
... "Terkadang, Tuhan menghilangkan sesuatu yang sangat berarti dari genggamanmu, agar kamu menyadari kesalahan dan berubah menjadi lebih baik. (Anonim)...
..."Jalan Allah itu Panjang, akan tetapi Kita Menempuhnya layaknya Kura-Kura. dan tujuannya bukanlah dengan engkau sampai pada ujung jalannya, tetapi tujuannya ialah dengan engkau mati di atas jalan tersebut." - Syaikh al-Albaniy...
...
..."Biarlah kita terlihat jahat oleh orang lain, asalkan kita tak berpura-pura menjadi baik walaupun masa silam kita gelap. Sekurangnya kita ada usaha untuk berubah."...
.....
Dokter Rey menghela nafas.” Polisi suruhan saya memantau Rindu. katanya Rindu sekarang juga sedang sakit membuat dia senag istirahat. Kayaknya dua atau tiga hari lagi sidangnya. Jadi kita punya waktu selama tiga hari lagi buat buktiin Rindu enggak bersalah. Baik dari Danil atau dari bukti lain.” Ujar dokter Rey...
setelah itu dokter Rey dan Gevan berdiskusi apa yang akan mereka lakukan dikemudian hari. Dimana mereka bisa menemukan bukti dan sebagainya.
Domain tempat, Rindu terdapat lemah Di atas brankar rumah sakit Disana. Ia menikmati semua yang ia lalui dengan lillahita'allah. Sudah tak ada lagi rasa ingin memberontak sebagaimana awal ia menghadapi semua ini.
..."Jika kesabaran sudah di tangan, maka berbagai hinaan dan cacian yang mereka lontarkan hanya akan terasa bagai debu kecil yang beterbangan."...
...Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." – QS. Ar-Ra’d: 11...
Ia sadar jika sekarang ia memang salah dan pantas mendapatkan semua ini. Ia tak bisa mengontrol emosi nya membuat ia jatuh kelubang yang ia buat sendiri. Ia sadar akan hal itu.
Ia melihat jam yang masih menunjuk kan pukul sembilan malam membuat ia memilih tidur lagi saja dan menenangkan pikiran nya. iya... Ia sudah melaksanakan sholat jadi tidak masalah ia tidur sekarang.
Rindu memejamkan Matanya dengan damai berharap esok masalah yang ia hadapi saat ini hanyalah bunga tidur. apakah ada? tentunya pasti ada orang yang berfikir seperi itu bahkan banyak lagi ynag ingin ketika mereka tidur, maka mereka tak usah bangun lagi.
Tak terasa air mata Rindu menetes lagi dengan aliran damainya. Dalam tidur saja ia bisa menangis, apakah dalam mimpinya ia juga terkena masalah atau masalah menghantui tidur nyenyanya juga? Ku rasa begitu. Yang sabar ya Rindu.. maafkan author yang jahat ini kwwwkk.
Tak Rindu tau jika diluar ia dirawat itu ada sosok polisi yang sedang menatapmya dengan sendu. Entah kenapa, ada rasa yang sakit melihat Rindu sperti itu. seperti ada ikatan, tapi ikatan apa ia tak tau. Apakah ia menyukai Rindu? ia rasa tidak. Mungkin lebih kekasihan, sebab ia sudah tau apa penyakit yang Rindu hadapi. Ia mengecek obat yang ia ambil dari rumah Habib kemarin. Obat yang disuru oleh Rindu ambil itu ia cek keapotrik. Itu sangat mengejutkan baginya.
Sebab disana itu ada banyak obat jika dihitung, maka mungkin Rindu makan itu dua belas butir obat yang berbeda dalam tiga kali sehari. Ralat.. empat kali.. sebab ada dua obat yang harus ia minum dikalah ia tertidur.
Air matanya bahkan jatuh dikalah ingat jika dokter diapotek itu mengatakan jika salah satu diobat itu ada obat Kanker Hati yang sudah akut.. ia juga mendengar ginjal Rindu rusak karena obat disana juga ada.. yang lebih sakitnya kagi ketika ia mendengar jika obat satunya lagi itu adalah obat paru-paru. Yang katanya paru-paru seseorang itu rusak dan tak lagi bisa berfungsi secara baik....
__ADS_1
Ia pikir itu hanya obat orang lain yang satu tempat punyanya Rindu. namun kemarin betapa kagetnya ia saat melihat Rindu makan semua obat itu bagaikan makan nasi saja. dan satu hal yang ia kaget. Rindu bisa tersenyum dan mengucapkan terimakasih.
Seperti sekarang, ia mendekati brangkarnya Rindu dan menatap wajah yang tertutup niqob itu. Air matanya kembali mengalir menatap mata yang damai itu. Ia menatap langit rumah sakit itu supaya air mata itu tak jatuh lagi.
Lalu matanya menatap ketangan Rindu yang ada Al-Qur’an berwarna coklat disana. Ia juga melihat ada tasbih kecil ditangan Rindu membuat dadanya bergetar. Rasanya ia sangat sangat tertampar kali ini. ia orang yang taat akan agama menatap itu terasa sangat tertampar.” Yaallah.. terbuat dari apa hati ummatmu ini? kenapa ia begitu kuat?” Itulah yang ia tanyakan untuk Rindu. ia yang membantu dan mengawasi Rindu dikalah ia dintrogasi dan semuanya membuat ia tau betapa sakitnya Rindu dikalah dibentak dan juga ditanya tanya, sedangkan ia memiliki jantung yang juga hampir rusak, ia bahkan tau dikalah Rindu yang sekarang tak boleh menangis terisak membuat ia kagum sekali akan Rindu.
Matanya menatap diatas meja disamping Rindu, disana ada note kecil yang ada pena hitam membuat ia mengambil kertas itu. Ia menatap kertas itu dengan nanar. Katakan ia tak sopan, tapi ia sungguh penasaran saat ini.
...‘Teruntuk Diriku.. ada banyak hal didunia ini yang tak aku syukuri. Jangan menyalahkan tadir ya.. sebab Tuhan sudah menurunkan Iman disetiap umatnya. Ya.. kita meilki 6 hal yang harus kita imani. Salah satunya yaitu beriman kepada Qoda dan Qodar... dan inilah yang mengingatkanku. Aku harus mengingatkan jika harus menerima takdir baik dan burukku. Terimakaish Tuhan. karena memanggilku untuk bisa lebih dekat dan lebih menyayangimu.. terimakasih.”...
Air mata itu mengalir lagi dikalah melihat note itu. Apa katanya? terimakasih? Bagaimana bisa musibah itu ia ucapkan terimakasih? Apakah Rindu sudah gila? Atau bagaimana?
Sudah dua hari Rindu dirumah sakit disana. Dan sekarang ia sudah baikan. Ia dibolehkan kembali kesell tahannya sampai ada sidang lagi. Ada banyak yang harus lewatkan. Karena polisi yang menolong Rindu kemarin itu menyewa pengacara supaya Rindu bisa bebas. Namun apa daya. Rindu tak mengelak sedikitpun tentang yang ia lakukan untuk Mise. Ia sudah melakukan melakukanya dengan jujur.
Polisi itu bernama Ilham. Ia menatap pengacara yang tak lain bernama Putra itu nanar .sebab pengacara itu mengatakan jika Rindu tak bisa diajak kompromi dalam kasus ini. ia bahkan menyerah dan memberikan kasus ini kembali kepengacara lain.
Ilham menatap Rindu yang sekarang duduk diatas lantai dengan alas tikar itu, disana ia sendirian dengan Al-Qur’an ditanganya. Bibirnya komat kamit menandakan jika ia sedang menghafal atau bersholawat. Ia tak tau membuat ia mendekat.
Rindu yang dikagetkan itu membuka matanya. Disana ia melihat polisi yang beberapa hari ini membantunya membuat ia bangkit.” Ada apa ya pak?” Tanya Rindu engan bingung. setahunya ia tak memilki masalah lagi atau panggilan lagi.
Ia menghela nafas menatap Rindu.” Kamu sedang menghafal ya?” Tanyanya lagi membuat Rindu diam, ia sama sekali tak menjawab apa yang ditanyanya membuat ia menghela nafas lagi. “Tadi ada pengacara yang saya sewa. Kenapa kamu tidak membela diri. Kamu tidak mau keluar?” Tanyanya keinti permasalahan.
Rindu mengeleng.”Engyak.. saya enggak mau keluar. Soalnya disini enak hehe. Saya bisa makan geratis setiap hari..”Ujarnya dengan guyonan membuat polisi itu menatapnya dengan datar.”Ih jangan serius bengat si.. lagipula kenapa saya harus keluar, sayakan memang salah, jadi wajar saja jika saya disini. Saya tidak masalah kok..”lanjutnya dengan jujur.
“Bacara sama kamu sama aja kayak bicara sama batu Rin Rin.”Ilham menggeleng geleng mendnegarnya.”Udaghlah. saya capek berjang tapi tidak didukung oleh kamu sendiri. Saya itu tau kamu sebenarnya enggak salah. Saya yakin kamu melakukan itu pasti ada sebab musebabnya.. “Lanjutnya namun Rindu masih diam membuat ia mengeleng saja. Ia tak tau harus apa tanpa pamit ia menghela nafas dan meningalkan Rindu disana.
Rindu menatap punggung polisi itu dengan nanar. Ia menghela nafas memeluk Al-Qur’an kecilnya denga erat. menyalurkan rasa sedih yang ia rasakan saat ini.”Maafkan saya.. mungkin ini memang yang terbaik.”Gumamnya dengan helaan nafas berat. Semua orang tak akan tau jika rasanya sesakit itu sunnguh.
Ditempat lain ada sosok yang tidak tidur memikirkan kebodohanya. Tidak tidur memikirkan kegeoisannya yang melebihi semuanya. Ia bahkan tak bisa berfikir secara jerni karena seseorang itu selalu menghantui kepalanya membuat ia tak bisa berkata-kata.
Ia menatap kesampingnya. Dimana foto dirinya dan Foto Romdu yang berada dibukit Azza dulu. Ia melihat Rindu yang gamisnya berterbangan karena angin dan cadarnya yang bergoyang-goyang. Matanya menyipit pertanda ia sedang tersenyum lembut.. Rindu duduk diatas kuda sedangkan sosok dirinya disamping kuda itu santay dan menahan tali disana. sungguh mereka sangat serasi disana membuat ia menghela nafas.
Bukan hanya disana saja. Ia membuka laci kamarnya. Disana ada album yang berisikan foto-foto Rindu semuanya. Banyak sekali ia ambil foto Rindu yang secara diam-dam. Baik lagi makan atau lagi kerja. Ia memang stalking Rindu yang handal.
__ADS_1
“Maafin saya Rindu. karena saya sudah terbakar amarah dikalah itu'' Gumamnya dengan helaan nafas berat. Ia ingat dimana Rindu menatapnya dengan nanar dikalah ia tak mempercayainya. Ia bahkan melihat dimana Rindu pergi mengenakan baju basah/sampai pada Rindu pulang dengan keadan yang sangat mengenaskan membuat ia menghela nafas.
Ia sudah tak lagi rutin sholat karena memikirkan Rindu ia bahkan tak menghafal sebagaimana Rindu suruh dan Rindu inginkan ia tak lagi belajar mengaji dan sebagainya. Memang benar dia sosok yang ambisius. Namun hanya ambisius karena nafsunya. Bukan karena cintanya.
“Apa kamu benar-benar sudah membenci saya Rindu? apakah benar kata kamu jika kamu akan menikah itu? “Tanyanya merasakan jantungnya yang melemas hanya karena ingat jika Rindu akan menikah dengan pria lain.”Tapi rasanya hati saya sakit Rindu. saya tidak terima.”Ujarnya meremas dadanya sendiri.
Tak ia sadari ia meremas album itu lalu menghela nafas. Ia ingin pergi hari ini... iya.. ia harus ketempat yang bisa membuat masalahnya hilang.. iya.. tau adalah Club malan.. iya.. ia butuh kerempat itu untuk membereskan masalahnya hati ini meskipun hanya sesaat.
Habib memsuki club yang sudah lama tak ia injaki itu. Ia memang dulu suka kesini namun hanya untuk menenangkan fikiran dan sedikit meminum alkohol. setidaknya sampai ia bisa menghilangkan masalahnya sebentar. Disana ia sudah janjian dengan temannya yang tak lain adalah Fadli dan juga batian.. pria belang yang suka memainkan para perempuan.
Mereka menyamakan jika perempuan itu semuanya sampai .ekali pakai lalu buang. Mereka memang tak pernah serius dengan satu perempuan. Ketika sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Maka mereka langsung membuangnya ketong sampah. Itulah mereka...
Disinilah mereka sekarag Bastian dan Fadli menatap Habib dengan tatapan bingung. baru kali ini mereka meliat Habib sekacau ini sampai-sampai tak sadar sudah menghabiskan 5botol alkohol.. itu bahkan sangat banyak membuat Habib mericau tak jelas..
“Lagi.. beri aku lagi..”Gumam Habib dengan mengangkat gelasnya kepada Bastian supaya dituangkan lagi membuat Bastian dengan bodohnya menumpahkan tetesan terakhir botol keenam itu. Habib menerimanya dan langsung saja meminumnya.” Rindu... maafin saya Rin.. Rindu. kenapa kamu murahanan sekali Rindu..”Sesekali ia mengataan Rindu murahan, sesekali meminta maaf dengan ribuan kata penyesalanya.
“Lagi..”Ujar Habib dengan menepuk mejanya tak tahan minumannya sudah habis.” Rindu.. kamu manusia munafik dan juga sok suci. Lihat saya sekarang haha. Saya sekarang dirumah setan Rindu. kamu tidak mau cerama dengan saya haha..”Ujarnya dengan mengangkat tangan.” Minum gue mana? Minum.. minum..”Ujranya menepuk nepuk meja dengan wajah melernya itu.
“Stop Bib. Loe udah minum banyak..”Fadli menahan Habib dengan bingung.” Loe kenapa si Bib? Udah beberapa tahun enggak kumpul sama kita kesini, sekali kumpulnya lu kek rang gila.. gue bahkan baru kali ini liat loe minum sebanyak ini.”Ujarnya dengan ngeri. Enam botol tu bukan jumlah yang sedikit dimatanya meskipun ia juga suka minum.
“Gue mau Mimun Bre,,’Ujar Hbaib menatap Fadli dengan mata melet itu.” Dia sok suci Fadli...bdia so suci.”Ujarnya dnegan geram sembari meneggeleng.”Dia nyuru gue belajar ngaji dan juga belajar agama, sholat dan juga semuanya. Enggak taunya dia jala** haha.. dia jal***” Ujarnya dengan kekehan.
“Tapi bodohnya gue suka sama dia. Gue cinta sama dia.. tapi dia malah mau nikah sama cowok lain.”Habib mengepalkan tangannya erat dikalah mengatakan itu.” Gue benci.. gue benci dan ngak mau Fadli. Gue enggak mau dia kek gitu. Gue mau dia nikahya sama gue.. nikah sama gue. dia tega ninggalin gue.”ujarnya menarik lengan baju Fadli membuat baju itu melorot sampai kebahunya.nmaklum ia hanya mengenakan baju santay saja.
“Woy. Jangan tarik tarik.. tarisis semongko ini astaga.’Ujar dar Fadli menahan tangan Habib. Namun Habib sangat kuat menariknya membuat ia menunduk menyesuaikan gerakan Habib supaya baju itu tidak sobek.
“Dan sekarang dia dipenjara hahah rasain..”Habib kembali tergelak.” Gue yakin dia bakal dateng sama gue dan ngemis buat dibantu di keluarin.. kayaknya diwaktu itu gue bakal maksa dia nerima gue dan kita nikah.. yey.. jadi dia nggak bakal bisa nolak kan? Ya kan? Iyalah..”Ujar Habib dengan mengoyak baju itu dengan kerasnya.
“Gila ni orang. Ni apa lagi.. Rindu sama siapa si Bib? Nama atau kek gimana itu? Nama kok Rindu..,”Gumamnya Bastian sedikit terkekeh menatap Fadli yang tak bisa mengenalikan Habib.”Siapa lagi yang Habib bilang? patah hati atau kek gimana ni ?” Gumamnya tak paham. Basaha Habib itu bahasa planet kayaknya. Susah dimengerti.
“Minum.. kasih gue minum lagi. Gue mau minum...!” Teriak Habib dengan keras membuat semuanya mengeri menatapnya..”Minum.. isi minum gue..!”Teriaknya kepada Fadli didepanya itu kuat.
“Iye astaga...! lepasin baju gue anjim..!!”
__ADS_1