Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Tersinggung


__ADS_3

“Jngan heran. Memang desa sini kayak gini, soalnya memang dari dulu kepercayaan itu enggak pudar.” Sahut bik Liyan pada Rindu membuat Rindu menoleh.


Rndu mengangguk paham.” Jika begitu biar saya saja yang menadikan jenazanya. Apakah boleh?” Tanya Rindu sopan.


Bik Liyan dan suaminya pun salimg padang.” Memang eneng bisa?” Tanya bik Liyan takut.


Rindu tersenyum lalu mengangguk.” Yasudah. Ayo kesana cepet, supaya pemakamannya dilaksanakan sesegera mungkin.” Ucapnya pada Rindu membuat Rindu menganguk.


Langkah kaki Rindu sangat ringan menuju raut kekhawatiran keluarga Habib. Tapi mata Habib disana ditutup kaca mata hitam.


Mungkin supaya ia tak nampak menangis atau tak mau tampak jelek karena matanya yang merah atau bengkak. Disana ada panji dan juga Nina yang berpelukan. Ada dua orang asing yang Rindu tak tau siapa itu, tapi wajah mereka mirif dengan Nina apakah ia adalah saudara Nina? Rindu tak tau hal itu.”Udah dapet belum pemandinya pak Hendra?” Tanya suami bik Liyan yang bernama Komar itu pada sosok paru baya didekat Nina.


“Belum pak. Gimana ya?” Tanyanya sendu lalu memeluk sosok wanita paru baya disisinya yang menangis,


“Ini atu.. katanyya eneng Rindu mau mandiin jenazanya mbak Wista boleh endak ni? Dari pada lama cari yang lain, katanya dia bisa.” Ucapnya lalu mengarahkan jempolnya pada Rindu yang menunduk.


Habib dan keluarganya menatap Rindu dengan raut tanya. “Kamu bisa mandiin jenaza Rindu? bagaimana bisa? Susah looo. Ada tata caranya..” Ucap Panji lembut, tak mau membuat Rindu tersinggung.


Rindu tersenyum. Ia mengangguk.” Insyaallah bisa pak. Memang susah sii pak, tapi yang namanya kalo suatu hal dipelajari insyaallah bisa, dan menjadi mudah ika kita bersunguh-sunguh.” Jawabnya penuh keyakinan.


“Eloe belajar dari mana sii mandiin mayat? Mandiin mayat engak kayak loe mandiiin mayat ayam buat sup...!” Ucap Nayla malas melihat Rindu yang dapat pelototan dari Panji.


Rindu masih tersenyum.” Inyaallah saya bisa.”


“Kamu belajar dari mana? Dan kenapa kamu bisa?” Tanya paru baya yang tak lain adalah pak Hendrawan, sepertinya ia adalah kakaknya Nina. Matanya tajam menatap Rindu karena tak yakin. Apalagi Rindu yang nampaknya masih sangat mudah.


Rindu menatap pak Hendrawan dengan tegas.” Saya belajar dengan Ayah saya dikampung dulu.” Jawabnya dan memberi jeda sesaat. Percakapan mereka didengar oleh banyak orang dusun, banyak perangkat desa dan lain sebagainya. “Kenapa saya belajar? Karena Ayah tak mau ia meningal atau Ibu saya yang meningal tapi orang lain yang memandikannya. Ia tak mau auratnya dilihat oleh orang lain. “ Jawabnya lagi.


“Lagi pula saya juga mau belajar karena mandi mayat itu penting. Saya ngin suatu saat jika ayah ataupun Ibu saya diambil oleh Allah saya yang memandikannya, saya yang mengelus wajah ibu saya, saya yang membersihkan tubuh ibu saya dan saya mau orang yang terakhir membersihkan ibu saya sebagimana ibu saya merawat saya sedari kecil. Menurut saya, suatu kehormatan bagi saya jika bisa merawat ibu ataupun ayah saya diwaktu terakhirnya. “Ia memberi jeda sebentar.” Saya belum bisa membahagiakan dan memberi apapun pada orang tua saya, baik ibu ataupun ayah saya. Masa iya, saat orang tua saya meningal saya harus meminta orang lain merawat dan memandikan ia. Lantas apa guna saya dilahirkan oleh orang tua saya? Bahkan hati terakhirnya saja saya tidak berguna dan juga tak dapat merawatnya penuh cinta?” Tanya Rindu pada pak Henfdrawan.

__ADS_1


Cap... Kalimat Rindu terasa menancap dijantung prang-orang disana. Wajah pak Hendrawan ataupun yang lain memerah.” Kamu menyindir saya ha?!!” Bentak pak Hendrawan.


Suasana menjadi panas membuat Rindu senyum.” Kadang rasa tersindir itu datang ketika hati kita terasa cacat ataupun hati merasa jika apa yang disampaikan orang lain itu adalah kesalahanya. Tersingung itu tandanya kita memang merasakan jika kita ada diposisi yang salah.”


“Lantas apakah kamu benar? Jangan sombong kamu mentang-mentang kamu bisa mandi mayit. Saya juga bisa dan saya yang akan memandikan ibu saya sekarang juga.” Ucap ak Hendrawan membentak.


Rindu tersenyum tipis.” Allhamdulillah. Bapak memang orang yang sangat berpendidikan ya, membalas perkataan orang lain dengan cara membuktikan. Kadang kita memang harus merasakan sakit terlebih dahulu atau disakiti dan diingati oleh seseorang dulu untuk menyadarkan kita atau membuat kita berubah.” Ucap Rindu.


Barulah Hendrawan sadar jika sebenarnya Rindu hanya untuk menyadarkannya. Yaa.. ia sadar membuat ia malu, kenapa tidak sedari tadi ia belajar, bukan, kenapa tidak sedari dulu ia belajar dan berpikir seperti yang dipikirkan Rindu. Pikiran itu memang sangat kecil, tapi jika dipikir lagi itu memiliki arti besar dalam hidup. Adakah yang pernah berfikit untuk belajar memandikan jenaza supaya bisa merawat orang tuanya nanti dikala ia yang sudah kaku? Aakah serang anak yang merencanakan merawat orang tua kerika hari akhirnya? Tidak, tidak semua orang, bahkan anak remaja. Mungkin tak ada yang berfikir jauh kesitu. atau bisa dihitung dari 1000 ada 1


“Berarti loe memang ngerencanain dan berfikir kalo Ibu dan ayah lo bakal cepet mati dong?” Tanya Nayla yang masih tak menyambung. Sedangkan yang lain sudah paham.


“Maeninggal itu pasti, tapi yang tak pasti itu kapannya. Kita ini bagaikan calon mayat yang kapan saja kita tak tau ajalnya. Banyak diluar sana yang mendadak mati hanya karena sakit kepala atau sedang beramin game. Kita tak tau sedetik kedepannya. Apakah ibu atau ayah kita masih hidup atau tidak. Begitu juga umur kita, tak ada yang tau. Jadi, karena kita tak tau, niat dan juga apa yang akan kita buat didepan nanti harus ada pertimbangan dan juga pemikiran. Jadi meskipun pemikiran saya kurang ajar jika dipikir-pikir, apakah saya salah jika suatu saat nanti saya yang mau membandikan orang tua yang sudah memandikan saya semlama 5tahun saat saya kecil?” Tanyanya membuat Nayla bungkam.


Mereka bagaikan dibungkam dengan seribu bahasa bagaimana bisa hari mereka terasa disentil?


“Kamu mau bantu saya memandikan ibu saya?” Tanya pak Hendrawan pada Rindu. air matanya menetes yang sedari tadi tak lagi menetes.” Saya mau mandiin ibu saya sebagaimana ia mandiin saya sewaktu kecil. Aku mohon, bantu aku ya..” Ucapnya bergetar. “Saya tidak tau bagaimana caranya, nanti kamu kasih aku petunjuknya dan kamu bantu saya.”


Rindu diikuti oleh Habib dan lainnya. Didepanya ada Hendrawan sebagai pemimpin jalan. saat banyak yang mau membantu ibunya Nina menuju ruang pemandian itu ditahan oleh Panji dan pria yang tak Rindu kenali, tapi pria ini paling muda, mungkin usianya sebaya dengan Habib.” Tiak usah pak. Biar saya dan keluarga yang menggendong dan memandikan ibu kami.” Ucapnya bergetar.


Nina menangis dalam diamnya. Ia meemuk Nayla erat, begitu juga Nayla. “Ak aku juga nau gendong mami, sebagaimana mami gendong aku masih kecil untuk yang terakhir kalinya..” Ucapnya lalu membantu Panji, pak Hendrawan dan juga pria asing yang tak lain adalah adik Nina yang bernama Robby. Walaupun tenaganya tak berpengaruh, tapi ia tetap mau.


Dengan teliti Rindu membantu pak Hendrawan memandikan ibunya. Sebenarnya mereka mau membantu Rindu semua, tapi karena tempat yang sangat sempir dan hanya dua orang saja yang memandikannya membuat Rindu dan pak Hendrawan saja yang memandikanya. Awalnya Nina mau memaksa apalagi mereka sesama wanita. Tapi Hendrawan menolak dan tetap kekeh memandikan ibunya. Dikarenakan ia anak pertama dan menurutnya lebih berhak.


Mulai dari awal sampai akhir Rindu mengarahlan dan membantu, disaat itu pak Hendrawan menangis dengan diam, mulai membersikan wajahnya ia menangis, dimana wajah yang selalu tersenyum meskipun sedang sedih, Ia menggusuk payudara tempat ia menghisap makananya dulu sekarang sudah mengendur, kulit yang dulu sanhat kencang sekarang sudah sangat mengkerut dan keriput, ia sadar dan sangat sadar. Dan bodohnya ia sadar ketika ibunya sudah pergi.


...


Memandikannya sudah membuat Rindu mengurus cara memakaikan kain putih pada ibunya Nina. Ia memakaikan lapisan-lapisannya dengan teliti, mereka hanya sedikit membantu karena tak mengerti, Rindu? ia tau karena dulu pernah dilakukan saat praktek sekolah. Apalagi abinya sering memandikan mayit.

__ADS_1


....


Semuanya sudah siap, sholat jenazapun sudah dilaksanakan. Sekarang tinggal penguburan saja membuat Rindu sekarang berada ditepat yang sudah disediakan. Disini katanya tempat dimana khusus keluarga Hollmas yang dikediamkan. Yaa. Mulai dari nenek yang terdahulu, ada juga anak Hendrawan yang dulu pernah meningal karena sakit jantung ada disini.


Ada Habib dan lainnya sekarang sedang mengangkatkan tangan untuk berdoa dan juga yang lain melafaskan kata ‘AMIIN’ dengan khidmat dan penuh perasaan. Katanya nenek Wista ini adalah paru baya yang sangat baik dan dermawan membuat ia disukai dan disegani oleh orang-rang desa. Pemakaman inipun bisa dikatakan tempat pemakaman TPU. Hanya saja separu disini memang sudah dibeli tanahnya oleh keluarga Hollmas.


Saat nenek Wista sudah dikediamkan didalam tanah , tapi masih menyisahkan air mata oleh Nina dan lainnya. Ada juga istri Hendrawan , Nayla dan Hendrawan yang menangis. Ada Panji yang menenangkan istri dan Habib yang memeluk Nayla.


Semuanya menangis diatas kuburan Wista membuat pemandangan itu sangat menyedihkan.” Mamii kenapa pergi hikshiks... Mami..” Panggil Nina frustasi.


“Sudah ma.. ayo kita pergi yuk. Mami udah tenang dialam sana, jangan nangis, nanti dia sedih loe..” Ucap Panji membujuk istrinya.


“Oma... Nayla sayang oma..” Gumam Nayla pada nisan yang tertulis. Wista Holmast itu. Paru baya yang berumur 70tahun.


“Sudah nak sudah. Mami sudah sehat dan sudah tenang jangan kayak gini..” Bujuk Johar selaku ayah dari anak-anaknya. Ia juga bersedih, tapi untuk anak-anaknya, ia harus kuat dan harus menenangkan anak-anaknya.


Tapi tak ada yang mengubrisnya membuat mereka masih anteng dengan tangisan memilukan. Wista sosok yang sangat lembut, sangat dicintai oleh suami dan juga anak-anaknya. Karenanya mereka sangat mencintai dan menyayangi Wista. Dengan cucunyapun ia sangat menyayanginya. Apapun yang Nayla dan Habib inginkan pasti ia beri, karenanya Habib dan Nayla menangis. Bukan hanya Nayla dan Habib, tapi disana juga ada Dilan dan Ify Anaknya Handrawan. Usia mereka hampir sama dengan Habib dan juga Nayla. Tapi mereka tak sehisteris Nayla jika menangis karena mereka pernah sekolah diluar negeri, baru beberapa tahun mereka pulang. karenanya ia tak terlalu akrab.


“Hidup itu bagaikan berkebun atau berladang.” Suara Rindu membuat mereka mendongak. Melihat asal suara. Rindu tersenyum dan mengelus punggung Nina untuk menenangkan. “Kita diibaratkan berladang dibumi ini, kita berhak untuk menanam apapun diladang Kita, menanam padi atau tidak, jika kita tak menanam padi, maka akan tumbuh rumput untuk mengotori ladang kita. tapi jika kita mau menanam padi, maka rumput pasti akan tumbuh juga. Sama dengan hidup kita. Kita berhak melakukan apapun dan bertujuan apapun dimuka bumi ini, jika kita menanamkan dunia saja pada diri kita, maka kita hanya mendapatkan dunia, tapi jika kita menanamkan akhirat sebagai tujuan hidup kita, maka dunia mengikuti kita, dan kita mendapatkan kedua-duanya tanpa kita sadari.” Lanjutnya membuat merka bungkam.


“Lihatlah disana...” Ia melirik seluru lautan kuburan disana yang tak terhitung jumlahnya.” Semuanya mati, meninggalkan jasat masing-masing dan kembali kepada sang pencipta, semua orang yang menyayangi mereka menangis, bahkan ada yang beberapa kali pingsan, tapi apakah mereka kembali hidup dan bangkit dari kubur?” Tanya Rindu membuat mereka diam lagi. Rindu lagi lagi tersenyum tipis.” Tidak. Jawabannya tidak. Mau kalian menangis darah sekalipun, mereka tak akan kembali bangkit dan hidup lagi. Mereka akan tetap menghadap sang ilahi dan kalian hanya menangis dan melakukan hal sia-sia. Bahkan kalian hanya membuat jalan mereka menjadi sulit untuk menghadap sang Khalik. Bagaimana perasaan ibu kalian meningalkan anak-anaknya dalam keadaan yang menyedihkan seperti kalian.” Lanjutnya.


“Sebenarnya tak ada larangan untuk menangisi jenaza, hanya saja jika sikap kalian yang meratapi seperti ini adalah larangan. Yang harus kalian lakukan adalah berdoa dan mengubah hidup kalian lebih baik lagi.”


Rindu menjatuhkan lututnya didepan gundukan tanah Wista dan menggengamnya sebentar lalu menaburkannya lagi.” Disinilah nanti kita berada. Pelajari apa yang ada didepan mata. Apakah kita sudah siap untuk menghadap sang pencipta? Apakah bekal kita sudah kita siapkan untuk perjalanan kita keakhirat. Apakah kita sudah pantas menghadap sang Khalik. Karena menangis saja tidak cukup untuk hidup kedepannya.”


“Hidup hanya satu kali, jadi belajarlah dari orang mati. apakah kalian tau jika ibu atau nenek kalian ini akan meninggalkan kalian? apakah kalian tau kapan kalian meningal?” Tanya Rindu pada merka yang masih diam. Rindu mengeleng,” Sungguh. Yang harus kalian tangisi saat ini bukanlah orang yang sudah meningalkan kalian, tapi tangisilah diri kita yang masih berdiri ditempat sedangkan kematian menanti kita.”


Rindu bangkit dari duduknya. “berdoalah sebanyak mungkin. Karena doa anak sholeh dan sholeha, dan juga ibadah sang anaklah yang membantu ibu dan nenek kalian disana. Bukan tangisan yang tiada akhir. Mari perbaiki diri dan buat ibu kalian disana terselamatkan dari siksa neraka. Karena tidak ada yang jaminan, kita masuk syurga atu neraka. Jadi sebagai anak yang katanya kita mencintai ibu atau neneknya. Beri doa supaya ia diterima disisi Allah bukan menangis bagaikan orang gila..”

__ADS_1


.


like komen and vote yaa


__ADS_2