Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Sadar


__ADS_3

Ada yang ga sabar Rindu ketemu orang tuanya? aaaaa sama qkwkwk.. Tapi Aku mu buat habib nyesel dulu biar enak gitu... Itung itung biar sadar wkwkwkw.


..


Bukan bukan… Jika kalian pikir Rindu tak mencintai Habib. Kalian tau rasanya ketika kalian sudah memberikan kepercayaan untuk menjaga apa yang kalian beri namun seseorang itu lalai dan mengabaikanya sesuatu apa yang kita beri itu bagaikan tak ada harganya? Kalian tau rasanya ketika barang yang kalian beri itu tergores sana sini dan rusak? Bahkan hancur melebur?


Padahals seorang yang kamu percaya itu sudah memberikan kamu janji dan juga harapan kepada kamu untuk menjaga semua yang kamu titipkan atau kamu berikan? sakit? Oh tentu saja. Rindu bukanlah Dewa ataupun malaikat.. bukan-bukan.. bukan nya Rindu memasukan Dewa dalam pembahsan ini, ini hanya kata isyarat yang dibawa oleh Rindu.


Rindu hanya merasakan hatinya teriris, semakin banyak orang menyakitinya maka ia percaya maka ia semakin kuat menghadapi kehidupanya kedepan.. bukan semakin melemahkanya.


No..!! jangan kalian fikir semakin banyak ujian yang Rindu dapatklan membuat hidupnya semakin menyedihkan dan hidup dalam relung keputus asaan.. malah smeua yang ia lalui membuat ia hiodup penuh dengan kekuatan.. semakin besar ujian yang ia dapat. Maka semakin kuat ia untuk menghadapi kehidupan yang mendatang..


Diibaratkan.. ujian itu ia buat menjadikan sebuah ramuan kehidupan.. semakin pahit pil yang ia minum, maka nanti ketika ia meminum pill yang tak terlalu pahit maka ia tak akan merasakan apa-apanya. Mungkin awalnya Rindu akan memuntahkanya, namun ketika sesuatu itu sudah menjadi kebiasaan maka itu tak akan jadi apa-apa..


Beda dengan orang yang tak pernah mendapatlklann ujian. Ketika ia diberi ujian sedikit saja maka ia akan menjadi orang yang paling rapuh.. ia merasa jika hidupnya gagal dna juga hidup penuhd engan menyedihkann.. diibaratkan mentalnya mental Tempeh. Mangkanya banyak sekarang orang yang bunuh diri karena diputusi pacarlah, bunuh diri karena ditinggal nikah ataus ebagainya. Terlalu lemah untuk menghadapi dunia yang panah dan penuh dengan kesemuan belaka..


Jadi buat kalian yang dirundungi dengan ujian dan masalah.. merasa sakit dan juga lemah? Maka mari bangkit..! jadikan hal itu menjadi obat untuk kamu, obat kuat supaya dikedepanya kamu semakin kuat menghadapi dunia.. jangan menjadi manusia lemah yang tak mampu menerima kenyataan.. jangan jadikan masalah dan musibah yang kamu rasakan menjadi ksedihan yang berkepanjangan.. ingat.. tak ada paku yang bengkok dipukul.. hanya paku yang lurus saja yang saja yang selalu dipukull.. sampai sini paham kan?


Beda halnya dengan Habib.. ia melihat Rindu yang memunggunginya itu membuat ia menghela nafas lalu meremas rambutnya karena merasa bersalah.. ia memnghela nafas karena tak direspon lalu memilih pergi ketika ingat jika Rindu akan kerumahnya untuk mengambil barang.. ia harus mencari solusinya dan juga mencari cara supaya Rindu memaafkannnya.. sampai ia lupa Rindu sakit ap?


Habib terkejut dikalah itu lalu melihat Rindu lagi… namun ketika ia ingin bertanya ia ingat jika Rindu tak lagi mau bicara dengannya membuat ia urung.. ia melangkah menjauh saja dan pergi meningalkan ruangan Rindu dengan wajah kusutnya..


Sampai didepan pintu ia bertemu dengan dokter Rey yang menatapnya dengan tatapan tajamnya lalu mengintip kebelakangnya bagaikan sedang meneriksa Rundu saja Ternyata dia menguping.. Namun Habib tak peduli. Yang ia peduli sekarang itu Rindu.. ia menatap keluarga yang menatapnya tajam itu.” Rindu sakit apa? Apa keadaanya baik-baik sajakan?” Tanyanya dengan lelahnya.


Dokter Rey mendesis dibuatnya.”Bahkan kamu baru menanyakan hal itu?” Kekehanya mengejek.” Lantas dari tadi kamu meminta maaf itu untuk apa Habib..!!! dan sekarang kamu baru ingat Rindu sakit apa? Gila..!!” Ujar doketer Rey dengan sinisnya kepada Habib.

__ADS_1


Diibaratkan ketika seseorang diberi nasi dan rendang untuk dimakan.. namun seseorang itu makan rendang diawal dan menghabisinya tanpa memakan nasi juga.. lalu hanya tersisa nasi.. lalu apakah nasi itu dimakan setelahnya? Saya rasa tidak.. apakah seseorang itu akan kenyang? Hahaha.. saya rasa juga tidak.. malah eneg dan juga mual bukan? Bahkan mungkin ada yang kepedasan dan muntah? Ya karena sebenarnya makanan pokok itu adalah nasi bukan rendang..


Iya.. masa makanan pokok dilupakan.. padahalkan Rendang disana hanya pelengkap supaya nasi itu ada rasa.. supaya makanan pokok dan juga makanan yang mengenyangkan itu bisa masuk kedalam perut dengan rasa yang enak.. begitulah istilahnya Habib saat ini.. ia melahap habis hal yang bukan seharusnya ia haruskan..


Habib tertegun karena memang salah.. ia menatap dokter Rey dengan tatapan benci dan juga datarnya itu.. “Saya Tanya Rindu sakit apa dan bagaimana keadaannya? Bukan mau meminta cacian kamu.. tinggal jawab saja susah ya? Nanti biar saya yang bayar rumah sakit ini?!!!” Ujar Habib dengan sombongnya.


Dokter Rey mengangkat sudut bibirnya “ Kamu Tanya saja dengan Rindu.. bukan Tanya kepada kami..!!”Itu bukan Rey yang menjawab tapi ibunya Rey ketika Rey mau menjawab…” Dan kamu tidak perlu bayar uang perawatan calon menantu saya.. karena kamu bukan siapa-siapanya dia. Dan keluarga saya masih sangat mampu untuk membayar rumah sakit ini.”Jawabnya lagi tanpa memberi tahu jika rumah sakit ini itu punya dia dan keluarga.. sebab ia bukan sosok yang mau menyombongkan diri sebelum seorang membuat ia harus melakukan hal tercela itu.


“Ayo Rey kita pulang saja.. biar Rindu istirahat disini.. kamu harus mandi dan juga sholat bukan? Hari sudah magrib loh.. masa mau sholat sama baju yang kotor kayak gini? Nanti kalo udah, baru kesini lagi..”Ujarnya ibu Rey memotong jawaban dari habib yang baru saja mau angkat bicara.


Dokter Rey menatap ibunya dengan tatapan memelasnya lalu berucap.”Lalu jika Rey balik Rindu gimana bu? Biar Rey sholat mushola dirumah sakit aja bu. Ibu sama yang lain aja duluan pulang enggak apa-apa kok.”Jawabnya Rey dengan lugasnya.


“Biar saya saja yang menjaganya tidak apa-apa kok..”Habib memotong pembicarannya mereka dengan tampang meyakinkanya meski wajah yang sudah memar sana sini karena ditampar Yohan dan ayahnya Rey..


Ayah Rey menatapnya Habib lalu menatap Rey.” Biar ayah saja yang menjaganya.. kamu pulanglah bersama ibumu dan kakakmu, lagikankan ayah tidak sholat.. kamu perlu membersih diri menghadap Robmu.. diibaratkan kamu mau bertemu dengan orang penting.. kamu pasti mengenakan jas terbaikmu kan? Dan berpakaian sangat rapi? Atau bertemu dengan seseorang yang kamu sayang dan kamu cintai? Pasti akan memakai baju terbaikmu dan memakai wewangian yang harum supaya seseorang yang kamu sukai tidak berpaling dan sesoerang yang penting itu akan tertarik pada kamu?”


Pemikiranya tentang dunia juga sangat luas.. dan itu juga menjadi sudut pandangnya dan sampai sekarang belum bisa menemukan jati dirinya yang sebenarnya.. ada banyak hal yang ia tanyakan dimuka bumi ini sebagaimana didalam buku Tuhan Izinkan Aku menjadi Pela** dan sebagainya.. semuanya membuat ia memandang semua agama dan mengatakan jika semua agama itu benar. Namun padahakikatnya ada yang paling benar bukan dari antara yang paling benar?


Rey menatap ayanya dengan tatapan tak terbaca lalu mengangguk.”Baiklah yah.. tolong jaga in Rindu ya… nanti Isnyallah Rey akan kesini lagi sesudah Isya karena nanti tanggung kalo sesudah magrib kan.. “Ujarnya membuat ayahnya mengangguk dan menepuk pundak anaknya..


“Iyaudah kalo gitu kita pulang ya Yah.. Ayah baik-baik disini..”Ujar Rey lalu menyalimi tangan ayahnya itu dan menciumnya membuat pemandangan itu Nampak sangat sangat enak dipandang. ini bukan pertama kali Rey lakukan kepada kedua orang tua nya bahkan juga kakaknya. Tapi masih saja menghantarkan rasa hangat didadanya ayah Rey. Ia merasakan dadanya tetap bergemuru dengan rasa senangnya mendapatkan anak yang begitu sopan dan juga santunnya.


Fey yang melihat adiknya begitu sopan dan santunpun kadang malu membuat ia mengikuti adiknya seperti sekarang. “Fey juga pamit ya Yah.. bay..”Ujarnya lalu menyalimi tangan ayahhnya dan mencium tangan dan pipi ayahnya..


Ibunya Rey tak mau kalah dan menyalami ayahnya juga dan berucap.”Kita pulang yah.. Bay.. jagain Rindu dari pria itu ya.”ujarnya lalu mentap habib seperti ingin menguliti Habib yang sedari tadi mematung karena tak dianggap. Ia bagaikan patung saja disana dengan bodohnya tak pula pergi pergi membuat keluarga itu mendengus sebal dibuatnya.

__ADS_1


Ayah Rey begitu bahagia ketika anak dan istrinya begitu hormat padanya.. ia menganggguk dna menatap kedepan.. dimana Rey merangkul ibunya dan Fey yang memegang tangan ibunya… ia menghela nafas dan bergumam. Andai saja dulu ia tak terlalu gila terhadap uang dan juga kekayaan.. ia pasti sudah bahagia.. dan adakah yang bertanya kenapa Rey tak mengucapkan salam? Keknya sudah dijelaskan ya dibab sebelumnya.. setelahnya ayah Rey pergi meningalkan Habib disana dan masuk kedalam ruangan Rindu untuk tidur dishofa saja. Ia cukup lelah seharian ini. Lagipula diruangan Rindu ada shofa dan pemabatas dengan tirai untuk pasiennya..


Habib disana mematung dibuatnya menatap nanar keluarga itu yang sama sekali tak mendengarnya dan menganggapnya itu.. ia menghela nafas lalu menuju ruang administrais dan juga ruang dokter Rindu. namun faktanya keadaan dan penyakit pasien itu sangat ditutup erat oleh pihak rumah sakit karena dokter Rey yang memberi tahu dan juga menyuruh. Jadilah Habib tak menemukan apapun membuat kepalanya sakit sekarang..


Habib butuh refresing atau tidur? Refresing itu pasti dicLub jika sudah pusing begini,, namun ia tak sedang butuh itu.. ia menghela nafas lalu mengingat kata ayah Rey tadi tentang sholat membuat ia tertegun.. benar adanya ketika menghadapkan seorang pencipta kita harusnya berpenampilan yang cantik dan juga bersih.. lalu ia menatap driinya yang begini?


Lalu selama ini ? apakah selama ini ia terlalu menyepelekan dirinya sendiri? apakah ia terlalu membuat dirinya jauh dari Tuhan sampai ia ingat kata Rindu jika semua yang ia la lakuan itu sebenarnya bukan hanya untuk hubungan mereka. Tapi karrena kewajibanya membuat ia menatap nanar kejalan.”Saya harus apa?” Tanyanya nanar.


Ia bagaikan kapal yang melaju tanpa arah sedangkann dirinya adalah algojonya. Ia penunjuk arahnya dan juga sebagai kaptennnya. Bagaimana bisa seorang kapten tak memiliki peta untuk menuju temnpat yang ia tujuh?


Habib menegum saliva keringnya lalu menatap arah jalan raya., ia memilih berjalan tanpa arah saja sebab ia sedang tak mau menaiki mobilnya.. tadi ketika ia kesini ia kembawa mobil milik Gevan dan ternyata Gevan tak mengisi bensinya membuat mobil itu tinggal dirumah sakit. Ia juga taka ada niatan untuk menghubungi keluarganya atau Filos sekalipun. Ia butuh dinginnya malam untuk menghangatkan telaga kegundaanya..


Sampai pada ia menatap masjid didepanya. masjid yang sangat indah dan juga besar membuat ia menatap driinya. Dirinya kacau membuat ia ragu untuk masuk.. ia ragu untuk menemui Robnya.. namun ia terkejut dikalah bahunya ditepuk seseorang dan ia memandang kesampingnmya.” Ayok masuk.. sebentar lagi acaranya bakal mulai loh.. ayok..!”Ujarnya dengan senyum disana.


Habib menatap sosok itu heran. Sosok yang tak lain adalah Ustadzt Fatih membuat ia tertegun dan Ustadzt Fatih menggaruk telinganya.” Masih ingat saya kan? Saya Fatih dan sebentar lagi Kyai Abu akan cerama.. kamu enggak mau masuk gitu? Lumayan dapet siraman rohani sekaligus makanan geratis.”Guyonannya dengan senyum manisnya.


Habib menatap dirinya lalu menatap Fatih lagi dengan sendunya,”Tapi saya bauk dan belum mandi.”Ujarnya jujur nan polos lalu berucap lagi.”Nanti Tuhan tidak menerima saya jika sya begini..” Lanjutnya ketika ingat akan ucapanya ayahnya Rey tadi polos.


Fatioh terkekeh dibuatnya.”Ehhh kamu kira Tuihan sejahat itu apa?” Tanyanya membuat Habib tertegun.”Ketika kamu mau mendatangkanya dan bersudut kepadanya maka Allah akan memelukmu erat dan tersenyum lembut.. ia merindukan setiap umatnya.. ia tak membedakan siapapun melalui penampilanya.. namun melalui niatnya Habib,.”Ujarnya membuat Habib diam.” Ketika kamu datang kepada Tuhan kamu dengan pakaian bersih dan Wangi karena merasa Tuhan kamu berharga maka kamu akan mendapatkan pahala.lagipula bersih dan wangi itu adalah sunnah bukan?” Tanyanya membuat habib mengaguk.


“tapi ketika seorang hambanya datang dengan pakaian kusutnya, belum mandi dan juga bauk.. tapi natnya karena ia ingin dekat dengan Robnya. aangat mendesak atau membutuhkan nyamanya beribadah dalam dekapannya ia tak akan marah.. maka diri kamu ia bersihkah dengan nikmat iman dan ketenangan.. semuanya tergantung niat.. tapi ada baiknya kamu bersih dan wangi. sebab menemui manusia saja kita selalu berpakaian rapi dan wangi.. tak mau bauh dan kucel. Masa menghadap sang pencipta saja kucel dan juga kotor.. masa dengan Tuhan kamu kebalikannya.”Ujarnya dengan kekehan


“Jadi?” Tanya Habib dengan polosnya lagi disana kepada Fatih yang bercerita disana. Ia tahu dan paham. Namun ia maish bodoh dalam agama dan pemahaman ternyata.


Faith menghela nafas.”Kamu ambil wudhu saja dulu gih dikamar mandi, lalu cuci tangan, muka dan kaki kamu supaya kamu bersih dan lebih segar.. lalu masuk .. kita akan adakan cerama ini.. masa engak ikut? Rugi tau ngak. Mau kamu bersih mau kamu enggak itu tergantung sama niat kamu. Kalo niat kamu illahita’allah maka kembalikan kepada Allah.. “Jawabnya.

__ADS_1


“Mari tad.. sebntar lagi acaranya mau dimulai..!!” Itu seruan dari dalam masjid membuat Fatih disana tertegun dan menatap kedepan.. disana ada bapak-bapak mengenakan sarung dan peci membuat ia menepuk kepalanya.


“Asstaghfirullah saya lupa hehe. Habisnya keasikan bicara sama Tuan Habib ini..”Ujarnya dengan kekehan laliu menatap Habib.”Ya sudah saya duluan ya… saya menunggu kamu didalam..”Lanjutnya menepuk pundak Habib lalu masuk dengan tenangnnya tanpa mengingatkan Habib dibelakangnya lagi.. baginya jika mau ya ayok kalo enggak kan sudah diingatkan. Sekarang kewajibanya itu memberikan cerama..


__ADS_2