Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Oke


__ADS_3

Rindu menghembuskan nafasnya jengah. Ia melirik Habib sinis.” Tidak terimakasih, saya bisa cari pekerjaan lain saja. Oraa sudi..!” Ucapnya sinis lalu melengang pergi. Siapa yang mau jadi pelayan pribadi. Kata kasarnya jadi pembantu. Jujur saja, meskipun Rindu bukan orang kaya, dan orang tuanya otoriter. Ummi dan abinya sama sekali tak pernah memperbolehkan Rindu menjadi budak seseorang. Bisa dikatakan jika orang tuanya sombong.


Jika pelayan caffe angap saja ia menjadi pembantu, tapi setidaknya bukan bertuan pada satu orang. Tapi melayani pengunjung. Bukan sombong, meskipun orang tua Rindu itu dari kalangan petani, tapi orang tuanya sama sekali tak mau Rindu diposisi rendah. meskipun menjadi pembantu itu tidak seburuk yang orang tuanya beri tahu, tapi Rindu tau maksud dari orang tuanya. Mereka hanya tak ingin Rindu diperbudak dan dipijak-pijak harga dirinya. Banyak orang yang merendahkan pembantu bukan?


Apalagi jadi kawin kontrak. Cihh, pernikahan apa itu? Menggunakan batas waktu dengan kata sah antara dua bela pihak tapi tanpa kata sah diagama dan juga hukum. Apakah masih dibilang pernikahaan? Ciih, kata kasarnya adalah pelac*r kontrak bukan? Hukum islamnya dimana? Bahkn nika sirih saja dipersolakan dalam hukum islam yang mendalam igu tidak sah sebagaimana diketahui masyarakat umum. Syah dimata agama namun tidak sah dimata hukum. Sedangkan sah yang dimaksud dari akad itu memiliki arti luas.


Saat Rndu mau membuka pintu, Habib sudah lebih dulu memencet tombol otomatis yang membuat pintu itu terkunci. Rindu memejamkan matanya, kesal sekali hatinya. “Buka pintunya...” Rindu menggoyang-goyangkan gagang pintu kesal. Namun harus meredam emosi.


Habib terkekeh.” Kau terlalu sombong. Bukankah kau sudah pernah dipakai? Ciih, apakah kau pura-pura jual mahal?” Tanya Habib melepaskan emosinya. Ia ingat kejadian malam kemarin yang melihat Rindu keluar dengan pria dengna keadaan yang sulit dijabarkan.


Jujur saja. Rindu sama sekali tak sakit hati akan omongan Habib. Sebab apa? Sebab Rindu tak seperti yang Habib katakan. Rindu sosok yang apatis terhadap apa yang orang lain katakan padanya. Soo yang menjalankan hidup itu dirinya sendiri bukan orang lain..! Hidup jangan dibuat susah dan selalu memainkan hati. Jangan jadi manusia baperan...!


“Sudah dipakai? Kata-katamu terlalu ambigu. Aku tak mau berurusan denganmu. Maka buka pintunya.” Ucap Rindu tegas. Meskipun ia sudah mengunakan baju dan niqob yang tertutup, tapi ia tak bisa menutupi sikapnya yang keras dan juga tegas.


“Aku sudah katakan. Kau hanya memiliki dua pilihan, kau tingal pilih jadi istri kontrak atau jadi pembantu..!” Tegas Habib. Sedangkan Filos hanya menunduk, sesekali melirik Rindu maupun Habib.


Rindu terdiam. Sebenarnya jika bisa jujur, ia tertarik dengan tawaran ini. 3x lipat. Lumayan untuk hidupnya. Ditambah ia teringat aan percakapan Rian dan Rani kemarin padanya.


On flashbackk...


“Bunda...” Rani memeluk kaki Rindu yang baru saja mendekati Rian dan Rani yang bermain. Ia berniat untuk pulang.


“Ada apa sayang?” Tanya Rindu. ia melirik Rian yang memeluk kaki kanan Rindu juga membuat Rindu merunduk. Ia memegang tangan mungil mereka lalu mengajak mereka duduk diatas kursi, sepertinya mereka memiliki permintaan.”Kenapa hmm? Ayo cerita sama bunda...” Rindu mengusap kepala Rian dan Rani. Rian yang duduk disebela kanan dan Rani disebelah kiri. Mereka meletakkan kepala mereka diketiak Rindu dengan mata yang memelas. Sepertinya niat untuk pulang harus ditunda.


“Kam kami mau sekolah bun..” Rian menunduk, takut penuturannya akan membuat Rindu kerepotan.


Rindu mengerjab. Mereka memang belum sekolah karena umur yang masih 5tahun, jika mereka masuk TK,itu akan bayar, tidak seperti SD yang ada beasiswanya membuat Rindu menganguk. “ Boleh.. kalian boleh sekolah, nanti bunda cari uangnya ya... Hmm minggu depan kalian bisa sekolah.” Ia berniat akan menjual Handponenya saja. Lagi pula handpohoenya saja sekali tak ia gunakan.


“Tapi bun. Kami mau sekolah di pondok.. sekolah yang ada asramanya itu. Kami mau jadi tahfis Qur’an bun. Kami mau sekolah untuk jadi penghafal Qur’an.” sahut Rani manja.

__ADS_1


“Rani... Uangnya gede kalo masuk disitu. Kita ditempat biasa aja, yang penting sekolah. Kalo ngehafal, nanti kita bisa belajar sama bunda aja...” Rian sekaan paham akan Rindu. ia menatap adiknya memperingati.


Jika dikota besar sekolah yang berlebel pondok itu geratis, Seperti diceri finovel ditv Tapi, maka tidak disini. Disini pesantren. MA, MI dan sebagainya itu memakan biaya 3x lebih besar dari pada biaya sekolah umum. Karena disini harus membayar uang pendaftaran, uang makan selama satu bulan, uang kasur, uang lemari. Semua kebutuhan itu ditangung sendiri. Belum lgi uang jajan dan uang ekscholl.


“Tapi kak. Rani mau jadi tahfiz. Rani mau bunda sama ayah masuk syurga disana. Rani mau jadi anak sholeha dan Rani mau bunda Rindu juga bangga karena udah jadi bundanya kita. Rani sayang sama bunda kita sama bunda Rindu. nanti biar kita kesyurganya bareng bareng..” Yakin Rani tegas.


“Masuk syurga itu ngak mesti dengan menghafal Rani. Kamu cukup berniat dan lakuin dimanapun tempatnya bisa. Kamu lupa jika Allah ngak pernah mempersulit umatnya?” Tanya Rian. Ia tak suka adiknya meminta hal yang lebih pada Rindu. rindu juga butuh hal lain, tak memikirkan mereka saja. Ahh bahkan dengan umur sekecil ini saja ilmu agamanya sangat kental. Umii Ira sangat pandai mendidik mereka.


Rindu mengelus kepala mereka.” Emangnya Rani udah hafal Al-Qur’an hmm? Emang udah hafal berapa ayat?” Tanya Rindu lembut.


“Rani udah hafal just 30 bun. Kalo bang Rian udah hafal just 30 sama lagi jalan disurah Al-baqara..” Jelas Rani semangat.


“Rani ngak boleh gitu. Itu namanya Riya’ nanti amalnya hilang lo..” Tegas Rian menatap adiknya.


Rndu merasakan hatinya memanas. Mudah sekali ia menangis sekarang? “Hmm. Anak-anak bunda pinter dong.. Hmmm, Rian bener nggak boleh riya’ tapi kalo cerita sama bunda nggak papa ya. Kalian harus cerita sam bunda harus ya..” Tegas Rindu suraanya getir kepada anak-anaknya.


“Iya Bun. Maafin abang..” Rian menunduk karena merasa bersalah.


Rindu menarik ingusnya dahulu.” Bunda bakal masukin kalian dipindok pesantren Darusalam mau? “ Ia tersenyum manis.


Rian dan Rani mendongak menatap Rindu penuh harap.” Pesantren yang bagus itu? Yang banyak tahfiznya itu? Yang ,.. yang.. yang mahal itu? Beneran Bun?” Tanya Rian semangat.


Ridnu pun tersenyum lalu menganguk.” Tapi ada sayaratnya..” Tekan Rindu sembari mencoel hidung Rian.


“Apa bun?” Tanya Rian dan Rani semangat.


“Cium pipi bunda..” Rindu mengetuk-ngetuk telunjuknya dipipi kanan dan kiri dengan gesit pulla.


Cup..

__ADS_1


Cup..


Rian dan Rani mencium pipi Rindu membuat Rindu terkekeh. Ia memeluk Rian dan Rani..” Tapi nanti harus rajin ya..”


“Iya bun... Pasti nanti kami jadi hafiz hebat buat bunda...” Rian dan Rani mengeratkan pelukannya.


“Coba bunda denger hafalannya. Bunda tes yaa..”


Setelahnya Rindu menguji mereka dengar surah yang ada dijust 30. Benar kata mereka, mereka sudah sangat pasih, tajwidnyapun sangat bagus, apalagi Rian. Ia bahkan hampir hafal surah Al-Baqarah. Sangat merdu dan juga fasih membuat Rindu semakin bertekat akan menyekolahkan mereka dipesantren. Nikmat mana lagi yang Rindu inginkan jika ia sudah dikaruniakan anak sholeh dan sholeha?


Of flashbackk..


Rindu menghela nafas. Jika ia teruma berarti ia menentang ibu dan ayahnya yang tak memperbolehkannya jadi pembantu. “ Saya tidak tertarik tuan. Terimakasihh..” Putus Rindu.


“Saya akan gaji 5x lipat. Pilihlah..” Habib masih saja gencar. Mau mau Rindu jadi mencintainya, meskipun yang ia ketahui jika Rindu bukan gadis baik.


“Oke. Saya mau jadi pembantu anda. asalkan setengah gaji saya diberi sekarang...”


“Oke..”


...


.


.


.


Come back yuhuuu perjuangan brau dimuli. meski nggk seberat dulu. like komen dan vote yaa

__ADS_1


__ADS_2