Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Polisi 2


__ADS_3

Pak Ilham merasa aman pun menyeringai, tapi seringayan luntur saat Rindu memamerkan CD ditangannya. “Ayo mulai.” Ucapnya,


Lagi-lagi pak Ilham menyerang dengan menendang tangan Rindu. dengan cepat Pula Rindu menahan kakinya dan,


Bugh..


Ia menendang alat vitalnya, membuat sang empu menjerit tak tertahankan. “Good boy...” Ucap Rindu. ia menatap pak polisi Interogasi, ahh, ia tak tau siapa namanya. “Saya bukan lawan yang kalian bisa ajak main-main.” Ucap Rindu dingin. Ia mendekat dan mengabaikan ringisan pak Ilham. Ia mulai memutarkan Video itu dan menampilkan kejadian sesungguhnya, bahkan suaranya pun terdengar nyaring. Itu membuktikan jika Rindu membela diri dan bukan tersangkah.


Mata Rindu memamerkan kejahatan kentara. Ahh, bukan. Maksudnya kepuasan yang mirip dengan horor. “Sudahkan pak? Lain kali, seorang polisi harus bijaksana pak. Hal yang pertama bapak tanya itu bagaimana tragedi yang sebenarnya. Cihh. Kalian bayar berapa untuk jadi polisi.” Ucap rindu lantang.


“Maksud kamu apa?” Bentak polisi itu.


Rindu kembali mencibir. “Urusan saya sudah selesai. Saya akan tuntut balik kasus ini, dan kalian semua sebagai tersangkah.” Ucapnya lalu beranjak untuk membuka pintu.


Tapi tanganya dicekap oleh pak interogasi. Membuat Rindu menarik jempol kekar itu lalu memilinnya keras hingga terlepas dari bahunya. Ada satu pukulan yang melayang dari tangan kiri pak interogasi membuat Rindu menangkapnya cepat dan membantingnya dilantai. Ia menginjak perut pak polisi itu secra kasar. “ Polisi macam apa kau ini? dasar manusia makan uang rakyat tak berguna."


“Am ampun.. kami temannya Alice dan kami diancam supaya bisa menjebloskan kamu kepenjara, ia tidak mau masuk penjara.” Sembari mengerang sakit karena kaki Rindu yang menginjaknya.


“Tapi tetap saja salah. Kalian itu penegak hukum, tak seharusnya seprti ini.” Sahut Rindu tegas.


“Kami diancam. Jika kami tidak menurutinya, maka kami akan dilaporkan tentang sesuatu rahasia kami.” Jelasnya sembari memegang kaki Rindu.


“Rahasia jika kalian membayar dan menyogok saat ingin menjadi polisi? Maka dari itu, mulailah awalan itu dengan kejujuran. Jika awalnya saja sudah berbohong dan memakai hal yang haram, maka haram terusa yang akan kalian dapatkan.” Rindu melepaskan pak polisi itu.


Pak polisi itu kaget, dari mana Rindu tau. Tapi ia bersykur karena bisa bebas. Ahh, ia polisi mengapa bisa kalah dengan seorang gadis kecil yang tenaganya tenaga baja. “Dari mana kau tau?” Tanyanya sembari duduk. Ada sirat balas dendam di mata nya.


“Aku tak akan melaporkanmu dipihak berwajib, tapi lepaskan aku dari kasus ini. aku tidak bersalah. Dan mulai dari sini, belajarlah untuk jujur.” Ucap Rindu tegas.


“Baiklah. Aku akan membantumu.”Ucap pak introgasi yakin. Ia tak yakin dirinya dikalahkan seorang gadis. Ahh, tulang Rindu bagaikan baja yang begitu keras.


Setelah kejadian itu Rindu menjadi dibebaskan dan chaf Alice yang mendekam dipenjara. Entah berapa lama, karena uang bisa membeli segalanya saat ini. Dan Ternyata pak polisi Ilham itu adalah kakaknya Chaf alice karena itu ia membantu Alice tadi.


Dua jam setelahnya Rindu dibebaskan dari kasus. Membuat dirinya keluar dari kantor polisi. Penampilan Rindu kacau. Mata kiri bengkak karena lukanya, hingga mengebabkan matanya sipit. Baju kusut. Ahh, ia bahkan belum makan sedari pagi tadi.


Suara Dering panggilan dari tas Rindu membuat sang Empu berhenti untuk keluar. Saat ini iia berada diparkiran kantor polisi. Ia tak punya teman untuk mengantarnya pulang, keluarga? Keluarganya bahkan tak ada yang menanyakan kabarnya hingga detik ini, ahh, hidupnya semakin kacau.

__ADS_1


Nama Umi Ira terpampang layar hp Rindu. ada senyum tipis terbit diwajhnya. Ia menekan tombol terima. “Assalamuakaikum ummi.” Ucap Rindu.


“Wa’alaikum salam bunda...” Ucap seorang gadis kecil dari tempat lain.


“Oh. Ini Rani hehe. Kenapa sayang?” Tanya Rindu. ia sudah hafal suara Rani da Rina. Ahh, suasana hatinya yang buruk sekarang sudah berubah haluan menjadi kebahagiaan dengan mendengar suara bunga syurga ini.


“Bunda nggak lupakan? Kan kemarin bunda udah janji bawain kita es krim kita nungguin Loh.” Ucap Rani polos.


“Bener loo kak. Kami nungguin ni kak.” Sahut suara lain. Yang bernama Lisa.


Rindu terkekeh.” Ini bunda baru pulang. Bentar lagi bunda kepanti ya.” Ucap Rindu. ahh, ia memang mau kepanti untuk menenangkan diri. Jika dirumah tak ada orang lain membuat dirinya sakit.


Ditambah Diva dan Meme yang tak tau apa kabarnya membuat dirinya semakin frutasi. Ia merasakan sesak didadanya saat ingat jika kehancuran teman-temannya karena dirinya.


“Beneran bun? Kita tungguin ya.” Ucap Rian antusias.


“Bener dong.”


“Hati-hati ya bunda. Kalo gitu kita tungguin. Assaamu’alaikum. Tutu tutu tu..”


“Hmm. Haloo Rindu.” Suara bariton itu membuyarkan lamunan Rindu.


Rindu menatap asal suara. “Hm. Ada apa pak?” Tanya Rindu to the point.


Dia adalah pak polisi yang mengintrogasi Rindu tadi. Ia menadakan tangannya dihadapan Rindu. “Saya Cuma mau ngucapin Maaf sekaligus terimakasih.” Jawabnya sembari tersenyum.


Rindu mentap tangan itu sendu sembari tersenyum tipis. Ia mengangguk. “Sama-sama.” Gumamnya tak menerima uluran tangan itu.


Pak polisi itu menjadi gugup sekaligus salah tingkah. Ia menggaruk tengkuknya dengan tangan yang tak diterimah Rindu tadi. “Hmm. Kenalin namaku Bara Polinka.” Ucapnya tak tau harus berbicara apa.


Rindu tersenyum tipis. “Yasudah pak. Saya duluan.” Jawabnya pelan sebari pergi.


“Tunggu..” Ucap Bara. Tapi tak ditanggapi oleh Rindu. ia menggerutu kesal. Entah kesal karena Rindu yang tak menerimanya secara baik atau karena dirinya yang diacuhkan.


Entalah..

__ADS_1


...


“Bunda...!” Teriak Rani bergegas berlari dari halaman panti saat melihat Rindu turun dari ojek online. Pengemudinya adalah perempuan.


Senyum Rindu mengembang saat melihat Rian dan Rani memeluk kakinya erat saat sudah membayar uang ojek. “Asalamu’alaikum anak bunda..” Ucapnya sembari mengelus rambut sikembar manja itu.


“Wa’alaikum salam bunda..” Ucap mereka serentak sembari mendongak. “Itu kepala bunda kenapa? Kenapa diperban? Kenapa mata bunda bengkak?” Tanya Rian terkejut.


“Bunda kenapa luka?” Tanya Rani tak kalah sedih.


Rindu tersenyumtipis. “ Tadi ada insiden dikit kok. Karena itu luka, ngak dalem kok luukanya.” Jawan Rindu.


“Beneran bun?” Tanya mereka sedih.


Rindu berjongkok menatap awajah polos mereka. “Jangan sedih dong. Kalian ngak lupakan. Kalo sakit itu penggugur dosa. Jadi jangan sedih. Semua yang Allah beri itu adalah kenikmatan loo.” Jawabnnya tersenyum.


Tangan Rani terangkat mengelus pelipis yang sudah terbalut perban. Ada noda darah disana. “Cepet sembu ya bun. Cup...” Ia mencium pipi kanan Rindu.


Cup..” Iya cepet sembu ya bunda.” Sahut Rian sembari mencium pipi kiri Rindu.


Rindu terkekeh. Rasanya energinya kembali terisi saat mendapatkan ciuman itu. “Makasih sayang.” Ia mengacak rambut Rian dan Rani. “Ini, es krimnya. Bagi-bagi sama temen-temennya ya.” Ucap Rindu sembari memberikan satu kantong plastik besar yang berisi pulan es krim.


“Makasih ya bunda.. Ayoo bun. Kita masuk dulu.” Ucap Rian dan Rani sembari menarik tangan Rindu.


.


.


.


.


.


**Come Back dong sampek End. insyaallah wkwk.

__ADS_1


Like. Komen dan Vote aja terus oke. Biar author mangat hehe**


__ADS_2