
Jangan teelalu mencintai manusia yang membuat kamu lupa dengan pencipta... ---
Habib menatap nanar didepannya itu. Ia saja menyelidiki siapa saja yang akan menjadi penanggung yang hukumnya Rindu. ia juga sudah menghubungkan pengacaranya. Dan sekarang ia sudah ada didepanya Habib.” Bagaimana pak maksdunya? Tersangkah itu besok sidangnya?” Tanyanya dengan bodohnya akan penjelasannya Habib barusan.
Dengan anggukan yakin pula Habib menatapnya.”Iya.. dia akan disidang besok... jadi kita harus bersiap-siap secepatnya.. tapi bagaimanapun juga kita harus keluarkan Rindu dari kasus ini.. baik secara kotor sekalipun. Pokoknya saya tidak mau tau titik..!!” Ujar Habib menekankan keinginannya.
Pengacara itu menatap Habib dengan kening menyatu dibuatnya. “Begini pak Habib.. sekarang itu sudah malam loh, sedangkan data tersangkah sampai pada penyerahan data kita kepada persidangan belum ada. Jadi bagaimana bisa kita melakukan hal dmeikia,n..?” Ujarnya dengan jujur.”Waktu terlalu mepet pak.. jadi sepertinya saya tidak bisa memenuhi apa yang bapak inginkan. Maaf..!!”Lanjutnya lagi.
Habib menatapnya tajam lalu mengabil cek didalam tasnya dan meletakkannya diatas meja. “Ini cek. Kamu bisa tulis berapapun asal kamu bisa bantu saya untuk mengeluarkan Rindu besok.. ini tidak ada yang tidak mungkin didunia ini jika uang yang bertindak pak.. saya rasa kita bisa membeli keadilan dengan peradilanya nanti..!”Ujarnya lagi kepada pengacara itu sebab dia adalah pengacara terbaik yang ia kenali.
Sosok itu menatap cek Habib itu dengan nanar, rasanya harga dirinya ditamar dengan uang... “Maaf pak... ini bukan masalah uang, tapi saya memang tidak bisa karena memang saudari Rindu sudah menjadi tersangkah tetap. Karena saksi dikalah ia membunuh janinya nona Mise ada,, belum lagi bukti CCTV kantor anda. Kita tidak bisa mengelak lagi. “Jawabnya dengan jujur.
“Dan lagi.. simpan saja Cek yang tuan miliki,sebab tidak semua orang melihat uang bapak pak. Sama dengan saya, saya bekerja secara profesional, membela orang yang benar. Bukan membela karena mau kaya.. maaf pak jika bapak mau seperti ini cari saja yang lain pak.. maaf saya tidak bisa..”Ujarnya dengan jujur lagi.
Habib mendengus dibuatnya lalu menatap rumah sang pengacara.”Sombingsl sekali anda ya...”Ujarnya dengan sinis.”Wajar saja anda tidak bisa menjadi kaya.. kaya itu harus konsisten dengan pekerjaan... Saya bisa membelikan kamu rumah besar asalkan kamu mau bantu saya. Mobil juga.. saya akan beli kamu mobil..”Lanjutnya lagi. sebab rumah pengacara ini memang sederhana. Tak terlalu banyak barang mewah dan berharga sebagaiana pengacara lainnya.
Pengacara itu tersneyum dibuatnya.” Ternyata bapak salah menilai saya ya pak.”Ujarnya dengan dinginnya kepada Habib.”Saya bekerja bukan untuk memperkaya diri. Memang banyak yang mau memperkaya diri, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan yang mereka inginkan pak. Memutihkan yang hitam dan menghitamkan yang putih supaya mendapatkan duniawi. membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar.. semuanya memang ada... bahkan banyak.. tapi maaf pak sekali lagi saya katakan jika saya bekerja bukan untuk memperkaya diri saya sendiri.”Ujarnya lgi.
Lalu pengacara itu menatap poto keluarganya diatas kepala Habib yang didinding itu.”Lihatlah anak anak dan istri saya pak...” Ujarnya membuat Habib menatap kebelakang. Disana ada sosok perempuan yang mengenakan baju syar’i sedang memeluk dua orang anak pria dan dua anak perempuan, disana juga ada sosok pengacara itu membuat Habib tertegun.”Istri saya sudah meninggal.. dan anak-anak saya sekarang menuntut ilmu dan makan mengenakan hasil jerih paya saya bekerja.”Ujarnya.
“Saya sangat mencintai istri saya pak... saya juga sangat menyayangi anak-anak saya.. saya tidak akan ikhlas jika istri saya dialam sana dihisab karena memakan uang haram dari saya sebagai suaminya, saya tidak mau didarah anak anak saya mengalir darah kotor karena makanan yang mereka makan terbuat dari uang haram saya. Sungguh saya tidak akan ikhlas.. saya lebih mencintai kehidupan saya seperti ini. sederhana namun indah.. bersama Lillahita’ala supaya nanti kami bisa berkumpul dijannahnya Allah dan saling berbagi kebahagiaan kembali. “
“Saya mungkin orang yang munafik jika saya katakan saya tidak mau menjadi kaya dna. memiliki semuanya. Tapi sungguh pak, saya takut semua yang saya miliki nanti dihisap dna menjadi beban hidup saya dialam Akhir nanti. Saya tidak mau itu memberatkan saya karena hisabnya pak.. saya tidak mau,, karenanya lebih baik saya miskin didunia dari pada saya miskin diakhirat. dunia hanya sementara sedangkan diakhirat selama lamanya.”lanjutnya.
Habib tertegun dibuatnya. Ada rasa hangat dihatinya ketika ia ditampar dengan keras oleh kenyataan. sebnarnya ini baru pertama kali ia ingin membeli hukum dan ingin bermain curang. Tapi rasa kepanikan dan kekhawatiranya membuat ia tak tau harus berbuat apa apa” Tap-tapi saya sangat mencintai sosok ini pak.. saya mencintainya dan saya takut ia meninggalkan saya..”Akunya Habib secara tak sadar.
Sosok itu menatap Habib miris...”Cinta kamu salah pak..”Jawabnya membuat Habib mendongak.”Cinta itu ketika kamu memperjuangkanya dijalan Allah, menjaga dia dengan nama Allah, memeliharakan kehormatan dia. Dan memperjuangkanya Lillahita’alah. Jika kamu mau mendapatkanya dengan cara kotor. Maka jangan salahkan jika hunungan kalian nanti juga berjalan secara tidak bahagia. tidak ada hal yang baik jika diawali dengan suatu kecurangan.” Ujarnya.
__ADS_1
“Hukum kita mungkin sudah bobrok Dimana kau. Karenanya jangan jadikan kita bobrok juga pak. Mungkin bapak memang sangat mencintai sosok perempuan itu. Tapi saran saya jangan sampai bapak mencintai penciptanya melebihi penciptanya. sebab nanti jika Tuhan cemburu, maka Bapak tidak akan didekatkan. Tapi malah dijauhkan...”Ujarnya.
Habb tertampar lagi dibuatnya membuat ia mendongak dan menatap sang pengacara tersebut dengan nanar. “Jadi ini alasnya kenapa saya dijauhkan darinya?”Tanyanya. ia merasa jika ia lebih mencintai Rindu dari pada Tuhaya sendiri. Sampai-sampai menghalalkan segala cara dan mengejar Rindu sampai lupa Tuhannya. Ia lupa jika hakikat mendekatkan Tuhan bukan karena ingin mendapatkan cinta dari ciptanaya. Tapi adalah suatu kewajiban seseorang.
Ralat.. jika Authur bisa kasih kata kata maka author atakan jika’ jangan Mendekatkan Tuhan itu hanya karena suatu kewajiban jika dalam diri orang yang beriman. Tapi menjadi sutu kebutuhan oleh mereka. Sebab jika tak mendekatkan dan menyerahkan diri kepada Tuhan maka ia akan merasa hidupnya kering merondah dan merasa tak akan berguna dalam hidupnya.
Pengacara itu tersenyum dibuatnya.” Hari sudah mlaam... mari pak kita sholat isa dulu.. “Ujarnya membuat Habib menggangguk dan mengikutinya. Ia ta tau harus apa lagi sekarang.. menyogok tak bolehkan? Lalu apa yang harus ia lakukan sekarang? Semuanya membuat ia gila dan menggila asal kalian tau.
Setelah itu Habib sholat berjamaah dan mulai mencari lagi pengacara,, sepertinya dia belum kapok karena memang hatinya masih kotor dan masih ingin Rindu keluar. Ia berjanji pada dirinya jika nanti Rindu keluar ia akan benar benar bertaubat.. tapi siapa yang tau hari berikutnya bukan?
Sampai pada ia kerumah pengendali hukumnya hakimnya.. ia meminta untuk Rindu bisa dibebaskan. Namun lagi lagi ia ditolak mentah mentah dengan dalih.” Saya bekerja mengenakan sumpah untuk keadilan. Mungkin tak akan ada yang tau jika disaat itu saya disogok. Tapi Tuhan lihat saya. Dan saya takutnya didetik berikutnya saya belum bertaubat tapi ajal saya sudah menjemput. Saya sudah tua dan saya mau menegakkan keadilan. Bukan menegakkan api neraka dalam kehidupan saya.”
Dan ternayata negara kita masih bayak yang jujur. Conthnya saya author calon dari hakim masa depan(amiin, doakan ya wkwkwk..) itu cukup membuat Habib menghela nafas dan pulang dengan tangan kosong.
Itu cukup membat Yohan menatap Habib, dengan pandangan sulit diartikan. Habib nampak lesuh dengan kepala tertunduk. Tak biasanya ia seprti itu.”Habib.. kamu tidak apa-apa?” Tanyanya Yohan kepada cucu laki-lakinya itu.
Yohan mendengarnya terkejut.”Kok Cepet banget sii. Dan kenapa tidak ada kabar dari pihak polisi?” Gumam Yohan tak percaya akan apa yang ia dengar. Ia menggeleng dibuatnya lalu menatap hapenya. “ Engak bener nih.. wajar aja Habib lemes... kalo gini nggak bisa bantuin Rindu keluar.”Gumanya lalu pergi.
Ya.. dia berharap Habib yang membantu Rindu.. tapi apa daya kabar yang ia dapat malam ini, jika satu bulan lagikan bisa dibicaraan dengan baik-baik. Tapi ini? ini terlalu nendadak menurut Yohan membuat ia menghela nafas dan pergi dari sana menuju ruang kerjanya menghubngi pengacara yang ada.
Dilain tempat dokter Rey sibuk dengan berkas berasnya dirumah sakit. dan Gevan sibuk diperjalanan menuju kota. Ia baru pulang dan kabarnya akan segera sampai kekota dipagi hari sekitar jam 9. Karena ia susah mendapatkan Danil. Danil kabur sebab ia sudah diberi kabar oleh Arga sepertinya.
Itu membuat Gevan harus kehilangan satu harinya untuk bertemu Rindu dan menenangkanya. Ia harus ekstra sabar. Apalagi ia harus kembali dimalam hari dengan jalan yang sangat gelap membuat ia merinding. Untung ia membawa dua bodyguard yang kekar kekar dan satu bodyguard perempuan.. ia trauma dengan pria berbadan kekar. Karena pria berbadan kekar lah yang menggeykannya dulu diluar.
Nayla menghubungi Gevan tapi tak aktip aktif nomornya itu menghela nafas dan membanting hapenya diatas kasur.”Kenapa sii Nay? Kok kayaknya kamu kayak orang stres banget..!!”Uarnya Fio kepada Nayla yang sedari tadi bolak balik dengan hapenya tiba tiba hapenya dibuang.
“Itu si Gevan..!”Ujar Nayla lalu duduk disampinya Fio dengan mata tajamnya”Udah satu minggu nggak ada kabar. Padahal besok adalah fiting baju buat kita tunangan. Kan pernikahan kita dilaksakan satu bulan lagi serentak sama pesta perusahaan. Nah... kalo gagak gimana coba? Kan malu. Kalo enggak mau lanjut ya bilang kek”Gerutunya.
__ADS_1
“Mungkin dia sibuk Nay. Kesibukan dia tu bukan Cuma loe doang. Jadi jangan gitu deh.. jangan dipikirin, nanti loe keriputan baru tau rasa..”Ujarnya membuat Nayla menghela nafas... baginya Gevan itu cuek. Tak mau dipegang, tak mau disenggol. Ia alergi bersenthan dan juga interasksi berlebihan akibat traumanya itu. Padahalkan Nayla juga harusnya trauma. Tapi jika melihat Gevan sepertinya Nayla lebih beruntung dan lebih sehat deh. Gevan akut soalnya.
Wajar saja. Gevan dilecehkan bukan sekali atau dua kali. Tapi berkali-kali dengan pria yang berbeda dalam satu jam, itu sudah terjadi sampai lima kali membuat Gevan membunuh salah satu dari mereka. siapa yang tidak trauma coba?
....
Pagi ini Rindu tersenyum menatap kedepannya. Semalaman ia tak tidur karena matanya lelah dan juga menangis.. ia tak menangis apapun selain rasa sakit dan rasa rindu kepada orang tua. Hal yang paling ia takuti ketika ia didalam penjara tapi mati disini dan belum meminta maaf kepada keduanya.. itu adalah ketakutan terbesar didadanya.
“Kamu sudah siap Rindu?” Tanya Ilham menatap Rindu yang sedari tadi tersenyum dibalik cadarnya itu. Ia kasihan kepada Rindu yang menghadapi semua ini.. ia sungguh merasa sedih.. entahlah, aurah baiknya Rindu sangat terpampang.
Rindu yang mengenakan baju orange itu tersenyum dan mengangguk.”Saya tidak apa-apa kok. saya percaya jika kedepannya saya baik baik saja.. mungkin ini sudah takdir saya.”Ujarnya Rindu dengan tulusnya.
“Tapi kamu benar-benar tidak mau memberi pembelaan kepada diri kamu Rndu jika kamu tidak bersalah? Kamu tidak ma beri bukti jika kamu benar? Ayo dong Rindu. saya yakin kamu tidak bersalah.. tolong kasih tau saya supaya nanti kita bisa kasih tau sama pengacara kamu.”Ujarnya kepada rindu dengan memelas
Rindu terkekeh.”Lagian apa yang harus saya lakukan jika semuanya benar pak? Dikalah itu saya memang memukul perut Mise karena saya tidak tau dia hamil. Dan ia keguguran.. dan saya memang pembunuh kan? Lagipula ini sudah ikhlas saya dapatkan pak. Jadi bapak tenang saja.”Ujarnya.
Iham menghela nafas dibuatnya.”Terimakasih ya pak. sudah mempercayai saya jika saya tidak bersalah.. dan saya berterimakasih banget sama bapak karena sudah membantu saya dan baik sekali dengan saya selama ini.. saya merasa punya kakak dan merasakan kehangatan kakak saya disini.. termakasih.”Ujarnya.
Ilham menata Rindu menghela nafas. Ia fikir ia tak diangap oleh Rindu selama ini. tapi nyatanya Rindu mengangapnya kakak membuat ia erharu.” Iya Rndu.. sama sama.”Ujarnya...”Sidangnya akan dimuai.. kamu sudah siapkan?” Tanyanya.
Rindu menatap jam yang didinding yang menujukan pukul 9 yang artinya ia memang harus disidangkan. Itu membuat ia menghela nafas dalam dan mengangguk.
“Bissmillahirrohmairrahim..”Ujarnya dengan ikhlas.. berdoa kepada Allah semoga jalan yang ia ambil direstui dan juga tak memberatkan siapapun. Sungguh sekarang ia hanya berserah diri kepada Allah Subhanahuata’allah.
“Ayok.. semua sudah menungguh diruangnya. Pelapor juga sudah disana....”Ujarnya dengan sendu kepada Rindu membuat Rindu mengangguk. Dibelakang Rindu ada dua polwan yang gaga tersenyum kepada Rndu.
Ada juga yang sinis dan dingin si kepada Rindu satunya lagi, yang mengenakan hijab malah beda dengan yang tidak mengenakan hijab. Ada dua polisi lainya. Tangan Rindu diborgol membuat mata Rindu memanas saat ini. ia merasakan sakit didadanya ketika ingat jika selama ini ia hanya menjadi gadis pemberontak dan pembat onar bagi keluarganya. Merusak nama dan citra orang tua dan belum bisa sedikitpun memberikan rasa kebangakan kepada kedua orang tuanya. Ia malu...
__ADS_1
.