakinan dan juga pertahanan. Saya hanya punya Tuhan untuk saya peluk dan mengaduh... Kamu lebih beruntung dari saya.” Ujarnya dingin.
“Kamu membenci keluarga kamu hanya karena kamu mau dijodohkan? Kamu salah. Seharusnya kamu lihat siapa yang dijodohkan denganmu. Kenapa kau tak cari tau dulu. Jangan langsung menjudge jika takdir mu buruk. Pikiranmu kayaknya anak lima tahun saya. Jika tak diberi ice krim akan mengamuk dan merajuk.. ayolah umurmu sudah dua puluh tahun..” Ujarnya Rindu lagi.
Nayla mengusap pipinya yang sudah mengering. Ucapan Rindu bagaikan menghantamnya didunia nyata. Ia menunduk dengan rasa takut. “ Tapi nanti aku tak bisa main lagi kalo sudah menikah. Aku masih mau nimatin masa muda aku Rin..” jarnya dengan sendu.
Rindu menghela nafas.” kamu tau jika temanmu itu tidak baik? “ Tanya Rindu membuat Nayla mendongak menatap Rindu dengan tatapan kening menyatu. “ Kamu harus memulai menerima saja dulu Nay. Jangan menyerah sebelum perang, masa sebelum melihat calon saja kamu sudah mau ingin bunuh diri? Kan lucu.. bisa sajakan calon kamu nanti tampan, kamu mau calon kamu nanti saya embat hm?” Tanya Rindu menggoda
Nayla meatap Rindu dengan tatapan datar. Menurutnya tak ada yang lucu saat ini.” Tapi jika dia tak baik sebagaimana yang aku takutkan bagaimana hm?” Tanyanya dengan alis terangkat.
“Ya tinggal batalkan saya. Lagipula saya akan bantu kamu untuk kabur jika calon kamu jahat nanti oke...” Ujarnya Rindu membuat Nayla menatapnya dengan harapan.” Tapi kamu harus melakukan satu hal... kalo kamu mau... aku akan membnatumu kabur oke... tapi kalo calon kamu jahat dan jelek..” bisiknya Rindu.
“Janji?” Nayla menyerahkan kelingkingnya didepan mata Rindu membuat Rindu rekekeh. Ia jadi teringat Rani dan Rian. Akh apa kabar dengan mereka?
“Insyaallah..” Ujar Rindu membuat Nayla mengerutu.
“gue mau loe janji Rindu.. bukan Insyaallah... nanti loe boongin gue gimana?” Tanya Nayla merengek layaknya anak kecil.
Rindu mengelus kepala Nayla gemes.” Tidak ada yang tau sedetik kedepannya Nayla. Bagaimana jika malam nanti saya mati sedangkan saya masih memiliki janji denganmu hm? Itu akan menjadi hutang untukku dan memperberatku untuk menghadap sang Kuasa.. jadi saya hanya berani dengan izin Alllah saja yyahh..” Ujarnya membuat Nayla tertegun.
__ADS_1
“Loe bikin gue merinding aja Rin. Kek mau mati aja.” Dengusnya membuat Rindu terkekeh