Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Kucing


__ADS_3

Rindu terkekeh. “Udah mbak. Rindu mau kedepan dulu ya mau kerja. Ntar kita kena marah lagi.” Rindu tersenyum dan beralu pergi.


Rindu mulai memungut piring kotor, mengelap meja. Membawa pesanan dan sebagainya. Hanya saja ia tak mencuci piring, karena tangannya yang masih terluka membuatnya terasa perih jika terkena air, apa lagi air cucian.


Saat sholat magrib ia berhenti sebentar. Lalu bekerja kembali. Ia menyeka keringatnya didahi. “Capek.” Gumamnya mengeluh. Ia membawa piring kotor yang kesekian banyaknya menuju dapur. Ia teringat saat dulu ibunya memaksa Rindu untuk mengurus dan membereskan urusan dapur, yang katanya sebagai kodrat wanita. Ia tersenyum miris. “Umi bener. Andai aja dulu gue nggak belajar, kerja apa gue? Ijaza aja Cuma SMA. Semua yang Umi dan Abi rasanya memberi gue perlindungan buat ngelawan dunia.” Gumannya lagi. Ia tersenyum miris melihat dirinya yang dulu selalu menentang Uminya dan kini ia menggunakan ilmu dari Uminya untuk bertahan hidup.


“Rin. Udah belom?” Tanya mbak Lena.


Rindu mengibas air ditangannya. “Udah mbak.”


“Ya udah. Kamu kedepan aja.. biar disini mbak lanjutin.” Ucap Lena sembari mendekat.


Rindu hanya menganggukkan kepalanya dan pergi. Ia melihat dua karyawan yang sedari tadi tak ia ketahui namanya. Mereka mendekat saat melihat Rindu keluar. “Hay...” Ucap perempuan. Perempuan itu berbadan gempal, pipinya bahkan mengalakan bakpau isi jumbo. Disampingnya ada pria, pria itu biasa saja. Hanya saja ia berubuh sedikit bungkuk, wajahnya banyak bintik bekas jerawat.


Rindu tersenyum. “Juga mbak.” jawabnya.


“Kamu kok dari tadi nggak ngajakin aku kenalan sii?” tanya perempuan gendut itu.


Rindu Menatap ia. “Maaf. Takut kalo mengganggu kerjaan kakak-kakak semua.”’


“Nggak kok. Kenalin gua Ade, panggil aja abang Ade.” Ucap pria yang bernama Ade itu genit.


Rindu menatap pria itu jijik. Ia ingat jika jabatan tangan itu zina. Tapi kenapa rasanya berat banget buat nggak nerima. Padahal dulu ia tak pernah memikirkan perasaan orang. Rindu mencoba saran Umi Ira, ia menyatukan tangannya didepan dada. “Rindu kak.” Ucap Rindu pelan. Entah, ia merasa tak pantas akan hal ini.


Ade menarik tangannya, ia menjadi salahh tingkah.”Ma maaf. Gue nggak tau.” Ucapnya sambil menggaruk rembutnya.


“Nggak apa-apa. Kalo kakak siapa?” Tanya Rindu kepada gadis yang berbadan gempal.

__ADS_1


“Nama aku Uci. Kamu bisa panggil kak Uci.” Ucap Uci. Ia tak berani menadakan tangan kepada Rindu. Takut jika ditolak juga.


Rindu menjadi serbasalah akan hal ini. tapi ia sudah memantapkan hatinya buat ngelakuin semua yang udah ia tanam dihatinya. Rindu bukanlah tipekal seperti perempuan lain yang labil atau bingung dalam keputusan, atau berbicara lembek. Rindu gadis yang komitmen, berprinsip besar. Jika ia sudah mengatakan A Maka tak akan ada yang bisa mengubahnya, meskipun dunia lawannya. Ia tak akan takut apapun untuk menguatkan prinsipnya.


“Udah mbak Uci, bang Ade, kerja lagi yuk. Ntar kita kena omel.” Ucap Rindu untuk mengusir rasa canggung.


“Iya udah. Kamu buang sampah didepan saja ya...” Ucap Ade.


“Oke...” Jawab Rindu semangat. Ia melangkah keluar dari restoran. Ia mengambil tumpukan sampah didekat pintu dan berjalan menuju tempat sampah. Saat disana ia melihat kucing yang sangat menjijikan, seluruh tubuhnya penuh luka, matanya bahkan pecah satu, ia tertidur lemas disamping tempat pembuangan sampah. Kucing itu berwarnah putih, tapi warnanya sudah terturup oleh darah dan debu jalanan.


Rindu meringis pedih melihatnya. Ia sama sekali tak jijik, ia malah menjadi sedih. ‘ Bener kata ummi. Kalo gue lebih beruntung.’ Gumamnya.


Ia mencoba membuka kantong plastik sampah ditangannya. Ia mencari sesuatu yang bisa dimakan. Senyumnya terbit saat mendapatlan setengah ayam krispi yang tak dimakan, dia juga mendapatkan sisa-sisa ayam lainnya. Tampah jijik ia memegangnya dan meletakkannya dimika yang lumayan bersih. Ia mendekati kucing yang tergeletak lemah itu.


“Ini. makan ya.” Ucapnya sambil membungkuk. Ia meletakkan makanan itu didepan kuing itu, ia menatap sendu kucing yag buru-buru makan makanan sisa itu. “Maaf ya Cuma bisa kasih sisa. Soalnya aku juga nggak punya uang, makanan juga nggak ada. Tapi besok aku bawah makanan baru buat kamu.” Ucapnya. Ia sama sekali tak mengelus kucing itu. Jujur ia sama sekali tak suka kucing, ia lebih menyukai anjing.


Dulu pernah ia memelihara anjing. Tapi saat umminya tau. Umiinya memberikan anjing itu kepada orang lain tanpa persetujuan Rindu. Itu membuat Rindu murkah, anjing kesayangannya, ia memintanya kepada sahabatnya saat itu. Tapi orang tuanya malah memeberikannya kepada orang lain dengan dalih. ‘Harram’. Dan satu bulan kemudian kabar dari orang yang mengambil anjing membuat Rindu murka. Anjing kesayangannya mati karena diajak berburu. Sejak saat itu juga Rindu tidak pernah memelihara apapun.


Jam sudah menunjukan pukul 23:00 wib. Tentunya waktu Rindu dan lainnya pulang. Rindu bergegas membereskan barang-barangnya. Perhatiannya teralihkan kepada seseorang yang memanggilnya.


“Kamu pulang pakek apa Rin?” Tanyanya. Seseorang itu adalah mbak Lena.


Rindu segera menyandang tasnya dan tersenyum sopan. “Saya naik ojol mbak, saya sudah pesan barusan.” Jawabnya.


Mbak Lena mengangguk. “Yaudah yuk keluar.” Ucapnya. Rindupun mengangguk dan melangkah keluar restoran.


Mbak Lena dan Rindu berpisah diarena parkiran. Rindu memilih berjalan keluar dari kawasan restoran, supaya lebih mudah bertemu ojol pesananannya.

__ADS_1


Sudah 20 menit ia menunggu, tapi ojol yang ia pesan sama sekali belum datang. Rindu mengecek jam ditangannya berkali-kali. Hingga Rindu memutuskan berjalan mencari ojek atau angkutan umum yang masih tersedia.


Seperti kebiasaan Rindu. Ia selalu menendang botol bekas, tak sengaja karena ia menendang terlalu keras, botol itu menimpah mobil yang sedang bergoyang.


terkejut akan hantaman keras dibagian luar mobilnya. Salah satu orang di dalamnya pun keluar. Matanya bertemu dengan mata coklat Rindu. “Apa-apaan sii loe?” Teriaknya marah.


Rindu terkejut. Mobil yang awalnya bergoyang itu berhenti karena botol yang ia tendang mengenai bagian belakang mobil. Ia menutup mulutnya. “Sorry gue nggak sengaja.” Jawabnya.


Mata pria itu membulat saat menatap Rindu. “Loe anak baru yang matahin tangan gue kemarinkan?” Tannya pria itu. Ya pria itu adalah Willi kakak tingkat Rindu.


Rindu menyipitkan matannya. Ia baru ingat wajah Willy. Sesaat setelahnya ada seorang wanita yang keluar dari mobil yang Willi.


Wanita itu menggunakan baju sangat seksi, tapi rambut dan bagian atas baju wanita itu berantakan. Barang berherga atasnya mengintip disela-sela belahan baju yang sangat rendah. baju itu sangat ketat dan berwarnah mencolok. “Sayang. Siapa sii.” Ucapnya dengan suara sensual yang kental.


“Ini, ada kentang.” Jawab Willy kesal. Faktanya atitivitasnya terganggu karena Rindu.


Mata Rindu memicing. Ia bukanlah gadis polos. “Kalian ******* ya didalam mobil?” Tannya Rindu terang-terangan.


Wajah Willy dan wanita itu pias. “ Nggak usah sok tau.” Jawab Willy ketus.


Rindu melipatkan tangannya, ia menarap Willy sinis. “Kalo mau anu-anu, atau ena-ena, modalan dikit kek. Kehotel bintang tigalah seenggaknya. Nah ini dipinggir jalan, nggak bisa bayar hotel loe.” Ucap Rindu ketus..


.


.


.

__ADS_1


.


seperti yang kalian ketahui. ini novel tak semenarik romansa. tapi saya harap bagi pembaca bisa mengambil ilmu yang saya tanam di novel ini. salam sayang dari penulis.


__ADS_2